
Asya termenung didalam taksi. Ia tak tahu harus pergi kemana, tak ada keinginan untuk pulang kerumah.
Kenyataan itu memang pahit, ia tak menyangka semua akan terbongkar ketika hatinya mulai merasa nyaman. Setiap kali mereka berusaha dekat, selalu ada hal yang menjauhkan mereka.
Lelaki seperti apa suami Asya sebenarnya. Dingin namun perhatian, cuek tapi peduli, sifat apa yang coba El sembunyikan. Gadis polos nan lugu itu merenungi semua hal yang terjadi dalam hidupnya.
Pertemuannya dengan El, semua sikap manis El. El selalu mencoba membuatnya bahagia, tersenyum riang menghapus luka. Namun kenyataannya tak sebanding dengan apa yang ada. Bahagia dan tawa itu hilang begitu saja. Mungkinkah semua hanya sandiwara, untuk menutupi hal tak terduga.
Asya kembali teringat kata Papa, suatu hari nanti, ia akan menangis karena mencintai seorang pria. Dan itu terjadi hari ini, lelaki itu adalah suami pilihan Papa.
"Aku ragu, apa mungkin Papa tahu semua tentang Mas El?" Gumam Asya lirih. Asya meminta supir untuk mengantarnya ke kantor Papa. Sudah lama ia tak pernah pergi kesana.
Dalam perjalanan itu Asya juga kembali diam dan merenung. Berharap apa yang ia pikirkan semuanya tak benar. Asya dengan hati-hati mencoba memasuki kantor Papanya, bersembunyi dari penjaga disana. Papa sudah mewanti-wanti penjaga kantor untuk tidak membiarkan Asya masuk apapun yang terjadi. Tetapi gadis itu memiliki banyak akal, menyelinap seolah dirinya tamu disana.
Dengan langkah lebar Asya membuka ruangan Papa. Terlihat Papa yang terkejut, beliau pun menghentikan pekerjaannya.
"Papa tahu semua tentang Mas El?" Tanya Asya. Papa hanya diam memandangi Asya, beliau merasa jika putrinya tahu sesuatu.
"Papa tahu kalau Mas El suka main perempuan? Papa tahu kalau Mas El suka ke club dengan wanita lain? Dan Papa menjodohkan aku dengan pria seperti itu? Pria yang selalu Papa ceritakan padaku, pria yang harus aku hindari saat aku tumbuh besar, pria yang harusnya tak pernah aku temui. Tapi apa? Papa malah menikahkan aku dengan pria seperti ini" ucap Asya. Ia sudah tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia memandangi Papanya dengan putus asa.
Plakkkk....
Oh tidak, tamparan itu. Asya kembali merasakannya, tapi kenapa? Apa salah Asya? Ia hanya ingin tahu yang sebenarnya.
"Papa malu menyebutmu sebagai seorang putri. Bukankah aku sudah bilang untuk menjadi istri yang ideal. Kau sekarang malah menjelekkan suamimu, istri macam apa kau ini? El sudah mau membayar kuliahmu, dia menuruti semua kemauan mu, dan ini balasanmu? Istri tidak tahu diri. Biarkan El melakukan apapun yang ia mau, kau juga mendapatkan apa yang kau mau bukan?" bentak Papa dengan penuh amarah.
"Tapi kenapa Pa? Papa tahu itu sangat menyakitkan untukku, kenapa Papa ingin melihatku terluka?" Balas Asya sesenggukan.
__ADS_1
Plakkk...
Papa kembali memukul Asya dengan keras. Sekali lagi gadis itu tersungkur ke lantai.
"Anak tidak tahu diri, tentu karena kau terlahir sebagai seorang perempuan. Aku tidak pernah mau memiliki keturunan seorang perempuan, ciih. Pergi kau dari sini, layani suamimu dengan baik. Dan perlu kau tahu, Mamamu, Syam dan Galen tahu semuanya. PERGI" bentak Papa kasar. Ia menendang Asya agar segera bangkit dan keluar dari ruangannya.
Sakit, rasa itu kembali terasa pada hati Asya. Perih rasanya mengetahui Papa yang sangat ia sayangi tak menginginkan dirinya. Asya berlari keluar kantor Papanya secepat yang ia bisa, walau air mata itu terjatuh begitu deras.
