
Airin meminta putrinya untuk selalu berada didekat El. Kapanpun itu, jika ada kesempatan maka mereka harus bersama. Membuat El terbiasa dengan sosok Asya. Agar saat El tak melihat Asya sekali saja, maka hidupnya seakan tak lengkap.
"Nanti kalau Mas El marah gimana Ma?"
"Sayang, kamu harus bisa menahannya. Setelah El terbiasa, dia sendiri yang akan selalu mencarimu. Ikuti perkataan Mama ya"
Asya mengangguk, ia memeluk Mamanya erat. Airin memang selalu memiliki solusi disetiap masalah Asya.
Setelah perbincangan antara Mama dan putrinya, Asya terlelap dalam tidur. Teleponnya terus berdering karena El menelepon. Namun deringnya tak mampu membangunkan gadis yang terlelap dengan nyaman diatas ranjangnya yang dulu.
Disisi lain...
El sedang duduk di mejanya, sambil berhadapan dengan Zio. Ia ingin mencari kebenaran dibalik sikap Zio yang terus saja ikut campur dalam rumah tangganya.
"Katakan yang sejujurnya Zio, apakah kau menyukai Asya?"
"Cukup El, hentikan pikiran konyolmu"
Zio tak ingin membahas apapun dengan El. Terlebih tentang kecurigaan El pada dirinya. Tetapi Zio bisa mengerti, El masih terbayang dengan masalalunya. Tak ada niat buruk apapun dalam diri Zio untuk El. Ia hanya ingin membalas semua kebaikan El untuknya.
"El, kau seperti ini karena aku" gumam Zio. Ia tengah duduk di ruangannya, sembari memandangi foto dirinya dan El.
Pemuda itu kembali mengingat masalalunya, pengkhianatan yang ia lakukan. Kesalahannya yang merubah El menjadi seperti sekarang ini. Andai saja, Zio tak pernah dekat dengan kekasih El, mungkin ia tak akan pernah melihat El seperti ini.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama El. Aku hanya tak ingin kau kehilangan wanita yang kau cintai" ujar Zio.
Benar, Zio adalah sahabat terbaiknya, pemuda yang El ceritakan pada Asya. Sahabat yang mengkhianati dirinya. El membuat Zio berada didekatnya agar pemuda itu terus merasakan penyesalan atas apa yang telah diperbuat.
Walau Zio tahu tujuan licik El, ia tetap menemaninya, sebab dirinya memang merasa bersalah. Terlebih El dan keluarganya begitu baik pada dirinya dan keluarga Zio.
"Adik Ipar, apa suamiku di ruangannya?" Celetuk seseorang membuyarkan lamunan Zio.
Asya menatap Zio yang menyeka air matanya. Setelah itu ia masuk setelah Zio memberitahu jika El berada didalam. Sebelum masuk, matanya terus menatap Zio yang terlihat bersedih. Ini adalah pertama kalinya Asya melihat kesedihan di wajah adik iparnya.
__ADS_1
Ceklek...
Pintu ruangan El terbuka, Asya menatap suaminya yang juga sedang melamun di mejanya. Gadis itu mulai menerka, ada sesuatu yang terjadi diantara El dan Zio.
"Mas El" panggil Asya.
El tersentak dari lamunannya, ia berdiri dan berjalan mendekati sang istri. Ia menuntun Asya untuk duduk di sofa, dan bertanya mengenai kedatangannya.
"Maaf ya Mas, tadi aku ketiduran, terus aku telepon Mas El gak diangkat, jadi aku kesini" jelas Asya.
Asya menarik El dalam pelukannya, menepuk-nepuk punggung suaminya perlahan. Ia bisa melihat, jika suaminya sedang bergulat dengan pikirannya. Karena Asya juga memiliki dua orang Kakak laki-laki. Sedikit banyaknya, Asya selalu menjadi tempat curhat para Kakaknya.
"Ada apa Sya?"
"Tidak apa-apa, aku hanya merindukan Mas El"
Asya hanya sebentar berada di kantor El, ia lalu berpamitan pulang ke rumah. El memberinya perintah untuk mengemasi pakaian mereka, juga meminta istrinya memasak makan malam.
