
El lalu mengajak Asya untuk duduk di meja yang telah disiapkan. Sebuah hidangan mewah, juga wine yang telah disajikan bersamanya.
"Asya, jika kamu menyukaiku, maka kamu harus menyukai dirimu lebih dari apapun"
"Kenapa?"
"Karena yang aku sukai hanyalah dirimu, tak ada hal lain lagi"
Asya kembali tersipu malu, pipinya telah merona karena perkataan manis suaminya. Mereka melanjutkan makan malam dengan tenang, dan El sangat menyukai wine yang disajikan untuk mereka.
Gadis itu hanya mencicipinya sedikit, El tak ingin jika istrinya mabuk di malam yang indah ini.
Setelah usai makan, El meredupkan beberapa lampu, lalu menyalakan musik untuk mereka berdansa. Ia menjulurkan tangannya pada Asya, dan dengan senang hati, gadis itu menerima uluran tangan El.
Asya meletakkan kedua tangannya di pundak El, sedangkan El menaruh kedua tangannya dipinggang sang istri. Mereka berdansa mengikuti alunan musik, sembari sesekali saling memandang dengan senyuman.
El menggendong Asya, ia meletakkan istrinya perlahan diatas kasur. Ia memulai ciuman panas dengan istrinya. Satu persatu pakaian Asya, El tanggalkan.
Setelah bibir, ia beralih menggelitik leher Asya. El sangat menyukai aroma tubuh istrinya disana. Perlahan ia mulai turun menuju dua buah gumpalan yang sudah sedari tadi menggodanya. El mulai memainkan bibirnya disana dengan penuh cinta.
"Aahh... aahh... Ma..Mas El, ngaa... ngapain" ujar Asya dengan desa han nya.
Suara itu semakin membuat El menggila menyalurkan nafsunya. Ia menahan kedua tangan Asya yang ingin berontak. Ia kembali menghujani istrinya dengan penuh cinta.
Asya tak bisa menahan perlakuan suaminya, ia mulai merasakannya, nafsu. Gadis itu terus men desa h disetiap perlakuan El.
Setelah puas bermain, El kembali melu mat bibir istrinya, dan melakukan malam penuh cinta.
Kini Asya juga mulai menikmati malam bersama suaminya, rasa nikmat yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Terlebih El sangat pandai bermain diatas ranjang panas ini.
Permainan El berakhir kala ia telah mengeluarkan nafsunya itu. Ia menatap istrinya yang terengah-engah, wajah itu sangat menggoda hasrat El.
"Permainan yang menyenangkan sayang, tidurlah" bisik El mencium singkat bibir Asya.
El menyelimuti tubuh istrinya, mengelus rambut Asya singkat. Setelah itu ia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ini sudah berakhir untuk Asya, tapi El ingin mencari mainan lain.
Pemuda itu berjalan menuju kamar lainnya, Zio telah menunggu dengan salah satu kolega mereka.
__ADS_1
"Maaf saya terlambat" ujar El saat membuka pintu kamar.
Zio terlihat tengah berbincang dengan dua orang pria. Tetapi ada empat wanita lain disana, wanita dengan baju seksi yang menunjukkan ke molekan tubuh mereka.
El berjalan mendekat dengan senyuman lebar. Menghampiri salah satu wanita yang menarik perhatiannya. Wanita yang memiliki dada paling besar dan montok.
"Pak El, silahkan duduk" ujar salah satu pria.
El tentu dengan senang hati duduk diantara mereka. Sejenak mereka mulai membicarakan bisnis, tetapi tangan El tak bisa tak menyentuh paha mulus wanita disampingnya.
"Kita akan pelajari lagi, nanti Zio akan menghubungi kalian kelanjutannya" ucap El.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar baik dari anda. Terimakasih, selamat malam" ujar pria itu sembari menjabat tangan El.
Kedua pria itu telah pergi, tetapi mereka meninggalkan dua wanita untuk El dan Zio menghabiskan malam.
El duduk diantara wanita seksi itu, sebab Zio tak tertarik dengan mereka. Zio tidak seperti El yang gila dengan wanita-wanita malamnya.
