
El yang merasa dirinya diabaikan, mencoba memikirkan cara lain agar Asya memperhatikan dirinya. Ia menarik pinggang Asya dengan kasar hingga membuat gadis itu menoleh karena terkejut. Detik kemudian El tak segan melu mat singkat bibir Asya di depan teman-temannya.
"Mas El, banyak orang loh" ujar Asya seraya mendorong suaminya menjauh.
"Siapa suruh kamu mengabaikan ku? Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini sayang"
"Jangan kayak anak kecil deh"
"Balik ke hotel yuk sayang, capek nih" rengek El seperti anak kecil.
Asya menaikkan alisnya, kelakuan sang suami memang aneh. El terus memaksa agar mereka kembali ke hotel, dengan dalih jika dirinya merasa lelah. Asya ingin menemani Jihan, tapi El sudah memasang wajah cemberut bahkan sebelum Asya mengatakan keinginannya.
Di dalam kamar hotel....
El memandangi istrinya yang tengah menelepon Mamanya. Padahal ia selalu dah tidak bisa menahan lagi, ingin berduaan bersama dengan Asya. Namun karena Airin yang menelepon, El mencoba menahan keinginannya sesaat.
"Mas El, aku mau pulang" celetuk Asya yang langsung membuat El terperanjat dari tempat tidur. Pemuda itu segera berdiri dan berjalan menghampiri Asya. Memastikan pendengaran nya sekali lagi.
"Sayang, kamu bercanda kan? Aku udah nyiapin semuanya loh, massa harus dibatalkan lagi? Aku bukan masalah uangnya, tapi kan kita..." ocehan El terhenti kala melihat air mata menetes dipipi istrinya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi jika melihat Asya menangis, sudah pasti El akan menurutinya.
"Maafkan aku Mas El"
"Aku akan mencoba mengerti, jelaskan alasannya!!"
"Hm... a..an..u Mas, Gita, dia, Mas El aku sudah mencoba melupakan dia.."
Asya yang bingung dengan perasaannya mencoba menjelaskan pada El. Ia sudah mencoba mengabaikan semua tentang Gita, apapun itu. Namun, karena pertemanan mereka yang begitu lama, Asya tentu masih memiliki rasa empati.
"Bagaimana aku bisa diam Mas, jika Gita mencoba mengakhiri hidupnya?"
El tak terkejut sama sekali, ia malah menghembuskan napasnya kasar. Ia menarik Asya dalam dekapannya, mengelus lembut rambut gadis itu. Sebenarnya, El merasa kecewa, kenapa selalu orang lain yang menjadi prioritas Asya dan bukannya dirinya. Kenapa kebahagiaan mereka selalu berada setelah kebahagiaan orang lain.
Pemuda itu berbaring di tempat tidur, meminta Asya untuk tidur juga karena besok mereka akan pulang. Tak ada pembahasan apapun, El terlanjur kecewa.
"Mas El, maafkan aku"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, tidurlah. Aku lelah"
Asya mencoba memeluk El, namun pemuda itu malah tidur dengan memunggungi Asya. Hati Asya semakin berkecamuk dan bimbang, sudah sewajarnya jika El marah padanya. Namun jika seperti ini, Asya tak bisa menahannya, ia tak ingin El jauh darinya.
Setelah mematikan lampu, Asya mencoba menarik perhatian suaminya. Ia berpindah tempat dengan tidur di sisi lain El.
"Ku mohon, aku butuh Mas El" lirih Asya kala El mencoba untuk memutar arah tidurnya.
"Tapi kau tidak pernah memikirkan ku"
"Mas, bukannya aku tidak memikirkan Mas El. Kita bisa merencanakan semuanya lagi kan? Karena kita selalu bersama"
"Asya aku lelah, biarkan aku tidur"
Dingin. Sikap El sangat dingin, itu yang Asya rasakan. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk menyakiti suaminya. Asya hanya tak bisa membiarkan sesuatu yang terjadi di sekitarnya begitu saja. Ia peduli dengan semuanya, siapapun itu.
