Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 67


__ADS_3

El menarik Asya duduk dipangkuannya. Memainkan tangan istrinya sambil sesekali menciumnya.


"Sya, kamu udah gak marah lagi sama Papa?"


"Iya gak lah Mas, kan niatnya Papa baik"


"Kamu percaya dengan semua yang Mama ceritakan tentang Papa?"


"Ih, massa sama orangtua sendiri gak percaya, aneh Mas El. Udah sana mandi"


Asya berdiri lalu menarik suaminya agar pergi mandi. El bangkit dan berjalan menuju kamarnya untuk mandi. Sedangkan Asya mulai menghangatkan makanan untuk suaminya.


Sebelum masuk ke kamar mandi, El menerima telepon dari Zio. Telepon penting yang sudah pemuda itu tunggu-tunggu.


"Apa yang akan terjadi jika Asya tahu semua yang Mama nya katakan hanyalah karangan? Aku tidak pernah menyangka Papa akan berbuat sejauh ini" gumam El setelah menutup telepon dari Zio. Ia lalu bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah mandi El sejenak terdiam, ia mendengar suara seseorang yang sedang berdebat. Langkah kakinya spontan berjalan mendekati jendela, dilihatnya Asya yang tengah menunduk mendengarkan semua bentakan dan hinaan dari Dimas. Secepat kilat El membuang handuknya dan berlari menghampiri Asya.


Bbukkk....


Satu tonjokan El layangkan pada wajah Dimas. Beraninya tangan kotor Dimas menyentuh Asya lagi. El sangat marah dan memukul Dimas sekali lagi, satu dua pukulan tak bisa menenangkan hati El.


Hampir saja ia layangkan untuk ketiga kali, untungnya Pak RT telah kembali dan memisahkan keduanya.


"Dengarkan saya baik-baik, saya tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang karena telah menyakiti istriku lagi"


"Pak RT, Mbak Kinan..."


"CUKUP ASYA, CUKUP"


El menarik Asya dengan kasar, ia sudah tak ingin berurusan lagi dengan tetangganya, apapun yang terjadi. Ia menyuruh Ipah dan para bodyguard Asya untuk pulang, dan datang lagi esok hari. Amarah masih menyelimuti El, ia terlihat begitu gusar.


Asya menatap suaminya, takut sekali rasanya untuk mendekat. Takut jika El marah dan membentaknya lagi. Asya tak menyukai hal itu, bentakan El membuatnya merasakan sakit.


"Kenapa berdiri disana? Sini"


Dengan ragu-ragu Asya berjalan mendekat. El menarik Asya agar berbaring dipangkuannya. Dielusnya rambut panjang istrinya dan menatap mata Asya.

__ADS_1


"Sya, bahkan jika Papa meminta semua hartaku, aku akan memberikannya. Asalkan ia tak mengambilmu dariku"


"Ada apa sih Mas? Kok tiba-tiba bahas Papa"


"Sayang, kapan selesai? Udah gak sabar pingin bikin baby El"


"Iiih Mas El apa'an sih, malu tau" gumam Asya seraya menutup wajahnya.


El menggelitik tubuh istrinya, hingga membuat gadis itu tertawa terpingkal-pingkal. Disaat inilah, Asya terbesit sesuatu dalam benaknya. Tanda merah di leher Airin, saat ia dan Airin bercanda, Asya melihat tanda itu.


"Mas, aku lihat bekas merah di leher Mama. Kata Mama lagi alergi"


El yang curiga mulai menyelidik. Menanyakan bentuk dan warna bekas merah itu. Dengan sangat yakin pikiran El mulai menebak, jika semua itu pastilah ulah Dirga. Ia tak terkejut, jika dengan Asya saja Dirga sangat ringan tangan, apalagi dengan Airin.


Asya menepuk pelan pipi suaminya yang tampak termenung. Setelah El sadar dari lamunan, ia meminta Asya untuk menyiapkan makanan. Untuk dirinya dan juga untuk Zio. Benar, El segera menelepon Zio saat itu juga.


Ada hal besar yang tidak bisa El katakan pada Asya, kebenaran tentang Papa mertuanya. Dilema ini membuat El khawatir, ia takut istrinya terluka lagi karena sebuah harapan.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Zio datang. El langsung saja meminta Asya untuk masuk kedalam kamar dan tidur lebih dulu. Begitu selesai menyiapkan makanan, Asya pun berjalan menuju kamarnya. Tak ada hal mencurigakan yang mengusiknya.


Di ruang tamu, El dan Zio tengah berbincang sambil melahap makan malam.


