
Setelah berbincang cukup lama dengan keluarga besar, Asya meninggalkan si kembar agar bermain dengan Kakek Neneknya. Sedangkan ia berada di kamar dengan El tentunya.
"Mas, jalan-jalan yuk. Anak-anak pasti ingin melihat kota ini"
"Hm.. mereka tidak menyukaiku, kita berkencan berdua saja"
"Mas El ih, anak kita masih kecil, mereka belum dewasa"
"Kau menghabiskan banyak waktu dengan mereka. Padahal kau janji tidak akan melupakan ku"
"Karena itu aku kembali, Mas El masih saja kekanakan. Aku akan membuat makanan untuk anak-anak dulu"
El menarik istrinya dalam dekapan. Padahal baru beberapa hari lalu mereka menghabiskan waktu bersama. Melihat sang istri dihadapannya, El tak bisa menahan ingin bermesraan bersama sang istri. Ia langsung saja melu mat bibir Asya dengan penuh cinta. Tangannya sudah mulai menari-nari ditubuh sang istri.
Asya mencoba meronta, namun El masih tak terkalahkan seperti dulu.
"Mas, kita udah punya anak dua loh. Jangan nakal gini ah"
"Terus kenapa kalau anak kita dua? Kita kan masih muda, gak apa-apa lah nakal dikit"
"Eh, Mas El mau punya anak lagi? Mau cewek dong aku Mas"
"Jangan macam-macam, minum saja pil KB itu. Aku tidak mau menambah musuh lagi"
"Anak Mas bukan musuh"
"Aku tak mau waktuku bersamamu berkurang. Kau mau aku kembali pada wanita lain seperti dulu?"
Setelah mendengar ancaman El, mata Asya terbelalak lebar. Ia merasa kesal dan mencubit hidung suaminya. Pemikiran bodoh itu, tentu Asya tak akan membiarkannya.
Tak berselang lama mereka berduaan, ketukan pintu dikamar mereka berbunyi. Kai dan Key tak ingin berlama-lama dengan kakek neneknya. Mereka merengek ingin bersama dengan Asya. Kini si kembar tengah duduk diantara El dan Asya. Dengan wajah kesalnya, mereka menceritakan betapa berisiknya kedua Kakek nenek mereka.
El menyetujui hal tersebut, sedangkan Asya mencoba membuat anaknya mengerti. Sifat dan sikap mereka sangat mirip dengan El. Itu adalah hal yang tak bisa Asya pungkiri. Kini bagaimana hidupnya harus mengurus tiga El sekaligus.
__ADS_1
"Bunda, kita tinggal saja di hotel. Aku tidak ingin tinggal disini" ujar Kai.
"Tentu saja sayang, kalian kita akan tinggal dirumah Ayah. Ayah juga tidak suka disini, mereka berisik"
"Mas El, jangan seperti itu. Kita tinggal..."
"Aku setuju dengan Ayah, Bunda. Kita tinggal saja dirumah Ayah" sela Key.
Asya menatap ketiga pemuda yang kini menatapnya dengan penuh keyakinan. Mereka berusaha meyakinkan Asya agar pergi dari rumah Adhitama. Tapi gadis itu menolak tanpa mau mendengarkan alasan apapun. Walau begitu, ia merasa senang sebab kedua putranya bisa dekat dengan El. Meski kedekatan mereka karena maksud tertentu.
"Bunda lupa, kalian belum makan siang. Bunda masakan sesuatu ya"
"Tidak, aku mau burger. Ayah, ayo kita makan diluar saja" rengek Key.
"Bunda bisa buat burger untuk kalian"
"Gak mau, mau pergi jalan-jalan. Ayo Ayah, mau jalan-jalan" rengek Kai. Ia dan Key terus memaksa El, menarik pakaian sang Ayah dengan begitu manis.
Asya tak bisa menyembunyikan bahagianya. Si kembar terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Ia mencoba masuk diantara ketiga lelaki itu. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Kai dan Key memang selalu seperti itu, terkadang marah pada El, tetapi tetap saja, mereka tak bisa jauh dari El.
"Ayah harus mengajak kami jalan-jalan agar kami tidak marah lagi" jawab Kai.
