Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 41


__ADS_3

Setelah bulan madu yang singkat itu, El mengantarkan Asya untuk pulang. Sedangkan dirinya harus pergi ke kantor untuk bekerja.


"Mas El, antar aku kerumah Mama ya" pinta Asya.


Mendengar permintaan istrinya, El segera menepikan mobil ke pinggir jalan. Asya sempat bingung, karena tiba-tiba saja El berhenti tanpa sebab.


"Sya, apa aku buat salah? Kenapa kamu mau pulang ke rumah Mama?" Tanya El panik.


Asya memandangi suaminya, ia tidak mengerti dengan kekhawatiran tanpa alasan yang El tunjukkan. Padahal ia hanya ingin mengobrol dengan Mamanya, tanpa ada maksud lain.


El menatap istrinya, menggenggam kedua tangan Asya dan menciumnya. Tak ada yang bisa merubah masalalu, tetapi El berjanji akan merubah kebiasaannya. Ia tak ingin kehilangan Asya, tak ingin istrinya pergi.


"Mas, aku senang jika Mas El menyadari kesalahan. Aku hanya merindukan Mama Mas, aku ingin mengobrol dengan Mama, hanya itu" jelas Asya.


El menarik istrinya dalam pelukan. Ia mengelus punggung istrinya dan mencium bagian samping kepala istrinya.


"Asya, berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkan ku"


"Aku berjanji, asalkan Mas El tidak bermain dengan wanita lain lagi"


Asya tidak mengerti, apakah sesulit itu merubah kebiasaan buruk El. Pemuda itu tak pernah bisa sekali saja menahan tangan nakalnya yang ingin menyentuh tubuh wanita. Seolah tangan itu bergerak sendiri tanpa perintah dari El.


"Akan aku usahakan" bisik El. Ia lalu melepas pelukannya, dan kembali pada posisi semula. Melajukan mobilnya perlahan menuju rumah sang mertua.


Sampai dirumah Mama, Asya kembali menatap El. Ia tersenyum tipis sebelum keluar dari mobil suaminya.


Gadis itu berjalan masuk ke rumah Mama, tetapi pikirannya sedikit berkelana. Ada rasa yang tidak bisa ia mengerti, rasa tak percaya pada apa yang suaminya katakan.


Entah mengapa, Asya merasa jika semua cerita El hanya sebuah karangan. Kisah yang diciptakan untuk membenarkan semua hal yang El lakukan.


"Asya, sayang, kamu disini? El mana nak?" Tanya Mama yang terkejut melihat kehadiran putrinya.


"Aku datang sendiri Ma" jawab Asya.

__ADS_1


Seketika raut wajah Mama berubah, dahinya berkerut seolah sedang memikirkan sesuatu. Papa juga ada disana, beliau berjalan menghampiri Asya dan menamparnya dengan keras. Tanpa alasan yang jelas, tamparan itu sukses membuat pipi Asya memerah.


Airin mencoba menghentikan Dirga yang hendak memukul Asya lagi. Ia menyuruh Asya untuk masuk kedalam kamarnya.


Kamar yang tak pernah berubah sedikitpun. Semua barang-barang Asya masih tertata rapi seperti sebelum ia meninggalkan kamar dan rumah orangtuanya.


Asya menatap cermin, memandangi bekas merah dipipinya.


"Asya" panggil Mama pelan.


Gadis itu menoleh dengan senyuman, ia sudah terbiasa dengan tamparan Papanya.


Airin memeluk putrinya, mengelus rambut Asya dengan penuh kasih sayang. Tanpa sadar, buliran bening menetes dari mata Airin. Ada rasa penyesalan dalam hati kecilnya.


"Maafin Mama ya Asya" ucap Airin.


Walau beliau mengetahui seperti apa sifat dan sikap El, Airin tak bisa melakukan apapun untuk menghentikan pernikahan Asya. Apa yang Dirga katakan, sudah menjadi keputusan mutlak untuk keluarga nya.


"Maafin Papamu juga ya Sya. Papa cuma gak tahu gimana caranya didik anak perempuan. Mama yakin, Papa juga sayang banget sama kamu"


Asya memeluk Mamanya erat, air matanya ikut menetes. Tak pernah sekali saja Asya berpikir untuk membenci kedua orangtuanya. Ia sudah mencoba untuk marah, namun kasih sayang kedua orangtuanya kembali melemahkan Asya. Bahkan Papa yang sering memukulnya pun tak bisa menciptakan kebencian dalam hari Asya.


