
Setelah kehamilan Asya, gadis itu semakin tak ingin jauh dari suaminya. Ia akan menanyakan banyak hal pada El kala pemuda itu hendak pergi keluar rumah. Walau ada banyak orang yang menjaga Asya, tapi tetap saja, kehadiran El sangat berpengaruh.
Kini kehamilan Asya menginjak Minggu ke 12. Waktu tak terasa berlalu begitu cepat. El selalu mencoba menahan dirinya untuk tidak menyentuh sang istri. Ia juga perlahan mulai berubah menjadi sosok yang lebih dingin pada siapapun. Namun, saat di depan Asya, El adalah pribadi yang hangat. Ia sangat memanjakan sang istri. Baginya kini tidak ada hal yang lebih penting daripada kebahagiaan Asya.
Asya merasa sangat beruntung, meski awal pernikahannya selalu di selingi air mata, tapi kini tak ada wanita yang lebih bahagia dibandingkan dirinya.
Laura masih belum bisa menerima Adelia seperti itu. Keluarga mereka masih tak seharmonis dahulu, tetapi Asya selalu mencoba yang terbaik untuk menyatukan keluarganya. El beberapa kali melarang sang istri, ia tak ingin Asya banyak pikiran. Tapi Asya adalah Asya, ia sama keras kepalanya dengan El jika sudah menentukan tujuan.
Hari ini, keluarga besar Adhitama mengadakan acara tiga bulanan Asya di rumah mereka. Ada banyak tamu yang mereka undang termasuk teman-teman Asya. El sudah memastikan jika semua yang Asya inginkan akan terwujud.
"Asya, loe kelihatan cantiiiikkk banget" puji Jihan. Ia bertugas menjaga Asya agar tak terlalu banyak bergerak.
"Mas El kemana sih Jihan? Kangen banget"
"Hm... bucin deh, gak sabar mau lihat ponakan gue" ujar Jihan seraya mengelus perut Asya.
Semua teman Asya datang dan memberikan selamat untuknya. Tak sedikit pula yang memberikan hadiah untuk Asya. Bahkan Nando dan Gita pun hadir, tapi keduanya hanya menyapa sejenak sebab Jihan tak membiarkan mereka berbincang terlalu lama seperti pesan dari El. Perut Gita juga terlihat besar, kabar terdengar jika keduanya masih menjaga jarak. Nando masih tak yakin dengan anak yang dikandung oleh Gita.
Namun Asya dan Jihan sudah tak ingin tahu. Mereka juga tak pernah lagi berbincang dengan Gita seperti dulu. Dinding besar itu, dinding kebencian.
Asya merengek pada Jihan jika dirinya sangat lapar. Para pelayan segera menyiapkan jamuan untuk Asya. Semua makanan yang Asya inginkan.
"Jihan, aku seperti seorang Ratu"
"Tentu saja Nyonya El, kau yang terbaik. Keponakan ku harus makan banyak ya" ucap Jihan seraya mengelus perut Asya yang mulai terlihat.
"Aku tidak sabar, kapan anakku akan tumbuh besar"
"Tunggu dia lahir Asya, makanlah"
Belum saja Asya mulai menyuapkan makanan kedalam mulutnya, El berlari dan menghentikan nya untuk makan. Asya dan Jihan tampak kebingungan, Zio terlihat mengambil alih MC dan meminta para tamu untuk berhenti makan.
"Mas, ada apa?"
__ADS_1
"Jangan makan apapun, kapan acara ini akan berakhir? Aku mau membawamu pulang kerumah"
Tak lama, Laura dan Airin menghampiri El. Kedua Ibu itu mulai mengoceh atas tindakan konyol El.
Sebenarnya bukan tanpa sebab El melakukan ini, ia mendapat informasi jika seseorang telah meracuni makanan di acara tiga bulanan Asya. Ia takut terjadi sesuatu pada istrinya. Karena itu secepat mungkin El datang meninggalkan pekerjaannya.
"Eeelll" teriak Zio panik.
El yang merasa namanya disebut, mulai menatap sekitar. Amatir itu, waktu yang tidak tepat, ia berusaha melukai Asya dengan pisau. El dengan sigap menghentikannya, walau harus mendapatkan luka dibagian lengannya.
Dalam sekejap para bodyguard masuk dan menangkap amatiran bodoh itu. Mereka membawa nya ke kantor polisi dan pesta pun diakhiri.
