Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 48


__ADS_3

Setelah makan, El kembali mengajak Asya berkeliling desa. Kali ini, mereka pergi ke kebun buah milik Kakek El.


Sekali lagi Asya dibuat kagum dengan luas dan banyaknya buah yang diproduksi. Ia baru menyadari jika suaminya benar-benar seperti layaknya seorang sultan. Bahkan jika El tak bekerja, harta Kakek El tak akan habis.


"Keluarga Mas El kaya banget ya, waw" ujar Asya kagum.


"Hm, kenapa? Kamu mau sesuatu? Aku bisa membelikan kamu apapun Sya, bahkan tanpa uang keluargaku"


"Kenapa Mas El menjalankan perusahaan sendiri? Keluarga Mas El sangat sukses dan terkenal"


"Biar bisa beliin kamu apapun tanpa ada yang ngelarang" ujar El seraya mencubit gemas pipi istrinya.


Asya terkekeh mendengar gombalan konyol suaminya. El memang selalu bisa mengambil hati Asya. Benar kata orang, cinta itu buta. Saat perasaan cinta itu tumbuh, seburuk apapun kelakuan orang yang kita cinta, selalu saja ada ruang untuk memberi kesempatan. Walau kebanyakan selalu berakhir dengan luka yang lebih dalam.


Lagi dan lagi kehadiran El dan Asya menjadi perbincangan para pekerja disana. Tetapi tak ada satupun yang berani menanyakan apapun kepada El maupun Asya.


"Imoo, Imoo" teriak Aqilla yang berlari mendekat bersama dengan yang lain.


Asya secara refleks jongkok dan merentangkan tangannya. Para keponakannya memeluk gadis itu dengan erat.


"Imo, bisa buat kue? Mau makan cake" pinta Aqilla.


"Bisa dong sayang, mau cake buah?"


El memandangi istrinya yang tampak asik berbincang dengan para keponakan kecilnya. Ia juga baru tahu jika Asya bisa membuat kue. Padahal El sangat menyukai kue terutama cake.


Tak lama, Nenek El berjalan menghampiri dirinya. Beliau menepuk pundak El, sembari menatap ke arah Asya.


"El, kau beruntung mendapatkan dia. Tapi Nenek, akan membuat kalian jauh, kau tak pantas untuknya" bisik Nenek.


Pemuda itu terdiam, ia tak ingin menanggapi ucapan Neneknya. Sebenarnya beliau tak membenci El, hanya saja, El selalu membantah perkataannya. Beliau ingin El mengerti dan memahami, jika dunia yang cucunya tinggali tidak akan selamanya berpihak pada El.


El menarik tangan istrinya, menjauh dari Nenek dan juga para keponakannya. Asya awalnya terlihat kebingungan, tetapi ia mulai mengerti, jika ada jarak diantara El dan keluarganya. Seolah El adalah orang asing yang tak tersentuh oleh kehangatan keluarga.


Setelah puas berkeliling desa, El dan Asya kembali kerumah. Laura sedang sibuk di dapur membuat kue untuk cucunya.


"Bunda, aku bantuin ya" ujar Asya yang sudah berdiri didepan dapur.

__ADS_1


"Boleh, tapi suami kamu kayaknya gak rela tuh" sahut Laura ketika melihat El berjalan mendekat. Pemuda itu langsung saja memeluk istrinya dari belakang. Bahkan ia tak sungkan melakukan hal itu dihadapan Bundanya.


"Bunda nih, kasihan kan istri ku disuruh kerja terus, dia kan mau liburan" omel El. Laura terkekeh dan menggeleng kecil melihat putranya.


"Bund, bilangin istriku, aku mau mandi bareng dia, tapi dia gak mau" rengek El pada Laura.


Asya membelalakkan matanya, ia lalu menutup mulut suaminya yang tak tahu malu itu. Wajah Asya sudah merah padam karena aduan El. Sedangkan Laura, ia malah mendukung El dan meminta Asya untuk menuruti permintaan suaminya.


Gadis itu menutup wajahnya, ia hendak kabur darisana, tetapi El lebih dulu mendapatkan dirinya. El menggendong Asya masuk kedalam kamar mandi. Ia menyalakan shower, membuat dirinya dan Asya menjadi basah karenanya.


Dibawah guyuran air, El menarik pinggang istrinya, menatap lekat kedua bola mata itu.


"Sayang, aku harap tidak ada lagi drama seperti ini ya, jangan pergi dariku, kamu adalah hartaku" lirih El. Ia memeluk istrinya dengan erat, setelah itu mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang Asya kenakan. Dan terjadilah curahan cinta hangat diantara keduanya.


Selepas mandi, El dan Asya memilih berbaring ditempat tidur dan melewatkan makan malam. El tak ingin jika istrinya dekat dengan Nenek. Atau Asya akan kembali bertingkah dengan ide konyol Nenek El.


