
Lima tahun berlalu sudah..
El tengah duduk diruangan nya dengan banyak file menumpuk. Perusahaan El semakin besar dan semakin banyak musuh yang mengelilingi.
"Zio, minta semua kepala departemen agar bekerja dengan cepat. Aku mau laporan ada di mejaku hari ini juga" ujar El.
Zio mengangguk dan mulai mengirimkan pesan siaran pada semua Kepala Departemen di perusahaan.
Karena hari sudah siang, El memutuskan untuk berkeliling kantor seraya memantau pekerjaan para pegawainya. Ia tak merasa lapar sedikitpun, di jam seperti inilah para karyawan harus berhati-hati bersikap. Sebab El kadang marah karena mereka meninggalkan pekerjaan begitu lama.
Terkadang tanpa alasan, El bisa memarahi setiap karyawan yang ia temui. Ia masih sama seperti dulu, emosinya tak bisa ditahan. Begitu juga dengan hari ini, ia mendatangi departemen pemasaran. Tanpa sebab jelas, mulai mengeluarkan emosinya karena penjualan tak kunjung bisa melebihi target bulan lalu. Padahal ini masih jamnya istirahat makan siang untuk para karyawan. Mereka hanya bisa tertunduk mendengarkan El yang marah.
"Mas El, kau masih saja memarahi mereka dijam makan siang? Ini waktunya mereka istirahat" sela seseorang.
El terkejut, ia mengalihkan pandangannya. Asya berdiri di sisi lain ruangan, menatapnya dengan senyuman lebar.
"A.. Asya? Kau.. kenapa kau disini?"
"Ini sudah lima tahun, aku harus pulang. Kedua putra ku ingin bertemu keluarganya"
"Kai, Key, kemari dan peluk pamanmu ini" teriak Zio antusias. Ini pertama kalinya Zio bertemu dengan si kembar. Tapi El selalu membagikan perkembangan putranya pada keluarga besar. Sebab itulah mereka tahu paras wajah kembar identik putra El dan Asya.
Setelah Asya tinggal diluar negeri, ia mendapat perawatan yang begitu baik. Hingga hari dimana ia melahirkan dua orang putra kembar. El memberi nama putra sulungnya Kai Putra Elvin Adhitama dan si bungsu Key Putra Elvin Adhitama.
Si kembar yang baru berusia empat tahun hanya diam menatap Zio. Keduanya berdiri di depan Asya dan menatap Zio dengan dingin. Wajah datar si kembar memang menggemaskan, tapi tak bisa dipungkiri, wajah keduanya sangat mirip dengan El.
"Bunda, bisa kita pergi dari sini? Aku tidak ingin berada disini" ujar Kai.
"Aku juga tidak ingin berada disini Bunda" imbuh Key.
Asya menatap kedua putranya, ia memposisikan dirinya sejajar dengan mereka. Asya bisa mengerti kemarahan putranya sebab El yang tak selalu ada untuk mereka. Tapi, ia tak akan tinggal diam, ia tak ingin ada jarak diantara El dan si kembar.
"Peluk Ayah kalian dulu, setelah itu Bunda akan memperkenalkan kalian pada keluarga lainnya"
El berjalan mendekati keluarga kecilnya, spontan Kai dan Key berpaling dan berdiri dibelakang Asya.
"Lihatlah kedua anak nakal ini, apa seperti ini sikap pada Ayahnya?"
__ADS_1
"Mas, sudahlah. Ayo kita kerumah Ayah dan Bunda, mereka pasti senang bertemu cucu mereka untuk pertama kalinya"
"Kenapa kau tidak bilang padaku akan pulang? Asya kau tahu jika ini bisa saja berbahaya untuk kalian"
Kai dan Key tiba-tiba merubah posisi mereka lagi, menghadang El yang hendak mendekati Asya.
"Berhenti Tuan, jangan memarahi Bundaku" ujar Kai yang terdengar sangat dingin.
"Tuan muda, Bundamu adalah istriku" jawab El.
"Dia adalah milik kami, kami sangat menyayangi nya" sahut Key.
"Tuan-tuan, kita sepakat untuk tidak seperti ini di depan umum bukan? Jangan bertengkar, kalian membuatku sedih" sela Asya.
Hidup jauh dari sang Ayah, membuat Key dan Kai sedikit tak menyukai kehadiran El. Terlebih El hanya selalu memedulikan Asya. Padahal lima tahun sudah berlalu, tapi El masih saja belum bisa menerima kehadiran si kembar. Ini seperti apa yang Asya rasakan dulu. Kehadirannya tak diinginkan oleh Dirga.
