
"Zio, aku rasa ada yang sedang Asya pikirkan. Dekati dia dan berikan solusi" ujar El.
"Kenapa bukan kau saja? Kalian bisa lebih dekat bukan" jawab Zio sambil menikmati makanannya dengan lahap.
"Aku juga ingin begitu, tapi dia menjaga jarak dariku" sahut El.
El merasa jika Asya menjaga jarak dengannya, sebab perlakuan Asya tak sama seperti sebelumnya. El tahu mungkin hati Asya masih terluka, namun jarak ini membuatnya tak nyaman. Terlebih ia mulai terbiasa dengan senyuman ceria istrinya.
Zio mengangguk, ia akan mendekati Asya dan mencari tahu apa yang sedang gadis itu rasakan. Walau sebenarnya Zio tahu, masalalu El adalah penyebabnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Di kampus....
Asya sedang membaca bukunya sembari menunggu dosen dikelas. Sesekali ia juga mengomentari apa yang sedang Jihan dan Gita perbincangkan.
"Sya, nonton yuk, ada film romance baru nih" ajak Jihan.
"Gak bisa, nanti aku mau pergi sama Mas El" jawab Asya.
Jihan dan Gita merasa heran, tapi mereka senang jika Asya dan suaminya mulai ada hubungan. Mereka mulai lagi dengan menggoda Asya.
Drrrt... Drrrtttt.....
Ponsel Asya berdering, ada panggilan masuk dari El.
El : "Halo, udah sampai kampus Sya?"
Asya : "Sudah Mas, ini lagi dikelas. Ada apa?"
El : "Gak apa-apa, yaudah belajar yang rajin ya. Nanti kalau udah pulang kabarin aku"
Asya :"I..."
El memutuskan telepon sebelum Asya menjawab. Suaminya masih tak berubah, selalu saja memutuskan telepon secara sepihak.
"Wih, hp baru Sya? Mahal nih" Tanya Gita. Ia mengambil ponsel dari tangan Asya dan melihat-lihat.
__ADS_1
Asya menggeleng, ia mengatakan jika itu bukan ponselnya melainkan ponsel sang suami. Ia juga menceritakan bagaimana mulanya ia mendapat ponsel itu, karena seorang wanita yang menabraknya dan marah-marah tidak jelas.
Jihan dan Gita tampak asik menghujat wanita yang menabrak Asya. Meskipun mereka tak tahu bagaimana rupa wanita tersebut, dengan yakin mereka mengatakan jika wanita itu mirip nenek sihir. Obrolan mereka sangat menyenangkan, sayangnya harus terhenti karena dosen sudah memasuki kelas.
Pukul 18:00.....
Asya sudah menyelesaikan semua kelasnya hari ini. Kini ia hanya tinggal menunggu El untuk menjemputnya. Ia tak sendiri, ditemani oleh Jihan dan Gita tentunya.
"Cewek-cewek, berangkat yuk" ucap Surya yang baru saja keluar kelas bersama Nando dan Angga.
"Kamu juga ikut kan Sya?" Sela Nando.
"Sayang" panggil seseorang membuat mereka semua menoleh.
El berjalan mendekat dengan sebuket bunga ditangannya. Asya mengedipkan matanya berkali-kali, memastikan jika ini semua bukanlah mimpi ataupun khayalan.
Setelah Gita menyenggol lengan Asya, barulah gadis itu tersadar dari lamunannya. Asya segera berjalan menghampiri El.
"Maaf, nunggu lama ya?" Ujar El dengan senyuman manisnya. Ia mengelus lembut kepala Asya dan mengecupnya singkat.
Ini beneran Mas El? Mas El yang asli seromantis ini? Aaah suka, batin Asya begitu senang.
Asya berjalan begitu riang dengan sebuket bunga ditangannya, dan El merangkul bahu Asya mesra.
Pinter juga si Zio, caranya berhasil bikin Asya ceria lagi. Susah juga jadi cowok romantis, keluh El dalam pikirannya. Tapi ia merasa senang Asya nya yang dulu mulai kembali lagi.
El melajukan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan. Ia sudah memikirkan apa saja yang akan mereka lakukan nanti, sesuai saran Zio tentunya.
Saat sampai dipusat perbelanjaan, El mengajak Asya untuk menuju salah satu outlet yang menjual ponsel. El meminta penjaga outlet untuk mengeluarkan ponsel keluaran terbaru dan terbaik, serta meminta Asya untuk memilih apapun yang ia inginkan.
