
Hari menjelang pagi...
Asya membuka matanya, ia mendapati El yang masih tertidur dilantai bersama dengan Zio. Gadis memainkan pipi El, mencubit dan mengelusnya. Hingga membuat sang pemiliknya terbangun karena geli.
Bbukkk....
El menarik Asya hingga terjatuh dipelukannya. Ia tak peduli bahkan jika sang istri kesakitan karenanya. Ia hanya ingin Asya berada di sampingnya. El membalut tubuh Asya dengan selimut, mendekapnya dengan sangat erat.
"Nyonya El, kau terlihat sangat cantik"
"Mas, ayo kita dekatkan Jihan dan Adik Ipar"
"Kau masih memikirkannya? Zio sudah dewasa sayang, dia bisa memilih sendiri calonnya"
"Hm.." Asya berdehem kemudian berbalik memunggungi El.
Sekali lagi El mengingatkan, jika seorang istri tak boleh tidur memunggungi suaminya. Tapi gadis itu tak mendengarkan, ia malah kembali naik ke atas sofa dan tidur memunggungi El. Tak habis akal, El juga membaringkan tubuhnya diatas sofa, tak peduli mereka saling berdesakan disana.
Plak...
"El, ini rumah sakit, bangun" sentak Farel kesal.
El mengelus kepalanya, ia rasa Farel tak benar-benar sakit, sebab pukulan sang Kakak terasa sangat bertenaga. Ia memandangi Farel yang sudah mengganti pakaiannya.
"Sepertinya istriku harus menginap semalam lagi" celetuk El seraya memegangi dahi Asya.
Asya masih terlihat menutup matanya, suhu tubuhnya naik tinggi. Karena Asya menolak menginap lagi, El menggendong istrinya pergi meninggalkan ruangan. Ia tak suka melihat istrinya seperti ini, kesayangan El adalah gadis ceria yang banyak bicara.
Sampai dirumah Adhitama, Kakek dan Nenek El sudah berkumpul disana. Mertua Farel dan El juga hadir disana.
"Asya kenapa El?" Tanya Laura saat melihat El menggendong Asya.
"Badannya panas Bund, dia gak mau dirawat. Aku bawa ke kamar dulu ya"
Aqilla terlihat mengikuti El, tapi pemuda itu melarangnya. Bukan tanpa sebab, El hanya tak ingin jika keponakan kecilnya ikut sakit. Asya juga pasti tak menginginkan hal tersebut. El bergegas membawa sang istri ke kamar dan menidurkannya diatas ranjang. Ia mengelus pipi istrinya, mencium keningnya singkat kemudian pergi keluar kamar.
"El, mh... anu.."
"Mbak Adel masuk aja, tapi jauhkan Aqilla ya" ujar El kemudian bergegas turun.
__ADS_1
Seperti layaknya sidang, Farel memiliki kursi khusus disana. Sebab Adelia tengah hamil, Farel tak ingin istrinya ikut andil dalam pembahasan ini. Ia tak ingin Adelia memikirkan hal berat yang nantinya akan mempengaruhi kandungannya.
"Kakek, kita persingkat saja, kita lupakan masa lalu" ujar El.
"Kau pikir ini masalah kecil El?"
"Masalahnya dimana? Mas Farel menerima Mbak Adel dan Aqilla, selesai. Masalah ini sesimpel itu Kakek"
"El"
"Jika kalian tidak bisa melupakan masalalu, bagaimana dengan Asya yang bisa menerima masalalu ku? Kalian mau kehilangan dia?"
El dengan putus asa menjelaskan bagaimana sang istri begitu khawatir akan keluarganya. Hingga jatuh sakit akibat beban pikirannya, dokter bahkan meminta El untuk menjauhkan segala sesuatu yang bisa membuat Asya stress.
"Kalau begitu jangan ikut campurkan Asya dalam masalah ini"
"Asya yang memulai semuanya Kek. Dia orang pertama yang ada dipihak Mas Farel. Kalian meminta Asya menerimaku dan mengabaikan masalaluku. Tapi kalian tak bisa melupakan masalalu Mbak Adel, apa itu adil?"
"El benar Kek, jika El saja berhak memiliki kesempatan lagi. Kenapa Adel tidak?" Sela Farel.
El bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar. Ia rasa sudah mengatakan semua yang Asya ajarkan semalam. Kini hanya tinggal bagaimana Farel membumbuinya agar para keluarga besar terbujuk. El pikir, keluarga nya sangat kekanakan, padahal dirinya jauh lebih kekanakan.
Senyuman kecil diwajah El terukir kala sang Kakek memberikan kesempatan pada hubungan Farel. Walau butuh waktu untuk menerima semuanya, tapi ini lebih baik. Ketakutan Farel untuk menyembunyikan masalah ini kini terdengar sangat sepele.
El juga dibuat takjub dengan pemikiran sang istri. Semua kalimat yang terlontar dari bibir El adalah apa yang Asya ajarkan padanya. Bakat seorang pebisnis ada dalam diri Asya, sayang sekali jika bakatnya terpendam karena alasan rumah tangga.
"Aku harus menghargai keputusannya, lagipula dia adalah jimat keberuntungan ku" gumam El. Ia lalu melanjutkan jalannya menuju kamar.
Ttok... Ttok...
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, Adelia terlihat begitu khawatir ketika melihat El masuk. Ia berharap semuanya baik-baik saja.
"Sayang, semuanya baik-baik saja" teriak Farel berlari memeluk istrinya. Mereka berdua tampak sangat senang dan bahagia. El bisa merasakan kebahagiaan mereka.
Asya masih tertidur pulas, Aqilla terus menepuk-nepuk tangan Asya. Ia terlihat sangat sedih.
"Om El, kapan Imo bangun?"
__ADS_1
"Sebentar lagi sayang, kamu udah makan belum? Biarin Imo istirahat ya. Kita makan yuk" ujar El menggendong keponakan kecilnya.
"El, sudah waktunya kau memiliki anak" goda Farel.
"Aku tidak berharap Mas, aku ingin menghabiskan waktu hanya bersama Asya" jawab El kemudian pergi. Ia menggendong keponakannya menuju meja makan. Sambil bercanda ria, membuat para orang tua menatapnya. Mereka juga memikirkan hal yang sama seperti Farel, tapi El memiliki harapan berbeda. Ia tak ingin Asya membagi waktunya untuk anak mereka.
Aqilla terlihat sangat bahagia, makan bersama Om nya.
"El, Asya sudah makan?" Tanya Airin mendekat.
"Belum Ma, badannya masih panas banget"
"Dia gak berubah El, masih aja mikirin orang lain. Mama capek nasihatin dia, iya iya tapi tetap aja gak berubah"
"Iya Ma, bandel kalau dibilangi, aku juga capek marahin dia"
Hari menjelang sore, mertua Farel dan El sudah meninggalkan rumah Adhitama. Keluarga besar Adhitama sedang berkumpul diruang tamu, topik pembicaraan mereka tak jauh dari masalah bisnis.
"El, Kakek dengar kamu mem-blacklist seseorang bernama Dimas"
"Iya Kek, biar dia sadar tempatnya"
"Tumben kamu gak profesional"
"Ya mau gimana lagi Kek, kalau udah urusan cinta mah susah" sela Farel.
Kakek mereka menatap Farel dengan bingung, beliau pikir El mencoba bermain lagi dengan wanita lain.
"Dia tetanggaku, di udah dua kali nyakitin Asya. Pria brengsek itu, aku tidak akan mengampuninya"
"Kau sangat kejam El, apa Asya tahu?"
"Kami sering berdebat karena ini"
Nenek El datang menghampiri dan memukul cucunya yang nakal itu. Padahal El sendiri bilang agar tak membebani pikiran istrinya. Malah dia sendiri yang berulah, jelas saja masalah itu pasti juga ada dalam pikiran Asya.
Setelah dijelaskan dengan kasar oleh sang Nenek, barulah El sadar jika ulahnya pasti mempengaruhi Asya juga.
"Baiklah, aku akan membuka blacklist nya. Tapi jika dia menyakiti Asya lagi, tidak ada ampun"
__ADS_1
El segera mendial nomor Zio dan memintanya untuk membuka blacklist Dimas. Walau perasaan tak rela masih menyelimuti El. Ini semua demi Asya, agar istrinya tak memikirkan masalah orang lain lagi.