
"Mas tidak lupa hari ini kita akan jalan-jalan bukan?"
"Aku hampir lupa, hm... memang kita mau kemana sayang?"
"Membelikan mainan yang Mas El janjikan, dan mari kita pergi ke Aquarium"
El berdehem, ia memeluk istrinya dari belakang. Memandangi Asya lewat cermin di kamar mandi. Ia menggosokkan dagunya pada leher dan bahu sang istri. Asya merasa sangat geli, ia ingin El mencukur jenggotnya agar terlihat tampan seperti para Oppa nya.
"Mas, kita baru mandi loh, jangan nakal ah" ucap Asya seraya menepis tangan nakal El yang bermain ditubuhnya.
"Sayang, kamu makan yang banyak dong. Jangan diet-diet, aku suka kamu berisi kayak gini, gemes tau gak"
"Bohong banget, nanti kalau aku gendut, Mas cari yang seksi kan?"
"Mana mungkin sayang, aku itu cuma cintanya sama kamu. Kamu makin dewasa makin menggoda ya ternyata"
Asya membelalakkan matanya, ia memukul dada suaminya dan segera berlalu pergi dari kamar mandi. Sedangkan El hanya tertawa kecil melihat istrinya yang masih saja malu-malu.
Setelah selesai berdandan, Asya pergi ke kamar si kembar. Kedua putranya sudah bangun rupanya. Mereka duduk diatas kasur sambil duduk diam menunggu kedatangan Asya.
"Apa Bunda terlambat?"
"Iya sangat, Bunda sangat terlambat" oceh Key.
"Bunda darimana saja?" Tanya Kai.
"Ayah kalian yang nakal itu, Bunda harus memandikannya. Dia terus saja merengek dan tidak mau membiarkan Bunda pergi"
"Haha Ayah sudah besar tapi masih di mandikan Bunda?" Sahut Key.
"Karena Ayah sayang Bunda. Aku juga sayang Bunda, karena itu mau dimandikan Bunda" imbuh Kai.
Asya mengacak pelan rambut putranya, ia mencium kedua putranya secara bergantian. Setelah itu memandikan mereka dengan air hangat. Tidak seperti El yang nakal, Kai dan Key sangat penurut. Walau terkadang mereka sedikit sulit untuk diatur.
Selesai mandi, Asya mencoba memakaikan pakaian pada si kembar. Tapi kedua putranya malah melompat-lompat riang karena mengetahui jika El akan membawa mereka membeli mainan. Asya kewalahan mengatur kedua putranya yang semakin besar dan suka sekali bermain ini.
"Selamat pagi anak Ayah" sapa El memasuki kamar putra nya.
"Ayaaahhh" teriak si kembar kegirangan.
Asya menghembuskan napasnya kasar melihat sang suami yang memakai celana trunk dengan kaos ketat tanpa lengan. El langsung saja menjatuhkan tubuhnya diatas kasur. Mencium pipi putranya bergantian, dan tentu saja sang istri juga.
__ADS_1
"Mas, pakai baju sana. Nanti dilihat yang lain loh, sana ih"
" Apa sih? Aku kan pingin main sama anakku. Bunda kalian jahat ya"
Asya yang kesal langsung saja mencubit dada suaminya. Kai dan Key semakin tak bisa diatur, keduanya malah ikut berbaring bersama El diatas kasur.
"Kai, Key, kalian mau punya adik lagi gak?" Tanya Asya memancing.
"Tidaakkk" jawab keduanya kompak.
Terdengar suara tawa El yang sangat nyaring. Asya mendengus kesal dan pergi meninggalkan kamar putranya. Selagi Asya mengambil pakaian El, ketiga pria itu tengah tertawa bercanda bersamaan.
Tak lama Asya masuk dengan pakaian El, ia meminta suaminya untuk segera memakai pakaiannya. Tetapi El malah menyelimuti dirinya dan memejamkan mata diatas tempat tidur.
"Mas, kita mau jalan-jalan kan"
"Kakek dan Nenek meminta kita datang kesana. Mereka ingin bertemu cicitnya"
"Benarkah? Aku sudah rindu rumah Kakek dan Nenek. Kapan kita akan kesana?"
"Aku tidak punya waktu untuk membawa kalian kesana" ucap El seraya memakai pakaiannya.