"Kalian memang mirip Ayah kalian, sangat. Si kecil Bunda sini, ayo kita pergi"
Key yang merupakan anak bungsu, merasa terpanggil. Ia bangkit dari pelukan El dan berjalan menghampiri Asya. Mungkin pada awalnya mereka kesulitan membedakan antara Kai dan Key. Tapi ada perbedaan kecil dalam wajah mereka, Key memiliki tahi lalat kecil tepat di pucuk hidungnya. Bahkan El juga terkadang kesulitan jika tidak melihat hidung mereka.
"Kalian mau punya adik bayi gak?" Tanya Asya penasaran.
Dengan kompak, si kembar menolak. Asya tentu saja penasaran dan menanyakan alasan mereka menolak memiliki adik bayi.
"Aku gak mau kalau Bunda lebih sayang dan perhatian ke dia" jelas Kai.
"Iya aku juga gak mau. Aku mau Bunda cuma sayang aku" imbuh Key.
__ADS_1
Asya memandangi El yang tengah menahan tawanya. Si kembar sangat mirip dengan Ayahnya, entah apa yang El lakukan hingga si kembar memiliki pemikiran seperti ini.
Tidak ingin berdebat lama, Asya mengajak mereka semua untuk pergi. Karena mereka belum makan siang, padahal niat Asya ingin makan bersama keluarga. Tapi karena El dan si kembar menolak, mereka akan pergi makan keinginan ketiga pemuda nakal itu.
Sebenarnya beberapa orang ingin ikut, namun El dengan tegas menolaknya. Ia bilang ini acara makan keluarga kecilnya. Tak ada yang berani menentang keputusan El, sebab pemuda keras kepala itu hanya akan melakukan apa yang ia inginkan.
"Sayang, nanti malam kalian ikut sama Kakek Nenek ya. Kai ikut sama Kakek Adhitama, dan Key ikut sama Kakek Dirga, oke?"
"Aku gak mau Bund" jawab keduanya bersamaan.
"Tidak apa-apa, hanya satu malam. Besok, Ayah akan jemput kalian dan kita jalan-jalan lagi ya. Ayah akan belikan apapun yang kalian inginkan, mainan yang banyak"
"Ayah janji ya" pinta Kai.
"Tidak. Mas jangan manjakan mereka. Selalu saja seperti ini, mainan mereka sudah banyak Mas. Tidak perlu lagi"
"Aah Bundaa, kan Ayah yang mau bukan kita" rengek Key.
Asya menatap suaminya dengan tatapan mematikan. Mau bagaimana lagi, hanya memanjakan sang anak yang bisa El lakukan. Ia tak memiliki banyak waktu untuk si kembar, sebab itulah El selalu memberikan apapun yang diminta si kembar.
Hal itu membuat Asya kesulitan, karena si kembar menjadi manja dan banyak maunya. Asya harus memarahi mereka agar tak minta ini dan itu.
"Kenapa kalian sangat menyayangi Bunda? Padahal Bunda pasti sering marah kan kalau kalian minta sesuatu?" Tanya El penasaran.
"Aku tidak tahu Ayah, aku sangat menyayangi Bunda. Seperti apapun Bunda, Bunda yang terbaik" jawab Kai.
"Aku juga sayang Bunda, sangat menyayangi dirinya. Bunda, I love you" sahut Key.
"I love you too, sudah duduk yang manis"
Tinggal diluar negeri sejak lahir, membuat Kami dan Key begitu fasih menggunakan bahasa Inggris. Walau Asya juga sering membiasakan mereka menggunakan bahasa kedua orangtuanya, tetap saja interaksi disana menggunakan bahasa internasional. Tapi, saat berbicara dengan Asya, mereka memastikan untuk menggunakan bahasa tanah kelahiran Bundanya.
"Ayah punya ide, bicara saja menggunakan bahasa Inggris. Kakek dan nenek kalian pasti akan menyerah mengajak kalian berbicara"
__ADS_1
"Mas El, jangan mengajarkan yang tidak-tidak. Kai, Key, jangan seperti itu, atau Bunda akan marah"
Kai dan Key sangat menyetujui ide sang Ayah, tapi jika ancamannya adalah kemarahan Bunda, mereka lebih baik mendengarkan perkataan Kakek Nenek.