
"Huft, harusnya gue yang jadi first kiss nya Asya" gumam Nando kesal.
"Udahlah Ndo, biarin Asya bahagia. Kalau loe beneran cinta sama dia, kebahagiaan orang yang kita cintai itu yang utama" nasihat Jihan untuk Nando.
Jihan menggenggam tangan Nando, mencoba menguatkan pemuda itu. Tanpa Nando sadari, ada seseorang yang menunggunya untuk segera berpaling. Berharap Nando akan lupa pada gadis yang ia cintai, dan mulai membuka hati untuk gadis yang mencintainya dalam diam. Jihan menyukai Nando sejak pertama kali mereka bertemu. Sayangnya, Nando lebih menyukai Asya yang ceria.
Nando berusaha menguatkan dirinya dan mengalihkan pandangannya pada film yang sedang mereka tonton.
Asya sangat menikmati film itu, ia terkadang menjerit pelan karena adegan romantis, lalu menangis karena adegan sedih. Berbeda dengan El yang mencoba memahami perasaan pemeran pria dalam filmnya.
"Yaaahh udah selesai, cowoknya so sweet banget ya Mas. Jadi pingin punya cowok kayak gitu, hehehe" celetuk Asya saat film telah usai.
"Berarti poster yang di kamar buang aja ya, kan maunya kayak di film itu cowoknya" goda El.
Asya merengek dan memanyunkan bibirnya, itu adalah godaan yang tidak lucu sama sekali. El tertawa kecil melihat tingkah Asya, ia lalu membantu Asya berdiri dan pergi dari ruang teater.
"Asya, bukankah pria itu terlalu mengalah pada sang wanita? Kau tahu kan, bagi seorang pria, harga diri mereka adalah segalanya" celetuk El ditengah perjalanan mereka.
"Suatu hari nanti Mas El juga akan seperti dia" jawab Asya seraya menggandeng lengan suaminya.
"Kenapa?"
"Karena cinta Mas. Saat Mas. El mencintai seseorang, tujuannya hanyalah membuat orang yang kita cintai bahagia bukan? Itu adalah cinta, bukankah itu mengagumkan?"
El menatap istrinya dalam, rupanya Asya tahu lebih banyak dari apa yang El pikirkan. Pemuda itu kembali bertanya, apakah Asya bisa melihat orang yang jatuh cinta.
Asya menggeleng, ia tak yakin akan hal itu. Sebab cinta itu tak bisa dilihat oleh mata tetapi dirasakan melalui hati.
"Aku bisa melihat orang yang sedang jatuh cinta Asya. Mata mereka mengatakan segalanya" ucap El dengan percaya diri.
"Bagaimana denganku?"
"Kamu, masih ragu dengan perasaanmu. Terkadang aku melihat cinta namun terkadang aku melihat kebencian disana. Apa kau membenciku?"
Asya menunduk, ia memalingkan wajahnya dari El. El kembali menggoda istrinya, ia tiba-tiba saja menggendong Asya. Membuat gadis itu terkejut dan malu karenanya. Beberapa mata mulai memandang mereka, namun El tak peduli, tetapi Asya, benar-benar tersipu malu.
__ADS_1
"Mas turunin, malu tahu dilihatin orang" ucap Asya pelan.
El menurunkan istrinya, lalu menatap Asya dengan heran. Bukankah beberapa menit yang lalu, istrinya mengatakan ingin pria seperti yang ada di film, tapi saat El berusaha bersikap romantis, Asya malah tersipu malu.
"Mas El, setiap laki-laki selalu memiliki cara untuk membuat wanitanya bahagia. Mas El tidak perlu seperti dia" jawab Asya malu-malu.
Asya tak tahu harus kemana ia menatap, matanya hanya tertuju kelantai untuk menyembunyikan rasa malunya.
"Asya, romantis banget sih pengantin baru" celetuk Jihan yang datang mendekat dengan teman-temannya.
Asya menoleh sejenak, lalu berjalan mendekati El dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan sang suami. Ia tak bisa menatap wajah temannya, Asya menyukai hal itu, tapi rasanya pipi Asya benar-benar terasa panas.
"Ka..kalian lihat ya? Maaf ya, Mas El emang nakal" gumam Asya sedikit samar.
"Hahaha, bukannya loe suka ya Sya" goda Gita.
