Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 23


__ADS_3

Dirumah....


"Mas, aku bisa tidur dikamar tamu kalau Mas El tidak merasa nyaman tidur denganku" ujar Asya seraya memilih pakaian.


"Asya, dengarkan aku, apapun yang terjadi aku tidak akan membiarkan kita tidur ditempat yang berbeda. Kita harus selalu tidur satu ranjang, itu bukan penawaran tapi perintah" jelas El tegas.


"Iya, sesuai kemauan Mas El" balas Asya. Ia lalu masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Kali ini Asya mandi tak terlalu lama, ia enggan berlama-lama dikamar mandi. Guyuran air membuatnya tak bisa menahan tangis.


Setelah bersiap, Asya turun kebawah, menuju dapur untuk membantu Ipah menyiapkan makan malam. Ipah sedikit canggung karena Nyonya nya tak terlihat ceria seperti biasanya.


"Mas El mau makan apa Mbak?" Tanya Asya.


"Tuan bilang akan pulang malam, beliau makan diluar. Jadi saya masak untuk Nyonya saja" jawab Ipah.


"Kalau gitu Mbak Ipah dan Pak Agus pulang saja. Saya akan masak sendiri" balas Asya.


"Baik Nyonya, saya permisi" pamit Ipah. Ipah berjalan keluar dan meminta Agus untuk pulang juga sesuai permintaan Nyonya mereka.


Asya meninggalkan dapur dan berjalan menuju ruang tamu. Didepan poster besar idolanya, ia terduduk lesuh. Mencurahkan semua yang Asya rasakan pada poster sang idola.


"Oppa, suamiku setampan dirimu. Tapi kenapa ia tidak sebaik dan seromantis dirimu? Seandainya aku bisa memilih, aku ingin menikah denganmu Oppaaa" keluh Asya.


Kesedihan itu membuat Asya semakin melantur. Berharap sang idola akan mendengar curahan hatinya lewat angin malam. Asya terus menghabiskan tenaganya untuk curhat pada poster idolanya. Walau tak ada jawaban, Asya tak pernah lelah mengoceh tanpa henti. Hingga ia lelah dan terlelap dalam tidurnya.


Pukul 23:36.....


Ceklek..


El membuka pintu rumahnya, tak ada pikiran apapun. Ia segera berjalan menuju kamar, pandangannya menatap sekitar ruangan.


"Asya" panggil El. Ia tak mendapati istrinya diatas tempat tidur. Tidak juga dikamar mandi, dan dimanapun disetiap sudut kamarnya.


"Kemana dia? Apa dia pergi lagi?" Gumam El sembari mencari keliling rumah. El memasuki setiap ruangan yang ada dirumahnya, dengan perasaan khawatir terus memanggil nama Asya.


Hingga ia menemukan sang istri tertidur dalam posisi duduk didepan poster idolanya.


"Kau memiliki aku, kenapa kau harus bercerita pada benda mati ini? Idolamu bahkan tak tahu jika kau ada dan sangat mengaguminya. Gadis bodoh" gumam El.

__ADS_1


El mengangkat tubuh mungil sang istri, memindahkannya ke atas ranjang kamar tamu. Ia tak ingin membangunkan Asya jika harus menggendongnya sampai ke kamarnya dilantai atas. Setelah menyelimuti Asya, El kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, El kembali turun ke kamar tamu dengan leptopnya. Tetapi ia tak menemukan Asya disana.


"Asya? Kamu dimana?" Teriak El. Ia kembali mencari ke setiap sudut kamar hingga dibawah tempat tidur pun tak menemukan istrinya disana.


"Nyari apa Mas?" Celetuk Asya mengagetkan El. El sontak menoleh, menatap istrinya yang berdiri didepan pintu dengan sebuah cangkir ditangan.


"Tidak, ponselku tadi terjatuh" jawab El mencari alasan. Asya mendekat, memberikan kopi panas untuk suaminya. El memang selalu minum kopi saat malam, untuk menemani dirinya bekerja.


"Asya kau sudah makan?"


Asya mengangguk.


"Kau sudah minum obatmu?"


Asya mengangguk.


"Sampai kapan kau akan berbohong?" Pertanyaan El membuat Asya terdiam. El menunjukkan botol obat, dengan yakin ia berkata jika Asya tak menyentuh obatnya sama sekali, dan dia benar.


