Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 78


__ADS_3

Asya mengangguk pasti menjawab pertanyaan Nando. Tetapi pemuda itu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia terus mendesak Asya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Apa suamimu mengancammu? Katakan padaku, aku akan membawamu pergi jauh darinya Asya"


"Cukup Nando, berhenti. Aku sudah memintamu untuk melupakan ku, aku mencintainya, suamiku"


"Kenapa kau terus memaksakan perasaan mu Asya? Kau juga berhak bahagia"


Asya menghembuskan napasnya perlahan, Nando masih saja tak mengerti. Hatinya masih tak mau menerima jika Asya kini miliki pria lain. Asya menggenggam kedua tangan Nando dan menatap kedua matanya.


"Aku mencintai suamiku, sangat mencintai nya"


"Asya"


"Kita sudah berjanji untuk tidak membahas ini lagi. Tapi kau masih tak bisa merelakannya, jadi aku akan pergi jauh darimu"


"Ini karena aku?"


"Kau salah satu alasannya, Nando" ucap Asya kemudian berlalu pergi. Ia menghampiri Jihan dan Gita untuk berpamitan. Asya tak ingin berada disana lebih lama lagi, Nando sangat mengusiknya.


Nando hanya bisa menatap Asya dengan hati yang terluka. Setelah Asya benar-benar pergi, ia membuat sedikit kekacauan. Membanting gelas kaca dan berteriak meluapkan amarahnya. Mereka tak ingin ikut campur, karena mereka semua tahu alasan dibalik kemarahan Nando.


Agus dan para bodyguard membawa Asya menuju kantor El. Sesuai perintah Tuan mereka.


Asya berjalan menuju ruangan El, namun tak ada siapapun disana. Bahkan Zio juga tak ada di ruangannya.


"Permisi, boleh saya tahu kemana Pak El pergi?" Tanya Asya pada karyawan disana.


"Pak Elvin dan Pak Zio sedang ada rapat Bu, Ibu tunggu saja diruangan Pak Elvin" jawab salah seorang dari mereka.


Asya mengucapkan terimakasih dan pergi menuju ruangan suaminya.


Ia duduk di sofa sambil menonton televisi diruangan El. Padahal ini sudah jam makan siang, kenapa suaminya itu malah meeting dijam makan siang. Pemuda yang tak berperasaan, Asya merasa iba dengan karyawan El.


Gadis itu sudah menunggu lama disana, hingga pukul tiga sore, El masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Beberapakali Laura menelepon dan menanyakan keberadaan Asya, karena perintah Laura lah Asya masih menunggu disana. Walau El tak menjawab telepon darinya sama sekali.


"Ini sudah terlalu lama, aku akan pulang"


"Kau bersenang-senang? Dengan pria kecilmu itu?"


"Mas El? Lama banget sih Mas, aku nunggu...."


Perkataan Asya terpotong kala El menghampirinya dengan tatapan tajam.


"Kau senang menghabiskan waktu bersama Nando?"


"Apa? Nando? Aku menunggu Mas El disini..."

__ADS_1


"Berapa kali aku katakan padamu, jangan mendekatinya, jangan mendekati pria lain selain aku" sentak El geram. Ia mencengkram dagu Asya dengan penuh amarah.


Sedangkan Asya masih tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ia berusaha meminta penjelasan dari El, tapi pemuda itu malah mengacuhkannya dan hanya fokus pada amarahnya.


El masih memandangi wajah Asya dengan amarah, hingga tanpa kendali ia mengangkat tangannya hendak menampar Asya.


"El, kendalikan dirimu" ujar Dio menahan tangan El.


"Mas El menuduhku berselingkuh?"


"Kau sadar dengan perbuatanmu, sekarang?"


"Berpikirlah sesuka Mas El, aku pergi" ujar Asya kemudian pergi meninggalkan kantor.


El membanting semua barang yang ada disekitarnya. Sekali lagi amarahnya tak terkendali. Zio mencoba menghentikan El, dan menjelaskan sesuatu yang hanya muncul di kepala El.


"El, nyalakan ponselmu dan lihat apa yang dikirimkan oleh orang suruhan mu"


"Apalagi yang harus aku ketahui"


"Berhenti bersikap bodoh El, kau menyakiti Asya lagi. Bukankah kalian akan honeymoon? Jaga sikapmu, sekarang lihat dan pergi minta maaf pada istrimu"


"Apa yang kau katakan Zio?"


