
"Mas, mau makan apa?" Tanya Asya yang telah selesai menyimpan belanjaannya.
"Buatkan pisang goreng dan kopi aja Sya. Kita udah gak lapar, buat camilan nonton bola" jawab El.
Setelah mendengar permintaan suaminya, Asya bergegas menyiapkan bahan makanan dan mulai memasak air. Pasti karena El melihat Asya membeli pisang, karena itu dia menginginkan pisang goreng.
Bukan masalah besar untuk Asya, ia mulai memotong pisang, dan membuat adonan tepung. Selagi menunggu pisangnya digoreng, Asya menyajikan kopi untuk kedua pemuda itu terlebih dahulu.
"Syam, kau suka memancing?" Tanya El.
"Suka El, seminggu sekali aku mancing ditemenin Asya" jawab Syam.
El terkejut, ia tidak menduga jika istrinya juga suka memancing. Tetapi ternyata, Syam memaksa Asya untuk ikut karena tak memiliki teman memancing.
"Memancing lah bersamaku, Zio juga tidak suka memancing. Ia terus saja mengeluh" curhat El.
"Asya juga mengeluh, yang ia lakukan hanyalah makan dan menonton para Oppa nya" timpal Syam.
El dan Syam saling bertukar pikiran, juga membicarakan teman mancing mereka yang tidak tahu betapa menyenangkannya menghabiskan waktu dengan memancing ikan. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk memancing bersama bila ada waktu luang nantinya.
Asya telah selesai memasak, ia menyajikan pisang sepiring pisang goreng untuk kedua pemuda yang sedang asik menonton pertandingan sepak bola.
"Silahkan Oppa-oppa ku" ujar Asya lalu duduk disamping kiri El.
"Kenapa duduk disini? Kamu gak mau duduk dekat Syam?" Tanya El seraya mengelus rambut Asya.
Gadis itu menggeleng, ia tak ingin duduk disamping Syam karena Kakak nya itu akan memukul jika sedang bahagia. Dan Asya tidak mau terkena pukulan tersebut.
"Aku kalau lihat pemainnya cetak gol, suka jambak rambut orang loh Sya" goda El yang sukses membuat kedua mata Asya terbelalak.
El menatap istrinya, wajah menggemaskan itu lagi. Asya selalu saja terlihat lucu dan menggemaskan bagi El. Pemuda itu mengangkat kaki Asya dan menaruhnya di atas paha El. Ia memijat-mijat kaki istrinya, pasti Asya kelelahan setelah banyak kegiatan yang harus Asya lakukan hari ini.
__ADS_1
"Mas El jangan, kata Papa itu gak boleh" celetuk Asya sembari mencoba mengalihkan kakinya.
"Papa kan bukan cowok romantis" jawab El singkat.
Asya tertawa kecil mendengar komentar El, itu memang benar, Papa Asya bukan orang yang romantis. Asya menarik salah satu tangan El, melingkarkan tangan itu pada bahunya, lalu memeluk sang suami.
"Manja banget si Sya" komentar Syam setelah melihat adiknya begitu dekat dengan El.
"Mumpung ada yang manjain aku Mas, sebelum Mas El berubah seperti Papa" ujar Asya dengan senyuman lugunya.
El mendekap Asya dengan sangat erat. Seolah ingin mengatakan pada Asya, jika sikap El tak akan pernah berubah, apalagi berubah seperti Papa. El tak akan menyakiti Asya, setidaknya itu yang ada dipikiran El sekarang.
"Tidur sana udah malem nih, besok ada kelas pagi kan?" Pinta El pada Asya yang mulai mengantuk. Asya mengangguk, namun ia masih merasa nyaman tidur dalam pelukan El.
"Syam, aku bawa Asya ke kamar dulu ya, sepertinya dia sangat mengantuk hingga tak ingin bangun" ujar El. Ia lalu menggendong istrinya menuju kamar mereka.
