
Tiba-tiba saja Asya menjambak rambut suaminya, ia merasa begitu kesal karena El diam saja saat didekati oleh wanita aneh itu.
"Dia, wanita yang pernah ku ceritakan padamu"
Asya mencoba berpikir, rasanya El tak pernah menceritakan mengenai wanita lain selain masalalunya yang kelam itu. Ah, rupanya wanita itu adalah masalah yang datang diantara El dan Zio dahulu.
"Mas jangan lupa ya, kalau berani macem-macem aku bakal pergi dari rumah"
"Iya sayang, maaf, khilaf"
El melajukan mobilnya pulang kerumah. Asya segera keluar dan terus memandangi rumah tetangganya. Saat dikamar pun gadis itu masih terus memandangi rumah tetangga sebelahnya tersebut. Rasa khawatir tanpa alasan datang begitu saja dalam pikirannya.
"Sayang, kamu masih marah?"
"Gak Mas, aku lagi, oh.. dia pulang"
El menoleh keluar jendela, memandangi sosok pemuda yang turun dari mobil dan membuka pintu gerbang. Ia sejenak menatap Asya, ada amarah dalam mata istrinya. Pastilah pemuda itu yang menampar Asya, tapi wajahnya tampak familiar untuk El. Sepertinya El dan Dimas pernah bertemu sebelumnya, walau El tak mengingat jelas dimana.
"Dasar, laki-laki jahat"
Sejenak El terdiam, ia mulai membayangkan jika Asya mengetahui semua yang dilakukannya selama ini, pasti rasa benci istrinya akan lebih besar. Dan pasti Asya tak akan ragu untuk pergi meninggalkan rumah El.
"Mas, apakah aku harus memberitahu istrinya?"
"Tidak Asya, jangan ikut campur urusan mereka"
"Tapi Mas, bagaimana jika suatu hari nanti anak perempuan kita diperlakukan sama seperti ini? Aku tidak akan terima"
"Maafkan aku Asya, aku juga menyakiti mu"
Asya memeluk suaminya, ia mencoba menenangkan El. Karena dirinya mengerti dan memahami masalalu El yang buruk, tapi Asya sangat yakin jika suaminya telah berubah.
Perasaan El berkecamuk, ada rasa takut, takut jika Asya mengetahui suaminya masih belum berubah. Tapi El sudah bertekad untuk berubah dan menutupi semuanya dengan segala cara. Ia sudah yakin akan menutup kebiasaan buruknya demi Asya. Entah sudah berapa kali El bertekad, dan sudah berapa kali ia selalu melanggar nya.
Setelah pengintaian singkat itu, Asya mengajak El untuk segera tidur karena hari sudah sangat larut malam.
......\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=......
__ADS_1
Esok hari....
Asya terbangun dari tidurnya karena bunyi alarm yang begitu nyaring. Ia membuka mata dan mengedarkan pandangannya. Jam masih menunjukkan pukul empat pagi, tapi El sudah tidak ada diatas kasur. Ia pun keluar kamar dan mencoba mencari keberadaan suaminya.
Langkah kecil Asya mulai menyusuri rumah yang sepi itu. Ia masih tak menemukan keberadaan El disana. Ia pun mencoba memeriksa kamar tamu, perlahan ia membuka pintu agar tak menimbulkan suara.
"Astaga" gumam Asya terkejut.
El sedang tertidur disana, dengan tontonan dewasa di televisi. Ada begitu banyak tisu berserakan, dan yang membuat Asya lebih terkejut lagi, ia melihat milik suaminya yang mencuat dari dalam celana El.
Asya tertawa melihat hal tersebut, El memang aneh. Sebenarnya El hanya ingin menyalurkan hasratnya, karena dirinya tak bisa menyentuh Asya dan ia sudah berjanji untuk tidak akan lagi bermain dengan wanita lain. Jadilah El mencari segala cara agar bisa menyalurkan nafsunya. Kini pemuda itu sudah bertekad dengan sungguh-sungguh untuk tidak menyentuh wanita lain selain istrinya.
"Aaahh" erang El yang masih terpejam. Asya yang nakal, ia mencoba mengelus milik suaminya. Bermaksud untuk menidurkan tapi milik El malah semakin menegang dan berdenyut.
Gadis itu mengalihkan pandangannya, menatap film dewasa yang masih tayang. Ia mencoba mempelajari apa yang pemeran wanita itu lakukan untuk memuaskan pemeran pria. Hingga adegan dimana sang wanita memasukkan milik pria itu kedalam mulutnya, Asya segera mematikan televisinya.