Melihat El yang tidur berpaling darinya sekali lagi, membuat hati Asya sakit. Ia bangun dari tidurnya dan pergi menuju sofa untuk melihat pemandangan kota di malam hari. Ia tahu El sudah menghabiskan banyak uang sekali lagi untuknya, tapi bagaimana? Hati Asya juga tak tenang.
Tetesan air mata kembali jatuh dipipinya. Rasa penyesalan itu muncul di hati Asya.
"Maafkan aku Mas, aku tidak bisa menjadi istri yang baik. Aku bangga berdiri disamping Mas El, tapi jika ada wanita yang lebih baik dariku. Aku akan merelakan semuanya, aku tak ingin menyakiti Mas El lagi" lirih Asya dalam tangisnya.
"Apa yang kau katakan sayang?" Ujar El yang sudah duduk disamping istrinya.
"Mas El, aku bukan istri yang baik"
"Sayang, tidak ada yang lebih pantas menjadi Nyonya El selain dirimu. Dan kau adalah istri terbaik"
"Maaf Mas"
"Asya, aku memanjakan mu untuk membahagiakan mu bukan orang lain"
El mendudukkan istrinya dalam pangkuan. Ia memeluk erat Asya seraya menjelaskan beberapa hal. El hanya ingin Asya merubah bagaimana cara dia berpikir. Bukan untuk selalu mementingkan urusan orang lain, kebahagiaan El juga Asya, sangatlah penting. El ingin istrinya menjadi wanita paling bahagia di dunia ini, dengan semua yang El berikan padanya.
Penjelasan El malah membuat Asya semakin menangis, ia merasa gagal memahami semuanya. Layaknya El yang ingin mencoba berubah, Asya juga harus merubah pemikirannya. Bukan menggantikan dirinya dengan wanita lain dalam hidup El.
__ADS_1
"Mas El, yang bawah bangun ya"
"Eh, kamu kerasa? Maaf ya sayang, kamu tahu sendiri kan kalau..."
Belum saja El menyelesaikan perkataannya, Asya sudah melu mat bibir suaminya. El tentu tak tinggal diam, ia membalasnya dan mengangkat sang istri untuk pindah ke atas kasur. Tangan Asya sudah mulai membuka kancing baju suaminya.
"Pinter ya sekarang, tahu gimana caranya biar aku gak marah" ujar El.
"Kan aku Nyonya El" balas Asya seraya memutar posisi mereka. Kini ia berada diatas El dan duduk sejenak disana.
El bangun dari tidurnya sambil tertawa kecil.
"Kau tidak semahir itu Nyonya, biarkan aku yang memimpin" ucap El kembali membalikkan posisi mereka. Ia mulai melucuti pakaian istrinya, dan kembali mematikan lampu kamar yang masih menyala.
Malam itu, suara cinta mereka terdengar begitu nikmat.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Esok hari menjelang....
Asya bergerak-gerak didalam selimutnya, seraya meraba-raba tubuh suaminya.
"Nyonya El kau sudah bangun?"
"Hm... morning kiss" jawab Asya seraya mengecup singkat bibir suaminya.
Keduanya saling berpelukan erat dibawah selimut tebal itu. Asya mulai menggeliat kala El menggelitik tubuhnya.
"Sekali lagi ya? Kan kita mau pulang" pinta El.
"Baru bangun juga, Mas Ini ya nakal banget deh"
"Dikamar mandi aja deh, sambil berendam"
"Mas, kamar mandi dirumah kita kasih bathtub dong, yang besar sekalian"
__ADS_1
"Buat apa? Sekalian aja kolam renang, biar kamu belajar renang. Lagian nanti kamu malah kesenangan di dalam kamar mandi"
Asya berpura-pura marah dengan memalingkan tubuhnya dan memasang wajah cemberut. El yang melihat malah menggendongnya masuk kedalam kamar mandi. Mereka harus menghabiskan waktu bersama sebelum pulang kerumah. Sebab El merasa perhatian Asya pasti akan terbagi dengan orang-orang rumah.