
"Bajunya ketat banget nih, perut buncitnya jadi nonjol tuh tuh lihat" oceh Asya memandangi dirinya didepan cermin.
"Perasaan kamu aja itu, bagus ini seksi" bisik Mama.
"Iya, El pasti suka. Kamu mau jadi istri yang baik kan?" Rayu Bunda. Asya mengangguk, ia memang ingin menjadi istri yang baik untuk El.
Setelah menyuruh Ipah dan Agus pulang lebih cepat. Kedua ibu itu mengajak Asya untuk pergi ke kamar tamu. Mereka mengajak Asya untuk menonton film adegan dewasa, mengajarkan Asya cara untuk menggoda suaminya.
"Aaaahh, kita nonton apa sih ini, gak mau lihat ah" keluh Asya sambil menutup kedua matanya dengan tangan.
"Sayang, kamu harus contoh ceweknya itu, biar El jadi makin sayang sama kamu" pinta Mama. Beliau menarik tangan Asya dari wajahnya, memaksa putrinya untuk melihat dan mempelajari.
"Iya, El pasti suka. Percaya deh, Bunda kan yang ngelahirin dia" imbuh Bunda. Karena Mama memegang tangan Asya, Bunda juga ikut membantu membuka mata menantunya yang tertutup.
Walau samar-samar Asya masih bisa melihat apa yang mereka tonton. Wajah Asya sudah sangat memerah, ini hal baru dan rasanya ia ingin menghancurkan televisinya.
Cukup lama mereka menonton, dan Asya terus mengoceh tanpa henti. Ada berbagai pertanyaan, kenapa melakukan ini dan itu. Tanpa mereka sadari, hari sudah malam. El sebentar lagi pasti akan pulang kerumah dan mereka juga harus pergi.
"Sayang, jangan lupa ya dipraktekkan" nasihat Mama.
"Iya, nanti kabarin kita ya hasilnya, heheh" sambung Bunda. Mereka berdua pun pergi setelah mencium Asya. Kedua supir para ibu ini telah menunggu didepan rumah.
Sepi, rumah menjadi begitu sepi karena semuanya telah pergi. Kini hanya tinggal Asya seorang diri. Ia bergegas berlari memasuki kamar, merasa takut jika tiba-tiba saja ada sesuatu yang muncul tanpa Asya sadari.
"Wah, kamarnya cantiikkk, kayak pengantin baru. Wangiiii, Mama sama Bunda emang the best" puji Asya seraya memandangi setiap detail dekorasi.
Sembari menunggu El, ia memilih untuk menonton acara Running Man dan tengkurap diatas ranjang. Sambil terbatuk-batuk, Asya tertawa melihat tingkah kocak para pemainnya.
2 jam kemudian .......
__ADS_1
Ceklek..
Suara pintu terbuka. El menatap sekitar, tak ia temukan siapapun didalam rumah. Bunda dan Mama memang tak memberitahu El jika mereka tidak jadi menginap, sebab itulah El berada di kantor lebih lama.
Setelah mengunci pintu, El membuka kamar tamu, nihil, tak ada seorang pun. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Dengan perlahan ia membuka pintu.
"Astaga, mereka berulah lagi" gumam El setelah menatap kamarnya yang penuh bunga dan lilin aroma. Pemuda itu kembali mengedarkan pandangannya, mendapati Asya yang tertidur tengkurap diatas kasur.
"Lihatlah gadis ini, ia akan melakukan apapun yang disuruh" ujar El menatap lekuk tubuh Asya. Gaun Asya yang super ketat dan pendek, serta sedikit transparan. Secuek apapun El, ia masihlah seorang pria.
El mengangkat tubuh Asya, membenarkan posisi tidurnya. Suhu badan Asya masih sedikit panas, pasti karena Mama dan Bunda memaksanya melakukan ini dan itu.
"Cantik" puji El seraya membelai rambut panjang Asya.
"Sya, aku bisa saja menyentuhmu karena nafsu, tapi kepolosanmu membuatku ragu untuk bertindak lebih jauh. Aku selalu merasa kasihan padamu, hanya itu" gumam El. Ia lalu beranjak pergi untuk mandi dan berganti pakaian.
Semua kebaikan El untuk Asya selama ini, hanya karena rasa kasihan, bukan kasih sayang. Ia merasa bersalah karena Asya harus terus menangis setelah menikah dengannya. Terlebih masalah Papa yang begitu membenci Asya, membuat El semakin merasa iba.