"Tidak bisa kalau itu, aku tidak mau" gumam Asya bergidik ngeri. Ia mengelus pipi suaminya, untuk membangunkan El yang tertidur dalam posisi duduk.
"Sayang, kamu udah bangun"
"Kenapa tidur disini? Bosen ya tidur bareng aku?"
Asya sejenak berbaring disamping suaminya, sembari mendekap tubuh El dengan erat. Tangannya tak pernah pergi dari wajah El, bermain dengan indah disana. Sesekali ia cubit pipi dan hidung suaminya. Wajah yang ingin selalu Asya lihat sampai kapanpun.
"Sya, kamu beneran mau punya anak?"
"Iya Mas serius aku"
"Tapi aku gak mau kalau perhatian kamu buat aku berkurang sayang"
"Ih Mas El lucu deh, massa sama anak sendiri cemburu"
El mengeratkan pelukannya, ia ingin menjadi satu-satunya pria yang bisa memiliki Asya. Satu-satunya pria yang mendapat banyak cinta dari istrinya.
Asya bangun dari tidurnya, dan duduk disamping El. Ia mengelus rambut suaminya dan mencium kening El.
"Mas, lagi pingin ya?"
__ADS_1
"Eh, kamu lihat ya sayang? Maaf ya, aku..."
"Makasih ya Mas, makasih untuk tidak mencari wanita lain. Aku sayang Mas El" ujar Asya seraya mengecup singkat bibir suaminya.
El bangun dari tidurnya, Asya sudah membangunkan hasratnya lagi. Istri kecilnya ini memang selalu bisa membuat El tak ingin berpaling darinya. Pemuda itu menarik Asya dalam pangkuannya, bahkan jika tak bisa bermain dengan seluruh tubuh istrinya, bagian atas Asya masih tetap menggoda.
El mulai melu mat bibir istrinya, pagi ini sangat dingin. Ia masukkan tangannya kedalam pakaian Asya dan melepas pakaian dalamnya. Dua gundukan yang menjadi favorit El, ia elus dada istrinya dan meremas kecil.
"Sayang, selesai kamu haid, bulan madu yuk"
"Lagi? Mas kita kan... Iya udah iya terserah Mas El deh" ucap Asya mengalah setelah melihat raut wajah sedih suaminya.
Asya memakai kembali pakaiannya dan mulai mengerjakan pekerjaan rumah. Sedangkan El ia kembali berbaring diatas tempat tidur. Hari masih terlalu pagi untuknya bangun dan beraktivitas, mengingat dirinya tidur larut karena harus memeriksa laporan.
Gadis itu membersihkan seluruh rumah seperti biasanya, lalu menyiapkan sarapan untuk suaminya. Sebelum itu, Asya belanja terlebih dahulu, ia memborong banyak bahan makanan. Karena dirinya ingin memasak lebih untuk dibagikan pada orang yang kelaparan.
Memang tanpa sepengetahuan El, Asya selalu mengadakan makan besar setiap dua Minggu sekali. Membagikan makanan pada orang-orang yang kelaparan seperti pengemis, anak-anak jalanan. Tapi Asya tak pernah membawa mereka masuk kedalam rumah, ia akan menggelar tikar dan makan di teras depan.
Karena Asya tidak memberitahu El, sebab ia yakin suaminya akan marah. El memang tak suka pada kebiasaan Asya yang selalu memperhatikan orang lain.
"Non Asya borong lagi nih, mau adain makan-makan besar lagi ya" ujar salah satu asisten rumah tangga.
"Iya Mbak, karena ada rejeki"
"Nyonya saya tertarik dengan kegiatan Non Asya, apa beliau boleh ikut membantu?"
"Tentu saja, silahkan datang kerumah saya. Bukankah lebih banyak yang membantu akan lebih baik? Hehehe"
Kreeeekkk.......
Suara pintu gerbang terbuka, asalnya dari rumah sebelah rumah Asya. Seluruh mata menatap sejenak lalu kembali memalingkan pandangan mereka. Gosip kembali dimulai disana, mengenai Dimas yang sudah beberapa kali kepergok pergi dengan wanita lain.
"Saya kasihan sama Mbak Kinan, suaminya jelas-jelas selingkuh tapi beliau tidak tahu"
"Iya, saya juga pernah memergokinya"
"Padahal istrinya lagi hamil besar, huh geram saya"
__ADS_1
"Ibu-ibu sudah, lanjutkan belanjanya saja" potong penjual sayur.
^^^Jadi, bukan cuma aku?, batin Asya.^^^