
Didalam mobil, Asya masih saja termenung menatapi jalanan. Walau El sudah mencoba mencari berbagai topik untuk ia bicarakan, tetap saja sang istri bungkam.
"Suatu saat nanti, Mas El juga akan pergi dariku kan?"
"Omong kosong macam apa itu"
"Karena Mas El juga pilihan Papa, Mas El juga membawa luka. Apa aku terlahir untuk disakiti?"
Sekali lagi El tidak memiliki jawaban atas pertanyaan sang istri. El membawa Asya untuk menginap ke hotel terdekat, hari sudah mulai larut dan perjalanan mereka masih lumayan jauh. Asya masih saja termenung, bahkan setelah El memesankan berbagai macam makanan Korea kesukaannya.
El berlutut dihadapan istrinya, menggenggam tangan Asya dengan sangat erat. Permintaan maaf terlontar dari bibir El, kata penyesalan tak luput ia ucapkan. Namun hal itu masih tak merubah apapun, Asya masih kalut dalam emosinya.
"Sayang, aku gak akan ninggalin kamu. Serius"
"Sekarang Mas El bisa ngomong gitu, tapi nanti? Suatu hari nanti gimana?"
El membaringkan tubuh istrinya diatas kasur, menyelimuti Asya dan mintanya untuk tidur. Hari sudah malam, ia tak ingin melihat istrinya menangis kelelahan.
Setelah menemani Asya, hingga gadis itu tertidur, El pergi keluar kamar. Ia pergi menuju restoran untuk makan malam. Hanya sebentar El berada di restoran ia lalu pergi ke ruang VVIP di hotel tersebut. Bar khusus untuk para member.
Suasana club yang El rindukan, selama beberapa hari ia tak bisa datang dan minum-minum disana.
El hanya minum dua gelas untuk menenangkan pikirannya. Sembari menatap sekitar, mencari pelampiasan. Ada banyak wanita dengan gaun seksi disana. Seorang wanita dengan pakaian ketat, menghampiri pemuda itu. Bentuk tubuh yang El sukai.
Wanita itu melingkarkan tangannya di pundak El, dan tangan yang satunya, sudah berada dipaha El. Tak mungkin El bisa menolak godaan seperti ini. Tangannya sudah masuk kedalam pakaian sang wanita. Mengelus dan meremas pan tat wanita yang tak ia kenali tersebut.
Disaat seperti ini, ia melupakan semua janjinya pada sang istri.
El mengajak wanita itu untuk pergi keruangan, ia menarik sang wanita agar duduk dipangkuannya. Seorang profesional tahu benar bagaimana cara memuaskan. Tubuhnya menggeliat diatas pangkuan El.
El menyingkap dress ketat itu, ia menarik tubuh sang wanita agar semakin dekat dengan miliknya. Ah, kenikmatan yang El cari. Ia mulai melucuti semua pakaian sang wanita, sejenak memperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah. Setelah itu ia menarik lagi wanita itu dalam pangkuannya.
Gunung kembar kesukaan El, ia senang sekali bermain disana. Menghisap dan menggigitnya kecil. Walau suara desa han wanita itu tak semerdu milik istrinya. Wanita itu berusaha membuka pakaian El, tapi pemuda itu menolak. Hanya Asya yang boleh melihat tubuhnya, hanya sang istri tercinta.
"Aah, anda curang tuan, saya sudah menunjukkan semuanya"
"Hanya istri ku yang boleh melihat tubuhku"
"Anda akan membuatnya terluka, jika dia mengetahui hal ini"
__ADS_1
"Kau benar, mari kita selesaikan dan aku akan segera pergi menemuinya"
El kembali memainkan dada wanita itu. Dan wanita itu kembali menggeliat penuh gairah, El bisa merasakan miliknya yang terbangun dari tidur. Padahal saat bersama Asya, miliknya tak pernah tertidur. Hanya dengan menatap Asya, ada dorongan dalam diri El, istrinya memang luar biasa.
Setelah puas bermain, El memberikan sejumlah uang dan merapikan pakaiannya kembali.
"Tuan, aku rasa anda sangat mencintai istri anda. Jangan buat dia terluka karena kebiasaan ini, atau anda akan menyesal jika dia pergi suatu hari nanti"
"Kau benar, terimakasih atas saranmu"
Perbincangan singkat itu, tak bisa merubah kebiasaan El. Ia masih tak bisa mengendalikan sikapnya. Walau kini ia berhasil menyembunyikannya dari Asya, bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti istrinya akan mengetahui semua yang El lakukan hari ini.
