
"Hm.." Asya bangun dari tidurnya. Ia tertidur setelah lelah menangis semalaman.
Matanya menatap ruangan sepi itu, El tak terlihat dimanapun. Gadis itu kembali memiringkan posisinya ke sisi berlawanan. Rasa malas menahannya untuk bangun dari tempat tidur.
"Aaah, oppaaa" teriak Asya. Ia terperanjat dari tempat tidur, mendapati semua poster dan barang tentang idolanya berada di atas kasur. Kegembiraan datang diiringi senyuman lebar Asya. Ini adalah barang yang ada di kamarnya, barang kesayangannya.
Kaki kecil itu berlarian memanggil nama suaminya. Asya tak bisa menahan kebahagiaan itu, ia berlari tanpa memedulikan apapun lagi.
Bbukkk.... bbuukk... bbukkk
Terlalu senang membuat Asya lupa jika ia sedang menuruni tangga, alhasil ia terjatuh dengan pantat yang terbentur tangga hingga lantai dasar. Terdengar suara tawa Zio menggema, hingga ia menyemburkan air minum di mulutnya.
Asya menggosok-gosok pantatnya yang sakit karena benturan itu.
"Eeelll, Elll" panggil Zio sambil tertawa terbahak-bahak. El bergegas masuk kedalam rumah, ia menatap Asya yang terduduk dilantai.
"Kenapa?" Tanya El bingung. Zio yang masih tertawa mencoba menjelaskan pada El kronologinya. Kejadian itu membuat El tersenyum kecut.
"Kenapa lari-lari?" Tanya El lagi seraya menggendong tubuh Asya.
Asya yang masih menahan sakit masih belum mengatakan apapun. El menaruh tubuh istrinya diatas sofa dalam keadaan tengkurap. "Ahh" teriak Asya ketika El menghempaskan tubuhnya ke sofa.
El menatap istrinya, ia tak tahu harus berbuat apa. Sedangkan Zio masih saja sibuk tertawa.
Cup...
__ADS_1
Suara kecupan singkat di pipi El. Asya memeluk El sangat erat, diiringi lompatan kecilnya di sofa. Sekali lagi Zio menyemburkan air di mulutnya, pemandangan yang baru.
Mata El terbelalak lebar, tetapi ia masih diam membiarkan Asya yang mengoceh bahagia. Tak henti-hentinya gadis itu berterimakasih serta memuji betapa baiknya El karena telah membawa poster idolanya.
Zio dan El saling bertatapan, hal itu membuat El segera menjauhkan Asya darinya. Senyuman lebar di wajah Asya dengan mata yang sembab. "Mas El baik banget sih, makasih ya" ujar Asya dengan nada manisnya. El mengangguk lalu duduk diatas meja. Ia juga menyuruh istrinya untuk duduk diam.
Setelah melihat wajah istrinya berseri karena bahagia, El mulai bertanya, alasan Asya bekerja. Dengan polos dan pemikiran remajanya, gadis itu menyebutkan semua hal yang ia butuhkan. Membeli skincare, baju, tak lupa juga barang-barang yang berhubungan dengan idolanya. Ia menghabiskan lebih banyak uang untuk idolanya tersebut.
"Kakak ipar, kenapa kau menghabiskan banyak uang untuk seseorang yang bahkan tidak tahu tentang keberadaan mu?" Sela Zio.
"Tapi kan Adik ipar, mungkin saja suatu hari nanti kami dapat bertemu" jawab Asya lirih. Itu adalah kenyataan pahit yang tidak bisa dipungkiri.
"Tenang, kau tidak perlu bekerja lagi, suamimu ini akan memberimu banyak uang, apapun yang kau mau dia akan membelikannya. Benar kan Presdir?" Goda Zio seraya menarik turunkan alisnya.
Asya senang mendengar hal itu, ia tertawa sembari menutup mulutnya. Kejutan yang hebat.
"Mas El, aku mau minta sesuatu" lirih Asya ragu. El tak menjawab, ia menunggu apa yang hendak istrinya sampaikan.
"Aku gak mau berhenti kuliah, Mas El mau gak bujuk Papa? Papa pasti mau dengerin Mas" sambung Asya.
