Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 60


__ADS_3

Gisel kembali mendekati El, ia mencoba mengkritik Asya. Hingga membuat El marah dan mencengkram dagu Gisel dengan kasar. El tak suka jika ada yang mencoba menghina istrinya, siapapun itu.


"Aku yakin istrimu tidak bisa memuaskanmu kan El"


"Gisel, Gisel, apa kau tidak melihat, hanya dengan menggenggam tangan El saja, istrinya bisa melakukan sesuatu yang tak bisa kau lakukan" sela salah satu teman El.


Reno yang muak melihat tingkah Gisel, ia beranikan diri untuk duduk diantara El dan wanita itu. Karena sejatinya, El yang paling mudah tergoda diantara mereka semua.


"El"


"Apa Bim? Aku gak ngapa-ngapain"


"Hm, awas aja. Mana istrimu?"


"Lagi makan sama Zio"


Bima melirik Gisel sebelum pergi meninggalkan teman-temannya. Ia pergi mencari Asya karena para tamu yang hendak pergi ingin bertemu dengan Asya sejenak.


Tak berselang lama setelah kepergian Bima, giliran Mira yang datang dan menanyakan Asya. El menjawab hal yang sama lalu Mira pun pergi mencari suami dan juga Asya.


"El, istrimu menjadi kesayangan semua orang" celetuk Reno.


"Hm, dia juga kesayanganku"


Terlihat Asya yang melintas dengan mulut penuh makanan. Bima dan Mira menarik gadis itu tak sabaran. Sedangkan Zio, khawatir jika Kakak iparnya tersedak karena makanan di mulutnya.


El mengambil alih piring dari tangan Zio, ia juga merasa lapar karena terus berbincang disana. Sembari menatap istrinya yang begitu sibuk dengan para tamu undangan. Asya terlihat begitu bahagia disana, menyapa setiap tamu sambil menggendong putri Bima.


"Aku tidak mengerti, kenapa istriku berada disana?"


"Kakak Ipar memang selalu bisa mengambil hati semua orang El"


"Apa aku boleh memanggilnya Kakak Ipar juga?" Sela Reno.


El mengangguk, ia mengatakan memang sudah seharusnya para temannya memanggil Asya Kakak Ipar. Dan memang sudah sewajarnya teman-teman El menjaga Asya dengan baik.


Pemuda itu kembali mengeluh, karena ia tak bisa menyentuh Asya selama beberapa hari kedepan. Tidak biasanya El terlihat murung seperti ini sebab tak bisa menyentuh seorang gadis. Karena jika tak ada gadis ini maka El akan menyentuh gadis itu, begitulah gaya hidup seorang El.


Zio menertawakan El, karena kini pemuda itu sudah jatuh cinta dengan Asya. Bahkan ini lebih cepat dari yang Zio pikirkan.


"Maaf ya El, mereka ingin bertemu istrimu. Aku harus menjelaskan berkali-kali jika adikku ini sudah menikah, tapi mereka masih tak percaya" ujar Bima yang datang mengantarkan Asya.

__ADS_1


"Istriku kelelahan karenamu"


"Tidak Mas, aku suka berada disana. Mas El sih gak mau, kan aku pingin baby El" rengek Asya.


El yang gemas menciumi bibir istrinya berkali-kali, hingga Asya merasa malu karena teman-teman El menatapnya.


"Kaka Ipar, El hanya suka prosesnya saja" celetuk Reno.


"Kau benar, dia memang menyebalkan" jawab Asya kesal.


El kembali menggoda istrinya, ia menggelitik Asya hingga gadis itu meminta ampun atas perlakuan El padanya. Lagi-lagi Gisel mencoba mendekati El, ia duduk begitu dekat dengan El padahal ada Asya disana.


Asya tak ambil pusing, ia berdiri dan duduk dipangkuan suaminya. Hal itu membuat para adik iparnya tertawa dan bertepuk tangan akan sikap berani Asya.


"Kamu ngapain sih dekat-dekat suamiku, itu kan masih kosong"


"El aja gak ngelarang, kenapa kamu jadi istri posesif banget sih"


"Karena dia menghargai kamu, emangnya kamu gak lihat wajah suamiku? Dia udah muak sama kamu, sana pergi"


Asya meminta El bertukar tempat duduk dengan temannya yang lain. Ia tak ingin wanita aneh itu terus saja mendekati suaminya. Terlebih, pakaian wanita itu sangat mengusik Asya.


