
Tidak semudah itu Asya akan memaafkan El. Ia menghempaskan napasnya kasar lalu berdiri dan pergi meninggalkan ruangan suaminya.
"Mau kemana?"
"Pulang"
Ingin sekali rasanya El marah, tapi mood istrinya memang selalu seperti ini saat sedang haid. Dengan lemah lembut, El mencoba mengembalikan mood istrinya agar ceria kembali.
"El... El..." teriak seorang pemuda yang baru saja datang.
Sontak saja semua mata memandangnya dengan aneh, pasalnya ia membuat keributan begitu datang.
El meminta Zio untuk membawa teman mereka masuk kedalam ruangannya, jelas sekali pemuda itu terlihat sedang menggila. Asya yang awalnya ingin pulang, berjalan berbalik dan mengikuti Zio masuk kembali kedalam ruangan.
"Tolong beritahu OB untuk membawa minuman dan Korean food keruangan saya ya, sekarang" ujar El lalu berjalan kedalam.
Teman El sedang mengoceh tak karuan, Asya menebak jika pemuda sedang mabuk, karena tercium bau alkohol dari tubuhnya. Teman-teman suaminya memang sangat aneh, ini masih terlalu pagi untuk minum-minum.
"Dia bau alkohol ya sayang?" Tanya El seraya menghilangkan kerutan didahi istrinya.
"Iya, dia kenapa?"
"Tidak apa, hanya ada masalah saja, urusan laki-laki" bisik El.
Asya mengangguk, lalu El menyuruhnya untuk duduk. Duduk disamping El sembari menatap teman El yang tengah gusar. Zio terlihat menepuk-nepuk punggung pemuda itu, mencoba menenangkannya.
"El, Zio, bantu aku. Kalian tau kan, saat aku mabuk aku tidak bisa mengendalikan diriku. Dia melihatku bersama wanita lain, sedang.. ah bantu aku, kekasihku marah padaku" jelasnya.
Mas El dan temannya sama saja, batin Asya dengan tatapan malasnya.
Ttokkkk.... Ttokkkk....
Suara ketukan pintu mengehentikan perbincangan mereka, Zio berjalan dan membukakan pintu, lalu mengambil nampan dari OB tersebut. Ia tersenyum kecil menatap makanan yang ada disana, pasti El sedang berusaha membujuk Asya.
"Kak Ipar, lihat, suamimu sangat manis" goda Zio seraya menghidangkan makanan diatas meja untuk Asya.
"Aaaahh, Mas El, sayang deh. Kalau gini mana bisa marah akunya"
El tersenyum, ia mencubit pipi istrinya gemas. Setelah itu kembali mendengarkan curhatan temannya. Sesekali teman El melirik ke arah Asya yang begitu bahagia hanya karena makanan. Beberapa pertanyaan ia lontarkan, mencoba mencari tahu bagaimana cara El bisa mempertahankan hubungan pernikahan. Karena pernikahan El terlihat baik-baik saja, bahkan tampak seolah keduanya sangat bahagia.
"El, beri aku saran, agar dia mau kembali padaku"
"Kau bodoh, dengan siapa kau tidur?"
"Mm... sahabatnya El. Sungguh, aku tidak sadar saat itu"
Sejenak suasana menjadi hening, Asya melirik ke arah El yang terdiam. Zio bahkan juga bungkam karena pernyataan tersebut.
__ADS_1
"Yasudah, biarkan saja dia pergi" celetuk Asya memecah keheningan.
"Tapi aku mencintainya"
"Bohong, jika kau mencintainya, rasa cinta itu akan menghentikan mu. Tapi kau tidak memiliki perasaan itu"
Pemuda itu kini terdiam, ia mencoba merenungi perkataan Asya. Mungkinkah semua benar, tapi ia tak ingin kehilangan kekasihnya.
"Apa yang akan terjadi jika wanita itu hamil?"
"Apa? I...itu tidak mungkin"
"Minta maaflah padanya, katakan jika kau menyesal. Minta satu kesempatan terakhir, dan jika ia memberimu, jaga kesempatan itu. Dan jika wanita itu hamil, dan kekasihmu merelakanmu dengan sahabatnya itu. Maka kau adalah pria paling bodoh didunia ini, karena menyia-nyiakan wanita sebaik dia"
Asya berdiri dari duduknya lalu pergi ke kamar mandi. Berbicara terlalu lama membuatnya ingin buang air kecil. Dikamar mandi, Asya menatap cermin disana. Tidak akan semudah itu hati seorang wanita memberi kesempatan, terlebih untuk pengkhianatan sebesar ini.
"Asya, Asya, lihatlah dirimu. Kau bahkan masih tidak bisa menerima semuanya. Dasar wanita bodoh" maki Asya pada dirinya dicermin. Ia membuka sedikit pintu kamar mandi, El masih terdiam disana bersama Zio. Walau pemuda itu sudah pergi, ah, pemuda sialan itu membuka luka lama diantara El dan Zio.
