
"Kasihan banget yang jadi suami kamu" sahut El.
"Mas El kan suamiku" jawab Asya kesal. El hanya terkekeh mendengar jawab istrinya.
"Di selingkuhin itu sakit loh Mas. Hyungsikku aja sampai nangis waktu lihat cewek yang dia cinta dekat sama cowok lain, aku gak bisa Mas lihat dia sedih kayak gitu" jelas Asya.
"Itu namanya lemah"
"Mas El juga, aku ngobrol sama pegawai supermarket aja Mas El marah. Lemah"
El terdiam, hal itu memang benar.
"Menurut Mas El, kenapa cowok itu selingkuh?"
"Mungkin istrinya punya kekurangan"
"Istrinya cantik, baik, pinter ngurus rumah juga"
"Di atas ranjangnya gak pinter mungkin"
"Maksudnya gimana?" Tanya Asya tak mengerti.
Mama dan Bunda tertawa mendengar perbincangan konyol pengantin baru.
El tanpa pikir panjang berdiri dan menggendong istrinya menuju kamar Asya. Ia bahkan tak merasa malu membawa Asya dihadapan Bunda dan Mama.
"Mas mau kemana?" Tanya Asya.
El tak menggubris pertanyaan istrinya, ia hanya terus berjalan menuju kamar Asya. Ia membaringkan Asya diatas tempat tidur, lalu mengunci pintu kamar.
"Diatas ranjang itu maksudnya, layani aku" bisik El sembari tersenyum.
Asya mendengus kesal, ia menatap suaminya dengan malas. Ia sudah tidak peduli lagi apapun yang akan El lakukan padanya saat ini.
"Jelek banget sih kalau lagi ngambek, aku gak mau ngapa-ngapain kamu" ujar El seraya mencium pipi istrinya singkat.
El membaringkan tubuhnya disamping Asya, menatap langit-langit kamar Asya yang kosong.
El masih mengkhawatirkan pertemuan Asya dengan keluarga besarnya nanti. Ia tidak akan tahan jika mereka mulai mencari-cari kesalahan Asya.
Para ipar El memang sedikit menyebalkan. Karena mereka juga berasal dari keluarga yang berada, selalu saja mencoba merendahkan orang lain. Mencari kesalahan sekecil apapun untuk membuktikan jika mereka lebih tinggi dari siapapun.
Kekhawatiran El bukan tanpa alasan, selain Asya masih begitu muda, ia masih belum sepenuhnya mengerti. Ada begitu banyak orang yang bisa menyakitinya hanya dengan kata-kata.
__ADS_1
"Mas El, ada apa?" Tanya Asya sembari menatap suaminya yang terdiam.
El memiringkan tubuhnya, menatap Asya yang juga tidur menghadap dirinya.
"Belanja yuk, pingin beliin kamu baju" ajak El lalu bangun dari tidurnya.
Asya mengernyitkan dahi, tiba-tiba saja suaminya ingin pergi berbelanja, ini sangatlah aneh. Walaupun begitu, ia sangat tertarik dengan ajakan suaminya.
El dan Asya berpamitan pada kedua orang tua mereka, lalu pergi menuju pusat perbelanjaan.
Ditoko pakaian yang besar nan mewah itu, Asya dilayani oleh setidaknya tiga pegawai. El meminta untuk memilihkan semua baju dress selutut terbaik dengan berbagai macam model untuk Asya. Ia ingin merubah cara berpakaian istrinya, agar terlihat lebih feminim dan berkelas.
"Carikan beberapa pakaian yang bisa memperlihatkan bentuk tubuhnya juga ya" pinta El pada sang manager.
"Baik Tuan, kami akan melayani Nyonya sebaik mungkin" ujar manager itu dengan sopan.
"Manager, apa lingerie yang ku pesan sudah datang?" Bisik El.
Manager itu mengangguk, ia sudah menyiapkan pesanan El di meja kasir. Hal itu membuat El merasa sangat puas. Ia kembali duduk dan menunggu istrinya yang sedang memilih baju.
Asya mengikuti para pegawai menuju ruang VVIP. Mereka menunjukkan deretan dress selutut dengan berbagai model pada Asya.
