
"Mas El, aku mau perawatan sekarang"
"Tapi ini sudah sore sayang, mending ki..."
"Sekarang Mas, sekarang"
El menghembuskan napasnya kasar. Ia mengambil ponselnya dan mendial nomor telepon seseorang. Meminta Zio membuat reservasi untuk istri tercintanya. El mengambil koper Asya dan membawanya pergi.
"Maaf ya Ma, jadi buat keributan dirumah Mama" ujar El pada Airin.
"Iya El, jangan bertengkar lagi ya. Jangan lupa kasih Mama cucu sepulang bulan madu"
"Dengar gak Sya?"
"Apa?"
"Aku duluan ya Ma, betinanya ngamuk"
El pun berjalan berlalu meninggalkan Airin yang tertawa. Asya berjalan dibelakang, memeluk Airin erat sebelum pergi. Gadis itu melangkah riang, dia benar-benar merasa layaknya seorang Ratu. Karena El mengajaknya ke tempat spa.
"Sayang, aku bisa mijitin kamu. Pijit plus-plus malahan, daripada kamu ke spa"
"Hm..."
Asya hanya berdehem membalas perkataan El. Tandanya, ia tak ingin mendengarkan El untuk saat ini. Apapun itu, Asya tak mau terbujuk oleh rayuan sang suami.
Sampai ditempat spa, sebagai suami yang baik, El menunggu istrinya. Ia bermain ponsel selama berjam-jam, sambil sesekali berbincang mengenai bisnis dengan lawan bicaranya. Istrinya sangat bahagia didalam sana melakukan perawatan tubuh.
Beberapa jam berlalu, waktu sudah semakin malam. Asya keluar dari tempat spa dan menuju ke ruang tunggu. Tak ada siapapun disana, El tak terlihat dimanapun. Asya mencoba menelepon nomor El, tapi suaminya tak menjawab.
Akhirnya Asya memutuskan menelepon ke nomor Zio. Baru saja ia hendak menelepon, tapi Zio berlari dari kejauhan menghampiri dirinya. Dengan napas tersengal, Zio berusaha menarik tangan Asya dan pergi meninggalkan tempat spa.
Walau Asya terus bertanya, tak ada jawaban apapun dari Zio. Pemuda itu mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Hingga keduanya tiba dirumah sakit. Zio masih bungkam dan menarik tangan Asya dalam diam.
"Adik Ipar ada apa?" Tanya Asya seraya menahan tangan Zio.
"Mas Farel, nanti saja jelasinnya" jawab Zio kembali menarik tangan Asya.
__ADS_1
Zio mengajak Asya menuju ruang ICU. Disana keluarga besar Farel sudah berkumpul. Adelia terus menangis dalam pelukan Mamanya. Sedangkan El, berusaha menenangkan Laura yang juga sesenggukan.
"Ayah, Bunda, Mas, ada apa?" Tanya Asya kebingungan.
"Farel Sya, Farel hiks. Ini semua gara-gara mereka, Bunda akan meminta ijin Kakek kalian untuk mengurus surat perpisahan Farel"
"Bunda, tenang dulu. Jangan berpikir seperti ini"
"Sayang, kamu jaga Bunda ya, aku mau pergi sebentar bersama Zio" ujar El kemudian berlalu pergi bersama dengan Zio.
Laura masih saja sesenggukan dipelukan Asya. Air matanya tak pernah berhenti mengalir. Bahkan bibirnya tak henti-henti memanggil nama Farel. Asya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi ia menghubungi Airin agar bisa menenangkan Laura.
Setelah Airin dan Dirga datang, Asya meminta ijin untuk mencari El. Ia berkeliling rumah sakit mencari keberadaan suaminya dan Zio. Rupanya keduanya tengah berbincang ditaman rumah sakit yang gelap dan sepi.
"Mas" panggil Asya lirih.
Kedua pemuda itu menoleh dan menatap Asya. El memeluk istrinya erat lalu mencium keningnya.