Bahkan tanpa rasa malu, El meremas dada para wanita itu didepan Zio. Para wanita itu juga melayani El, mengelus-elus paha El.
"El, cukup" celetuk Zio dingin. Ia sudah tidak ingin melihatnya lagi, Zio terus terngiang wajah Kakak Iparnya.
"Sudah selesai Pak El? Tidak mau lebih lanjut?" Goda salah satu wanita itu sembari meremas paha El.
Zio yang sudah tak tahan dengan semuanya, ia menarik paksa kedua wanita itu untuk pergi dari kamar. Dengan kesal Zio mengusir mereka, mendorongnya keluar.
"Oh ayolah Zio, Asya tidak akan tahu. Lagi pula, dia sudah bahagia dengan apa yang aku berikan. Tenang lah" jelas El.
"Kau gila El, sungguh. Kedua orang tuamu menikahkanmu agar berhenti bermain-main dengan wanita, tapi kau masih tidak sadar. Kau akan menyesal jika Asya meninggalkan mu nantinya"
"Tidak akan ku biarkan dia pergi dariku"
"Kau yang memaksanya pergi"
"ZIO CUKUP, BERHENTI IKUT CAMPUR URUSAN RUMAH TANGGAKU"
Braakkk.....
__ADS_1
El pergi meninggalkan kamar sambil membanting pintu. Ia kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal. Zio terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya.
"Ada apa dengan Zio? Kenapa dia terus saja ikut campur? Apa dia menyukai Asya? Apa dia sudah gila? Kenapa dia terus saja mengusikku mengatas namakan perasaan Asya?" Gumam El kesal.
El menatap Asya yang masih tertidur dengan pulas. Ia berjalan menuju sisi lain tempat tidur Asya. El memandangi wajah istrinya.
"Kau adalah milikku Asya, sampai kapanpun akan selalu menjadi milikku. Aku tidak akan membiarkan siapapun yang mencoba merebut mu dariku. Karena kau adalah milikku" ucap El lirih.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Pagi telah tiba....
El tengah duduk di balkon sembari menikmati hembusan angin pagi yang segar. Ia memainkan ponselnya, mengecek email pekerjaan tentunya.
"Mas El, kenapa gak pakai baju" celetuk Asya yang baru saja selesai mandi. Ia menghampiri El sambil menggunakan kimono hotel.
"Pagi Nyonya El" sapa El sembari menarik istrinya untuk duduk disampingnya.
El mencium bibir Asya singkat dan berbisik, "Morning kiss, lakukan setiap pagi untukku ya"
Asya tersenyum, ia mencubit pipi suaminya gemas. Masih pagi El sudah membuat hatinya meleleh. Asya memeluk tubuh telanjang dada suaminya, sembari meraba-raba perut dan dada El yang indah.
Gadis itu sangat menyukainya, kini ia bisa dekat dengan salah satu idolanya. Bahkan ia bisa bermanja-manja, tak perlu bermimpi dalam khayalan-khayalan konyolnya lagi. Karena El, telah mewujudkan semua impian kecil Asya untuk memiliki kisah cinta manis seperti dalam drama.
"Asya, jangan lupa minum pil KB nya, setiap hari di jam yang sama" ucap El.
Sebenarnya Asya masih tak ingin melakukannya, pil itu membuat dirinya merasa masih ada jarak antara dia dan El.
"Iya Mas" jawab Asya lirih.
"Asya, aku melakukannya karena aku menyayangimu. Aku ingin hidup berdua bersamamu lebih lama"
"Tapi kita akan menjadi keluarga yang lengkap Mas dengan adanya seorang anak"
"Asya, aku ingin kamu menghabiskan masa mudamu. Ini bukan pilihanmu untuk menikah muda, aku tidak ingin merenggut masa mudamu"
"Aku tidak apa-apa Mas El, aku tidak merasa seperti itu"
__ADS_1
"Diam dan dengarkan apa kataku. Jangan membuatku marah dengan membantah apa yang aku perintahkan. Kau mengerti Nyonya El?"
"Baiklah, maafkan aku Mas"