
El memandangi istrinya yang masih begitu asik mengobrol. Ia berpikir jika Asya adalah Bunda yang hebat, sebab bisa mengurus si kembar. El sangat kewalahan mengurusi kedua putranya yang belum bisa makan dengan benar.
"Sya, suamimu kasihan" ujar Eci seraya menggerakkan dagunya.
Asya menoleh, ah si kembar kembali berulah.
"Gue jadi pingin punya anak, tapi suami gue masih belum pingin nih hahahah" timpal Eci.
"Dulu Mas El juga gak mau, tapi, sekarang lihatlah. Mereka sangat mirip dengan Ayahnya. Lain kali kita sambung ya, suamiku tak bisa menangani putranya sendiri" ucap Asya lalu pergi menghampiri suaminya. Ia mengecup pipi El dan mengucapkan banyak terimakasih. Hadiah El tak pernah mengecewakan Asya, selalu berkesan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Malam tiba..
El dan Asya tengah duduk diatas tempat tidur. Mereka saling bergandengan tangan sambil menonton film pilihan Asya.
"Mas, aku kangen Papa"
"Baiklah Nyonya, kau mau tinggal dirumah Papa selama beberapa hari?"
"Boleh Mas? Tapi nanti Mas El capek pulang perginya, kan jauh dari kantor Mas"
"Tidak apa-apa, ada supir kan. Tapi, jika kau menginap dirumah Papa, setelah itu kita juga harus menginap dirumah Ayah. Kau tau kan mereka selalu seperti itu"
Asya memeluk suaminya, sekali lagi El selalu tau apa yang diinginkan sang istri. Kesempatan yang bagus, El mulai bertanya pada Asya mengapa hari ini istrinya terlihat begitu murung dan tak fokus. Padahal biasanya Asya selalu mengurus semuanya dengan sangat baik.
"Bisa kita menikmati malam ini sayang?"
"Tidak, aku sedang haid. Maaf ya mood ku kadang tiba-tiba jelek gitu"
"Pantesan"
"Mas, Mas El gak pernah macem-macem kan selama aku jauh? Serius kalau aku punya bukti Mas macam-macam, aku akan pergi tanpa mendengarkan penjelasan apapun"
"Kau bisa tanya Zio, para karyawan ku atau siapapun. Aku hanya mempunyai satu wanita dalam hidupku, dan itu adalah dirimu"
Asya menjatuhkan dirinya dalam dekapan El. Ia memainkan tangan El dan bermanja-manja dengannya. Ada satu hal lagi yang masih mengusik pikiran El, Nando. Entah mengapa El merasa istrinya sedikit berubah setelah bertemu dengan Nando kemarin.
Dielusnya rambut Asya perlahan, El tak ingin istrinya merasa curiga akan maksud El nantinya. Sembari memainkan pipi Asya, El mulai bertanya apa yang sebenarnya ada dipikiran Asya mengenai pertemuannya dengan Nando setelah sekian tahun lama. Terlebih kala Key berkata jika Nando terlihat tampan, hal itu membuat El kecewa.
__ADS_1
"Aku membencinya"
"Sya, jangan katakan itu. Ada apa?"
"Mas, Kai bilang dia menatapku seperti Mas El menatapku. Bukankah itu berarti masih ada perasaan untukku dalam diri Nando?"
"Kai hanya anak kecil sayang"
"Tapi dia putra kita yang cerdas Mas"
Wajah Asya terlihat penuh amarah, El tak ingin membuat istrinya terluka. Ia mematikan lampu kamar dan menarik selimut untuk segera tidur. Dipeluknya Asya dan sesekali mengelus rambutnya, persis seperti saat Asya tengah menidurkan si kembar.
"Apa aku egois Mas?"
"Tidak sayang, sudah lupakan. Maaf aku mengungkit ini"
"Maaasss, jujur Mas"
"Aku sayang kamu, hm... istriku tersayang, ayo bobo udah ngantuk nih"
El menarik wajah Asya dalam dadanya. Ia dekap dengan sangat erat hingga membuat sang istri sulit bernapas.
