Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 73


__ADS_3

Asya bermain dengan Aqilla didalam kamarnya. Sembari menonton Running Man, mereka tertawa keras hingga lupa waktu. Hari telah menjelang siang, Adelia menghampiri Asya dan membawa Aqilla pergi ke kantor Farel.


Walau Adelia tak suka, Farel selalu meminta keduanya untuk datang ke kantornya saat makan siang. Namun Asya tak membiarkan Adelia pergi sendiri, ia meminta empat bodyguard nya untuk menjaga ipar serta keponakannya.


Asya juga hendak pergi, tapi sebelum itu ia memasak makan siang untuk El terlebih dahulu. Sebab Zio mengirimi dirinya pesan jika El sedang marah lagi di kantor.


"Dia memang kekanakan" gumam Asya kala melihat kantor suaminya kembali suram. Para karyawan hanya diam dan tampak begitu sibuk di meja masing-masing. Padahal ini sudah waktunya jam makan siang. El pasti meminta mereka untuk menyelesaikan pekerjaan secepatnya.


Sebelum Asya masuk kedalam ruangan, Zio mengehentikan dirinya sejenak. Mendudukkan Asya di mejanya dan berbincang singkat.


"Kakak Ipar kau tahu kan aku ada dipihakmu. El, sepertinya sedang ada masalah, dia terlihat murung"


"Murung? Bukannya Mas El marah-marah?"


"Itu tadi pagi, aku baru saja masuk kedalam ruangannya. Dia terlihat sedang melamun, aku yakin ada sesuatu. Tapi El tak menceritakannya padaku"


Asya mengangguk mengerti, ia kemudian berdiri dan membenturkan lututnya ke meja hingga memar. Zio tampak terkejut melihat kejadian itu, ia hendak berlari memanggil El, namun Asya menghentikannya.


"Sakit ya ternyata" gumam Asya lirih.


Zio hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah konyol Kakak Iparnya. Asya membuka pintu ruangan El, terlihat suaminya tengah fokus didepan leptop. Pandangannya segera teralih kala mendengar suara pintu terbuka.


"Ada apa?" Tanya El tanpa ekspresi.


Asya tersenyum, ia berjalan mendekati El perlahan, jelas sekali terlihat jika kakinya terluka. El yang awalnya cuek, segera bangkit dan mengomel tak karuan. Ia memapah Asya untuk duduk di sofa ruangannya. Meluruskan kaki istrinya yang terlihat memar itu.


Rentetan pertanyaan kembali terdengar, Asya sedang mencoba berakting kesakitan.


"Ini semua salah suamiku"


"Eh, kok gitu?"


"Dia marah, harusnya dia tahu kalau aku tak bisa melakukan apapun tanpanya. Aku tidak bisa mengambil wadah ditempat tinggi itu, jadi aku terjatuh. Dia menyebalkan"


"Hm, suamimu memang menyebalkan. Tinggalkan saja dia dan pergilah bersamaku, aku akan menjagamu"


Asya tertawa kecil karena El mengikuti permainannya. Pemuda itu terus meniup lutut Asya yang memerah.


"Tidak mungkin, karena aku mencintai suamiku"

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Asya. Kau selalu bisa membuat hatiku luluh. Kau mau apa?"


Asya mengelus pipi suaminya, ia tahu El juga terusik dengan masalah Farel dan Adelia. Tapi pemuda itu hanya menyimpannya sendiri, harga dirinya terlalu tinggi. Asya memeluk El dan menepuk punggungnya perlahan. Ia ingin suaminya tahu, jika ada seseorang yang bisa ia bagi kesedihan kapanpun.


"Mas El, masih belum anggap aku istri ya?"


"Mana mungkin sayang, ada apa?"


"Kalau ada masalah, kenapa gak mau cerita sama aku? Bukannya Mas El bilang, tidak boleh ada rahasia?"


"Sekarang apa lagi? Apa Zio mengatakan hal yang tidak-tidak?"


Asya mengeratkan pelukannya, sambil memberitahu El jika Zio sangat menyayangi El. Karena itulah Zio tak pernah ingin melihat El sedih.


El hanya diam dan terus memeluk istrinya. Ia tak ingin mengatakan apapun untuk saat ini. Puas memeluk istrinya, El memandangi Asya.


