Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 63


__ADS_3

"Maaf ya nak, Papa tidak tahu jika ternyata semua itu malah menyakitimu"


"Tidak Papa, Papa gak salah, hanya saja aku tidak bisa menjadi seperti yang Papa harapkan. Maafkan aku Pa"


El duduk disamping istrinya, ia menggenggam tangan mertuanya.


"Maafin aku Pa. Aku janji akan menjaga Asya dengan baik, tapi tolong jangan ambil dia dariku. Aku mencintai Asya, Pa"


"Mas, Papa lagi sakit malah gombalin aku"


Dirga meminta Asya untuk keluar kamar, beliau ingin berbicara berdua dengan menantunya. Ada rasa khawatir dalam benak Asya, takut bila Papa dan suaminya berbeda pikiran dan akhirnya bertengkar.


Asya terlihat terus mondar-mandir didepan kamar orangtuanya. Berharap semuanya akan baik-baik saja didalam sana.


"Kamu ini kenapa Sya? Papa cuma mau bicara sama menantunya"


"Ma, tapi kenapa Papa mau aku nikah dengan Mas El? Karena warisan Mas El?"


"Iya, semua warisan El, sudah Papa ubah menjadi namamu"


"Kenapa Ma?"


"Papa mau hidup kamu terjamin, dengan atau tanpa sosok El"


Asya masih masih tidak mengerti dengan penjelasan sang Mama. Airin menarik Asya untuk duduk diruang tamu, ia kembali menjelaskan maksud dan tujuan Dirga dengan meminta harta warisan El. Karena jika suatu hari nanti El dan Asya berpisah, Asya akan mendapatkan semua warisan itu. Walau itu tak sebanding, setidaknya Dirga ingin Asya memiliki jaminan atas hidupnya kelak.


"Aku gak mau pisah dari Mas El, Ma. Bahkan Mas El juga mengubah pemilik hartanya menjadi namaku"


"Mama juga tidak mau kalian berpisah. Kamu yang kuat ya sayang, Mama yakin El akan berubah"


Airin memeluk putrinya, Asya melewati banyak hal menyakitkan selama pernikahannya. Setelah cukup lama kedua wanita itu menunggu, El akhirnya keluar kamar. Ia menghampiri Airin dan meminta sarapan, karena istrinya belum memasak dirumah.


Asya mencoba mencari tahu dari El, tapi pemuda itu tak mengatakan apapun. Ia lalu berlari menghampiri Dirga. Tetapi ia juga tak mendapatkan jawaban dari Papanya.


"Asya, ingat ya nak, perceraian itu tidak baik. Jadi Papa harap, kamu bisa mempertahankan rumah tangga kalian"


"Papa sama Mas El bahas apa?"


"Kamu dengar Papa ngomong apa?"


"Iya Pa"


Dirga menatap putrinya sejenak, lalu meminta Asya untuk pergi menemani El yang sedang sarapan. Sekali lagi Dirga mengingatkan, jika seorang istri tak boleh meninggalkan suaminya saat suami mereka berada dirumah. Karena saat suami membutuhkan sesuatu, istrinya harus sigap melayani.

__ADS_1


Asya berjalan keluar seperti permintaan Dirga. Ia duduk disamping El sembari menatap suaminya yang sedang menikmati makanan.


"Ada apa sayang?"


"Mas El sama Papa.."


"Urusan laki-laki"


Gadis itu membuang mukanya kesal, itu adalah kalimat yang selalu Dirga katakan ketika Asya bertanya. Dan jika sudah begitu, Asya akan diam tidak menanyakannya lagi, walau pada nyatanya ia sangat penasaran.


"Eh, lihat tuan putri ada disini" ujar Galen yang baru saja keluar kamarnya. Diikuti oleh Syam, mereka berdua sudah siap untuk berangkat kerja.


Galen mengacak rambut Asya, hingga membuat gadis itu kesal karenanya. Ia mengomel pada Galen dan berkata jika dirinya kini istri seseorang. Tak sepantasnya Galen memperlakukan Asya seperti anak kecil lagi.


"Iya Nyonya El. Mas aku kemarin lihat Zio, lagi ketemu klien sepertinya. Tapi Mas, mending jangan diambil deh kerjasama itu" ucap Galen.


"Kenapa ?"