Asya masih memejamkan matanya, ia benar-benar telah terlelap dalam tidur. Perlahan El membaringkan tubuh mungil sang istri diatas ranjang, menyelimuti Asya dan mengecup singkat bibirnya.
Setelah itu, El kembali turun dan menemani Syam untuk menonton pertandingan sepak bola di televisi.
"El, aku tidak akan mengungkit masalalu mu, namun hati Asya sangat rapuh El. Ia mudah menangis dan tertawa, tapi terkadang dia sangat dewasa El. Kau bisa menjadikan dia tempat curhat, walau tak memiliki solusi, perhatiannya akan memberimu kekuatan" jelas Syam.
"Adikmu memang istimewa Syam" sahut El singkat.
"Dia hanya ada satu didunia ini El. Oh iya, jikalau mungkin, jauhkan dia dari Nando"
"Kau juga tahu jika Nando mencintai Asya?"
"Hanya gadis bodoh itu yang tidak tahu El, bahkan Papa dan Mama juga tahu"
El kembali diam merenung, jika seluruh keluarga Asya tahu, sejauh apa kedekatan Nando dengan istrinya. Jika Nando sedekat ini, bukan tidak mungkin ia juga merupakan bagian terbesar dalam hidup Asya.
__ADS_1
"Papa dan Mama tidak merestuinya?" Tanya El penasaran.
"Papa jelas tak setuju, tapi Mama sangat menyukai Nando. Sedangkan aku dan Galen, terserah pada keputusan Asya" jawab Syam.
Syam terus menceritakan bagaimana gigihnya Nando untuk mendapatkan restu sang Papa. Menjemput Asya setiap hari dan mengantarnya pulang. Ia bahkan berkunjung ke rumah setiap malam minggu untuk mengajak Asya jalan. Namun mereka tak pergi berdua, karena Asya tak akan pernah mau, sebab Papa pasti melarangnya.
"Apakah Asya benar-benar tidak tahu jika Nando mencintainya?" Sahut El. Ia sedikit tak percaya, jika usaha Nando segigih itu, mana mungkin Asya tak menyadarinya.
"Nando sangat licik El, ia tahu semua keputusan Asya adalah keputusan Papa. Karena itu ia berusaha mendekati Papa untuk mendapatkan Asya" balas Syam.
El mulai mengerti, jadi itu alasan lain kenapa Nando tak pernah mencoba menyatakan cintanya. Ia sudah tahu benar bagaimana sifat Asya, Nando tahu terlalu banyak tentang Asya, dan hal itu sangat mengusik El.
"Gooolllll" teriak Syam kegirangan, ia begitu senang hingga memukul-mukul lengan El. Seperti yang Asya katakan, Syam mengungkapkan bahagianya dengan cara memukul. Dan El hanya bisa tertawa menerima pukulan Kakak iparnya.
......\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=......
Pukul 04:00 ....
Hari menjelang pagi, Asya terbangun dari tidurnya karena alarm ponselnya berdering sangat nyaring.
Asya menoleh ke samping, ia tak mendapati suaminya disana. Asya tak ambil pusing, ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah itu turun kebawah untuk bersih-bersih.
"Mas El udah bangun?" Tanya Asya saat melihat suaminya yang sedang duduk di ruang tamu dengan leptop dihadapannya.
"Hai, pagi. Semalem keasikan nonton bola, jadi lupa kalau banyak kerjaan" jawab El santai.
"Mas mau kopi atau yang lainnya?" Sahut Asya berjalan mendekati sang suami.
Syam masih tidur dikamar tamu, kesempatan bagus untuk El. El menarik tangan mungil istrinya, mendudukkan Asya dipangkuannya.
"Mas, ini masih pagi loh" ucap Asya pelan. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana, sebab suaminya sangat nakal.
__ADS_1
El sejenak menatap mata istrinya, sebelum menidurkan Asya diatas sofa.
"Nyonya El, kau terlihat sangat lucu saat gugup seperti ini"