Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 69


__ADS_3

Asya sudah sampai di kantor suaminya. Suasana tegang menyelimuti kantor tersebut. Setiap langkah yang ia ambil, tampak para karyawan tengah begitu fokus pada pekerjaan mereka.


Ceklek....


"Ada apa lagi? Dimana semua laporannya Zio?" Sentak El kala mendengar suara pintu ruangannya terbuka. Ia tak menatap ke arah pintu, tapi yang bisa masuk ke ruangan El tanpa mengetuk hanyalah Zio.


"Kau..." ucap El kala seseorang menutup leptopnya begitu saja.


"Apa?"


"Kamu kenapa disini? Udah belanjanya?"


Asya memutar bola matanya malas, pasti ada mata-mata yang membocorkan semua kegiatannya pada El.


"Mas El kenapa marah-marah?"


"Aku gak marah-marah, emang tugas mereka buat kerja kan?"


"Aku udah selesai haid" bisik Asya kemudian berjalan pergi.


El membelalakkan matanya, suasana hatinya kembali berubah. Ia mengikuti Asya yang keluar dari ruangan El, dan menarik gadis itu dalam pelukan. Asya menatap suaminya, lalu menggerakkan kepalanya memberi kode. Asya tahu jika itu memang tugas El sebagai seorang pemimpin. Tapi tetap saja, cara El itu sangat salah.


"Zio, pesankan makan siang untuk semua karyawan"


"Kau yakin El? Tiba-tiba saja?"


"Iya, aku akan pergi makan siang dengan istriku"


Bos besar itu kemudian berjalan pergi bersama sang istri. Zio dan para karyawan lainnya, menatap El dengan bingung. Padahal sedari tadi pagi, pemuda itu marah-marah tak karuan. Namun, sekarang tiba-tiba saja berubah menjadi sangat baik.


El merangkul pinggang Asya selama perjalanan menuju mobil, ia meminta para bodyguard Asya untuk menunggu di kantornya. Sedangkan ia dan istrinya akan pergi makan siang berdua saja. Bukannya pergi ke salah satu restoran, El malah mengajak Asya untuk makan di hotel. Astaga, pemuda nakal ini benar-benar tak tahu waktu.


"Mas El, mau ngapain kesini? Gak mau makan disini aku"


"Sayang, kamu bilang udah selesai. Udah ayo"


"Oke, tapi gak ada bulan madu ya"

__ADS_1


"Kok gitu sih Nyonya El, gak adil namanya"


"Makan di restoran atau gak ada bulan madu?"


El tentu harus mengalah, ia memutar mobilnya kembali keluar hotel, menuju salah satu restoran. Ini pertama kalinya Asya dan El makan siang diluar. Asya terus saja tersenyum, karena merasa jika ini adalah kencan.


"Mas, kita kan gak pernah kencan kayak gini. Jalan-jalan yuk Mas"


"Iya nanti, kalau gak sibuk. Masih banyak kerjaan sayang" ujar El sembari menggenggam tangan Asya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya makanan dihidangkan, mereka pun menikmati makan siang sambil mengobrol santai. Namun ketenangan itu hanya berlangsung beberapa saat. Sebab ada seorang wanita yang tiba-tiba datang dan menyela perbincangan suami istri tersebut.


"El, dia wanita barumu? Dia terlihat sangat lugu, kau brengsek El, kasihan aku melihatnya"


Wanita itu terus mengoceh dan menjelekkan El dihadapan Asya. Ia juga meminta Asya pergi meninggalkan El sebelum semuanya terlambat. El hanya akan membuat masa depan Asya menjadi hancur. Terlebih, pemuda itu sangat suka bermain dengan wanita.


"Mbak, lebih baik cepat putuskan dia dan pergi. Tingkahnya menjijikkan" ucap wanita itu mengakhiri ocehannya.


"Dia siapa Mas?"


Asya hanya mengangguk dan melanjutkan makannya, sedangkan El terus menatap istrinya. Ia takut bila Asya termakan omongan wanita itu, walau semua yang dikatakan wanita itu adalah kebenaran. Tapi El sudah berniat untuk berubah, ia ingin memulai hidup barunya bersama sang istri tercinta.