"Iya, aku yang akan biayain pendidikan kamu. Dengar ya, apapun yang kamu mau atau apapun yang ingin kamu lakukan, bilang ke aku. Kamu harus mendapatkan ijinku bukan Papa, ngerti?" Jawab El tegas.
Air mata Asya perlahan mengalir, ia bahagia mendengar semuanya. Suami yang mendukung dirinya, walau kadang terkesan tidak peduli. Asya selalu menganggap jika semua hal yang Papanya pilihkan hanya akan menyakiti dirinya. Tetapi, suami pilihan Papa, Asya mulai menyukainya. Sosok El yang menyayangi Asya tanpa batasan. Walau itu bukan kasih sayang, tapi perbuatan El sangat menyentuh hatinya.
"Sayang Mas El, aku janji bakal jadi istri yang baik" ujar Asya seraya duduk dipangkuan El dan memeluknya.
__ADS_1
El mengangguk singkat, lalu berdiri menjatuhkan istrinya di sofa. "Ipah dan Agus hari Minggu libur, jadi kamu yang masak sana" sahut El lalu kembali ke halaman belakang melanjutkan olahraganya.
"Siap bos" sahut Asya segera bergegas menuju dapur. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Asya mulai berkutat dengan bahan makanan disana. Zio memandangi Kakak iparnya, ia tak yakin jika Asya bisa memasak.
Mengingat Asya berasal dari keluarga kaya, pastilah jarang menyentuh pekerjaan rumah. Walau nyatanya Zio tahu Asya pernah bekerja di kafe, tapi hal itu tidak mematahkan pendapatnya mengenai Asya. Terlebih Asya masih begitu muda dan anak kekinian.
Cukup lama Asya berada di dapur, hingga El sudah selesai dengan olahraganya dan duduk berbincang dengan Zio di meja makan.
"Di meja makan gak boleh ngomongin kerjaan" sela Asya mulai menata masakannya. Satu persatu masakan Asya keluarkan, aroma wanginya menggoda perut kedua pemuda itu.
Asya melayani El seperti biasa, mengambilkan makanan dan minuman untuk El. Ia juga tak lupa melayani Zio. "Biar dia ambil sendiri, kamu makan" ucap El menarik tangan Asya untuk duduk.
Gadis itu menolak, ia ingin mandi dahulu sebelum makan, tapi El malah melarangnya. Ia tak ingin Asya kelaparan dan jatuh sakit jika telat makan. Itu hanya sebuah alasan, sebenarnya ia ingin Asya menemaninya makan. Walau ada Zio, El merasa seolah sedang makan sendiri, dia merasa kesepian.
Karena paksaan El, Asya akhirnya duduk dan makan bersama mereka. Zio begitu lahap, ia memuji betapa enaknya makanan Asya. "Wah Kakak ipar, aku pikir kau tidak bisa memasak, ini sangat enak, sungguh. Benar kan El?" Puji Zio heboh.
El hanya menanggapinya dengan berdehem. Ia hanya fokus pada makanannya. Tak sedikitpun ia memuji atau mencoba berbincang dengan istrinya. Ia malah bersikap seolah pendengar diantara Zio dan Asya yang mengobrol ria.
Zio sudah biasa, El memang seperti, tak akan bicara jika tak ada hal yang penting. Tapi ada kalanya El akan lebih banyak bicara ketika mereka membahas hal yang disukai oleh El. Seperti sepak bola, pekerjaan, gym, saham dan beberapa hal lain yang menurut El bermanfaat untuk kehidupannya.
"Kakak Ipar, belanja yuk, pasti suka deh jalan-jalan ke mall. Aku temenin, buat menghilangkan penat" ajak Zio bersemangat.
"Mas El ikut kan?" Tanya Asya seraya memandangi El. Pemuda itu menggeleng.
"Kalau Mas El gak ikut, lain kali aja deh. Aku mau nemenin Mas El dirumah aja. Kantor libur kan?" Sambung Asya sembari masih menatap El. Pemuda itu mengangguk.
__ADS_1
"Bisu nih anak emang" celetuk Zio yang geram dengan sikap El.