Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
S2 - 114


__ADS_3

"Minggir" ucap El begitu dingin sambil mendorong wanita di hadapannya.


"Hei pria konyol, apa kau sudah tidak waras? Kau ajarkan apa anak-anak? Kamu itu Mas, Bunda menelepon ku dan mengatakan jika anak-anak menceritakan kelakuan mesum Ayahnya" sentak Asya yang sudah berada di depan El.


Teman-teman El hanya diam memandangi Asya yang marah dan berani berkata kasar pada El. Mereka tak pernah berani melakukannya, kecuali ingin hubungan mereka dengan El berakhir.


"Bukan begitu istri pria konyol, tadi aku lagi minum susu terus anak-anak terbangun dan melihatku melakukannya" jelas El dengan nada polosnya.


Asya membelalakkan matanya lebar, ia mencubit pipi El dengan kesal lalu pergi kembali ke tempat teman-teman nya berkumpul. El hanya tersenyum memandangi istrinya yang tengah marah.


"Kau lihat? Dia memanggilku pria konyol, dan milikku bisa berdiri setegak ini" celetuk El seraya memandangi mantan pacarnya. Ia sekali lagi memperhatikan sang mantan dari ujung kepala hingga kaki. Lalu senyuman miring terlihat di wajah El.


"Menghabiskan malam denganmu? Hahaha, untuk apa? Aku memiliki bidadari di hidupku, aku tak butuh wanita lain. Dan apa kau bilang? Aku menatapmu? Istriku ada disana, aku hanya melihatnya tertawa begitu cantik. Membuatku jatuh cinta padanya"


"Udah lah El, gak usah berkelit. Kau takut dengan istrimu?"


El tertawa sangat lebar, tak ada jawaban. Ia tak menggubris para wanita itu dan melanjutkan mengobrol dengan teman-teman prianya. Teman-teman pria El begitu penasaran, apa yang membuat pemuda itu begitu mencintai istrinya. Bahkan menolak para gadis yang merupakan tipenya.


Para wanita itu pun penasaran, mereka ikut mendengar apa yang El katakan tentang istrinya. Tak ada yang istimewa, Asya selalu menuruti kemauannya, menjadi ibu rumahtangga yang baik dan menantu yang sempurna. Tak ada alasan bagi El untuk membagi cintanya.


"El, saat kau menikah dengannya, apakah istrimu masih perawan?" Tanya salah seorang teman El.


"Tentu saja, astaga aku tak bisa melupakan wajah polosnya itu"


"Pria brengsek seperti mu bisa mendapatkan wanita baik. Dunia sungguh tak adil El"


"Kapan acara ini berakhir, melihatnya berbincang sambil tertawa membuat adik kecilku tak bisa tidur" gerutu El seraya menatap miliknya yang merindukan Asya.


Teman-teman El sangat takjub dibuatnya. Mereka bahkan kini tak tertarik lagi dengan ketiga wanita seksi itu. Mereka hanya ingin tau lebih jauh mengenai istri El yang tampil sederhana malam ini. Karena ini sangat jauh dari kriteria kekasih El.


Ada banyak sekali pertanyaan yang mereka lontarkan untuk mengetahui lebih banyak tentang Asya. Dan dengan bangga pun El menceritakan kelebihan istrinya. Keistimewaan yang Asya miliki, serta daya tariknya yang membuat semua orang mengagumi nya tanpa sebab. Asya memang semenarik itu.


"Tunggu, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku akan kembali" ucap El lalu berjalan pergi meninggalkan temannya. Ia mendekati Asya yang begitu asik berbincang. Memposisikan wajahnya di depan sang istri dengan senyuman.


"Ada apa Mas?"


"Cium boleh gak? Please"


Cup...

__ADS_1


Asya mencium bibir suaminya secepat kilat. Ia lalu meminta El pergi karena mereka sedang berbincang urusan wanita. Tapi El tak mau kalah secepat itu, ia memaksa Asya menciumnya sekali lagi namun lebih lama. Asya mendorong wajah suaminya menjauh, ia menolak permintaan itu. Tapi El terus memaksa ingin mendapatkan kecupan dari istrinya.


"Kasih aja Sya, kita tutup mata nih" ucap Jihan seraya menutup matanya dengan tangan. Semua wanita yang ada disana pun melakukan hal yang sama. Akhirnya Asya pun mencium bibir suaminya dan menahannya selama beberapa detik.


"Sudah kan?" Tanya Asya dengan senyuman. Ia menambahkan ciuman di pipi El.


"Makasih sayang, I love you" ucap El kemudian pergi menghampiri teman-teman nya. Ia tersenyum lebar, wajahnya terlihat bahagia.


"Si El kayak ABG yang baru jatuh cinta aja" celetuk salah seorang teman El.


Zio menghembuskan napasnya kasar. Begitu El sampai di depan mereka, Zio langsung membeberkan kelakuan El yang seperti remaja itu. Tuan Presdir yang akan marah-marah setiap satu Minggu perbulannya. Alasannya sangat sederhana, ia tak bisa menikmati malam bersama Asya. El sangat mudah ditebak, tapi alasannya begitu mencintai Asya tak ada satupun yang bisa menebaknya.