El tak mengatakan apapun, makan siangnya bersama sang istri menjadi begitu canggung. Bahkan hingga selesai makan pun tak ada yang coba mereka bicarakan. El pikir, Asya terusik dengan kehadiran wanita tersebut yang tiba-tiba.


Di dalam mobil...


"Sayang, nanti malam mau dimasakin apa? Atau kita mau makan malam diluar aja?"


Ciiiitt....


El menghentikan mobilnya tiba-tiba, untung saja ia tidak sedang berada di kecepatan tinggi. Sayangnya beberapa kendaraan dibelakang El terus membunyikan klakson. Asya yang risih meminta El untuk segera melajukan mobilnya lagi.


"Kamu tadi bilang apa Sya?"


"Makan malam"


"Bukan itu, kamu panggil aku apa?"

__ADS_1


"Sayang"


"Kamu gak marah sama aku? Wanita tadi..."


"Aku itu, menikah dengan Mas El, untuk menghabiskan masa sekarang dan masa depan bersama. Bukan mengingat masalalu"


El tersenyum, lalu menggenggam tangan Asya dengan sangat erat. Wanita pilihan Kakek El memang yang terbaik, El beruntung bisa mendapatkan Asya. Mengenalnya, dan jatuh cinta secepat ini. Walau, Papa mertuanya sedikit menyebalkan.


Pemuda itu melajukan mobilnya menuju kantor, padahal ia baru ngin menghabiskan waktu bersama sang istri tercinta. Tapi sayangnya, ada banyak pekerjaan menumpuk disana.


"El, nanti malam kau datang kan?" Tanya Zio menghadang El dan Asya yang hendak masuk kantor.


"Kemana Adik Ipar? Dia tidak mengatakan apapun padaku"


"Tidak Zio, aku ingin berdua bersama istriku. Kau saja yang datang"


"Tapi El, para pengusaha datang kesana, kau juga harus datang. Kita ajak saja Kakak Ipar, dia pasti senang karena banyak anak kecil juga disana"


"Maauuuu, yey yey"


El menatap Zio dengan tajam, ia sudah menunggu lama untuk hari ini. Hari dimana ia bisa menghabiskan waktu berdua bersama sang istri. Jika sudah begini, Asya pasti memaksa untuk pergi ke acara besar itu. Bahkan tanpa mendengarkan penjelasan El, Asya meminta para bodyguard nya untuk menemani dirinya pulang saat itu juga.


"Zio, mana mungkin ada anak kecil disana"


"Ayolah El, Kakak Ipar harus datang kesana. Kau harus mengenalkan Nyonya El, agar para pengusaha itu tidak terus membawa wanita saat bertemu denganmu"


"Asya pasti akan mengerti, jangan khawatir"


"Sampai kapan dia akan mengerti? Kau juga harus mencegahnya. Hari ini dia mengerti, tetapi nanti, dia akan pergi tanpa mau mendengarkan mu"


"Baiklah Zio, baiklah, kita lanjutkan pekerjaan saja"


Zio hanya bisa menghembuskan napasnya kasar karena sikap El yang terkadang suka menyepelekan. Harusnya El sadar, Asya sampai meminta Zio menjadi mata-matanya pasti karena sesuatu. Sebab hati Asya mulai ragu dengan hubungan mereka. Cinta itu mulai tumbuh, dan Asya mulai takut kehilangan. Rasa percayanya pada El pun mulai pudar, bukan tidak mungkin, Asya akan menyerah jika El tak kunjung berubah.


Namun El, hatinya masih bimbang dan mudah tergoda. Ini adalah awal yang besar untuk El, tantangan yang harus ia lalui. Karena taruhannya adalah Asya, stay or leave, semua tergantung dari bagaimana El bersikap.


"Aku harap kau benar-benar akaan berubah El. Aku akan tetap berada dipihak Asya, apapun yang terjadi tak akan ku biarkan kalian berpisah. Itu janjiku" gumam Zio seraya menatap El yang berjalan pergi menjauh darinya. Ia kemudian mengikuti El kembali ke ruangannya untuk mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2