Setelah cukup lama Asya duduk dan mendengarkan El yang bernostalgia, ia merasa ingin buang air kecil. Ia pun berpamitan pergi ke kamar mandi.


"Mas Dimas?" Gumam Asya terkejut kala melihat seorang pemuda yang tengah berdiri di depan kamar mandi.


Pemuda itu tengah membawa tas seorang wanita ditangannya. Tanpa kata, ia segera menarik Asya pergi menjauh dari kerumunan. Ia mendorong Asya ke dinding dengan kasar, hingga membuat siku Asya terluka karenanya.


Dengan penuh amarah ia menampar Asya tanpa alasan, lalu mencengkram dagu gadis itu dengan kuat.


"Jangan mengatakan apapun, bersikaplah seolah kau tidak mengenalku. Kau mengerti? wanita sialan" ujar Dimas lalu pergi meninggalkan Asya.


Asya berjalan perlahan, ia kembali menemukan sesuatu yang tak ingin ia lihat. Dimas yang sedang bersama dengan wanita lain dan bukan istrinya. Kini gadis itu mengerti, mengapa sikap Dimas begitu kasar padanya. Tapi bukan berarti pemuda itu bisa menyakiti Asya semaunya.


Gadis itu berjalan dengan cepat kembali ke tempat El. Ia melihat semuanya, bahkan kini El yang tengah di goda oleh Gisel tepat dihadapan Asya. Tangan kotor Gisel itu berani menyentuh paha El.


"Mas, aku mau pulang"


El tersentak, begitu juga dengan semua yang ada disana. Ia segera mendorong Gisel menjauh, tapi air mata Asya sudah terlanjur jatuh. El berdiri dan meminta maaf pada istrinya, ia kembali menyalahkan Gisel yang berusaha mendekati dirinya.


"Aku mau pulang sekarang"

__ADS_1


"Tapi sayang, kamu bilang suka disini. Gak mau gendong...."


"Sekarang Mas, sekarang"


El tertegun melihat tanda merah dipipi istrinya. Walau Asya mencoba menutupinya dengan tangan, ia tak bisa menyembunyikannya dari mata elang El.


"Baiklah kita pulang"


"El tapi kan? Kakak Ipar ada apa?" Sela Zio yang tidak mengerti situasinya.


El meminta Zio untuk diam, ia segera mengajak Asya untuk pergi meninggalkan acara. Bahkan Bima dan Mira mencoba menghentikan mereka, tapi Asya tak ingin tinggal lebih lama lagi disana.


Kepergian Asya yang tiba-tiba meninggalkan tanda tanya besar dalam benak teman-teman El, bahkan Zio saja tidak tahu apa yang terjadi.


Asya hanya diam dan memandangi jalanan selama perjalanan pulang. Sesekali gadis itu menghembuskan napasnya kasar, ia sukar dengan semua yang ada dalam pikirannya.


"Mas, kenapa berhenti?" Tanya Asya ketika El tiba-tiba saja menghentikan laju mobilnya.


"Ada apa? Katakan sekarang atau kita tidak akan pulang"


Setelah tertunduk dan merenung sejenak, Asya kembali menatap suaminya. Ia menggenggam tangan El.


"Tadi, aku ditampar sama Mas Dimas"


"Dimas? Siapa dia?"


"Tetangga kita Mas, aku gak sengaja lihat dia sama cewek lain. Padahal istrinya dirumah lagi hamil besar"


Asya menceritakan bagaimana awal mulanya mereka bertemu. Saat Airin dan Asya membagikan kue, saat itulah Asya bertemu dan berkenalan dengan Dimas dan istrinya. Padahal saat pertama kali bertemu, Dimas terlihat sangat sopan dan baik. Belum juga sehari mereka bertemu, tetapi pemuda itu sudah berani memukul Asya.


"Beraninya pria brengsek itu memukul mu"


"Mas, aku harus apa? Aku kasihan sama istrinya yang lagi hamil besar Mas"


El mengelus rambut istrinya, lagi dan lagi Asya malah memikirkan orang lain. Padahal El begitu khawatir karena istrinya di tampar oleh orang asing.


"Asya, aku akan mencarikan bodyguard untukmu. Aku tidak akan bisa tenang jika harus meninggalkan mu sendiri"


"Aku tidak apa-apa Mas El, aku..."


"Apa? Kau selalu saja terluka setiap kali ada kesempatan"

__ADS_1


"Aku sayang Mas El"


"Aku juga sayang kamu"


__ADS_2