Para pria itu mentertawakan El yang kini sudah terjerumus dengan cinta. Ia tak bisa lagi memainkan perasaan wanita karena sudah memiliki Asya.


"El, apa kau yakin bisa menolak semua wanita seksi di luar sana? Kesukaan mu yang selama ini ada di sekitar mu?" Tanya salah seorang teman El yang masih tak yakin.


"Aku tak punya alasan untuk selingkuh. Istriku tak membiarkan ada celah sedikitpun agar aku bisa mengeluh padanya. Dia pandai merias diri, memasak, mengurus rumah, aku dan anak-anak. Dia sangat pandai mengambil hati mertua dan Kakak iparnya. Dia tak pernah menolak apapun perintahku, orangtuanya dan mertuanya, ia akan menuruti nya"


"Dia bisa melakukan banyak hal El, aku pikir beberapa wanita juga bisa sepertinya"


"Tapi, apa wanita-wanita itu bisa tetap berada di sampingku? Saat mengetahui perilaku burukku, mereka akan memaki dan meninggalkan. Tapi dia, tetap berada di sampingku dan membantuku berubah. Jika kau melihatku lebih baik hari ini, aku adalah ciptaan istriku"


Setelah perbincangan yang begitu serius, para pria itu berjalan mendekati meja yang penuh makanan. Perut mereka sudah terasa sangat lapar. Melanjutkan berbincang mengenang masalalu sambil makan.


"Elvin, hai"


"Elvin, tambah ganteng aja kamu"


"Hai El, gimana kabarnya?"


Iri sekali teman-teman El pada pemuda itu. Setiap wanita yang mendekat selalu menyapa El dan hanya El saja. Ah, walau bertahun-tahun telah berlalu pesona El masih tak terkalahkan.


"Seneng banget ya disini? Ketemu mantan pacar? Elvin, kamu ganteng banget sih, kamu apa kabar nyenyenye..." celoteh Asya begitu berada di dekat suaminya.


"Buahahaha, kamu apa'an sih sayang lucu banget. Ada apa hm? Kangen ya sama aku?"


"Kamu udah makan Mas? Jangan sampai lupa makan dan minum karena keasikan ngobrol sama cewek-cewek mu itu"


"Cewekku kan cuma kamu, sini peluk dulu" ucap El lalu menarik Asya dalam pelukannya.

__ADS_1


"Adik ipar kau sudah makan?"


"Sudah Kakak ipar. Udah jam sepuluh malam, aku akan pulang bersama Jihan. Aku duluan ya semuanya, dan El mantan pacarmu mendekat" goda Zio dengan tawanya sebelum pergi menghampiri Jihan.


Asya menoleh menatap ke arah pandang Zio. Astaga, seorang wanita datang bersama dengan wanita lain yang sangat Asya kenali.


"Asya? Ngapain loe disini?" Tanya wanita dengan sombongnya.


"Loe kenal dia dek? Dia istrinya mantan gue" ucap mantan El.


"Nih cewek emang murahan Kak, sana-sini mau. Dulu juga dia rebut cowok gue"


Plakkk .....


Sura tamparan yang tiba-tiba itu membuat semua orang terdiam. Mereka mengalihkan pandangannya menatap satu tempat. Asya dengan tangannya yang bergetar, menatap temannya dengan amarah. Ia tak akan diam lagi saat ada seseorang yang mengatakan hal jelek tentang nya. Asya tak mau jika anak-anaknya nanti berdampak akibat fitnah ini.


"Loe berani nampar gue? Sialan loe" ucapnya seraya melayangkan tangan.


Asya menangkis tangan wanita itu, lalu mencengkram nya dengan kuat.


"Keysa, aku bukan Asya yang kau kenal dulu. Tapi sekarang aku adalah seorang Ibu. Jika kau berani menyebarkan rumor palsu tentangku, aku akan meminta suamiku untuk menghancurkan keluargamu" ancam Asya dengan tatapan tajamnya.


Apa karena dia seorang Ibu? Gadis kecilku sudah sangat dewasa, dia masih saja terlihat mempesona saat marah, batin El dengan senyuman. Ia terus memandangi Asya dengan wajah merona.


"Sialan loe, lihat aja, emang loe pikir loe siapa ha? Emang suami loe siapa? Pasti cowok brengsek macam sampah karena lebih milih loe daripada Kakak gue" sentak Kesya tak kalah garang.


Mantan kekasih El membelalakkan matanya lebar, ia menarik sang adik untuk pergi dari acara itu.


"Asya, mau kemana?" Tanya El menahan Asya yang hendak pergi.


"Berani-beraninya dia menghina suamiku, aku harus memberinya pelajaran"


"Kau lupa siapa suamimu ini? Sudah biarkan saja, aku tak akan tinggal diam. Kita pulang saja"


"El tunggu, kenapa secepat ini?"


"Ayolah El, kita baru saja bertemu kembali"


"Elvin, kau sangat suka pesta kan?"

__ADS_1


Semua teman-teman El berusaha menghentikan kepergian pemuda itu. Namun sayangnya El lebih tertarik menghabiskan hari bersama sang istri tercinta. Ia tetap memilih mengajak Asya untuk pulang kerumah.


__ADS_2