
Seperti biasa El duduk dan menunggu istrinya yang tengah berkeliling. Ia kembali berkutat dengan ponselnya, membahas pekerjaan dengan Zio disana.
Setelah cukup lama menunggu sang istri yang tak kunjung selesai berbelanja, El mulai khawatir dengan dompetnya. Ia pergi ke ruang ganti yang dijaga oleh tiga pegawai disana. Rupanya Asya sedang mencoba beberapa pakaian.
"Cantik gak mbak?"
"Cantik sayang, udah ah, lama banget kamu belanjanya"
"Emm,,,,,"
El mencubit gemas pipi istrinya, ia lalu berbisik pada Asya untuk mencari pakaian yang bisa menonjolkan dua buah dadanya. Asya sontak saja merona malu karena perkataan konyol sang suami.
Asya mendorong El menjauh dan kembali mengunci ruangan untuk berganti pakaian. Ia sudah memilih banyak sekali pakaian yang ada di tangan para pegawai toko. El mencoba menggoda istrinya dan mengatakan jika sang istri telah menguras uangnya di hari itu juga.
"Mas El serius?"
"Dua rius sayang"
Matanya terbelalak tak percaya, Asya mulai memilah kembali pakaiannya, dan memilih pakaian yang paling ia sukai. El tertawa puas, ia menghentikan candaannya sambil memeluk pinggang sang istri.
"Gak kok sayang, bercanda"
"Mas ih, bercandanya gak lucu loh. Biarin aja, besok aku mau belanja lagi, aku habisin beneran uang Mas El"
El membayar semua belanjaan istrinya dan membawanya masuk kedalam mobil. Karena Asya sedang asik berbincang dengan teman lamanya, senior Asya di sekolah.
Ada rasa sesak di dada El, ia tak menyukai kala istrinya berbincang dengan pria lain, walau mereka hanya sebatas teman lama. El terus menatap Rio dengan tatapan tajam, ia berharap pemuda itu merasa tak nyaman lalu menghentikan nostalgia nya bersama Asya.
"Sayang, masih lama?" Sela El yang sudah tak sanggup menunggu.
Asya dan Rio menoleh, lalu gadis itu terkekeh kecil. Ia menghentikan pembicaraannya dengan Rio dan pergi menghampiri suaminya. El masuk kedalam mobil setelah istrinya masuk lebih dulu.
Dalam diam, El melajukan mobilnya menuju rumah. Sedangkan Asya terus saja menatap suaminya yang sedang marah padanya.
"Mas El marah?"
"Hm..."
Mereka sudah sampai di rumah, El mengikatkan sapu tangan untuk menutup mata istrinya. Asya hanya bisa mengikuti kemauan suaminya dalam diam, sebab ia merasa tak enak karena sudah membuat El marah.
__ADS_1
Perlahan El menuntun sang istri untuk masuk kedalam rumah.
"Mas El, mau apa sih? Jangan marah dong"
"Bilang dulu"
"I love you Mas, aku cinta Mas El"
El tertawa mendengar istrinya yang begitu penurut. Ia belum membuka penutup mata itu, El malah meminta istrinya untuk mencium dirinya sebelum membuka mata. Asya pun melakukannya, ia menangkup kedua pipi El dan mencium bibirnya singkat.
Setelah itu, Asya membuka matanya perlahan. Ia begitu terkejut mendapati rumahnya yang penuh dengan dekorasi ulang tahun. Dan yang lebih mengejutkan, semua sahabat Asya ada disana, termasuk Nando dan teman-temannya.
"Selamat ulang tahun Assyaaa" sorak mereka bersamaan.
Asya menatap suaminya, ia pikir El tak akan mengingat hari ulang tahunnya. Tapi rupanya semua sikap baik El adalah untuk memanjakan dirinya dihari ulang tahun Asya yang ke 21.
"I love you too sayang" sahut El seraya mengecup singkat kening Asya. Tentu saja gadis itu membalasnya dengan pelukan.
Jihan dan Gita bersorak menggoda sahabatnya yang tengah tersipu malu tersebut.
Setelah meniup lilin dan memberikan potongan kue pertama untuk El. Suami Asya itu pergi masuk kedalam kamar bersama Zio, membiarkan Asya menikmati waktunya bersama teman-temannya.