"Mas, hp aku yang lama gimana?" Tanya Asya.
"Itu gak bisa dipakai, komponen dalamnya udah rusak. Beli baru aja ya" bujuk El. Ponsel Asya sudah tak layak pakai, ia tak ingin istrinya kesulitan nantinya karena ponsel tersebut.
"Mas El kan hp nya dua, buat aku satu aja" pinta Asya.
El menolak, tentu ia tak bisa melakukan hal itu. Karena salah satu ponselnya hanya ia gunakan untuk bisnis, sedangkan ponsel yang lain untuk kehidupan pribadinya. Dan ponsel yang Asya pegang adalah ponsel pribadi El.
__ADS_1
Asya mencoba mengerti, ia berkata akan menerima apapun ponsel yang akan dibelikan oleh El. Setelah mendapat persetujuan, El tentu membelikan ponsel terbaru dan terbaik untuk sang istri. Ia bahkan menawarkan Asya dua ponsel jikalau sang istri menginginkannya.
"Satu aja Mas" jawab Asya. Ia sebenarnya merasa senang mendapat ponsel baru, tapi ia begitu menyayangi ponsel lamanya.
"Kita nonton yuk" ajak El antusias.
Asya menatap El dengan aneh, antusias El membuatnya sedikit curiga, namun kebahagiaan itu mengalahkan rasa curiga. Dengan senang hati Asya tentu menerima ajakan El, terlebih ada film romansa baru seperti yang dikatakan oleh Jihan dan Gita.
"Lihat yang romance ya Mas" pinta Asya. El mengangguk dan mengikuti langkah Asya menuju bioskop, mengantri tiket dan makanan ringan.
El sedikit menjauh dari Asya dan keramaian, karena harus menerima telepon dari Zio. Zio mengabari jika pertemuannya dengan klien sukses, dan juga kembali mewanti-wanti El agar melakukan sesuai dengan apa yang ia katakan.
Selesai menelepon El hendak menghampiri Asya, namun langkahnya terhenti. El menatap istrinya yang sedang berbincang dengan temannya. Senyuman lebar diwajah Asya, membuat El mengurungkan niat untuk mendekat. Tetapi, tangan Nando yang berada dikepala Asya, membuatnya marah. Ia berusaha menahan amarah itu.
Cukup lama El menunggu, hingga film akan dimulai, barulah ia berjalan mendekati Asya. Asya yang berdiri seorang diri menatap El.
"Mas El neleponnya lama banget sih, ayo udah mau mulai filmnya" ajak Asya seraya menarik tangan suaminya. El tidak mengatakan apapun, ia hanya mengikuti Asya.
Mereka berdua masuk kedalam teater dan menuju tempat duduk mereka. Takdir yang menyebalkan, tempat duduk El dan Asya berada tepat didepan tempat duduk teman-teman Asya. El mengetahui itu, namun Asya tak melihatnya, karena gadis itu sibuk dengan barang bawaannya.
Asya duduk disamping kiri El. Ia menaruh semua makanan disekitarnya. Menatanya sedemikian rupa, agar mudah mengambilnya. Tanpa peduli dengan El yang menatapnya sedari tadi.
"Semua makanan ini hanya untukmu?" Celetuk El mengagetkan Asya.
Asya menoleh dan tertawa, ia benar-benar lupa sekitarnya jika sudah melakukan hal yang ia sukai. "Mas El mau?" Tanya Asya dengan nada yang manis.
El mengelus kepala Asya, "Tidak, semuanya untukmu" ucapnya lalu mengecup kening Asya.
Lihat saja, beraninya pria itu menyentuh istriku. Aku tidak pernah rela jika Asya disentuh oleh pemuda brengsek itu, batin El sembari menatap istrinya.
Lampu bioskop mulai dipadamkan, beberapa iklan ditayangkan sebelum film dimulai.
El tampak memalingkan tubuhnya kehadapan Asya. Mengedip-kedipkan matanya seolah ada sesuatu yang masuk kesana. Spontan saja Asya mendekatkan jarak mereka, meniup mata El pelan, terlihat dari belakang seolah mereka sedang berciuman.
"Udah gak apa-apa kan Mas?" Bisik Asya seraya memegangi pipi El karena refleks. El mengangguk, mengalihkan tangan Asya dari pipinya lalu kembali duduk seperti semula.
......***Jangan lupa mampir di ceritaku yang lain ya, Lebih Berwarna dan Because I'm Ratu.........
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca......
...lope lope Kakak...🥰🥰***...