Suara ketikan leptop kembali terdengar. Di meja sudut ruangan, El kembali berkutat dengan pekerjaannya. Tiada waktu luang untuk El, adapun waktu luang ia pasti lebih memilih bekerja daripada hanya duduk dan mengobrol.
Tapi kini, ada beberapa hal yang mulai mengusik kegemarannya, Asya. Gadis itu terkadang muncul dalam benak El. Setiap kali El merasa suntuk, raut wajah ceria istrinya muncul begitu saja.
Seperti halnya saat ini, El yang tiba-tiba saja terusik dengan kehadiran Asya. Membuatnya memilih untuk pergi dan bekerja di kamar tamu. Sambil duduk diatas ranjang, ditemani secangkir kopi hangat.
"Apa ini?" Ucap El saat menyalakan televisi. Film yang Asya tonton, kini El juga menontonnya. Tanpa sadar sudut bibir El naik keatas, ia mulai menyadari jika ini pasti ulah Mama dan Bunda. "Sejauh apa mereka akan mengajari Asya? Haruskah aku mengetahuinya, bagaimana bisa gadis polos itu bisa seliar ini" gumam El.
Ia kembali pada leptopnya, tapi rasa penasaran itu semakin kuat. El pun memutuskan untuk pergi menghampiri Asya.
"Mas El?" Panggil Asya saat menatap suaminya masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Kenapa kau bangun? Tidurlah lagi" ucap El. Dalam hatinya ia berpikir jika ini adalah kebetulan yang menyenangkan. Ia menaruh leptopnya dan duduk disamping Asya. Menyalakan televisi untuk sekedar hiburan semata.
"Kenapa kau terus menatapku? Ada yang ingin kau katakan?" Tanya El yang mulai terusik dengan tatapan Asya.
Gadis itu tak berkata apapun, ia bergerak mendekat ke arah El. Asya mencoba mengingat apa saja yang ia pelajari dari film yang ditontonnya. Dengan yakin ia duduk diatas pangkuan suaminya, menghadap El yang masih diam tak mengerti. Perlahan tangannya ia lingkarkan di leher El, lalu menatap kedua mata suaminya.
"Huft, Mas El, aku lupa tadi gimana ya?" Celetuk Asya seraya memanyunkan bibirnya.
Sudah ku duga, batin El.
El memegang pinggang Asya, ia lalu membalik posisi mereka. Menjatuhkan Asya diatas ranjang, dan dia diatas. Asya nampak terkejut, wajahnya merona merah.
Lihatlah ekspresi ini, kau sangat lucu, Asya. Tapi sayangnya aku lebih menyukai bermain dengan gadis nakal, batin El.
El menarik tubuhnya menjauh dari Asya. Meminta Asya untuk mengganti pakaiannya dan lanjut tidur.
"Aku akan bilang pada Mama dan Bunda agar tak memintamu untuk melakukan hal yang aneh-aneh lagi" ucap El yang sudah berbaring diranjang.
Asya juga naik keatas ranjang, tetapi sesuatu didadanya membuatnya merasa tak nyaman. Ia pun kembali memeriksa, dan menarik sumpelan bra yang Mama berikan padanya.
"Aku tidak tahu kenapa Mama memakaikan ini padaku?" Ujar Asya seraya menunjukkan sumpelan itu pada El.
"Untuk membuat dadamu terlihat lebih besar" jawab El spontan.
"Kok Mas El tahu?" Jawaban refleks El mengharuskan dirinya mencari alasan untuk memberikan penjelasan pada sang istri. Berdalih jika Bunda pernah memberitahu dirinya benda yang Asya pegang beserta kegunaannya.
Setelah memahami penjelasan El, Asya kembali memasukkan sumpelan itu dalam bra-nya.
"Kenapa dipakai lagi?" Sahut El mengejutkan Asya. "Biar besar Mas, kata Bunda Mas El suka..." ucapan Asya terhenti karena El membungkam mulutnya. Ia mengambil sumpelan itu dan menaruhnya kedalam laci.
__ADS_1
"Tidur" perintah El ketus.
Asya segera membaringkan tubuhnya dan menyelimuti dirinya. Memiringkan tubuhnya menghadap sang suami. "Mas El, apa pernah suka sama cewek?" Tanya Asya lirih.