"Perusahaan itu gak bagus Mas, banyak masalah intern. Takutnya kerjasama kalian malah gak berjalan lancar"


"Kok kamu tahu Len masalah intern mereka?"


Rupanya Galen dan beberapa koleganya sempat bekerja sama dengan perusahaan tersebut. Tapi karena masalah intern yang tak kunjung selesai, kerjasama itu malah kacau dan merugi. Akhirnya Galen memutuskan kerjasama itu sebelum rugi terlalu besar lagi.


"Nyonya El ngambek tuh" celetuk Syam setelah memperhatikan raut wajah adiknya. Asya memang tidak suka jika ada yang membicarakan pekerjaan dimeja makan. Karena ini sedang dirumah, family time.


"Sayang, aku mau berangkat ke kantor. Kamu mau disini atau pulang?"


"Maunya disini sama Mas El"


"Ya udah, aku telepon Zio dulu kalau gitu"


"Serius El? Ninggalin kerjaan demi Asya?" Tanya Syam.


El mengangguk lalu pergi menelepon Zio. Asya menyombongkan diri pada kedua Kakaknya. Jika hanya dia yang bisa melakukan hal itu pada sang Presdir. Padahal El sangat terkenal gila kerja, selain suka bermain wanita tentunya.


Tak lama El kembali duduk disamping istrinya, mengelus rambut Asya yang sedang menghabiskan sarapannya. Sesekali ia berbincang dengan Syam dan Galen mengenai pekerjaan.


"Sya, kemarin Mama lihat suaminya Kinan sama perempuan lain. Adiknya apa ya?"


"Selingkuhannya Ma"


"Terus kamu kasih tahu Kinan?"

__ADS_1


"Gak boleh Mas El ikut campur Ma. Tapi Ma, aku yakin Mbak Kinan tahu, soalnya, Ibu-ibu di komplek rumah kita udah pada tahu"


Airin dan Asya memulai gosip pagi mereka. Perempuan memang tak bisa jauh dari gosip, apalagi jika berita itu masih hangat tersebar. Sesekali El melirik istrinya, masih saja Asya khawatir akan keadaan Kinan. Padahal mereka bukan siapa-siapa Asya.


Dirga keluar dari kamarnya sambil terbatuk-batuk, spontan Asya berdiri dan berlari menghampiri sang Papa. Beliau ikut duduk di meja makan dengan yang lainnya.


"El, kamu tidak pergi ke kantor?"


"Tidak Pa, istriku bilang ingin dekat denganku hari ini"


Dirga menatap Asya yang memandangnya.


"Anak nakal ini, Papa bilang apa? Jangan ganggu suamimu yang sedang bekerja"


"Hm.... Tapi kan aku istrinya Pa. Ya udah Mas El sana gih pergi"


Asya yang kesal duduk memunggungi suaminya, ia tak ingin menatap El. Tapi sekali lagi Dirga mengoreksi kesalahan Asya, padahal beliau pernah berkata jika seorang istri tak boleh memunggungi suaminya. Gadis itu semakin merasa kesal dan membalikkan badannya menatap El yang tengah tertawa girang.


"Gak lucu Mas"


"Lucu ini mah, Papa lagi sakit loh, jangan bertingkah"


Asya memukul paha suaminya, melampiaskan amarahnya disana.


Dirga kembali membuka pembicaraan mengenai pekerjaan dengan menantu dan kedua putranya. Padahal beliau sedang sakit, tapi pikirannya masih saja mengenai pekerjaan. Walau Asya sudah mencoba melarang, tapi selalu kalah dengan perintah Dirga yang menyuruhnya untuk diam.


"Pa, aku pijitin ya"


"Tidak, pijit suamimu saja"


Bukannya menghampiri El, Asya malah melengos masuk kedalam dapur. Dirga hendak marah, tapi El menahan mertuanya. Mencoba membuat Dirga mengerti, jika Asya kini sudah berhasil menjadi istri yang baik.


"Mas El itu gak butuh dipijit Pa, butuhnya ini" ucap Asya seraya menghidangkan secangkir kopi untuk suami tercinta.


"Makasih sayang"


"Makasih aja nih? Hadiahnya mana?"


El tersenyum kecil, lalu menarik istrinya dan memberikannya ciuman singkat di pipi.


"I love you"


"Love you too"

__ADS_1


"Ehem" deheman Dirga membuyarkan adegan manis itu.


__ADS_2