Kedua putra Asya berpikiran dewasa, sebab hanya tinggal bersama sang Bunda. Keduanya selalu mengatakan akan menjaga Asya apapun yang terjadi. Padahal mereka masih terlalu kecil untuk memikirkan hal seperti ini.
El dan keluarga kecilnya memutuskan untuk pergi kerumah Adhitama. Tak lupa ia juga meminta keluarga Dirga untuk datang. Asya sedih sebab tak bisa melihat kedua Kakaknya menikah. Ia juga tak bisa menyaksikan kelahiran putri kedua Farel dan Adelia.
Walau El selalu menceritakan semuanya, membuat video dan foto-foto, tapi tetap saja, Asya ingin menyaksikan semuanya secara nyata.
Asya tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya, jantungnya berdebar kencang kala menanti pertemuan ini setelah sekian tahun lamanya.
"Bunda rindu mereka semua. Kalian jangan nakal ya, harus bersikap baik kepada orang tua. Kalian mengerti?"
"Iya Bunda" jawab Kai dan Key kompak.
Si kembar duduk dengan manis dibangku belakang. El sebenarnya juga merasa gugup, ia jarang sekali mengunjungi keluarganya. Hanya saat membawakan kabar terbaru tentang Asya dan kedua putranya barulah El menghampiri keluarganya.
Asya menggenggam tangan El, mereka seperti pasangan baru yang ingin meminta restu.
Disisi lain, di rumah Adhitama..
Kedua keluarga telah berkumpul. Mereka ingin tahu apa yang hendak El bicarakan hingga meminta semuanya berkumpul.
"Apa dia berbuat ulah lagi?" Gumam Adhitama geram.
__ADS_1
"Apakah suamiku senakal itu Ayah?"
"Asyaa" seru setiap orang kala mereka menoleh ke asal suara.
Asya berjalan seorang diri, tetapi dibelakangnya ada El yang menggendong si kembar.
Airin dan Laura memeluk Asya dengan sangat erat. Tak ada yang berubah, mereka masih bisa merasakan Asya yang sama seperti dulu. Adhitama dan Dirga, masing-masing menggendong si kembar. Kedua Kakek itu amat sangat bahagia.
El meminta semuanya untuk duduk, Asya pasti lelah karena baru saja sampai.
"Jadi El, ini kejutan yang menyenangkan. Kau tidak akan memisahkan kami lagi bukan?" Tanya Laura.
"Bunda, ini bukan kemauan ku. Ini keputusan sepihak Asya, harusnya aku..."
"Mas El, sudahlah. Aku merasa aman jika berada di samping Mas El. Aku ingin tinggal disini Mas, ku mohon"
El memandangi mata Asya yang tampak berkaca-kaca. Kai dan Key meronta dari pangkuan Kakeknya, berjalan menghampiri sang Bunda. Mereka tak bisa melihat Asya menangis walau setetes, apapun alasannya, si kembar tak menyukainya.
"Bunda, jangan menangis" ujar Key.
"Apa Ayah bersikap jahat?" Imbuh Kai.
Si kembar menatap El dengan amarah, hal itu membuat keluarga besar khawatir. Jelas ini menunjukkan jika hubungan Ayah dan anak tidak baik-baik saja.
"Kai, Key, Bunda tidak ingin mendengar kalian menyebut Ayah kalian jahat. Itu tidak sopan dan tidak baik"
"Tapi Bunda..." ujar keduanya bersama.
"Sayang, Ayah kalian sangat menyayangi kalian. Ia adalah pelindung kalian, jangan berkata seperti itu"
El menatap tajam kedua putranya, dengan mata yang sedikit melotot. Ia ingin bertindak tegas pada si kembar. Tapi Asya adalah penghalang pertengkaran mereka. Asya adalah kedamaian kala dua kubu tengah bertikai.
"Halo Imo, aku Felia" ujar seorang gadis kecil yang datang menghampiri Asya.
"Imo? Apakah Aqilla yang mengajarimu memanggil ku Imo?"
"Iya, Kak Aqilla bilang, Imo seperti Ibu peri"
__ADS_1
Asya tersenyum, ia memeluk keponakan kecilnya, mencium kening Felia singkat. Ia tak melihat Aqilla disana, pasti gadis kecil itu sudah tumbuh lumayan besar. Kini Aqilla sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Pasti Aqilla sudah di sibukkan dengan tugas sekolahnya.
Felia tampak ceria, berbeda jauh dengan Kai dan Key yang pendiam. Padahal Asya mendidik mereka dengan penuh tawa. Tapi sepertinya gen El lebih dominan pada si kembar.