Putri kecil Airin sudah semakin dewasa, secara tidak langsung, didikan keras Dirga membentuk diri Asya yang sekarang. Menjadi wanita kuat tetapi terkesan bodoh dimata orang lain. Asya juga terluka, hatinya menangis, namun jika dilihat dari sisi yang berbeda, ia adalah wanita kuat yang bisa menahan segala hal. Bertahan itu lebih menyakitkan, dan butuh hati yang lapang.


Airin mengajak Asya untuk berbaring diatas tempat tidur, ia ingin mengenang putri kecilnya yang kini telah tumbuh dewasa.


"Ma, sebenarnya aku kesini untuk membicarakan sesuatu dengan Mama, tentang suamiku" gumam Asya.


"Kenapa sayang? El nyakitin kamu?"


Aneh, Asya menatap Mamanya dengan heran. Tak pernah terpikirkan oleh Asya jika pertanyaan seperti itu akan keluar dari bibir Mamanya. Seolah Airin telah memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada putrinya.


"Tidak Ma, Mas El sangat baik padaku. Dia sangat menyayangi aku"

__ADS_1


"Benarkah? Mama senang mendengarnya"


Tujuan Asya datang menemui Airin, karena ia ingin mencari sebuah jawaban. Jawaban atas keraguan dihatinya, mengenai semua masalalu El. Ia menceritakan setiap rinci yang didengar dari El, tanpa membumbui ataupun menghilangkan detailnya.


Mendengarkan cerita sang anak, Airin kembali mengingat masalalunya. Dirga, ia sebenarnya tak beda jauh dari El, ia juga suka bermain wanita. Terlebih, karena memiliki wajah tampan, kedudukan, harta, membuatnya menjadi serakah akan keadaan.


Kerap kali Airin memergoki suaminya dengan wanita lain. Tetapi setelah Syam datang dalam keluarga mereka, Dirga berubah menjadi seorang suami dan Papa yang baik. Ia sudah tidak pernah lagi bermain wanita, bahkan minum-minum pun jarang.


Dirga yang biasanya pulang malam, selalu pulang lebih awal untuk menemani pangeran kecilnya.


"Jadi maksud Mama, aku dan Mas El harus segera punya anak? Apakah tidak ada cara lain Ma?"


"Sayang, kamu harus menjadi pihak ketiga, antara El dan masalalunya"


Mungkin kata pihak ketiga terdengar menyebalkan bagi beberapa orang. Terlebih kebanyakan hubungan rusak karena ada seseorang yang hadir ditengahnya.


Tetapi untuk kasus Asya, pihak ketiga mungkin adalah cara terbaik. Asya harus berdiri diantara El dan masalalunya. Bahkan jika suatu saat nanti El menoleh ke belakang, ia hanya akan melihat Asya. Dengan kata lain, Asya akan menjadi penghalang jalan El untuk kembali ke masalalu.


"Ma, aku sedikit tidak yakin dengan apa yang Mas El katakan"


"Nak, entah itu benar atau tidak, tugasmu memang mengambil hati suamimu. Menjadikan dia hanya milikmu Asya, begitulah cara hubungan dibentuk"


Perkataan Airin benar, entah kejujuran atau kebohongan dibalik cerita El. Putrinya memang harus bisa mengambil hati suaminya, karena hanya itu cara untuk Asya masuk dalam kehidupan El.


Mempertahankan sebuah hubungan, memang butuh dua pihak yang harus saling mendukung. Tetapi ketika pemikiran tidak sejalan, maka harus ada salah satu pihak yang memulai untuk memimpin. Entah itu suami atau istri, yang paling kuat adalah yang mampu bertahan hingga akhir.


Meruntuhkan sebuah hubungan itu sangat mudah, sebab dasar dari sebuah hubungan adalah kepercayaan.


"Sya, dengarkan Mama. Harga diri laki-laki itu tinggi, kamu harus membuat seolah kamu sangat membutuhkan El"


"Kenapa Ma?"


"Karena saat El merasa dirinya dibutuhkan, El akan kembali padamu. Sebab di dekatmu, ia merasa lebih tinggi dari siapapun"

__ADS_1


__ADS_2