"Asya, ada apa? Kau sangat aneh hari ini sayang"
"Ehm... Papa meneleponku, dia dia.. tidak Mas, jangan berikan apapun padanya. Aku akan menuruti Mas El bahkan jika mungkin aku tak ingin ada hubungan dengan Papa"
"Kamu ini ngomong apa? Kau bilang rindu Papa"
"Bohong, aku sudah tidak mau lagi. Aku tidak peduli lagi. Aku memilih Mas El, jauhkan aku dari Papa Mas, aku benci Papa"
El masih menduga, pasti Dirga meminta sesuatu pada Asya. Bahkan selama Asya jauh dari mereka, Dirga beberapa kali meminta bantuan El untuk mengembangkan usahanya, walau beberapakali pula usaha Dirga bangkrut. El tidak mengerti dengan apa yang mertuanya pikirkan. Ia rasa Dirga terlalu gegabah, terjun pada dunia bisnis yang belum ia kuasai medannya.
Terlebih perusahaan Dirga kini berada dalam masa sulit. Syam dan Galen tengah mati-matian mempertahankan perusahaan Papa mereka. Meski banyak usaha lain mereka yang tutup untuk mempertahankan perusahaan utama ini.
"Asya, tujuan Papa menikahkan putri kesayangannya adalah untuk ini sayang"
"Mas El sadar jika dimanfaatkan? Kenapa masih meladeni Papa? Biarkan saja perusahaannya bangkrut, aku tidak peduli padanya"
"Bagaimana dengan Mama, Syam dan Galen? Aku melakukannya untuk mereka sayang, kau akan sedih jika mereka juga terluka kan?"
__ADS_1
"Mas El ini apa sih? Kenapa Mas El mau terluka seperti ini? Jangan Mas, jangan terluka karena aku"
"Sayang, seberapa banyak pun harta yang Papa minta, tidak akan pernah bisa menggantikan mu. Aku lebih mencintaimu daripada hartaku" ucap El sambil mencium kening istrinya. Ia meminta Asya untuk segera tidur, melelahkan berdebat hal yang tidak penting seperti ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi menjelang..
Pukul 06:00..
Asya terbangun dari tidurnya sebab merasakan ada sesuatu yang membuat pipinya terasa geli. Perlahan matanya terbuka, ia mendapati El yang tengah menghujaninya dengan ciuman di pipi.
"Mas, ada apa sih?"
"Bangun sayang, ini udah jam enam pagi"
"Apa? Anak-anak?" Teriak Asya yang langsung terduduk di kasur.
El merasa cemburu sebab bangun tidur Asya langsung memikirkan kedua putranya dan bukannya dirinya. Ia mencoba menenangkan Asya yang panik. El memang sengaja mematikan alarm Asya, ingin membuat kejutan untuk sang istri. Si kembar sudah mandi dan kini tengah sarapan bersama dengan Ipah.
"Kau akan terus menatapku atau memberiku morning kiss?"
Asya mencium singkat bibir suaminya, El selalu bisa membuatnya tertawa karena kejutan kecilnya. Mata mereka saling memandang, cinta itu membuat jantung Asya berdegup dengan kencang. Sudah lama rasanya ia tak merasakan perasaan ini, jatuh cinta pada sang suami untuk kesekian kalinya.
Wajah Asya kini merah padam, ia dekap suaminya sambil tertawa kecil. El menangkup kedua pipi Asya, mencium bibirnya dan memulai ciuman diantara mereka. Perasaan cinta itu mendorong mereka untuk semakin dekat dan menghabiskan waktu sejenak dengan mencurahkan cintanya.
Asya sesaat menarik dirinya menjauh, menggoda suaminya yang sudah kehabisan napas. Tapi El malah menariknya untuk berciuman lagi.
"Asya, aku mencintaimu"
"Aku tahu, aku mau mandi dulu"
"Apa itu Nyonya El? Kau harus mengatakan hal yang sama, kau tidak romantis"
"Aku memang tidak romantis, tapi aku kesayangan Tuan Elvin Adhitama"
"Kau memang kesayangan ku sayang. Mandi sana, kecut"
"Apa?"
__ADS_1
"Wangi wangi, sayang aku mah selalu harum. Um... gemes banget sih aku sama kamu Sya" ucap El seraya menggigit gemas pipi istrinya.