
Pagi menjelang...
Asya sudah sibuk memasak di dapur karena si kembar ingin makan pancake hari ini. Kedua putranya juga telah bangun dan sedang berenang dengan Agus bersama guru berenangnya. El benar-benar menyiapkan pendidikan si kembar dengan sangat baik, ia mendaftarkan beberapa kursus untuk kedua putranya.
"Bunda, aku mau jus" teriak Key.
"Iya Bunda buatkan, belajar yang benar ya"
Key kembali melanjutkan pelajaran renangnya. Tingkah kedua putranya membuat Asya tersenyum lebar dipagi hari. Ia menyiapkan jus dan pancake untuk si kembar kemudian pergi ke kamar membangunkan suaminya.
Ponsel Asya berbunyi, ada panggilan masuk dari nomor yang tak dikenal. Ia mengangkat panggilan itu dan bertanya siapakah seseorang diseberang sana yang menelponnya sepagi ini. Cukup lama Asya menunggu, tapi tak ada suara apapun dan malah panggilan itu terputus begitu saja.
Triing...
From : Nomor Tak dikenal
Asya, ini aku Nando. Bisa kita bertemu hari ini?
Asya membaca pesan singkat itu, ia tak membalasnya dan langsung menghapus pesan itu. Ia tak ingin membuka hubungan apapun dengan Nando. Karena rasa takut yang tak bisa ia kendalikan.
"Mas, bangun sudah pagi" ucap Asya seraya menggoyangkan tubuh suaminya. Ia menyingkap selimut dan mendapati tangan suaminya yang tengah berada didalam celana. Astaga, pemuda ini masih tak berubah.
Sekali lagi Asya mencoba membangunkan suaminya, ia menarik tangan El perlahan agar keluar dari dalam celana. Perlahan mata El terbuka, ia memandangi istrinya yang tengah tertawa.
"Pagi sayang"
"Pagi Mas, bangun yuk udah pagi. Lihat anak-anak lagi belajar renang" ucap Asya. Ia mencium bibir suaminya lalu beranjak pergi membuka gorden kamar.
"Asya, boleh aku bertanya sesuatu tentang Nando?"
Kenapa tiba-tiba? Apakah Mas El tau Nando menghubungi ku?
Asya hanya berdehem dan mengangguk.
"Apa kau menyukai Nando? Ma.. maksudku, apa kau pernah mencintai nya? Memiliki perasaan lebih dari seorang teman"
Pertanyaan El membuat dada Asya terasa sesak. Entah ini kekesalan, atau memang ada sesuatu yang Asya sembunyikan. Jika boleh jujur, wanita mana yang akan menolak pemuda sebaik Nando. Sangat perhatian dan begitu peduli pada Asya. Bahkan Nando selalu menjadikan Asya prioritas nya, mana mungkin Asya tak pernah menyimpan rasa sedikitpun.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Asya mendekati El. Ia duduk di tepi ranjang sembari memandangi suaminya.
"Hanya bertanya. Jangan takut Asya, aku bisa melihat kau menyukainya sebagai seorang pria. Ah, maafkan aku, aku memimpikanmu dan Nando bersama" jawab El dengan senyum kecutnya. Ia bangun dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi.
Apa aku salah? Kenapa sepertinya semua hal adalah kesalahanku?
__ADS_1
Asya memandangi pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia menyiapkan pakaian suaminya, mengemasi barang-barang El untuk pergi ke kantor. Tak lama El keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Ia menatap Asya sekilas lalu melanjutkan mengenakan pakaiannya.
Baru saja El mengenakan kemeja, ia melepaskan kembali pakaiannya dan melemparnya ke arah Asya. Asya menahan amarahnya, ia perlahan mengalihkan pakaian sang suami dari wajahnya. Betapa terkejutnya Asya kala wajah El ada tepat di hadapannya.
"Kenapa cemberut gitu?"
"Boleh aku pergi Mas?"
"Tentu tidak. Aku belum selesai memakai pakaian ku"
"Kenapa? Kenapa selalu aku yang disalahkan Mas? Kenapa hanya aku yang selalu merasakan sakit itu? Apa karena aku seorang perempuan?"
El menarik mundur dirinya menjauh dari sang istri. Ia menatap Asya yang matanya berkaca-kaca. Masih saja cengeng, padahal niat El hanya ingin menggoda istrinya. Pemuda itu tak habis akal, ia membuka handuk yang membalut bagian bawahnya begitu saja.