Asya terus menangis melihat darah yang keluar dari lengan suaminya. Ia tak bisa menghentikan tangisnya walau berkali-kali El berkata baik-baik saja.
Sampai dirumah Adhitama, El dan para lelaki keluarga besarnya mulai berunding. Kejadian hari ini, bukan tidak mungkin akan terjadi lagi.
"Aku akan membawa Asya keluar negeri" ujar El.
"Apa yang mereka inginkan? Kenapa melakukan hal sejauh ini?" Tanya Adhitama gusar. Ia khawatir akan keselamatan menantu dan cucunya.
"El, kita bisa menjaganya. Kau tak perlu membawa Asya pergi sejauh itu" sela Dirga. Adhitama, Kakek El dan yang lain menyetujui saran Dirga. Tetapi El sudah memutuskan apa yang hendak ia perbuat.
Airin dan Laura tampak tak setuju. Jika El membawa Asya keluar negeri, mereka juga ingin ikut menemani gadis itu. Tapi rencana El sudah matang, hanya dia yang akan tahu dimana keberadaan istrinya. Tidak ada yang lain bahkan keluarga nya sekalipun.
"Kau sudah gila El? Aku tidak akan membiarkanmu membawa Asya pergi" sentak Laura.
"El, kita bisa bicarakan ini baik-baik kan?" Sahut Airin.
"Bunda, Mama, apa kalian bisa menjamin Asya akan baik-baik saja? Bukankah kalian sangat menginginkan cucu, biarkan aku membawanya, demi kebaikan Asya dan anakku"
El pergi meninggalkan ruang keluarga dan menghampiri istrinya. Asya tengah tertidur pulas diatas tempat tidur. Pasti karena kelelahan sebab acara yang merepotkan ini. El mulai mengemasi semua pakaian sang istri. Semuanya akan kembali seperti dulu, El akan tinggal di rumah sebelumnya. Sedangkan Asya, akan berada diluar negeri selama masa kehamilan nya.
Selesai berkemas, El tidur disamping istrinya. Ia mengelus wajah Asya, wajah yang akan ia rindukan nantinya.
__ADS_1
"Aku tak pernah membayangkan akan setakut ini kehilanganmu. Jaga dirimu, karena kau adalah nyawaku"
"Mas El, ada apa? Hm...."
"Kau terbangun? Maaf ya sayang, tidurlah lagi"
"Apa Mas El baik-baik saja? Tangan Mas El tadi berdarah, apa ... apa..."
El membungkam bibir istrinya, ia memainkan ciuman manis dengan Asya. Agar sang istri mengalihkan pikirannya.
Asya menarik dirinya dari El, ia memandangi kedua mata El dengan gemetar.
"Apa Mas El menginginkannya?"
"Sangat, tapi aku bisa menahannya. Sepertinya Nyonya El yang tak bisa menahannya sekarang"
"Ih Mas apa'an sih nyebelin. Kata dokter gak apa-apa kok Mas, kalau Mas El mau.."
"Mau lah, yuk, kenapa gak bilang dari dulu sih. Sengaja ya kamu?"
Asya memutar bola matanya malas, El menarik sang istri dalam pelukan dan mulai bercinta perlahan. Sebab Asya terus mengomel agar El berhati-hati, supaya tak menyakiti bayi mereka.
"Sayang, mulai besok kau akan tinggal diluar negeri. Jangan tanyakan alasannya, kau hanya perlu mengikuti apa yang aku katakan"
"Baiklah Mas, tapi apakah kita akan tinggal bersama?"
"Tidak, aku akan mengunjungimu setiap pekan. Jangan khawatirkan aku dan jaga dirimu nanti, aku sudah menyiapkan semuanya disana. Kau tidak akan kekurangan apapun Asya"
Air mata Asya menetes, ia takut suaminya akan berubah lagi kala mereka jauh. Walau El akan mengunjunginya setiap pekan, tetapi hati seorang istri mana yang bisa tenang jika suaminya jauh.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Esok hari tiba...
__ADS_1
El membawa Asya ke luar negeri dengan penerbangan pagi. Disaat tak ada satupun orang yang tahu, El membawa Asya.
Kini hidup mereka hanya akan dipisahkan oleh jarak. Selagi El mengurus semuanya disini, mencari tahu siapa musuh yang mencoba untuk melukai keluarganya.