Asya menatap Gita, ia menutupi bibirnya dan mengangguk pelan. Ia berlari menghampiri Gita dan Jihan, meminta keduanya untuk jalan bersama dengan Asya menuju parkiran. Sedangkan El berjalan dibelakang mengikuti mereka semua.
"Jadi, anda bisa melihat jika saya mencintai Asya?" Celetuk Nando menghadang jalan El.
El mangangguk.
El menatap Nando, ia tahu mengapa Nando melarangnya. Karena Nando tak ingin ada jarak diantara dirinya dan Asya.
"Asya yang akan menciptakan jarak diantara kalian" gumam El.
Pemuda itu telah memikirkan sebuah rencana untuk menjauhkan Nando dari Asya. Bukan menghentikan pendidikan Asya, namun mendekatkan Jihan dan Nando. El melihat mata Jihan yang menatap Nando dengan cinta. Ia sangat yakin akan hal itu.
Setelah sampai diluar gedung, Asya melambaikan tangan pada teman-temannya. Perjalanan yang singkat, namun Asya tetap bahagia karenanya.
"Sekarang tinggal kita berdua lagi nih" goda El sembari menarik pinggang Asya.
"Mas El, belanja yuk, mau beli buah" ujar Asya kemudian pergi mendahului El.
El terkekeh melihat istrinya yang naif. Padahal El tahu Asya menyukainya, tapi gadis lugu itu hanya belum terbiasa dengan perasaannya.
__ADS_1
El membawa Asya berbelanja ke supermarket, berbagai kebutuhan sehari-hari ada disana. Asya mengambil troli, mengajak El berkeliling supermarket. Melelahkan, El tak pernah berkeliling untuk belanja. Bahkan saat Bunda meminta diantar, El hanya akan menunggu di mobil atau di tempat makan.
Asya mengambil semua yang ia lihat, hingga El berpikir jika istrinya hanya ingin berbelanja sesuka hati.
"Asya, kita harus segera pulang" ucap El pada istrinya yang masih asik melihat-lihat buah-buahan.
"Kenapa?" Tanya Asya singkat. Ia masih membandingkan dua buah ditangannya, memilih yang lebih berat dan segar.
El berbisik pada Asya jika Pak RT baru saja meneleponnya. Beliau memberitahu ada seorang pria mabuk yang sedang menunggu El dan Asya didepan rumah. Pria itu bilang namanya adalah Syam, Kakak Asya.
"Mas Syam mabuk? Pasti bertengkar lagi sama Papa. Ayo Mas kita pulang" ucap Asya.
Mereka berdua menuju kasir untuk membayar semua belanjaan mereka. Dalam perjalanan pulang, hati Asya merasa gundah. Ia tak bisa melihat Kakak nya terpuruk seperti ini, Syam jelas membutuhkan Asya saat ini.
Sampai dirumah, Asya segera keluar mobil, ia memapah Kakaknya masuk kedalam rumah. Sedangkan El berbincang singkat dengan Pak RT.
Asya menidurkan Syam di kamar tamu, melepas semua sepatu Syam dan menyelimutinya.
"Syam baik-baik saja? Kenapa dia minum sampai begini?" Celetuk El yang baru saja tiba.
"Pasti Mas Syam bertengkar lagi dengan Papa. Mas Syam, Mas Galen, setelah bertengkar dengan Papa selalu minum-minum sampai seperti ini" jelas Asya seraya mengelus lembut rambut sang Kakak.
El menghampiri Asya, ia mengelus rambut istrinya.
"Biarkan dia istirahat, kamu mandi gih, aku juga mau mandi, atau mau barengan?" Bisik El.
Asya menatap El, ia lalu berlutut dihadapannya.
"Maafin aku ya Mas El, harusnya aku tidak bersikap seperti anak kecil. Aku sudah membuat Mas El khawatir" ujar Asya.
"Harusnya aku tidak pergi begitu saja, padahal Mas El sangat baik padaku. Aku minta maaf" imbuhnya.
El membantu Asya untuk berdiri, ia menatap istrinya dengan lembut.
"Asya, ini semua salah aku. Aku akan berubah demi hubungan kita, tolong beri aku waktu" ucap El dengan nada penuh pengertian.
__ADS_1
Asya kembali menceritakan, betapa pikiran bodohnya terus menghantui. Pendapatnya mengenai El, dan berbagai pikiran buruk itu. Asya menceritakan bagaimana ia berpikir kala El memperlakukannya dengan sangat baik.
"Aku pikir, Mas El memandangku seperti para wanita itu, wanita yang Mas El temui saat minum"