Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 101


__ADS_3

"Asya, Jihan? Haiii" sapa seorang wanita dengan ceria.


"Eci?" Teriak keduanya bersamaan. Jihan lebih dulu menghampiri Eci dan memeluknya. Kemudian diikuti oleh Asya setelah ia menjewer telinga El tentunya.


"Kalian ngapain disini? Lagi cari baju pengantin? Jihan mau nikah ya?" Cecar Eci dengan banyak pertanyaan.


"Iya nih, tapi disana males banget, habisnya genit pegawainya" jawab Jihan.


"Ke butik gue aja, gue punya sesuatu buat kalian"


Asya dan Jihan saling berpandangan, mereka sama sekali tidak tahu jika teman kuliah mereka ini sudah memiliki butik. Dengan senang hati tentu mereka mengikuti kemana Eci pergi.


Kai dan Key berlari menggandeng tangan Asya. Mereka tak ingin bersama para lelaki lagi, bersama para wanita lebih menyenangkan. Terlebih Eci memberikan permen lollipop sebagai ucapan selamat datang di butiknya.


Eci meminta Asya dan Jihan duduk, ia menginstruksikan sesuatu kepada beberapa karyawan nya. Tak berselang lama, karyawan Eci datang dengan dua buah gaun yang selama ini terpajang di tokonya dengan rapi. Itu adalah sampel gaun terbaik yang Eci buat selama karirnya. Desain yang sangat diinginkan oleh Asya dan Jihan saat mereka masih kuliah dulu.


Sebenarnya, Gita juga memiliki desain impian. Tapi setelah insiden itu, banyak teman yang memilih untuk meninggalkan Gita. Apalagi setelah mereka tahu, jika Gita menjebak Nando untuk anak yang tidak tahu siapa Ayah kandung sebenarnya.


Asya baru mengetahui berita itu setelah tiga tahun ia tinggal diluar negeri. Ia tak pernah menyangka jika Gita bisa berbuat sejahat itu.


"Lihat, gue kasih nama kalian di sisi lain tag labelnya" ujar Eci menjelaskan.


"Waaahh, bagus banget, serius keren kamu Ci" puji Asya sumringah.


"Iya bagus banget, ini desain yang dulu sering kita bahas kan? Hahaha, masih inget aja kamu, keren banget Eci kita" imbuh Jihan tak kalah senang nya.


Ditengah kehebohan para wanita itu, terdengar suara tawa Kai dan Key.


"Ada apa?" Tanya El pada kedua putranya.


"Bunda lucu ya Ayah, kayak si kecil waktu dikasih mainan. Wajahnya hihihi" jawab Kai cekikikan.


"Iya, Bunda kelihatan senang sekali. Lucu" timpal Key.


El kembali menatap ke arah istrinya. Mungkin apa yang dikatakan oleh si kembar benar, Asya terlihat sangat bahagia. El sempat lupa jika istrinya selalu bahagia dengan berbagai hal kecil. Namun, karena jauh dari keluarganya, El tak bisa sering melihat tawa bahagia itu.


"Mas, beliin ini" pinta Asya pada El.

__ADS_1


"Kamu mau nikah lagi?"


"Ayaaahhh" teriak si kembar.


"Bercanda, ambil aja, ada lagi Nyonya? Beli apapun yang kau inginkan sayang"


Asya tersenyum lebar, ia menghentakkan kaki saking senangnya. Melihat Asya boleh membeli apapun, Kai dan Key mengambil kesempatan untuk meminta mainan yang ingin mereka beli. Sebenarnya El tak keberatan, tapi Asya sudah menatap mereka dengan tatapan menusuk. Si kembar hanya bisa terdiam menahan tangisnya.


"Ayah, Bunda curang sekali. Kenapa dia boleh membeli semua kain ini, tapi kita tidak?" Gerutu Kai.


"Benar Kai, apakah Bunda akan memakai semua kain itu? Itu tidak mungkin, Bunda sangat kecil hahahah" timpal Key.


El menarik si kembar dipangkuannya. Menyambar kan sang putra agar mau mengalah dengan apa yang Bunda mereka katakan. Sebab Asya akan marah jika para lelaki itu berulah. Sembari menatap Zio dan Jihan yang sedang memilih pakaian pengantin. El dan si kembar sangat suntuk sebab Asya hanya asik memilih baju disana. Entah sudah berapa pakaian yang ia pilih.