Setelah sampai dirumah, Asya mengganti pakaiannya. Ia mulai membersihkan seluruh rumah, lalu mengemasi pakaian, dan barulah memasak untuk malam.
Asya mulai memasak diiringi oleh musik K-Pop yang mengalun indah. Walau tak tahu arti liriknya, ia menikmati merdunya musik yang terdengar lewat telinga. Dan sesekali ia bernyanyi walau dengan lirik yang tak jelas pelafalannya.
"Udah selesai nih, waktunya mandi. Ini permulaan yang bagus, aku harus berdandan cantik" gumam Asya saat dirinya sedang mandi. Ia sangat suka diguyur oleh air, tapi dia juga membenci hujan.
Jam telah menunjukkan pukul delapan malam, El masih belum terlihat. Asya mulai gelisah, takut jika suaminya berubah pikiran dan pergi ketempat lain. Ia mencoba menghubungi El, namun tak ada jawaban.
Langkahnya terus saja mondar-mandir didekat pintu, sembari sesekali mengintip melalui jendela. Berharap sang suami segera pulang.
Asya sudah menunggu lama, kini jam telah menunjukkan pukul dua belas lebih. Namun mobil El bahkan tak terlihat, ponselnya juga mati. Ia mencoba menghubungi Zio, tetapi masih tak ada jawaban juga.
"Mas El kemana sih?" Gumam Asya yang gelisah.
Tring....
__ADS_1
Notifikasi pesan masuk di ponsel Asya. Pesan itu berasal dari Nando. Sudah sangat lama Asya tak pernah lagi berkirim pesan dengan Nando. Selain tak ada topik untuk dibicarakan, ia juga mencoba menghargai perasaan suaminya.
From : Nando
Lihatlah suamimu, dia pergi ke club dan ditemani banyak wanita
Asya tersenyum miring membaca pesan dan melihat foto yang Nando kirimkan. Jadi apa arti penantiannya ini? Ia sudah membersihkan rumah, memasak, dan berdandan untuk El. Padahal El yang memintanya, tapi ia juga yang ingkar pada perkataannya.
Suara mobil terdengar didepan rumah, Asya mengintip melalui jendela. Zio sedang memapah El yang tengah mabuk. Gadis itu berlari sekencang mungkin menuju kamarnya, menyelimuti dirinya dan berpura-pura tertidur.
"Apa yang sebenarnya Mas El lakukan? Sekali lagi dia membuatku terluka setelah memberiku kebahagiaan" lirih Asya dalam tangisnya. Ia meringkuk dibawah selimut, menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata.
Samar Asya mendengar El dan Zio yang sedang bertengkar. Suara mereka cukup keras, namun Asya tak bisa mendengar dengan jelas pertengkaran apa yang terjadi diantara El dan Zio.
Bbuukkkk....
El tersungkur karena pukulan Zio. Ia yang sudah hampir tak sadarkan diri, terus mencoba untuk berdiri.
"Kau ingin merebut wanitaku lagi Zio? Cih, apa kau begitu menyukai apa yang aku miliki?" Bentak El dengan sisa tenaganya.
"El, cukup. Aku tidak pernah menyukai Asya, aku hanya membantunya agar kalian bisa dekat"
"Hahaha, omong kosong"
"Karena aku menganggap mu sebagai seorang Kakak. Kau akan menyesal jika Asya benar-benar pergi darimu, ingat perkataan ku ini"
Braaaakkkk ...
Zio pergi dengan membanting pintu. El sudah tidak bisa berpikir jernih, entah itu rasa takut atau cemburu, ia tak bisa mengendalikannya.
El mencoba bangun untuk mengambil minuman, ia masih diselingi oleh amarah. Bahkan ia melupakan segalanya saat telah diselimuti oleh amarah.
"Asya, ash sial. Apa yang aku lakukan? Dia pasti menunggu ku" gumam El ketika melihat ada banyak makanan yang tak tersentuh diatas meja makan.
__ADS_1
Kegusaran El kembali membuatnya tak berpikir jernih. Ia membanting semua gelas yang ia lihat. Meluapkan semua amarahnya disana. Dan Asya, ia hanya menangis mendengar El memecahkan barang-barang didapur.