Begitu handuk terlepas, Asya tersentak. Ia sedikit berteriak lalu berlari memeluk suaminya.
"Gila kamu Mas, gimana kalau nanti ada yang lihat?" Sentak Asya dengan amarahnya.
Manisnya, batin El kala menatap wajah istrinya.
Asya mendorong sang suami masuk kedalam kamar mandi. Padahal dikamar itu tak ada siapapun selain mereka, harusnya Asya tak sepanik ini.
"Udah ngambeknya?"
"Aku gak marah, cuma cemburu. Kata-kata Kai mencuci otakku, kenapa aku harus memimpikan hal konyol seperti itu"
"Iih nyebelin banget sih, tau ah"
"Eh kamu kenapa malu-malu gitu?"
"Habisnya Mas El sih, kita kan udah punya dua anak, masih aja cemburu apa'an sih. Iihh malu tau aku, hm..."
El mengernyitkan keningnya, ia menatap Asya dengan aneh. Ia melengos pergi keluar kamar mandi dan segera mengenakan pakaian rumah. El tak berniat pergi ke kantor hari ini, ia ingin menemani putra bungsunya memeriksakan gigi. Sebenarnya, ia cemburu setelah mimpi menyebalkan itu.
"Sya, kamu mau disana seharian?" Teriak El membuyarkan lamunan istrinya.
Asya bergegas keluar kamar mandi, hingga ia menabrak suaminya.
"Mas El gak ke kantor?"
"Kamu maunya gimana?"
"Dirumah aja, iih nyebelin"
__ADS_1
El mencubit pipi istrinya yang tersipu malu. Asya memeluk suaminya, El membalas pelukan itu dan mencium pucuk kepala istrinya.
"Beneran gak ke kantor?"
"Iya sayang" ucap El seraya mengecup bibir Asya. Ia mengelus bibir istrinya lembut, lalu mengecupnya sekali lagi. Mereka memulai ciuman singkat dipagi hari.
El menggendong tubuh mungil istrinya, lalu duduk di tepi kasur dengan bibir yang masih saling bergulat dengan bibir Asya. Tangannya perlahan masuk kedalam pakaian sang istri. Membuka kaitan Asya perlahan dan meremas gunung kembar kesukaan nya.
"Kok berhenti sayang?" Tanya El kala Asya menarik dirinya menjauh. Wajah Asya begitu menikmati sentuhan tangan suaminya, ia mengerang hingga membuat El tertawa lepas.
"Sakit Mas" sentak Asya mengeluarkan tangan suaminya.
"Sakit apa enak? Hm... sini bentar lagi aja, tanggung nih" ucap El kembali memaksa masukkan tangannya ke dalam pakaian sang istri.
Asya menepis tangan El, ia membenarkan kembali pakaiannya dan turun dari pangkuan suaminya. Ia mencubit hidung El gemas lalu pergi keluar kamar secepat kilat. El sangat berbahaya, jika Asya terus disana mungkin ia akan terlena karena perlakuan El.
Tak lama El turun menghampiri si kembar yang tengah asik makan pancake sambil berenang. Asya menyuapi si kembar yang tak bisa diam, padahal ia sangat khawatir karena kedua putranya berada didalam kolam renang.
El menghampiri Asya, ia mengelus rambut istrinya kemudian berbaring dipangkuan sang istri.
"Ingat gak waktu itu kamu hampir tenggelam, aku panik banget dan kamu malah cengengesan"
"Hehe maaf ya"
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk keluar dari air Asya? Meminta pertolongan, harusnya kamu teriak"
"Jika aku berkata ingin tiada, apa merubah sesuatu? Pada akhirnya aku pasti akan disini, takdir yang harus aku jalani"
El menggenggam tangan istrinya, ia mencium tangan kecil itu berkali-kali.
"Kau menyesal menikah denganku?"
"Tidak, harus berapa kali aku menjawabnya"
"Lalu kenapa kau mencoba mengakhiri hidupmu setelah menikah denganku?"
Karena luka terbesar seorang istri adalah dikhianati suaminya Mas.
"Aku tidak punya jawaban Mas, sudah sana kamu sarapan. Lihatlah mereka sangat pandai berenang" jawab Asya mengalihkan topik pembicaraan.
El bangun dari tidurnya dan berjalan menuju meja makan. Ia sempat berbalik dan melihat wajah sedih Asya yang tertunduk.
Aku tidak bisa melepaskan mu untuk pria lain Asya, aku sangat mencintaimu. Ku mohon, berbahagialah hidup bersamaku.
__ADS_1