
Selepas makan, El kembali ke kamarnya. Istrinya masih saja memejamkan mata. Ia duduk disamping Asya dan membuka leptopnya. Sedih melihat sang istri sakit, padahal hari ini harusnya mereka bersenang-senang.
Beberapakali fokus El terpecah karena Asya yang terus bergerak dalam tidurnya. Pasti gadis itu merasa tak nyaman. Terlebih saat wajah Asya menghadap El, fokus El semakin hilang dan tergantikan oleh istrinya.
"Aku tidak pernah menduga akan mencintaimu sebesar ini" gumam El. Ia menutup leptopnya dan berbaring disamping sang istri. Suhu tubuh Asya masih tinggi, matanya juga tak kunjung terbuka.
"Mas El" lirih Asya.
"Sayang, kamu udah bangun, kita ke dokter yuk. Aku takut kamu kenapa-kenapa"
"Apakah semuanya baik-baik saja? Mas Farel.."
Sudah El duga, pasti istrinya terbebani oleh masalah keluarga. Ia memeluk Asya, dan mengatakan jika semuanya baik-baik saja. Hanya perlu satu hal lagi, kesehatan sang istri tercinta.
"Mau makan apa sayang?"
"Mas El udah makan? Kok aku gak diajak sih? Males ah, aku tidur lagi aja"
"Sya, Mas Farel mau kontrak rumah katanya, dia gak mau terima bantuan Kakek"
"Loh kenapa Mas? Kan enak, Kakek kan kaya banget, kalau gitu Mas El aja yang bantuin. Katanya Mas El banyak uang"
"Harga diri laki-laki sayang. Uangku emang banyak, kalau kamu mau ambil aja, habisin"
"Kalau gitu tinggal sama kita aja, biar aku ada temannya. Bunda masih belum bisa nerima ya Mas?"
El mengangguk, walau keputusan Kakek sudah ditentukan, tapi hati Laura masih tak bisa menerima. Satu lagi bukti jika El mendapatkan wanita yang istimewa. Perasaannya kepada Asya semakin dalam, wanita hebat yang akan menjadi Ibu dari anak-anak nya kelak.
Asya memandangi suaminya yang melamun, ia tepuk-tepuk pipi El pelan. Setelah sadar dari lamunannya, El malah menciumi wajah istrinya dengan semangat.
"Hei pria konyol, menjauhlah dariku"
"Hei istri pria konyol, aku ingin dekat denganmu"
Mereka saling bertatapan sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak. Kini giliran Asya yang mencium pipi El sangat lama. Semakin waktu berlalu, semakin mereka menjadi dekat. Satu persatu apa yang ada didalam diri El, Asya mulai melihatnya. Sosok berbeda, sangat berbeda dibandingkan awal mereka bertemu.
__ADS_1
Keistimewaan El mulai terlihat dalam mata Asya. Dulu Asya berpikir jika dirinya dan El tidak akan pernah memiliki cinta diantara mereka. Tapi, hal tak terduga hadir diantara keduanya, cinta.
"Mas El adalah pilihan Papa yang terbaik selama hidupku. Aku harap, tidak akan ada seseorang diantara kita nantinya"
"Kau masih mencurigaiku?"
"Mas El pikir aku tidak tahu? Beberapa kolega Mas El masih membawa wanita saat pertemuan"
El mengernyitkan dahinya, ia lupa jika Zio ada dipihak sang istri. Pasti pemuda itu yang membocorkannya, ini juga bisa menjadi alasan sakit yang diderita Asya.
"Asya, aku tidak bisa mengatakan pada mereka semua bukan? Itu kehendak mereka"
"Tapi mata Mas El bisa dijaga bukan? Tangannya juga bisa dikendalikan kan? Mau alasan apalagi?"
Entah sejauh mana Zio memberitahu Asya, tapi perkataan Asya membuat El bungkam seribu bahasa. Ia berusaha menghindari interogasi sang istri, dengan mengatakan jika Kakek meminta El turun untuk menonton pertandingan sepak bola bersama.
Asya masih menatap tajam suaminya yang berjalan keluar dengan tawa canggung.