Asya juga membantu si kembar mengenakan pakaian mereka. El masih saja dingin pada keluarga besarnya. Asya pikir hubungan suaminya sudah lebih baik, tapi kepergian Asya malah membuat jarak yang besar. El lebih memilih tinggal sendirian daripada bersama keluarganya.
"Love you Mas"
"Ada maunya ya? Mau apa hm...?"
"Iih apa sih, gak mau apa-apa tuh. Kan aku emang sayaaaang banget sama suamiku ini"
"Baiklah Nyonya, aku akan menggendong mu ke sampai ke meja makan"
Kai dan Key sudah menunggu kedua orangtuanya di meja makan. Mereka menatap begitu banyak makanan disana. Tak lama, El turun sambil menggendong Asya. Si kembar kembali tertawa sambil berpandangan, seolah mereka memiliki pemikiran yang sama.
"Nyonya El, buatkan aku kopi"
Asya menuju dapur setelah menyiapkan makanan untuk si kembar. El lebih suka kopi buatan istrinya dibandingkan dengan yang lain.
Selesai mereka semua sarapan, El lebih dulu keluar rumah untuk menyiapkan mobilnya. Diikuti oleh si kembar yang berjalan riang bersama. Sedangkan Asya masih di kamar, berdandan sedikit dan mengambil beberapa uang tunai. Kebiasaan suaminya yang selalu saja lupa membawa uang tunai sebab lebih suka menggunakan card.
Tak lupa Asya juga mengemas beberapa buah untuk di perjalanan. Kedua putranya dan sang suami sangat menyukai buah.
__ADS_1
"Bunda, aku mau pisang"
"Bunda, aku juga"
"Aku juga mau sayang"
Baru saja Asya masuk dan duduk didalam mobil, ketiga pria ini sudah memintanya mengupas pisang. Karena harus menyetir, Asya menyuapi suaminya dengan pisang. Sedangkan si kembar makan sendiri di kursi belakang.
"Sayang, kau tidak ingin pergi jalan-jalan bersama teman-teman mu? Pergilah, aku akan menyiapkan penjagaan untukmu dari jauh"
"Mas, aku harus mengurus anak-anak"
"Aku ingin kau menikmati masa mudamu sayang. Bersenang-senang"
"Apakah Mas El dulu selalu bersenang-senang?"
"Tidak, aku memulai usahaku sejak masih kuliah. Aku menghabiskan waktu untuk bekerja dan sesekali berkencan. Karena itu, Tuan Muda ini memiliki segalanya hari ini dari jerih payahnya sendiri"
Asya tersenyum memandangi suaminya, ia bangga pada pemuda nakal ini. Walau suka bermain wanita, tapi El tak pernah main-main tentang usahanya. Ia memang Presdir muda berbakat.
"Harus kukatakan, suami pilihan Papaku memang yang terbaik"
"Kau wanita yang beruntung Asya. Dan kau adalah pembawa keberuntungan"
"Aku beruntung bisa menikah denganmu Mas. Aku sangat mencintai Mas El, sangat"
"Tentu kau harus melakukannya, tidak ada pria sebaik dan setampan aku di dunia ini"
Kai dan Key tertawa mendengar sang Ayah memuji dirinya sendiri. Di tengah tawa itu, Key menyela, ada pria lain yang lebih tampan dari Ayahnya. Dan pria itu adalah teman Asya, Nando.
"Key, jangan menyebut namanya lagi. Aku tidak suka" sahut Kai kesal.
"Kenapa? Om Nando sangat baik, dia membelikan kita es krim"
"Tidak, dia pria yang jahat"
"Apa Om Nando menyakitimu Kai?"
"Tidak, tapi dia jahat. Jangan dekat dengannya"
Asya memilih diam dan hanya mendengarkan si kembar berdebat. Sedangkan El, ia melirik heran ke arah istrinya. Juga sesekali menatap spion tengah untuk melihat si kembar.
__ADS_1
Aneh, biasanya Asya akan marah jika putranya menyatakan kebencian pada seseorang. Tapi kali ini, ia hanya diam dan tak menegur si kembar. El tentu saja merasa aneh, ada sesuatu yang mengusik pikiran istrinya.
El mencoba menengahi kedua putranya. Ia menjelaskan pada Kai untuk tidak berkata kasar seperti itu. Walau Kai tak ingin mendengarkan hal itu, tapi Key setuju dengan sang Ayah.