"Sya, sepertinya kita harus menunda liburan kita"
"Tidak apa-apa Mas, keluarga itu nomor satu"
"Mas El, aku hanya ingin bilang, jangan membuat keputusan yang gegabah. Mas ingat, ada aku yang masih harus Mas El jaga"
El terdiam mendengarkan perkataan istrinya. Hampir saja El salah langkah karena emosi yang menyelimuti untuk balas dendam. Ia mengangguk, kemudian meminta Asya untuk kembali menemani Laura dan yang lainnya. Tapi Asya lebih khawatir pada Aqilla yang tinggal dirumah bersama para asisten.
"Zio, panggil semua bodyguard Asya. Aku tidak bisa membiarkan istriku tanpa pengawasan" perintah El sambil menatap punggung istrinya yang mulai menjauh.
Saat Asya kembali, ia merasa lega karena rupanya Farel sudah melewati masa kritisnya. Walau masih membutuhkan pengawasan extra dari para ahli.
"Bunda, jangan, Mbak Adel sedang hamil. Cucu Bunda" ucap Asya pada Laura yang hendak menghampiri keluarga Adelia.
"Kau yakin itu cucuku? Wanita itu, bagaimana aaku bisa percaya padanya?"
"Bunda, Mas Farel dan Mbak Adel kini saling mencintai. Mereka bahagia dengan keluarga kecilnya"
"Asya, dia hanya akan menjadi beban untuk Farel. Aku akan meminta Ayah Mertuaku, pernikahan mereka, kasihan putraku"
__ADS_1
"Bunda kumohon relakan, ini tidak sebanding dengan apa yang aku alami. Aku mengatakan hal yang sama pada Mas El, dan dia mengerti. Aku harap Bunda juga akan mengerti" pinta Asya kemudian pergi menjauh dari keluarganya. Ia berjalan mengelilingi rumah sakit seorang diri. Menenangkan hatinya yang gelisah, memikirkan keponakan kecilnya, juga kandungan Adelia.
Sejenak Asya merasa bersalah, karena ia justru melakukan perawatan diri disaat genting seperti ini. Langkah Asya seketika terhenti, kala melihat seseorang yang mirip dengan temannya.
"Nando, Gita" panggil Asya seraya mengangkat tangannya.
Entah darimana Zio muncul dan menarik Asya pergi. Zio bersama para bodyguard Asya berdiri menjadi benteng agar Asya tak terlihat oleh siapapun disana. Tentu saja hal itu membuat Asya bingung dan penasaran.
"Lihat ini" ucap Zio memberikan ponselnya pada Asya.
Gadis itu memutar sebuah video, disana terekam perbincangan antara Nando dan Gita.
"Gimana Ndo? Gue hamil"
"Gugurin aja, lagian kita gak sadar hari itu"
"Gue gak mau Ndo, ini anak kita"
"Maksud loe apa?"
"Gue udah lama suka sama loe"
Air mata Asya menetes, kakinya bahkan goyah tak mampu menopang dirinya. Zio dengan sigap menahan tubuh Asya, mendudukkan nya di kursi taman. Gadis itu menatap Zio dengan kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Hari ini, ujian yang sangat berat sekali lagi datang menghampiri Asya.
"Adik Ipar, tapi, Jihan, ap.. apa yang harus aku lakukan? Sekali lagi Jihan terluka, aku.. aku..." tangis Asya tak terbendung. Ia menumpahkan banyak air mata hari ini.
Sayangnya El tak ada disana, pemuda itu harus pergi ke kantor polisi bersama Adhitama dan Dirga. Melaporkan kasus penganiyaan yang terjadi pada Farel.
"Aku akan menemanimu ke rumah Jihan, kita beritahu dia"
"Tapi Adik Ipar, dia akan terluka, aku.. aku"
"Dia akan lebih terluka jika kau diam, dan dia akan lebih terluka jika dekat dengan Nando"
"Apa ini cara terbaik?"
Zio mengangguk pasti, mereka pergi kerumah Jihan setelah berpamitan pada Laura dan Airin yang menjaga Farel diruang rawat. Selama perjalanan, hati Asya tak tenang sama sekali. Pasti sangat menyakitkan untuk Jihan, mengingat ia harus terluka lagi karena mencintai pemuda yang sama. Padahal Asya dan Gita berjanji akan membantu Jihan, tapi nyatanya pengkhianatan itu hadir diantara mereka.
__ADS_1
Laki-laki adalah salah satu alasan hancurnya sebuah persahabatan.