
"Mas, aku mau pergi jemput anak-anak. Kalau kamu masih mau disini, silahkan"
"Kau mau mengikuti pria itu?"
Asya hanya diam tak menjawab.
"Kau tidak marah aku dekat dengan wanita lain?"
"Kenapa harus marah? Bukankah Mas El selalu seperti ini" jawab Asya kemudian berjalan pergi.
"Jadi kau tertarik dengan tawaran Nando?"
Asya berbalik dan berjalan mendekati suaminya. Matanya berkaca-kaca menahan tangis, hati Asya terasa begitu sesak karena pertanyaan itu. Apakah El sebegitu tidak mempercayai perasaan Asya? Apakah ia hanya menganggap perasaan istrinya hanya sebuah permainan?
"Belum cukup menyakiti ku? Sekarang ingin menuduhku? Mas, aku diam karena tak ingin berdebat. Jika kamu salah harusnya meminta maaf, bukan mencari cara lain seperti ini. Aku akan bersiap, aku akan kembali tinggal di luar negeri. Dekat denganmu hanya membuatku terluka" lirih Asya yang sukses membuat air matanya menetes. Padahal ini hanya masalah kecil yang bisa diselesaikan. Tapi sikap El sangat kenakan.
Asya menepis tangan El yang hendak menyeka air matanya. Ia bisa melakukan itu sendiri. Setelah menyeka air matanya, Asya mencoba untuk tersenyum. Ia tak mau terlihat lemah di depan siapapun. Walau kali ini El tak ada di pihaknya, malah suaminya yang menjadi alasan Asya menangis.
Suasana menjadi canggung saat itu, Zio menarik Asya untuk segera pergi dari sana. Ia tahu hati Asya sangat rapuh. Saat Zio hendak membuka pintu mobilnya, El menahannya. Ia mengambil alih Asya dan mengajaknya pergi bersama.
"Maafkan aku Sya, aku hanya, aku pikir ini... aku salah, maaf"
"Apakah meminta maaf begitu sulit? Aku terluka Mas, sangat sakit"
"Sya, kamu tau kan hanya kamu yang aku cintai. Tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu"
"Pfft, hahaha udah ah sebel aku sama kamu Mas. Awas aja ya kalau lupa lagi, dan awas aja kalau nakal. Aku akan langsung kirim surat cerai ke kamu" oceh Asya lalu turun dari mobil. Ia tak bisa menahan tawanya menggoda sang suami seperti ini.
El yang kebingungan ikut turun dari mobil dan berlari masuk kedalam rumah Adhitama. Ia memanggil istrinya dan berusaha meraih Asya.
"El, kenapa lari-lari? Seperti anak kecil saja" sentak Adhitama saat El menabraknya. Beliau kemudian berlalu menuju taman rumahnya, para cucunya tengah berkumpul disana menikmati camilan pagi.
Pemuda itu lanjut berlari menuju kamarnya, ia melihat Asya yang tengah merapikan pakaian si kembar. El langsung menarik tangan Asya dan menanyakan semua yang terjadi. Asya masih tak bisa menahan tawanya, ia terus melanjutkan menata pakaian kedua putranya.
Sekali lagi El merengek dan meniduri pakaian si kembar, bermaksud agar Asya tak bisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku udah tau rencana Mas El, Zio memberitahu ku semuanya"
"Apa? Jadi kamu sengaja ya marah ke aku? Terus kalau Nando?"
"Aku tuh beneran marah sama Mas El, tapi kebodohan Mas El bikin aku ketawa. Sudah kubilang, kalau salah itu minta maaf bukan malah selingkuh" bentak Asya kesal.
__ADS_1
Pyarrrr....
Suara pecahan gelas mengagetkan suami istri itu. Airin terduduk lemas di lantai, ia tak menyangka akan mendengar hal seperti ini saat mengunjungi cucunya. Asya yang terkejut langsung menghampiri Mamanya, ia membantu Airin untuk menjauh dari pecahan kaca.
Asya memapah Airin untuk duduk di kursi, lalu menyuruh pelayan untuk membersihkan pecahan gelas di kamar El.
"Airin, ada apa?" Tanya Laura.
"Mbak, mereka lagi berantem, Asya bilang El selingkuh" jawab Airin dengan nada bergetar.
Laura menatap El dengan amarah, ia langsung menampar putranya dan memanggil sang suami. Asya mencoba menjelaskan, namun Airin menahannya. Sedangkan El hanya terdiam melihat mereka semua. Begitu Adhitama masuk, Laura langsung menjelaskan apa yang terjadi. Sekali lagi El mendapatkan tamparan di pipinya, tapi pemuda itu masih diam menerima semuanya.
"Kalian itu apa'an sih? Kenapa nampar Mas El?" Amarah Asya yang memuncak melihat suaminya.
"Tidak apa-apa Asya, aku pantas mendapatkan nya" sahut El kemudian masuk kedalam kamarnya.
Asya menatap para orangtuanya dengan sedih, ia sangat kecewa pada mereka semua. Lalu gadis itu pun berlari menyusul suaminya ke kamar. Ia mengunci pintu dan duduk di samping El yang tengah berbaring diatas tempat tidur.
