Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 32


__ADS_3

Asya telah usai memasak untuk semua anak rumah singgah. Setelah selesai menyiapkan semua makanan untuk anak-anak, Asya mulai menata barang-barang baru di ruang belajar bersama dengan Gita.


"Asya Asya Sya Sya Sya" goda Gita.


"Apa'an sih Git?" Tanya Asya yang masih fokus.


"Sya, gimana kalau loe les make up di tempat gue dan Jihan. Kan sekarang gak perlu ijin dari bokap loe" saran Gita.


"Boleh tuh, nanti kamu kasih aku ya brosur nya, aku mau bilang Mas El dulu. Soalnya...." penjelasan Asya terpotong setelah mendengar notifikasi pesan masuk diponselnya.


***From : Zio


Kakak Ipar, El mau minum malam ini. Dandan yang cantik dan jemput dia di kantor, ajak pulang bersamamu***.


Asya mengembuskan napasnya kasar, suaminya masih saja mencoba berulah. Tapi kini Asya harus bisa satu langkah didepan El, karena Zio ada di pihak Asya.


Asya segera menelepon Agus untuk menjemputnya di rumah singgah. Ia segera menata barang-barang dengan cepat, hingga membuat Gita terdiam karenanya.


"Sya, mau kemana sih?" Celetuk Gita.


"Aku harus pergi, kamu lanjutin ya, Pak Agus udah jemput. Salam buat yang lain" jawab Asya lalu pergi secepat mungkin dari hadapan Gita.


Gadis itu berjalan menuju mobil, lalu menyuruh Pak Agus untuk mengantarnya ke salon yang pernah Asya datangi bersama Zio dan El sebelumnya.


"Mbak maaf, apakah sudah ada janji?" Tanya salah satu pegawai salon.


Asya menggeleng, ia tidak tahu jika ingin kesana harus membuat janji terlebih dahulu. Pegawai itu pun meminta Asya pergi karena belum membuat janji.


"Nyonya Asya" panggil pemilik salon yang datang menghampiri.


"Nyonya maaf, mereka tidak tahu siapa anda. Saya melihat kehadiran anda melalui cctv. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya pemilik itu dengan ramah.


"Buat saya secantik mungkin. Emh, begini, apa anda tahu, saya ingin pakaian yang, membuat saya terlihat.. mm... itu..." jelas Asya sedikit terbata-bata.

__ADS_1


"Tenang saja, saya tahu kesukaan Tuan" bisik pemilik salon lalu menggiring Asya untuk masuk kedalam ruang VVIP.


Pemilik salon itu tahu benar bagaimana tipe wanita yang El inginkan. Karena pemuda itu seringkali mengajak para wanitanya kesana. Namun para wanita itu tak mendapat perlakuan spesial seperti Asya tentunya. Dan El telah memberitahu pemilik salon, kapanpun istrinya datang harus dilayani dengan sangat baik.


Asya mempercayakan semuanya pada para pegawai salon, yang diinstruksikan langsung oleh pemiliknya. Melakukan ini dan itu, hingga Asya tak sadar sudah menghabiskan banyak waktu disana.


"Nyonya, sudah selesai" ujar salah seorang pegawai.


Asya menatap dirinya didepan cermin. Wanita cantik nan seksi yang terlihat dalam diri Asya saat ini. Pakaian ini terlalu terbuka dan menggoda untuk Asya kenakan.


"Maaf, apakah kalian memiliki blazer coat?" Pinta Asya pada salah satu pegawai.


Mereka segera memilihkan blazer coat yang cocok dengan pakaian yang Asya kenakan. Setelah merasa puas dengan semuanya, Asya pergi menuju kasir untuk membayar. Namun pemilik salon itu menolak, sebab El yang akan membayar semuanya. Mereka biasa mengirim tagihan ke El, dua hari setelah wanita El datang ke salon.


Asya tersenyum, lalu pergi menuju mobilnya. "Berapa banyak wanita yang pernah ke mari untuk menghibur suamiku? Ah, dia sangat nakal" gumam Asya kesal.


Agus melajukan mobilnya menuju kantor El. Karena hari menjelang petang, lalu lintas menjadi padat. Alhasil mereka harus terjebak macet selama beberapa menit.