"Kamu kelihatan cantik" puji El seraya mencoba membuka kancing pakaian Asya.


"Gimana kalau malam ini kita kencan?" bisik El sembari menciumi leher istrinya. Meninggalkan bekas merah disana.


Asya kembali membenarkan pakaiannya, seraya menolak permintaan sang suami. Ia mulai membuka bekal makan siang El. Jika tidak, suaminya akan bertindak lebih jauh padahal mereka sedang berada dikantor.


"Nanti malam mau makan apa Mas?"


"Hm... terserah kamu aja. Manis banget sih istriku, gemes deh" El yang gemas, menggigit pipi istrinya.


Beberapa karyawan memandangi mereka, kehadiran Asya dikantor selalu bisa mencair kan suasana. Sebab mood El langsung berubah kala melihat istrinya.


"Kakak Ipar, lehernya kenapa kok merah?"


Asya tak menjawab, ia hanya melirik ke arah El. Zio dan beberapa karyawan lain tertawa malu membayangkan apa yang terjadi. Bukan hal umum sebenarnya, karena El dulu selalu membawa wanitanya ke kantor. Dan apapun yang Presdir itu lakukan, tak ada yang tahu.


Kini, hanya Asya yang terlihat keluar masuk ruangan El. Mereka juga merasa lega karena bos mereka tidak lagi membawa wanita sembarang. Karena para wanita itu terkadang suka semena-mena.


Baru saja Asya hendak melangkahkan kakinya keluar, seseorang datang memanggil nama suaminya.


"Tuan El, selamat siang" sapa wanita seksi itu. Ia menaruh lengannya di bahu El, dan tersenyum centil.


"Minggir" ucap Asya ketus menarik wanita itu jauh dari suaminya. Sekarang tak perlu waktu lama lagi untuk Asya menahan emosi, jika ada wanita yang mendekati suaminya, ia akan langsung bertindak.

__ADS_1


"Oh ayolah Nona, apakah anda wanita baru Tuan El? Ini adalah jadwalku untuk menemaninya"


"Jadwal?"


"Iya, hari ini giliranku. Ayo Tuan kita pergi"


Sekali lagi Asya menarik lengan wanita itu. Mereka berdua akhirnya saling berhadapan dengan tatapan penuh amarah. Wanita itu kembali menjelaskan jika ia sudah memiliki jadwal yang pasti dengan El.


"Sekarang jadwal itu tidak berlaku, beritahu siapapun yang tahu mengenai jadwal yang kau bicarakan. Tidak ada lagi hari bersama Tuan El, kau mengerti Nona?"


"Nona, memangnya anda siapa? Tuan sudah mengatur untuk kami"


"AKU ISTRINYA. Berani sekali lagi kau datang kemari, aku akan memukulmu, pergi sana" sentak Asya kesal. Ia menjambak rambut wanita itu dan mendorongnya keluar kantor.


Setelah memastikan wanita itu pergi menjauh, Asya masuk lagi kedalam kantor. Menghampiri El yang sudah bersiap untuk kembali keruangannya.


"Mas Elll" panggil Asya.


El berbalik dan berjalan mendekati istrinya dengan senyuman canggung. Ia benar-benar lupa akan jadwal itu, sebab ia sudah memiliki Asya sekarang.


"Berapa banyak wanita yang Mas El bawa kemari?"


"Sayang, itu kan...."


"Tak terhingga Kakak Ipar" sela Zio.


Suara tawa El yang canggung terdengar hingga keseluruh celah terkecil di kantornya. Ia bahkan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebab Asya masih memandangi dirinya dengan amarah.


"Sayang, itu kan masalalu, udah ya lupakan aja. Kita mulai semuanya dengan lembaran baru"


"Itu Mas El tahu, Mas El juga lupakan masa lalu dong"


"Beda Sya"


"Sama Mas"


"Asya, jangan mulai deh" sentak El.


Asya hanya diam memandangi El. Hal itu sukses membuat El merasa tak nyaman dan menyesal telah membentak Asya.

__ADS_1


"Nanti kita bicara dirumah ya sayang. Kamu pulangnya hati-hati" ucap El. Setelah itu ia mencium kening Asya dan melepas kepergian sang istri tercinta.


__ADS_2