"Kenapa kamu diem aja sih Mas? Sakit ya?" Tanya Asya sembari mengelus pipi suaminya.
"Aku tidak suka berdebat. Dan Asya, tentang Mama, itu hanya perdebatan kecil. Asya, aku masih tidak tau apa yang Papamu lakukan. Tapi semua hartanya atas namamu"
"Tapi bekas luka itu Mas?"
Asya mengerutkan keningnya, El langsung menarik sang istri agar tidur dalam dekapannya. Ia menyesal tak bisa menghabiskan waktu bersama Asya semalam. Ada satu hal lagi yang El khawatirkan, jika Winarso tau tentang kesalahpahaman tentang perselingkuhan ini, beliau pasti akan langsung menguruskan surat cerai.
"Sya, Kakek menelepon mu" ucap El seraya menunjukkan panggilan video yang masuk di ponsel Asya.
Asya segera mengangkat panggilan video itu.
Kakek : "Asya, apakah yang Ayahmu katakan itu benar?"
Nenek : "Jangan takut Asya, kami ada pihakmu. El memang keterlaluan"
Asya : "Bukan begitu Kakek, Nenek. Sebenarnya mereka hanya salah paham. Aku dan Mas El hanya berdebat kecil, mereka mengambil kesimpulan tanpa mau mendengarkan penjelasan ku"
Kakek : "Lalu dimana El? Apa dia bersembunyi seperti seorang pengecut?"
Asya mengarahkan kameranya pada El yang sedang tidur sambil memeluk dirinya.
Nenek : "Lihatlah dia, anak nakal ini pasti tidak akan berubah. Apa kau akan terus menyulitkan istrimu? Jika kau sudah..."
__ADS_1
El : "Apa sih Nek? Kalian mengganggu waktu berdua kami. Asya harus bergegas memakai bajunya kembali karena kalian"
Kakek dan El tertawa mendengar candaan cucunya.
Asya : "Gak kok, kita gak lagi ngapa-ngapain Nek. Kamu ngomong apa sih Mas? Jangan ngaco deh"
Kakek : "Baguslah kalau ini salah paham. Jika El benar-benar selingkuh, surat cerai akan langsung mendatangi dirinya. Kalian baik-baik ya disana, Minggu depan kami akan berkunjung"
Asya mengangguk dengan senyuman lebar. Ia menjewer telinga El begitu Kakek menutup panggilan video mereka.
"Sya, jika aku meminta ijin padamu untuk menikah lagi, apa kau mengijinkan?"
"Tentu saja aku ijinkan" jawab Asya kemudian bangkit dari tidurnya.
"Kamu mau kemana?"
"Mau telepon Kakek, minta untuk kirim surat cerainya sekarang juga" jawab Asya ketus.
El tertawa terbahak-bahak, ia pun mengikuti istrinya yang pergi keluar kamar. Para orang tua sedang menunggu El dibawah tangga, ingin meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Seperti biasa El yang menyebalkan, hanya berdehem kemudian berjalan pergi menuju taman.
Terlihat Dirga yang tengah bermain dengan kedua cucunya. Farel dan keluarganya pun juga ada disana. Asya juga tengah duduk di ayunan dengan Aqilla yang kini sudah lebih besar.
"Sayang, kamu gak jadi telepon Kakek kan?" Teriak El berlari mendekati istrinya.
Baru saja El duduk, ia mendapatkan panggilan masuk dari sang Kakek. Winarso memarahi El atas permintaan konyolnya. Rupanya Asya benar-benar menghubungi Winarso. Pemuda itu hanya bisa diam karena mendengarkan ceramah sang Kakek dan Nenek di telepon.
"Bunda, aku malam ini tidur disini lagi ya" pinta Key.
"Eh, anak Bunda sekarang sudah besar ya. Bisa jauh dari Bunda"
"Bukan begitu Bunda, aku suka Kakek belikan banyak mainan kalau mau menginap disini. Setelah aku dapat semua mainannya aku akan kembali pulang ke rumah"
"Dia sama cerdiknya dengan El" sahut Farel.
Asya tertawa kecil dan menyetujui perkataan Farel. Suaminya memang selalu seperti itu, saat ada maunya ia akan melakukan apapun yang tak ia sukai. Tapi setelah mendapatkan nya ia akan lupa pada semua yang terjadi.
"Kalian berdua, menginap saja di rumah Kakek selama mungkin ya. Biar dapat banyak mainan, nanti Ayah yang akan jagain Bunda. Jangan khawatir" sela El mendukung keputusan Key.
"Nanti Bunda juga ikut tidur bareng kalian ya, biarkan saja Ayahmu tidur sendiri"
"Asyaaa, gak boleh pilih kasih gitu dong. Aku suamimu, harusnya aku yang memiliki banyak waktu bersamamu. Jangan manjakan mereka, manjakan aku saja" oceh El tak masuk akal. Ia menarik telinga Asya agar istrinya bisa mendengarkan keluhan El.
__ADS_1
Hal ini sontak menimbulkan amarah si kembar. Tak ada yang boleh melukai Bunda kesayangan mereka. Kai dan Key mendorong El menjauh dari Asya dengan tatapan penuh amarah.