
Di rumah El..
"Mas kamu tuh nyebelin banget sih" oceh Asya yang baru saja selesai mengganti pakaiannya. Ia berbaring di samping suaminya, menatap El dengan perasaan kesal.
"Apa sih sayang?"
"Senang ya ketemu mantan kamu?"
"Kamu cemburu ya? Lucu banget sih istriku ini"
"Gak lucu Mas"
El tertawa memandangi wajah cemberut sang istri. Asya kembali bangun dari tidurnya dan menelepon ke rumah Adhitama. Ia ingin memeriksa apakah si kembar sudah tertidur atau masih terjaga.
"Sya"
"Hm.."
"Jangan cemburu dong, oh iya, teman kamu yang tadi enaknya diapain? Dibikin bangkrut? Atau dibikin cacat seumur hidup?"
Asya hanya diam, tak ingin melanjutkan pembicaraan itu. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk tidur. Tapi El menggenggam tangan Asya, menciumnya dan memainkan jari istrinya. Pasti tangan Asya terasa sakit, sebab El tak pernah sekalipun melihat Asya memukul seseorang seperti itu. Bahkan tadi ia melihat jika tangan istrinya bergetar.
"Mas"
"Iya sayang"
"Apa kamu menyesal menikah denganku? Kamu cinta gak sih Mas sama aku?"
Aku tidak mengerti jalan pikiran perempuan. Aku memberikan segalanya untuknya tapi dia tetap bertanya seperti ini?
"Mas Ell"
"Cinta sayang, cinta banget malahan. Kenapa tanya gitu sih? Uang bulanan masih kurang?"
"Aku mau punya anak cewek Mas"
El terbatuk-batuk mendengar permintaan itu. Tidak mungkin, ia tak bisa memberikan hal itu pada Asya. Sebesar apapun cintanya, tapi memiliki anak perempuan membuat El khawatir. Bagaimana jika nanti putrinya bertemu dengan lelaki brengsek sepertinya? El tak bisa membayangkannya, ia pasti langsung menebas habis para lelaki brengsek itu.
"Mau kemana Sya?"
"Mau tidur dikamar lain, soalnya kamu nyebelin. Males lihat muka kamu"
El menahan tangan istrinya yang hendak pergi. Ia menatap wajah sang istri yang kesal.
__ADS_1
"Kalau kamu cinta atau gak sama aku?"
"Kamu tuh mau ngomong apa? Mana mungkin aku gak cinta? Kita punya dua anak, aku layani Mas El, dan kamu tanya kayak gini?"
Salah lagi, dia boleh tanya kenapa aku gak? Astaga wanita kenapa serumit ini?
El menyerah berdebat dengan istrinya sebab ia selalu kalah. Ia melepaskan genggamannya pada Asya dan membiarkan sang istri pergi. Melihat sikap aneh Asya, hanya ada dua kemungkinan. Mungkin Asya cemburu atau dia tengah PMS, jika seperti ini El langsung menghampiri istrinya.
"Sayang, bulan ini kamu sudah haid?" Tanya El memandangi istrinya yang tengah menonton drama di kamar lain.
"Belum, kenapa?"
Sial, jika aku mendekatinya sekarang ia akan marah. Aku harus merubah suasana.
El kembali keluar kamar, ia berjalan menuju dapur dan mengambilkan es krim kesukaan sang istri. Ia memberikannya pada Asya dengan sikap yang begitu manis.
"Sayang, enak es krimnya?"
"Enak banget, tau aja lagi pingin"
"Apa? Lagi pingin? Mm.. maksudku, belepotan nih" ucap El seraya mencium bibir istrinya.
Asya tersipu malu dengan perlakuan sang suami. Ia jadi tak fokus menonton dan malah ingin bermanja-manja pada El. El yang melihat ada kesempatan perlahan membuka pakaian istrinya. Ia harap setiap malam bisa bersama sang istri seperti ini.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Asya masih terlelap dalam tidurnya. Ia mendekap El dengan sangat erat.
"Sya, bulan madu yuk, aku mau jalan-jalan berdua sama kamu" bisik El yang terbangun lebih dulu. Ia mengelus rambut istrinya dan mencium pucuk kepala Asya beberapa kali.
"Hm... kamu udah bangun Mas? Liburan berdua? Mas kita punya anak, nanti mereka gimana?"