El menarik Asya duduk disampingnya, "Baiklah, untuk hari ini aku akan membiarkan mu. Gimana kalau besok kita jalan-jalan?"


"Aku akan menjemputmu setelah kelasmu selesai. Kita bisa menghabiskan waktu bersama" balas El.


Asya menatap suaminya dan mengangguk. Ia kemudian berbaring kembali diatas ranjang, memunggungi El yang sedang bekerja.


Apakah semua wanita itu Mas El perlakukan seperti ini? Aku tidak tahu, ini keberuntungan atau apa, tapi aku tidak ingin disamakan dengan mereka. Sadarlah Asya, dimata El kau dan mereka sama, batin Asya.


Gadis itu mencoba memejamkan matanya, membuang semua pikiran buruk yang ada. Pikiran itu hanya akan membuatnya terluka, tapi Asya tetap tak bisa melupa.


"Aaah" rintih El kesakitan. Ia menggosok-gosok punggungnya yang terasa sakit.


"Mas El kenapa?" Tanya Asya terkejut. Ia langsung bangun dari tidurnya dan menghampiri El yang terduduk sembari memegang punggung. Asya lalu pergi ke dapur, mengambil segelas air minum dan balsam.


"Minum Mas, aku pijitin ya" ucap Asya seraya memberi kode agar El tengkurap.


"Kenapa aku harus tengkurap, gini aja" balas El sembari menarik tangan Asya untuk menyentuh punggungnya.

__ADS_1


Sya, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu dekat, batin El.


Asya mengangguk, ia mendekatkan jarak diantara mereka. Mengoleskan balsam dan memijat perlahan punggung suaminya. Jarak mereka sangat dekat hingga Asya bisa mendengar dan merasakan hembusan napas El.


Cup....


El mencium hidung Asya selagi istrinya itu memijat punggungnya.


"Mas El habis minum ya?" Tanya Asya yang masih fokus pada pijatannya.


"Masih bau ya? Padahal aku udah mandi" jawab El.


Hanya sekedar pertanyaan, lagi pula Asya tak bisa melakukan apapun karena hal itu sudah terjadi. Melihat kenyataan jika El minum, kembali menarik pemikiran negatif Asya. Sang suami pasti pergi dengan wanita lain, dan kini mencoba mendekatinya.


Aku pikir, walau Mas El tak melihatku sebagai seorang istri setidaknya ia tidak akan bermain diluar lagi. Tapi, mungkin Papa benar, laki-laki membutuhkan lebih dari satu wanita, pikir Asya.


Pikiran negatif Asya terus membuatnya berprasangka buruk pada El. Berbeda dengan El yang mencoba mendekatkan hubungan mereka.


Apakah aku harus terus sakit agar kau perhatikan? Aku menyukai saat-saat bersamamu, aku rindu Asya ku yang ceria, batin El.


"Udah enakan Mas?" Tanya Asya.


"Belum" jawab El singkat. Asya memandang suaminya, ia tak melihat raut wajah kesakitan lagi disana.


"Iya udah gak sakit sekarang. Tidur gih" imbuh El setelah menyadari Asya menatapnya tajam.


"Mas El jangan lupa banyakin minum air putih, kan Mas kerjanya duduk diwaktu yang lama. Kerja keras boleh aja Mas, tapi kesehatan itu lebih penting" oceh Asya seraya merapikan semua batang.


Menaruh semua gelas di dapur, meletakkan leptop sang suami di meja, menata selimut sang suami lalu pergi berbaring setelahnya.


"Sya, besok aku harus berangkat pagi ada meeting, jadi mungkin gak sempat sarapan. Aku juga gak bisa antar kamu" ucap El seraya memiringkan tubuhnya menghadap Asya.


Asya rupanya memiringkan tubuhnya ke arah lain, memunggungi sang suami. El mendekatkan jarak, memeluk Asya dari belakang.


"Boleh aku tidur sambil memelukmu?" Tanya El pelan.


"Lakukan apapun yang bisa membuat Mas El merasa senang, bukankah tugas seorang istri adalah melayani suaminya" lirih Asya.

__ADS_1


El merasa mendapat ijin dari Asya, tanpa tahu apa yang sebenarnya Asya rasakan. Ia pun memeluk Asya dalam tidurnya.


__ADS_2