"Berhenti merengek, lakukan saja"


Zio pergi keluar ruangan dengan membanting pintu. Ia merasa kesal karena pikiran El masih saja sempit. Padahal orang suruhan El mengirimkan rekaman percakapan antara Asya dan Nando. Bahkan Zio saja percaya jika Asya takkan pernah mengkhianati El.


Di sisi lain, Asya pulang kerumah Adhitama dengan tangisnya. Ia tak menghiraukan siapapun disana, Asya hanya bergegas mengemasi pakaiannya kemudian pergi ke rumah Dirga. Ia tak berbicara apapun dan tak ingin mendengarkan siapapun.


Bahkan dirumah Dirga pun, ia langsung masuk kedalam kamarnya dan mengunci diri disana. Airin sudah mengetuk pintu, memanggil-manggil nama Asya, namun tak ada jawaban. Ia juga mencoba menelepon Laura, tapi kedua Ibu itu juga tak mengetahui pokok permasalahannya. Padahal tadi pagi keduanya tampak sangat bahagia.


"Airin, tenang, aku akan menemui El. Jaga Asya ya, dia belum makan apapun sejak siang tadi" ujar Laura mencoba menenangkan Airin. Ia menutup teleponnya begitu mendengar suara El berteriak.


"Asya, Asyaa" teriak El yang baru saja tiba dirumah.


"Apa yang kau lakukan? Pikiran bodoh apa El? Kau menuduhnya berselingkuh?"


"Bunda, nanti aku jelaskan, aku harus bertemu Asya"


"Terlambat, dia pulang ke rumah orangtuanya. Sudah, lupakan saja, kau memang tak pantas untuknya"


"Bunda, jangan katakan itu, aku.. aku menyesal"


"Jika kau menyesal, bawa Asya pulang kemari, hari ini juga. PERGI" sentak Laura kesal.


El pergi seorang diri menuju rumah Dirga, ia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Harusnya ia tak mengambil kesimpulan bodoh ini. Selama perjalanan, El hanya bisa menyesali sikap bodohnya itu.

__ADS_1


"Asya, Asya" teriak El memasuki rumah Dirga.


"El, kalian bertengkar? Kenapa? Asya tidak mau keluar kamar" jelas Airin.


"Ma, aku dobrak pintunya ya?"


Airin mengangguk, memberi ijin pada El. El langsung berlari ke kamar Asya, dan segera mendobrak pintu itu bahkan tanpa seijin Asya.


"Apa? Maaf lagi? Atau mau nampar aku?" Oceh Asya begitu El mendobrak pintu kamarnya.


"Sayang"


"Sayang? Hahaha, aku capek mau tidur"


"Dengerin penjelasan aku"


"Mas El gak mau dengerin aku, dan sekarang minta aku buat dengerin Mas?"


El menatap ke arah Airin yang berdiri dipintu, setelah Airin pergi, ia menghampiri Asya dan berlutut dihadapan istrinya.


"Aku salah, aku minta maaf"


Hati Asya menjadi gelisah, permintaan maaf El selalu melemahkan dirinya. Tapi ia tak ingin memaafkan El begitu saja, selalu dan selalu saja El mengulangi kesalahannya.


"Asya, maaf"


"Untuk apa?"


"Maaf karena memikirkan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan. Aku... aku.."


"Ijinkan aku menampar Mas El"


"Apa?"


"Kalau gak mau yaudah"


"Hm.... kau sangat menyebalkan Asya, baiklah lakukan"


Asya berbalik dan mendekati El. Ia menggerakkan tangannya bersiap-siap untuk memberikan pukulan diwajah suaminya itu. Asya menarik napas dan menghembuskannya perlahan. Ia mengangkat tangan dan mengayunkannya dengan sangat keras ke arah pipi El.


Plakkkk.....


"Jika bukan karena mencintaimu, aku tidak akan merendahkan harga diriku seperti ini"


"Apa?"


"Aku sayang kamu. Jangan marah lagi Nyonya El"

__ADS_1


Asya menyipitkan matanya menatap El dengan sengit. Sebenarnya ia masih sangat marah, tapi melewatkan honeymoon yang sudah lama El rencana kan, Asya akan menyesalinya. Begitu yang Asya pikirkan, dia akan membiarkannya kali ini karena El tidak memukulnya.


__ADS_2