"Padahal aku cuma bercanda, tapi kayaknya Mas El beneran masih gak bisa tahan nafsunya deh" gumam Asya lirih. Ia berjalan keluar kamar untuk membuat susu hangat.
"El, Nenek sudah memperingatkan mu ya. Jika kau tidak bisa menjaga Asya, akan aku Carikan suami baru untuknya" sentak Nenek kesal. Sontak saja semua pria disana mendorong El agar pergi menghampiri Asya. Mereka tak ingin terkena omelan Nenek karena kesalahan El.
"Nenek ngomong apa sih? Jangan bicara gitu dong, aku gak mau suami baru Nek. Aku sayang Mas El, Nek" ujar Asya menahan tangisnya.
"Tau nih Nenek, massa istriku dibikin nangis gini? Udah sayang, jangan nangis ya. Kamu mau makan? Atau minum?"
El menarik Asya dari samping Nenek, mengambil alih istrinya. Ia memapah Asya menuju dapur dan mendudukkannya di kursi.
"Sayang, kamu mau susu hangat kan?'
"Mau es krim"
"Gak boleh kamu kan lagi sakit, aku buatin susu dulu"
"Kalau gak dibeliin es krim aku bilangin Nenek nih ya"
__ADS_1
El menangkup kedua pipi istrinya, ia menghujani sang istri dengan ciuman. Hanya dengan menekan satu nomor, El memesankan es krim untuk sang istri. Semua es krim kesukaan istrinya, tak lupa juga makanan Korea kesukaan Asya.
"Mas El, ini kan udah malam, restoran pasti sudah tutup"
"Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan Asya. Apalagi untuk dirimu"
"Gombal banget. Oh iya Mas, waktu aku ke kampus, ada mobil ngikutin aku Mas. Aku mau bilang Mas El tapi lupa"
"Plat nomornya kamu ingat gak?"
"L 0 UIS"
"Kalau mobil itu ikutin kamu lagi, telepon aku ya" ujar El. Ia keheranan, kenapa para bodyguardnya tidak curiga dan malah Asya yang merasa aneh. Intuisi seorang wanita memang tak bisa terkalahkannya.
Tak lama, telepon El kembali berdering. Pesanan sang Presdir sudah menunggu didepan rumah Adhitama. El bergegas keluar rumah untuk mengambilnya, kemudian menghidangkannya untuk sang istri.
Nenek memperhatikan setiap gerak-gerik El, beliau tersenyum karena El sudah mencoba menjadi suami yang baik untuk Asya. Walau masih jauh dari kata pantas, Nenek menghargai usaha sang cucu bungsu.
Asya tak ingin makan seorang diri, ia memilih makan ditengah-tengah para lelaki yang tengah menonton pertandingan sepak bola.
"El, kau sudah tahu ada yang menginginkan Asya?" Tanya Kakek.
"Siapa Yah? Menginginkan Asya bagaimana?" Sela Adhitama.
"Entah apa yang dilakukan oleh mertua El, kau harus bersiap El, Kakek akan selalu mendukungmu"
"Dirga berulah lagi? Kali ini apa? Aku tidak mengerti, setiap kali ada masalah, Dirga selalu mencoba menjual Asya. Ayah, aku ingin Asya putus hubungan dengan Dirga"
El melirik ke arah Asya yang masih makan dan berbincang dengan Nenek. Gadis lugu itu tidak tahu apapun, betapa buruknya kelakuan Dirga.
"Aku akan memikirkan caranya Nak, biarkan Asya tinggal disini selama beberapa waktu" saran Kakek El.
"Apa? Kakek, aku tidak mau tinggal disini. Aku hanya ingin tinggal berdua bersama istriku. Jangan memberikan saran konyol seperti ini" ujar El kesal.
"Bodoh, ini demi kebaikanmu. Kau mau kehilangan Asya untuk selamanya?" Sela Adhitama sambil menjitak kepala El layaknya anak kecil.
__ADS_1
Asya dan Nenek El tertawa melihat adegan tersebut, walau mereka berdua tak tahu masalahnya. Tapi pemandangan lucu itu sangat menghibur.