Pengkhianatan macam apa ini? Semua orang tahu pria seperti apa suami Asya dan tak ada yang memberitahunya? Lalu kenapa hari ini ia harus mengetahui semua itu? Kenapa mereka tak menyembunyikannya saja hingga Asya tiada didunia ini? Kenapa kecewa itu datang dari orang-orang yang paling Asya sayangi?
Lemah, lesuh, Asya kembali masuk kedalam taksi pesanannya. Ia meminta supir taksi untuk membawanya sejauh mungkin dari tempat ini. Dunia yang paling Asya benci. Dunia dimana ia tak bisa melihat ketulusan. Kasih sayang semua orang adalah palsu, mereka bersandiwara. Asya hanya sebuah boneka.
"Aku berharap, nyawaku hilang hari ini. Aku tak ingin merasakan sakit lagi, sudah cukup, ini berlebihan. Aku membenci hidupku, aku membenci takdirku" lirih Asya dalam tangisnya.
Asya meminta supir taksi untuk menurunkannya dijalan yang sepi. Jalanan luas yang tak ada satupun kendaraan berlalu lalang. Ditemani rintik hujan dan kilatan petir yang sesekali ikut hadir. Meramaikan hati yang telah terkubur sepi.
"Ambil nyawakuuuu, aku tidak membutuhkannya lagi, bawa aku pergiii dari sini" teriak Asya. Teriakan kesedihan dari lubuk hati terdalam seorang gadis remaja.
Bruuukkkk.....
Gelap, semuanya gelap tak terlihat....
2 hari kemudian.......
Mata Asya mulai berkedip, perlahan ia membuka matanya. Ah, aroma yang sangat ia benci, rumah sakit. Dinding putih, langit-langit putih itu, tempat yang paling tak ingin Asya datangi.
"Asya, kamu tidak apa-apa? Asya kau mendengar ku?" Ujar seseorang begitu khawatir dengan keadaan Asya.
__ADS_1
Suara itu sangat familiar, suara lembut itu, Asya mengenalnya. Suara yang selalu ada disaat Asya terluka. Suara yang selalu memberinya semangat disaat ia terjatuh.
"Nando" lirih Asya.
Pemuda itu tersenyum riang, pipinya yang basah oleh air mata, ia seka sedemikian rupa. Memperlihatkan sosok terkuat di depan wanita yang dicintainya.
"Assyaaa" teriak Jihan dan Gita bersamaan. Mereka berdua menangis sambil memeluk Asya. Akhirnya Asya membuka mata setelah sekian lama.
"Kenapa? Kenapa aku masih disini? Apa tidak ada yang mau mengambil nyawaku? Aku tidak mau hidup lagi, aku tidak mau merasakan sakit itu lagi. Bisakah kalian membantuku? Ambil nyawaku, kumohon" lirih Asya dalam tangisnya.
Tubuh mungil itu tak berdaya, ia terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Hanya bisa berbicara dan menangis.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu. Aku akan menjagamu" ucap Nando seraya mengecup tangan Asya.
"Aku sudah pernah mendengar kalimat itu. Tolong, biarkan aku pergi" sahut Asya.
"KALIAN DENGAR? Jika kalian tak bisa menjaganya, berikan dia padaku, aku akan menjadikan Asya nyawaku. Aku akan menjaganya, aku, aku sangat mencintai Asya. Dia adalah hidupku" teriak Nando pada keluarga Asya dan El.
Keluarga Asya dan El hanya bisa menatap Asya dari kejauhan. Nando, Jihan dan Gita tak mengijinkan siapapun mendekati Asya. Mereka sangat kecewa dengan keluarga Asya. Bahkan pada suami yang sangat Asya banggakan kehadirannya.
"Kau siapa? Pergi, dia istriku" bentak El pada Nando.
Kini mereka berdua saling berhadapan. Mata mereka saling menunjukkan kebencian yang besar. Keduanya saling diselimuti oleh amarah.
Asya mengalihkan pandangannya, menatap El yang sedang berhadapan dengan Nando.
"Mas El kenapa? Habis berantem ya?" Tanya Asya setelah melihat wajah El yang penuh dengan luka.
__ADS_1