2 Jam berlalu....


Asya telah usai memilih pakaiannya, dengan waktu selama itu, hanya dua gaun yang membuatnya tertarik selain gaun pengantin. Ia bergegas menghampiri ketiga pria nya yang tertidur di sofa.


"Mas, hei sayang" ucap Asya membangunkan suaminya. Ia mengecup singkat pipi El.


"Sudah selesai? Lama sekali, kami lapar" ujar El.


El berpamitan pada Zio dan Jihan, ia menyesal tak bisa mengikuti kegiatan mereka lagi. Tak lupa ia berpesan untuk mengantar Asya dan si kembar dengan aman pulang kerumah setelah kegiatan mereka.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku ya" ucap El sembari mengecup kening dan bibir istrinya singkat.


"Hati-hati ya Mas, love you"


"Love you too"


Setelah El pergi, tak berselang lama Jihan dan Zio juga telah usai memilih baju mereka. Hanya tinggal fitting baju saja setelah beberapa hari. Kini mereka pergi untuk mencari makan siang sebab si kembar merasa lapar.


Zio dan Jihan masing-masing menggendong si kembar, mereka tak ingin Asya kelelahan. Lebih tepatnya, Jihan ingin lebih lama menggendong keponakannya.


Di restoran...


"Om Zio, aku mau pipis" pinta Kai.

__ADS_1


Zio mengantarkan kedua putra Asya untuk pergi ke toilet. Sedangkan Jihan dan Asya meneruskan makan mereka. Selagi asyik berbincang, seseorang datang dan memanggil nama Asya. Suara yang sangat familiar untuk kedua wanita itu.


"Asya"


"Na..Nando, ha..hai" balas Asya dengan senyuman ramah.


"Lama tida bertemu denganmu Asya, apa kabar mu? Oh, hai Jihan, gue denger loe mau nikah"


"Aku baik, kau?"


"Iya Ndo, hehe datang ya, undangannya masih nyusul sih hehehe"


Asya dan Jihan mempersilahkan Nando untuk duduk dengan mereka. Perbincangan kembali di mulai. Nando kini sudah menjadi seorang dokter, ia juga bekerja dirumah sakit besar. Cita-cita Nando terwujud, tapi ia harus kehilangan orang yang ia sayangi.


Dalam lubuk hati Nando yang terdalam, ia masih menginginkan Asya. Jelas terlihat kala dirinya hanya menyadari keberadaan Asya padahal disana juga ada Jihan. Mata Nando masih mengisyaratkan keinginannya untuk memiliki Asya. Jihan sedikit khawatir, akan ada masalah lagi jika Nando terus berada disini.


"Asya, aku tidak pernah melihatmu. Tapi aku sering melihat suamimu"


"Ah, aku tinggal diluar negeri dan suamiku tinggal disini. Ya, begitulah, menyedihkan kami harus tinggal berjauhan. Tapi kini kami sudah tinggal bersama lagi"


"Kau pasti kesepian tinggal seorang diri, apa suamimu...." perkataan Nando terpotong kala si kembar datang dan memanggil Asya.


"Bundaaa"


Nando memperhatikan si kembar dengan seksama. Ia juga setuju jika si kembar sangat mirip dengan suami Asya.


Zio tampak terkejut, namun dirinya berusaha setenang mungkin untuk tidak membuat keributan.


"Aku tidak pernah kesepian walau jauh dari suamiku. Lihat, ini kedua putra ku, mereka yang menemaniku disana. Kai dan Key, sapa Om Nando nak"


"Halo Om" ucap keduanya sambil melambaikan tangan.


Nando tersenyum canggung, ia buru-buru pergi karena teman-teman dokternya memanggil. Padahal ia masih ingin berbincang lama dengan Asya.


Zio juga tak ingin membuang waktu, ia mengajak mereka semua pergi setelah makan siang selesai. Selama perjalanan, kedua wanita itu terdiam, hanya ada suara Kai dan Key yang tengah mengobrol menikmati jalanan.


"Bunda, aku tidak suka dengan Om Nando. Jangan dekat-dekat dengannya" celetuk Kai seraya tidur dipangkuan sang Bunda.

__ADS_1


"Kenapa sayang?"


"Dia melihat Bunda seperti Ayah melihat Bunda"


__ADS_2