Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 51


__ADS_3

Kakek El baru saja pulang kerumah dengan terburu-buru. Beliau mendengar berita dari para pegawainya jika El menarik-narik tangan Asya dengan kasar.


Plakk....


Tanpa basa-basi, tamparan itu mendarat sukses dipipi El. Asya yang nampak terkejut, hendak menghampiri suaminya, tetapi Nenek El menarik Asya untuk masuk kedalam kamar. Memberikan waktu untuk Kakek dan Cucunya berbincang serius.


"Aku menyesal sudah memohon pada Dirga agar memberikan putrinya untuk menjadi menantuku"


"Apa maksud Kakek?"


Kakek El tak menjelaskan apapun pada cucunya. Beliau sangat kecewa pada El, sangat. Padahal El adalah cucu kesayangannya, walau tahu El sering mengecewakan dirinya, tetapi beliau tak menyangka jika El bisa bersikap kasar pada istrinya.


Sebelum Kakek El pergi, beliau memperingatkan cucunya. Jika sekali lagi beliau melihat El bersikap kasar pada Asya, maka beliau sendiri yang akan memisahkan keduanya.


"Aku akan mencarikan pria yang lebih baik untuk Asya" ujar Kakek El.


Ketika El sedang dinasehati Kakeknya, disisi lain Asya tengah gelisah menunggu suaminya. Walau Nenek El sudah mencoba menenangkan Asya, namun gadis itu tak bisa tenang bila belum melihat sosok suaminya.


Ceklek...


Pintu kamar El terbuka, wajah yang sudah Asya tunggu kehadirannya. Setelah El masuk, Nenek El pergi keluar kamar.


Asya mengelus pipi suaminya, tamparan keras itu pasti menyakiti El.


"Ada apa Asya?"


"Mas, kita pergi saja dari sini"


El mengelus rambut istrinya, Asya pasti terkejut. Kemanapun ia pergi, selalu saja ada kekerasan. Kali ini El menolaknya, walau sebenarnya ia sudah lama ingin pergi. Tetapi jika mereka pergi sekarang, pasti Kakek akan berpikir yang tidak-tidak.


Apa aku benar-benar mencintai Asya?, batin El.


Pandangan El tak pernah luput dari istrinya, tawa itu, senyuman Asya, kini El menyadari sesuatu. Hal paling sederhana yang tak bisa ia sadari, jantungnya berdetak kencang kala melihat Asya, harinya tak lengkap tanpa menatap istrinya.


Benar, kini hari El, dimulai dengan melihat Asya dan berakhir juga dengan menatap istrinya.


Sudah sangat lama El tidak bersahabat dengan cinta, ia membenci perasaan itu. Bukan membenci, tapi menolak kehadiran cinta. Tapi apa yang orang katakan itu benar, bukan kita yang menentukan datangnya cinta dan pada siapa.


"Apa aku bisa berubah demi Asya? Apakah perasaan ini nyata?" Gumam El.


"Tidak apa-apa Mas El, pasti karena Kakek sangat menyayangi Mas" sela Asya dalam lamunan El. Ia merasa jika suaminya tengah memikirkan tamparan Kakek, karena itu Asya berusaha menghibur El.


Mendengar apa yang Asya katakan, El spontan menatap mata istrinya. Kebenaran itu membuat El salah tingkah dihadapan Asya.

__ADS_1


"Ap..apa tunggu, jangan mendekat"


Larangan itu semakin membuat Asya ingin mendekati suaminya. Ada sedikit rasa menyesal, andai saja El tidak menyadari jika dia memiliki perasaan pada Asya, pasti dirinya tidak akan segugup ini.


Belum sempat Asya bertanya, El malah mendorongnya keluar kamar dan meminta Asya untuk bermain dengan para keponakannya.


"Gak mau ah, aku mau nemenin Mas aja"


"Gak usah, udah sana pergi" sentak El lalu membanting pintu tepat dihadapan Asya.


Gadis itu sangat kesal, ia menatap pintu kamar El dengan heran. Mungkin perubahan sikap El karena efek dari tamparan Kakek. Walaupun begitu, Asya merasa senang sebab diberi ijin oleh El untuk bermain bersama keponakannya.


Asya sudah duduk diantara keponakannya, bermain, bercanda dan bernyanyi bersama mereka. Aqilla sangat menyayangi Asya, ia bahkan tak pernah sekalipun bangkit dari pangkuan Bibinya.


"Sayang, kok kamu disini? Nanti El marah loh" celetuk Laura yang baru saja memasuki rumah bersama Adhitama.