Setelah sampai di kantor El, Asya berjalan perlahan menuju lift. Walau pakaiannya telah ia tutupi dengan blazer coat, ia masih merasa tak nyaman karenanya.


"Kakak Ipar" panggil Zio saat melihat Asya keluar dari lift.


"Mas El dimana?" Tanya Asya.


"Diruangannya. Cantik banget Kakak Ipar, oh ya, jangan lupa dipraktekkan ya yang tadi aku kirimin" pinta Zio sembari menuntun Asya untuk pergi keruangan El.


Sebenarnya sebelum Asya sampai di kantor, Zio mengirimi Asya sebuah video adegan salah satu drama. Zio meminta Asya melihat dan mempraktekkannya pada El.


El tengah duduk di kursinya, sangat fokus pada leptop dihadapannya. Ia memang benar-benar sedang bekerja, ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini juga.


Ceklek....


Suara pintu terbuka. El tak menggubris, sebab ia pikir itu adalah Zio. Karena hanya Zio yang berani masuk keruangannya tanpa mengetuk pintu.

__ADS_1


El yang tengah fokus pada leptopnya, dikejutkan oleh sebuah tangan yang tiba-tiba menutup leptop El begitu saja.


"Zio ada apa?" Sentak El, kemudian mengalihkan pandangannya.


"Asya" lirih El saat mendapati Asya dan bukannya Zio yang ada dihadapannya.


Asya melepas blazer coat yang ia kenakan, lalu duduk perlahan dipangkuan sang suami. Gadis itu sudah bertekad untuk menggoda suaminya hari ini. Jika Asya tak menggoda suaminya, yang terjadi adalah El akan bermain dengan wanita lain lagi.


Asya menaruh tangan El dipahanya, walau merasa geli, ia mencoba untuk menahannya. Ia lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher El.


"Kamu itu ngapain?" Pertanyaan El sukses membuat Asya kembali merasa canggung.


"Mau godain Mas El, hehehe" jawab Asya dengan tawa kecilnya.


El meminta Asya untuk berdiri, menatap istrinya sejenak lalu menggeleng. Pemuda itu berjalan menuju pintu, menguncinya lalu mematikan beberapa lampu di ruangan.


El berjalan mendekati istrinya, dan berbisik, "Lakukan, aku menunggu"


Asya tersenyum malu, nalurinya mulai muncul. Ia menarik kemeja suaminya, untuk mendekatkan jarak diantara mereka. Ia kembali melingkarkan tangannya di leher El.


Perlahan Asya mendekatkan jarak, lalu mulai mencium bibir El. Ia melu mat bibir suaminya dengan penuh gairah. El menyukainya, ia juga membalas ciuman Asya dengan penuh hasrat.


Tangan nakal El tak pernah luput dari tubuh indah istrinya. Ia mulai menarik pakaian ketat Asya untuk lebih naik ke atas. Membuat El secara leluasa mengelus bagian belakang paha atas istrinya. Ia mulai membuka lebar kaki Asya secara perlahan, lalu mendudukkan sang istri diatas mejanya.


Asya mengunci tubuh El dengan kakinya. Perlahan tangan Asya juga mulai membuka kancing kemeja yang El kenakan. Namun El menghentikannya dan menarik diri menjauh dari Asya.


"Mmmh.... kenapa Mas" rengek Asya sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Aku tidak mau bermain denganmu saat kau mabuk Asya. Zio pasti yang merencanakan ini semua, dia memang sangat menyebalkan. Tapi aku harus berterimakasih, seperti dugaan, kau sangat nakal dan liar" gumam El.


Asya mencoba meraih tubuh El, hingga ia tak mampu lagi menahan efek dari minuman yang ditenggaknya. Gadis itu pun pingsan karena minum alkohol yang Zio berikan sebelum masuk ke ruangan El.


El menggendong istrinya, menidurkan Asya diatas sofa. Ia kembali mengelus-elus paha mulus sang istri, sebelum menyelimuti Asya menggunakan blazer yang Asya kenakan sebelumnya.

__ADS_1


"Lumayan, kau membuatku tak ingin pergi minum malam ini. Tidurlah sebentar Nyonya El, kau pasti lelah" bisik El lalu mengecup kening Asya.


__ADS_2