"Apakah Mas El dan Adik Ipar baik-baik saja? Masalalu Mas El bahkan lebih buruk dari kehidupan ku"
Ceklek.....
Asya membuka pintu kamar mandi, ia menatap Zio yang berjalan pergi. Kini tinggal dirinya dan El diruangan ini. Asya menggenggam tangan suaminya, lalu menatap El.
"Dia bodoh ya sayang"
"Bodoh gimana Mas?"
"Lupakan Mas, sekarang Mas El kan punya aku" ucap Asya seraya mencium bibir suaminya.
El mencoba memaksakan senyumannya, ia memang tak pandai menyembunyikan perasaan. Jelas terlihat jika suasana hati El berubah drastis. Sekarang giliran Asya yang harus mencari cara untuk membuat mood suaminya kembali.
"Mas, nanti malam minum-minum yuk, mau coba nih"
"Gak perlu, kamu itu gak tahan minum gitu, jangan"
"Aaahhh, mau mas pingin coba, mau soju"
El menatap Asya, lalu menarik istrinya duduk dipangkuan. Ia mulai membuka kancing baju Asya tanpa persetujuan. Dilihatnya dua buah milik Asya yang menjadi favorit nya. Tanpa basa-basi El melahapnya, ia juga menarik tubuh Asya agar lebih dekat dengannya.
"Ah ah Mas sakit, jangan digigit gini dong.. aa..ah" erang Asya karena El mengigit dadanya dengan penuh emosi.
Sayangnya El tak menghiraukan perkataan istrinya, ia terus melahap dan tangannya meremas bagian lainnya. Asya sesekali memekik kesakitan, ia bahkan tak segan menjambak rambut suaminya karena terkejut akan rasa sakit itu.
El benar-benar menuangkan semua emosinya disana. Permainan kasar itu menyakiti Asya.
Selalu saja seperti ini, kenapa rasa sakit Mas El selalu menyakiti aku? Mas El masih belum bisa mengendalikan amarahnya, pikir Asya.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu......
Triiingggg.....
Ponsel Asya berdering, ada panggilan masuk dari Ibu RT kompleknya.
"Mas, sebentar, ada telepon"
"Angkat aja" jawab El yang masih bermain disana. Emosi El sedikit mereda, permainannya menjadi lebih lembut kali ini.
"Halo, Bu RT ada apa ya?"
"Ooh, iya, sebentar lagi saya pulang. Nanti saya hubungi lagi, selamat siang" jawab Asya.
Asya mendorong dahi suaminya menjauh, kemudian merapikan pakaiannya kembali. El memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. Namun Asya berjanji akan melanjutkan dirumah saat El pulang kerja nanti. Karena ia harus pergi, sudah waktunya memasak besar untuk kegiatan sosial Asya.
"Asya, maafin aku ya. Berjanjilah tidak akan pergi dariku"
"Janji sayang. Udah ah jangan gini, suamiku kok kelihatan lemah gini sih. Nanti gantengnya ilang loh"
"Gitu dong panggil sayang, massa panggil Mas mulu, berasa Mas kamu tahu gak"
"Apa'an sih Mas El ih"
"Kok Mas lagi"
Asya cekikikan, lalu pergi keluar ruangan El. Ia menatap Zio yang masih termenung di meja nya. Pasti Zio masih memikirkan perkataan pemuda sialan itu. Padahal El didalam sudah kembali melupakan kisah pahit masalalunya.
"Zio, Ziooo"
"Eh, El, ada apa?"
"Bodyguard nya mana?"
Hanya dengan satu pertanyaan, Zio segera mendial nomor diponselnya. Tak lama setelah panggilan tersebut, dua orang bertubuh kekar masuk kedalam ruangan. Mereka berdua membungkuk memberikan salam pada El dan juga Asya.
"Mas El.. eh sayang, serius aku dijagain mereka?"
"Iya, dua lagi ada dirumah. Pastikan Nyonya ini tidak terluka sedikitpun, kalian mengerti?"
"Siap Tuan"
El mengecup bibir istrinya singkat, setelah itu menatap Asya yang pergi dengan dikawal dua bodyguard.
"El"
"Sudahlah Zio, itu masalalu. Aku bahagia, bisa mendapatkan istri seperti Asya. Ingat, kau harus menjaganya"
__ADS_1
"Siap Bos, aku akan menjaganya. Aku akan pastikan kalian hidup bahagia"
El dan Zio berpandangan sejenak, lalu mereka tertawa dan saling berpelukan. Satu hubungan sudah kembali terjalin karena kehadiran Asya. Tetapi perjalanan Asya masih panjang, ia harus bisa merubah suaminya menjadi suami idaman. Jika tak sanggup, setidaknya, menjadi pria yang baik dan setia itu sudah cukup.