"Mas, mau gendong baby El" pinta Asya seraya memanyunkan bibirnya.


"Sayang, aku kan udah bilang tidak. Aku suka buatnya, tapi kalau jadi, aku gak mau Sya" jawab El lalu mengecup singkat bibir istrinya.


Asya menatap suaminya dengan malas, hati El masih saja dingin. Padahal Asya berharap, dengan kehadiran baby El diantara mereka, itu mungkin bisa merubah sikap El.


"Apa Mas?"


"Bikin"


Asya memukul pelan dada suaminya, lalu memeluk El dengan sangat erat. Agar pemuda itu tak bisa melakukan apapun lagi. El terkekeh melihat istrinya yang panik, ia lalu mencium kening Asya dan memintanya untuk tidur.


Hari sudah malam, semua keluarga juga telah terlelap. El masih harus berbincang mengenai beberapa hal dengan Zio. Tentu saja masih mengenai pekerjaan. Mereka berbincang cukup lama, hingga akhirnya El memutuskan untuk tidur.


Beberapa jam berlalu, mereka awalnya tidur dengan nyenyak. Hingga Asya terbangun dan mencengkram tangan El dengan erat. Karena ia merasa ada seseorang yang mengelus tangannya.


"Mas"


"Diam aja Sya, aku juga dengar ada orang"


Suara gaduh yang pelan itu bisa terdengar jelas ditelinga El. Ia pikir ada seseorang dikamarnya selain dirinya dan Asya. El tentu bisa melawan mereka, tetapi prioritasnya sekarang adalah melindungi istrinya. Ia tak ingin Asya terluka, sedikitpun.

__ADS_1


Mereka semakin gaduh, seolah sedang mencari sesuatu dikamar El. Terlihat jendela yang terbuka, ini pasti maling atau perampok. Jika El gegabah, semua bisa runyam, ia meminta Asya untuk memeluknya dan berpura-pura masih tertidur.


Keadaan gelap pastilah menyulitkan para maling itu, termasuk El yang berusaha mencari keberadaan mereka. Samar El mendengar mereka berbisik mencari leptop, sepertinya semua ini telah direncakan.


El sedang mengerjakan sebuah proyek besar, pasti ini suruhan salah satu pesaingnya. Untung saja, leptop El berada diatas kepalanya, ia tak sempat menaruhnya diatas meja karena sudah terserang kantuk lebih dulu.


"Kita culik saja istrinya, dia sangat cantik dan kulitnya mulus" saran seorang maling.


"Gila kau, apa kau menyentuhnya? Jika bos tahu, beliau pasti marah. Kita pergi saja sebelum mereka bangun" sahut yang lainnya.


Akhirnya kedua maling itu memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar El dengan tangan kosong.


Asya masih mencengkram erat tubuh suaminya. Apalagi setelah mendengar rencana konyol para maling itu.


"Mas El, apa yang harus aku lakukan?"


"Tidak ada, aku tidak akan membiarkan siapapun mendekati apalagi menyakitimu sayang. Tenanglah, ayo kita pergi ke ruang tamu"


El memutuskan untuk mengajak Asya ke luar kamar, ia juga tak lupa membawa leptop miliknya. Sofa diruang tamu terlihat cukup luas untuk keduanya tidur disana. Walau El sudah mencoba meyakinkan Asya, tetapi gadis itu masih tak bisa tenang.


"Kamu mau kita pulang?"


"Tidak"


Meskipun takut dengan keadaan, tetapi Asya tak ingin pulang dengan cepat. Ia masih ingin menikmati desa tempat El kecil bermain dulu. Pemuda itu akhirnya memutar otak dan meminta Zio menyelediki siapa saja pesaing El. Zio awalnya acuh tak acuh sebab El meneleponnya tengah malam. Tetapi setelah mendengar jika mereka berusaha menculik Asya, ia langsung antusias dan mengerahkan semua orang suruhannya saat itu juga.


"Kenapa kalian ada disini?" Tanya Adhitama yang baru saja keluar dari kamarnya.


El menjelaskan situasinya pada sang Ayah, alasan mereka berada diruang tamu. Adhitama menatap menantunya, ia kemudian menyuruh Asya untuk tidur bersama Laura. Tetapi gadis itu menolak, ia tak ingin jauh dari suaminya.


"Tidurlah sayang, aku dan Ayah akan mencari tahu" ujar El sembari mengelus rambut istrinya.


"Tidak, bagaimana jika mereka datang saat Mas El tidak bersamaku?"


"Baiklah, tidur saja disini. Aku akan membawamu ke tempat yang indah besok"


"Tidak usah pergi Mas El"

__ADS_1


Adhitama mengelus rambut panjang menantunya. Ia juga membantu untuk menenangkan Asya. Berjanji padanya, jika semua akan baik-baik saja. Sebab beliau dan El tidak akan membiarkan hal buruk menimpa Asya.


__ADS_2