"Zio, Papa dan Kakek memiliki perjanjian konyol. Mereka menukar Asya dengan harta"
El menatap Zio dengan tajam, ia tak ingin kalimat itu terdengar kembali oleh Asya atau siapapun. El sangat membencinya. Ia tak tahu harus bagaimana, karena dihari ulang tahun istrinya, Asya malah harus mengetahui kenyataan pahit.
"El, aku mengundang keluarga Kakak Ipar"
"Apa?"
Segera setelah mendengar perkataan Zio, El kembali turun kebawah. Benar saja, Asya tengah berdiri berhadapan dan menatap Papanya.
Terlihat raut wajah sedih itu lagi, El yakin Asya tak akan bisa menahan tangisnya.
"Makasih ya Pa, setidaknya pilihan Papa untuk menikahkan aku dengan Mas El mungkin bukan kesalahan"
"Apa maksudmu?"
"Aku benci Papa, sangat membenci Papa"
__ADS_1
"ASYA"
Tangan Dirga sudah terangkat, beliau siap menampar Asya dihadapan teman-teman putrinya. Tetapi kini El datang tepat waktu, ia tak akan membiarkan Dirga menyakiti istrinya, lagi.
"Cukup Pa, dia istriku. Kami sudah tahu semuanya, Kakek sudah cerita"
"El, kau terlalu memanjakan dirinya"
"Itu memang tugasku sebagai suaminya. Jika Papa ingin memperbesar masalah ini, lebih baik Papa pergi saja"
Dirga merasa sangat terhina dengan perkataan anak dan menantunya. Ia tak bisa menerima semua itu. Segera ia menarik Airin untuk pergi darisana, juga meminta Syam dan Galen agar tak hadir dalam acara ulang tahun Asya.
Airin menatap putrinya dengan sedih, lagi-lagi ia tak bisa melakukan apapun. Tetapi hatinya sedikit tenang, melihat El yang membela dan berani menentang Dirga demi melindungi Asya.
Jihan dan Gita memeluk Asya yang tengah mencoba menahan air matanya. Walau pada akhirnya air mata itu jatuh mengalir deras.
"Maaf ya, Mas El jadi bertengkar sama Papa"
"Kenapa minta maaf? Aku kan suamimu, aku harus menjagamu. Sudah jangan menangis, ini pesta bahagia bukan?"
Asya menyeka air matanya, ia sekali lagi memeluk El dengan sangat erat. Sudah bukan rahasia lagi, teman-teman Asya memang sudah tahu bagaimana sifat Papa Asya. Dan mereka juga hanya bisa melihat tanpa berani membela gadis itu. Tapi kini, ada seseorang yang berani menentang Dirga di depan umum, suami Asya.
Jihan dan Gita juga merasa sangat bahagia, karena mereka tahu sahabatnya memiliki pendamping yang sangat menyayangi Asya. Mereka yakin hidup Asya akan lebih baik setelah ini. Karena El terlihat begitu mencintai Asya.
Nando hanya tersenyum kecut melihat adegan tersebut. Disaat semua para wanita memuji betapa mengagumkannya El, Nando sudah mengetahui sifat buruk pria itu. Ia masih berpikir, ada harapan untuk merebut Asya dari pemuda pembohong seperti El.
Saat El dan Zio kembali masuk, Nando mencari kesempatan untuk mendekati Asya.
"Sya, sampai kapan kau akan menutup mata? Jelas suamimu itu tidak baik"
"Dia sangat baik Nando"
"Bohong, kau tidak mau menerima kebenaran itu bukan? Kau tahu benar dia suka bermain dibelakang mu dengan wanita lain"
"Dia sudah berubah"
Nando sangat geram, ia mencengkram tangan Asya dengan kasar. Menatap tajam mata gadis itu dengan penuh amarah. Asya juga berbalik menatap Nando. Tapi tatapan mata Asya, membuat hati Nando luluh. Ia tak bisa marah pada gadis yang sangat dicintainya.
"Asya ku mohon, jangan biarkan pemuda brengsek itu menyakitimu"
__ADS_1
"Kenapa Nando? Kenapa kau ikut campur urusan rumah tanggaku? Karena kau menyukaiku? Sudahlah, lupakan perasaan itu"
"Ap..apa yang kau katakan?"