"Mas El yang nyuruh kok Bund"


"Massa? Serius kamu Sya?" Sela Adhitama keheranan.


Adhitama segera berjalan menuju kamar El setelah mendengarkan cerita Asya mengenai putra dan Ayahnya. Beliau menggedor-gedor pintu kamar El, namun tak ada jawaban.


Ceklek....


"Buat ulah apa lagi dia? Hm..." gumam Adhitama kemudian pergi kembali menuju ruang keluarga.


Melihat Asya yang nampak bahagia bersama keponakannya, Adhitama merasa jika putra dan menantunya berada di dimensi yang berbeda. Istri tersenyum, suami merenung.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Keluarga besar Winarso tengah berkumpul bersama untuk menikmati malam tahun baru. Bersama dengan para pegawai yang diundang untuk acara makan bersama. Ada begitu banyak hidangan yang menggiurkan lidah. Bahkan Aqilla kembali mencicipi semua makanan yang ada, seolah dirinya telah lupa terhadap rasa sakit diperut nya.


Tangan mungil Aqilla menarik tangan Asya untuk pergi ke suatu tempat. Ke tempat dimana El tengah duduk seorang diri ditemani leptop miliknya.


"Imo duduk sini ya, kasihan Om sendirian" ucap Aqilla dengan bahasanya.


Saking fokusnya dengan pekerjaan, El bahkan tak menyadari Asya yang sudah duduk di ayunan bersama dengannya. Hingga gadis itu melingkarkan tangannya pada El.


El menoleh, menatap Asya yang jaraknya begitu dekat dengannya. Hampir saja leptop ditangannya terjatuh.


"Kenapa kamu disini?"


"Disuruh Aqilla nemenin Mas El, dia lucu ya Mas"

__ADS_1


"Pergi, jangan ganggu aku"


Asya memanyunkan bibirnya kesal, padahal Aqilla sangat peduli pada El. Ia menangkup kedua pipi suaminya, lalu mencium bibir El singkat dan berkata, "I love you"


"Eh" El terkejut karena Asya menyenggol lengannya. Rupanya El tengah membayangkan sesuatu, adegan manis nan romantis bersama istrinya.


Segera setelah itu El menutup leptopnya dan hendak masuk kedalam rumah. Namun perkataan Asya kembali menghentikan langkahnya.


"Mas El bilang mau jagain aku, kok malah pergi"


"Yaudah ayo makan"


"Hihihihi lucu bingits sih suamiku"


"Diam"


Asya menarik suaminya untuk duduk kembali, menikmati malam berdua. Ia menyenderkan kepalanya dibahu El, sembari melingkarkan tangannya dilengan sang suami.


Kini giliran El yang mulai salah tingkah dengan tingkah Asya, padahal istrinya itu telah terbiasa dengan segala permintaannya.


"Mas, masuk yuk, mau pakai hadiah dari Mas El"


"Jangan, tidak usah dipakai, lain kali saja"


Asya tak ingin mendengarkan suaminya kali ini, ia lalu menarik El masuk kedalam kamar. Hari sudah sangat larut, para keponakan kecilnya juga sudah terlelap. Setelah melihat banyak kembang api yang menandakan pergantian tahun.


El tengah duduk bersandar di atas ranjangnya, lagi dan lagi ditemani dengan leptop dihadapannya. Sedangkan Asya tengah membuka hadiah dari suaminya dikamar mandi.


"Mas El memang sangat nakal, kenapa dia memberiku pakaian seperti ini" gerutu Asya yang tengah menatap dirinya didepan cermin. Lingerie hitam yang El pesan khusus untuk istrinya.


Tak butuh waktu lama untuk Asya bersiap, ia bahkan mengikat rambutnya, menunjukkan leher jenjang itu. Gadis itu duduk dihadapan El, menyahut leptop suaminya dan berganti duduk diatas pangkuannya.


El menatap istrinya, ah, tubuh seksi itu kembali menggoda. Ia bahkan menelan ludah memandangi sang istri.


"Jadi Mas El mau mengawali tahun baru seperti ini?" Tanya Asya sembari tersenyum.


Jantung El kembali berdetak kencang, ia bahkan tak tahu kemana harus menatap. Tidak seperti biasanya, El malah mengalihkan Asya dari pangkuan dan menyuruh istrinya untuk tidur.


"Mas El kenapa?"


"Aku lelah, tidurlah"


Sial, ada apa denganku? Kenapa aku tidak bisa menghadapi Asya seperti sebelumnya?, pikir El.

__ADS_1


__ADS_2