"Mas El darimana?"
"Sayang, kamu terbangun ya, mau makan?"
Asya menarik El mendekat, ia mengendus bau parfum lain ditubuh suaminya. Seketika raut wajah Asya berubah, ia mulai menerka yang tidak-tidak.
"Habis makan sayang, kan ada banyak orang direstoran. Udah jangan banyak mikir, otak kecil kamu nanti meledak"
"Ih, jahat"
Asya kembali terlelap dalam tidurnya. Tubuh dan pikirannya sangat kelelahan. Entah apalagi yang akan ia jumpai esok hari.
Setelah memastikan istrinya tertidur, El mendial nomor Zio diponselnya. Ia meminta Zio untuk menyiapkan kejutan dirumah. Menghias kamar dan rumah untuk menyambut kepulangan Asya, juga menyiapkan makanan kesukaan istrinya.
Tak lupa, El juga meminta untuk mengundang Jihan dan Gita. Mungkin bersama dengan para sahabatnya, akan membuat Asya merasa jauh lebih baik.
"Siap bos" jawab Zio.
El menutup teleponnya, lalu kembali mendekap sang istri.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Esok hari tiba, El sudah bersiap untuk check out dari hotel. Mereka berjalan beriringan ke arah lobi untuk mengembalikan kunci kamar.
"Tuan" sapa seseorang.
El menatap wanita yang semalam ia temui. Ia mengangguk kecil untuk membalas sapaan itu. Sedangkan Asya, ia menatapnya dengan kerutan dikening. Pikirannya kembali berkelana, wajah yang familiar untuk Asya.
__ADS_1
"Kau, Neisha kan?"
"Oh, Nona Asya, kita bertemu lagi. Aku sudah mencari anda kemana-mana"
Neisha merogoh tasnya, mengeluarkan sejumlah uang yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Uang yang seharusnya ia berikan pada Asya. Wanita itu menatap ke arah El, ia sangat menyesal mengetahui jika El adalah suami dari wanita yang menolongnya dahulu.
"Maafkan aku Nona, aku menyesal melakukannya"
"Apa maksudmu?"
"Tidak apa, aku mohon maafkan aku. Dan ini aku kembalikan uangmu, berikan pada Papa anda. Aku tak ingin beliau menampar anda lagi"
Asya sejenak terdiam, ia bahkan sudah lupa kejadian itu. Uang yang seharusnya Asya bayarkan untuk kegiatan praktikum, malah Asya berikan pada Neisha untuk berobat Ibunya. Gadis itu tak tega karena Ibu Neisha adalah korban tabrak lari. Dan saat itu, Asya ada disana, melihat kejadian tersebut. Karena itulah Asya tak bisa hanya diam saja, ia merasa memiliki tanggungjawab atas hal tersebut.
Namun setelah Ibu Neisha selamat, Asya dimarahi oleh Papanya, ia mendapatkan tamparan di tempat umum. Karena tanpa seijin Dirga, Asya melakukan hal yang tak Papanya sukai.
"Tidak, simpan saja untuk sekolah adikmu. Aku tidak membutuhkannya" ucap Asya lalu pergi meninggalkan Neisha.
"Tuan, kau mendapatkan istri yang luar biasa. Jangan sakiti dia, ada banyak pria yang akan menggantikan mu membahagiakannya" ujar Neisha.
El mengangguk lalu pergi menyusul istrinya. Ia menatap Asya yang tengah berdiri di samping mobil. Menyenderkan kepalanya pada mobil seseorang. El tahu istrinya sedang sedih, tapi sikap konyol Asya tak bisa membuatnya tidak tertawa.
"Maaf Nona, apa yang anda lakukan di mobil saya?"
Asya mendongakkan kepalanya, menatap seorang pria yang bukan suaminya. Seketika matanya terbelalak lebar, ia menoleh dan menatap El yang berada tak jauh dari Asya berdiri. Mobil yang sama, Asya merasa malu, ia segera meminta maaf dan pergi menghampiri suaminya.
El tertawa terbahak-bahak melihat wajah istrinya yang memerah karena malu.
"Mas El ih, nyebelin"
"Loh, kamu sendiri ngapain disana? Massa mobil suaminya sendiri gak tahu"
"Tau ah"
"Cewek aneh"
"Mas El yang aneh"
"Kamu"
__ADS_1
Perdebatan itu terus berlanjut hingga salah seorang security menghampiri mereka berdua.