"Waw, bagus-bagus banget. Berasa seperti tuan putri" puji Asya setelah melihat deretan dress yang begitu indah.
Asya memilih salah satu dress itu, ia ingin mencoba memakainya. Dengan bantuan pegawai, Asya mencoba dress itu.
"Uwaaa, cantik banget, udah mirip artis Korea kan Mbak? Hehehe" ucap Asya dengan tawanya.
"Iya Nyonya cantik sekali" jawab pegawai itu.
Asya berjalan menghampiri El yang sedang menunggu. El nampak sedang berbincang dengan sang manager toko.
"Cantik, bungkus semua baju yang dipilihnya" ujar El.
"Maaf Tuan, Nyonya belum memilih satupun baju" jawab pegawai itu.
El menatap istrinya yang sedang bahagia karena dress itu. Pemuda itu lalu menarik pinggang Asya untuk mendekat.
"Nyonya El, pilih semua yang kau suka" ucap El.
"Semuanya? Tapi aku suka semua Mas" jawab Asya dengan tawanya. Ia memang menyukai semua dress yang ada, sangat sulit memilih salah satu diantaranya.
"Iya Nyonya El. Kau boleh mengambil semua yang ada disana" balas El sembari mengecup kening istrinya.
__ADS_1
Asya begitu bahagia mendengar apa yang suaminya katakan, ia lalu memeluk El dan berterimakasih. Segera setelah itu, ia pergi kembali keruangan dan melihat-lihat baju lagi.
"Nyonya sangat menyukainya Tuan" celetuk Manager itu. Beliau juga senang karena memiliki pelanggan tetap seperti El.
"Jika dia tidak menyukainya, saya akan membawa dia pergi ke toko lain" ujar El.
"Tuan, itu tidak akan terjadi. Kami akan melayaninya dengan sangat baik" balas manager itu.
El mengangguk, ia lalu kembali duduk. Memainkan ponselnya sembari menunggu Asya.
Beberapa menit berlalu sudah, harusnya ia tahu, Asya tetaplah seorang wanita. Mereka sangat suka berbelanja dan menghabiskan banyak waktu untuk itu.
"Mas, huuuu" bisik Asya sembari meniup wajah El.
"Sudah belanjanya?" Tanya El seraya mengecup singkat bibir istrinya.
Asya mengangguk, ia tersenyum sangat lebar.
El bangun dari duduknya dan menuju kasir untuk membayar. Asya benar-benar membeli semua yang ia inginkan. El sampai tak percaya jika istrinya memilih lebih dari sepuluh dress.
El meminta manager untuk mengirim ke alamat rumahnya, karena tidak mungkin ia membawa belanjaan sebanyak itu.
"Mas El baik banget sih, besok belanja lagi ya" pinta Asya antusias.
"Masih ada lagi yang mau kamu beli? Boros banget sih jadi cewek" sahut El.
"Mmhh, maaf Mas" lirih Asya pelan.
El tertawa setelah menggoda istrinya. Hobi baru Asya mulai tercipta, ia kini jadi suka belanja apapun yang ia sukai. Tidak seperti dulu, yang harus meminta ijin dari Papa.
"Boleh Nyonya El, kamu boleh belanja lagi sepuas kamu. Tapi, setiap malam harus pakai baju yang seksi ya" bisik El.
"Oke, cuma pakai baju kan? Oke deal" jawab Asya tanpa pikir panjang.
Pikiran Asya kini hanya dipenuhi oleh berbagai model baju yang ingin dibelinya. Ia ingin terlihat cantik dan anggun seperti layaknya di dalam drama yang sering ia lihat. Ia juga ingin mengikuti gaya para pemain dramanya.
"Sya, apa kamu menyukainya? Pernikahan kita" Tanya El. Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aku menyukainya, semuanya, aku seperti pemeran wanita dalam drama. Mas El sangat baik dan memanjakan aku" jawab Asya dengan ceria.
"Asya, katakan padaku, apa saja yang harus dilakukan oleh pemeran pria untuk membuat sang wanita bahagia?"
"Memberinya banyak cinta"
__ADS_1