Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 9


__ADS_3

"Ciee pengantin baru" ejek Jihan seraya merangkul pundak Asya. Gita juga ikut menggodanya, membuat Asya tersipu malu.


"Pengantin baru? Maksudnya?" Sela Nando yang tidak mengerti dengan pembahasan mereka.


"Dia suamiku, kau tidak tahu aku sudah menikah?" Sahut Asya heran. Ia sudah memberitahu semua temannya, bahkan meminta doa agar acara pernikahan Asya berjalan lancar. Tapi pertanyaan Nando, seolah ia tidak mengetahui apapun.


Nando menarik Asya menjauh dari teman-teman mereka. Ia ingin berbicara berdua dengan gadis dihadapannya. "Kamu sudah menikah? Tidak memberitahuku?" Tanya Nando tak percaya.


Asya mengangguk, ia sudah memberitahu semua mengenai pernikahannya, dan ia yakin akan hal itu. Tapi Nando tak tahu akan pernikahan Asya, bahkan tak satupun temannya membahas mengenai ini.


"Sya, kamu tahu aku.. aku.." perkataan Nando terpotong begitu Gita datang mengajak Asya untuk segera masuk kedalam kelas.


Belum sempat Asya mendengar ucapan Nando, Jihan dan Gita sudah mengajaknya pergi. Asya bertanya kepada kedua temannya, mengapa Nando tidak tahu perihal pernikahan Asya. Tentu saja Nando tidak mengetahuinya, karena setiap kali Asya ingin memberitahu Nando, teman-temannya selalu mengajak Asya pergi menjauh dari Nando. Dan sekalipun mereka tak pernah membahas mengenai pernikahan Asya di depan Nando.


Bukan tanpa sebab, semua teman mereka tahu jika Nando menyukai Asya. Hanya saja Asya tak menyadari jika semua perlakuan baik Nando padanya bukan hanya sekedar kebaikan, melainkan rasa cinta Nando. Mereka tak ingin Nando berulah dihari pernikahan Asya, dan jika Asya tahu mungkin akan sulit bagi Nando untuk dekat dengan gadis yang ia cintai.


Jihan dan Gita mencari-cari alasan jika Nando terlalu sibuk, jadi ia melupakan pernikahan Asya. Di sisi lain, teman-teman Nando berusaha menjelaskan, jika Nando mengungkapkan perasaannya, maka Asya akan jauh darinya, sangat jauh bahkan tak akan bisa Nando pandang lagi.


Asya, Jihan dan Gita mengikuti kelas mereka dengan seksama. Mencatat setiap materi yang diterangkan. Asya selalu bertanya mengenai setiap detail yang dosen jelaskan, ia tak ingin tertinggal sedikitpun, atau tak memahami sedikit saja materi yang beliau sampaikan. Sebab ini adalah impian Asya, membuktikan pada Papa jika ia juga bisa berhasil seperti para Kakaknya.


Asya dan kedua sahabatnya sedang duduk di kantin. Seperti biasa mereka memesan makanan kesukaan mereka. Sembari berbincang mengenai suami Asya.


"Loe gak apa-apa kan? Bokap loe masih kejam aja" ujar Gita seraya mengelus pipi Asya. Pipi tembam yang menimbulkan bunyi keras saat ditampar.


"Gak apa-apa kok. Tau gak, karena itu Mas El, hm... gemes deh sama dia" jawab Asya dengan tingkah konyolnya. Ia begitu terpesona jika membayangkan sang suami.


"Kasih tau dong, kepo nih. Dia ngapain? Eits, kalian udah enak-enak ehem ehem nih" goda Jihan. Wajah Asya tiba-tiba saja merah padam, ia tak sanggup mengatakan semua itu. Hal manis yang El lakukan, membuatnya salah tingkah.


"Aku pingin pernikahan manis kayak di drakor. Serius, dia lebih romantis dari Oppa, tapi sayang wajahnya jutek" curhat Asya.

__ADS_1


Jika dipikir memang benar, El selalu melakukan perbuatan manis. Tetapi, wajahnya selalu datar padahal Asya begitu antusias di setiap hal yang suaminya lakukan.


"Terus apa lagi?" Desak Jihan agar Asya menceritakan lebih banyak tentang suaminya.