"Zio, aku tak ingin melukai hatinya. Dia terlihat sangat bahagia hari ini, sebelum pemuda brengsek bernama Dimas itu mengacaukan hari Asya"


"Dia memukul Kakak Ipar lagi?"


"Tidak, tapi dia mencengkram tangannya. Sial, aku kecolongan. Dengarkan aku, cari tahu dimana tempat dia bekerja"


Zio menatap El yang sedang diselimuti kebencian. Tidak biasanya sahabatnya ini akan bertindak sejauh ini. Ini bukan sifat El yang akan mencampurkan urusan pribadi dengan bisnisnya.


"Sekarang, Asya lebih penting dari apapun"


"El, kau yakin Asya tidak tahu apapun?"


"Bagaimana denganmu?"


"Aku percaya padanya, sangat. Tapi El, sebenarnya, Asya memintaku untuk memata-matai mu. Melaporkan semua hal yang kau lakukan. El, dia tidak sebodoh yang kau pikirkan"

__ADS_1


"Aku tahu Zio, dia sudah menceritakan semuanya. Tapi aku terkejut, karena mitranya adalah kau. Zio, tugas kita adalah memastikan Asya tidak terluka. Terlebih, mereka mulai mengincarnya, perusahaan sialan itu"


Zio tidak mengerti siapa yang El maksud, perusahaan? Kenapa perusahaan mengincar Asya? Namun jika El tidak memberitahu Zio, pasti pemuda itu masih memiliki keraguan dalam hatinya. Ia pikir, El benar-benar terusik dengan keselamatan Asya.


Bahkan sang Presdir menyewa lebih banyak bodyguard tanpa sepengetahuan Asya. El sudah mencoba membangun pertahanan. Namun tidak ada yang tahu, pertahanan untuk apa semua itu, hanya El dan pemikirannya.


"Lalu bagaimana dengan Papa mertuamu?"


"Biarkan saja, asal dia tidak menyakiti Asya, berikan apapun yang diminta"


"Lalu bagaimana dengan Syam dan Galen?"


"Bantu mereka juga, apapun itu Zio, terus awasi dan jangan biarkan Papaku menyakiti mereka. Mereka adalah peliharaan Papa yang tak akan pernah bisa lepas"


El menghentikan perkataannya, rasanya mata El menatap sebuah bayangan di sekitar dinding di dekat tangga. Dengan kode mata pada Zio, El berdiri dan berjalan mendekat.


"Sial" umpat El pelan. Ia menatap Asya yang terkejut karena kehadiran El disana.


"Apa yang kau lakukan Asya?" El mulai menyelidik. Ia takut jika Asya mendengarkan semua pembicaraan antara dirinya dan Zio. Ini bukanlah hal yang harus Asya ketahui.


"Mas, aku... aku.. cuma mau tahu keadaan Mbak Kinan. Aku khawatir Mas"


El mencoba mencari kebohongan di mata istrinya, namun semua perkataan Asya terlihat jujur. Ia pun menarik Asya dalam peluknya, mungkin perlakuan El sedikit kasar pada sang istri. Terlebih ia membentak Asya didepan banyak orang, seperti yang biasa Dirga lakukan.


Pemuda itu merogoh sakunya, mengambil ponsel lalu menelepon Pak RT. Ia berikan ponselnya pada Asya, membiarkan sang istri bertanya banyak hal mengenai Kinan. Untungnya, Kinan dan anaknya baik-baik saja, walau harus melahirkan lebih awal.


Raut wajah bahagia terlihat, Asya dengan senyuman lebarnya. Padahal Asya hanya mendengar tentang kelahiran anak orang lain, tapi wajahnya tampak seolah dirinya yang memiliki anak. Putri kecil Kinan sudah lahir didunia, Asya berterimakasih pada Pak RT lalu menutup teleponnya.


"Mas, besok belanja yuukkk"


"Eh, kamu mau beli baju lagi?"


"Bukan buat aku, buat anaknya Mbak Kinan. Mau pilih baju Mas, yang cantik-cantik"


"Asya... Baiklah, sekarang tidur"


El tak tega bila harus menghilangkan senyuman indah istrinya. Setelah kecupan singkat di kening dan bibir, Asya kembali berlari masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Zio, jangan sampai dia tahu"


"Baik El, aku pulang dulu. Dia terlihat bahagia seolah anaknya telah lahir. Beri dia baby El, atau setiap hari dia akan mencoba pergi ke rumah tetanggamu itu" ucap Zio kemudian pergi meninggalkan rumah El.


__ADS_2