"Kamu bersama mereka setiap saat selama lima tahun terakhir ini, kini giliran kau dan aku menghabiskan waktu. Hanya beberapa hari saja"
"Nanti aku pikirkan. Kita harus mencarikan si kembar sekolah Mas, sudah waktunya mereka belajar di sekolah"
El hanya berdehem dan kembali mendekap istrinya. Tak bisa ia pungkiri jika dirinya masih kesal karena kehadiran anak mereka. Waktu Asya terus saja untuk memikirkan si kembar, padahal El juga ingin dimanjakan oleh sang istri.
"Sya, aku sudah pekerjakan dua baby sister untuk merawat putra kita. Aku tidak terima penolakan"
"Tanpa berdiskusi denganku?"
"Aku tidak ingin berdebat"
__ADS_1
Asya bangun dari tidurnya, menatap El yang juga memandangi dirinya. Tentu saja Asya marah dan kecewa, harusnya keputusan sebesar ini El mendiskusikannya lebih dulu bersama dengan dirinya.
El memakai kembali pakaiannya dan berjalan keluar kamar. Ia bahkan tak memandangi Asya sama sekali. Asya yang bingung mengikuti El hanya dengan berbalut selimut. Ia meminta penjelasan El yang tiba-tiba memutuskan sesuatu tanpa berdiskusi dengannya. Padahal semalam mereka baik-baik saja, tapi pagi ini tiba-tiba suasana menjadi tak nyaman.
"Mas, kita perlu bicara"
"Mau menolak ajakan berbulan madu, kau sibuk mengurus anak-anak dan melupakan aku. Apa kau ingat janjimu dulu? Kau tidak akan menomorduakan aku"
"Mas, bukan begitu. Anak-anak masih kecil, saat mereka sedikit lebih besar nanti, kita bisa pergi..."
"Kapan Sya? Kau tau kan perbedaan umur kita jauh, kau mau menungguku menua? Jika aku semakin tua, kau mau mencari penggantiku?"
Asya memiringkan kepalanya tak mengerti. Ia sungguh tak memahami sikap El yang tiba-tiba berubah. Pemuda itu masuk kedalam kamar mandi, sedangkan Asya kembali ke kamar lain mencari ponsel suaminya. Pasti ada sesuatu yang terjadi sampai suaminya merubah sikap seperti ini.
Setelah menemukan ponsel El, Asya membuka room chat grup SMA sang suami. Teman-teman El tengah membahas perbedaan umur antara El dan Asya. Ini hanyalah masalah sepele, kenapa El begitu memikirkannya? Asya kembali membuka room chat lain, Zio yang meminta El untuk tidak mendengarkan candaan temannya.
Lalu ada pesan lain dari mantan pacar El yang menambahkan bumbu untuk membuat El kesal. Saran konyol ini, pantas saja El tiba-tiba mengajak bulan madu dan menyewa baby sister.
"Lalu kenapa jika umur kita terpaut jauh? Kita akan baik-baik saja Mas, percayalah. Aku sangat mencintaimu" gumam Asya. Ia menaruh kembali ponsel suaminya dan pergi ke kamar. Mendial nomor Zio menggunakan ponselnya. Zio adalah orang yang selalu membantu Asya agar bisa semakin dekat dengan El.
Usai berbincang dengan Zio, Asya kembali turun untuk membersihkan dirinya. Kali ini ia tak mau berlama-lama di kamar mandi, ia harus lebih dulu selesai mandi sebelum El. Berdandan dan memasak makanan kesukaan suaminya. Tak masalah jika El marah, Asya bisa membuat suaminya kembali padanya. Jika ia ikut marah, itu hanya memperburuk keadaan.
"Pagi sayang" ucap Asya seraya mencium bibir suaminya.
"Hm..."
Asya menyiapkan sarapan untuk suaminya, ia juga menemani El yang tengah sarapan.
"Asya, sebentar lagi mungkin baby sister nya akan datang. Ini adalah keputusan ku, jika kamu tidak...."
"Iya Mas, aku setuju dengan keputusan kamu. Anak-anak semakin nakal, aku tidak bisa mengurus mereka sendiri"
"Hm.. kamu mau pergi jemput anak-anak? Aku mau main kerumah temanku"
"Aku boleh ikut Mas?"
"Kenapa? Kamu curiga aku ketemu wanita lain?"
"Hahaha, tidak Mas. Ya sudah kalau begitu, selesaikan makannya ya"
Asya kembali melanjutkan makannya, setiap kali El memulai debat ia hanya akan menanggapi nya dengan santai. Ia terus mengikuti El selagi pemuda itu berada dirumah.
"Aku pergi dulu"
__ADS_1
"Iya Mas, hati-hati ya. Sampai nanti" ucap Asya dengan senyuman manisnya. Ia melambaikan tangan ke arah El.
El masih bersikap cuek dan pergi keluar rumah.