Asya dengan antusias menceritakan bagaimana suaminya membawa semua poster idolanya. Walau tak suka, tapi El membawa semua itu dan memperbolehkan Asya untuk menatanya di kamar tamu. El yang tak suka bunga, membeli bunga dan membayar tukang kebun agar membuat taman yang indah untuk Asya. Hanya karena Asya menyukai bunga.


"Waww, asli suami loe gunting batu kertas" komentar Gita sembari melahap makanannya.


"Kok gitu Git?" Sahut Asya bingung.


"Sweet bangettt" balas Gita dengan tawanya.


Asya dan Jihan tertawa mendengar gombalan Gita. Mereka bertiga tidak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang menatap dari kejauhan. Tatapan yang hilang harapan setelah sekian tahun lamanya.


"Sya, aku sayang kamu. Tidak, aku sangat mencintaimu. Andai kamu tahu, aku tidak ingin menjadi orang jahat, tapi aku berharap pernikahanmu berakhir secepat mungkin" gumam Nando sedih.


"Udahlah Ndo, loe sama Asya kan masih bisa berteman" hibur Surya.


"Iya, ikhlaskan saja dia untuk suaminya, loe cari gebetan lain gih. Tinggal tunjuk juga, pakai galau segala. Sia-sia loe punya wajah ganteng" imbuh Angga.


"Iya banyak, tapi gak ada yang kayak Asya. Dia itu istimewa, pakai banget. Aaaahh cowok sialan itu, kenapa harus dia dan bukan gue?" Sesal Nando. Ia harusnya melamar Asya lebih cepat. Menyatakan cintanya pada Asya. Jika saja itu ia lakukan, pasti kini Asya adalah istrinya. Nando terus saja menatap Asya yang asik berbincang dengan temannya.


"Sya, nonton yuk, ada film horor baru nih" ajak Gita seraya menunjukkan trailer filmnya. Asya tidak menyukai film horor, ia lebih menyukai film romansa. Tetapi ia tak pernah menolak saat kedua temannya mengajak dirinya nonton film horor.


"Bego ya nih anak, Asya sekarang istri orang. Loe mah gak mikir, dia harus ijin suaminya dulu lah" omel Jihan. Omelan Jihan membuat Asya tertawa dan Gita merengek karenanya.


Drrrtttt... Drrrtttt...


Ponsel Asya berdering, rupanya ada panggilan masuk dari sang suami.

__ADS_1


Asya : "Halo Mas"


El : "Kamu masih ada kelas?"


Asya : "Gak ada Mas, ada apa? Mas mau ajak makan siang lagi? Aku udah makan sama teman-teman"


El : "Oh, ok"


Asya : "Ada apa sih Mas? Halo? Halo? Mas El? Yah mati teleponnya"


Asya menggerutu kesal karena El mematikan teleponnya begitu saja. Tidak ada hal penting yang ditanyakan, lalu mengapa menelepon, pria aneh.


Trinng.....


Sebuah pesan masuk di ponsel Asya.


From : Suamiku 🥰


Agus otw jemput kamu, datang ke kantorku, tidak usah dibalas baca saja.


"Kenapa loe Sya?" Tanya Jihan saat melihat Asya yang cekikikan melihat ponselnya.


"Gak apa-apa, aku harus pergi nih. Mas El mau aku ke kantornya" jawab Asya dengan senyuman mengembang.


Jihan dan Gita kembali menggoda pengantin baru ini. Tak bisa jauh sedetikpun, hingga harus pergi ke kantor suaminya. Asya dan tersipu malu, hanya bisa tertawa sambil menutup wajahnya yang mulai memerah. Tak bisa dipungkiri, Asya menyukai godaan Jihan dan Gita.


Tak berselang lama, Agus menghubungi Asya jika dirinya telah sampai didepan kampus. Asya pun berpamitan pada Jihan dan Gita untuk pergi karena supirnya telah menunggu. Mereka saling berpelukan seolah hendak melepas temannya pergi jauh.


"Duluan ya, sampai ketemu lagi" pamit Asya ceria. Jihan dan Gita menatap kepergian Asya dengan lambaian tangan yang tak kunjung henti.

__ADS_1


__ADS_2