Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 83


__ADS_3

Asya tengah makan es krim sambil bermain ponsel di atas tempat tidur. El melanjutkan menonton sepak bola di kamarnya sebab ingin menemani sang istri tercinta.


Hanya beberapa menit Asya memainkan sosmed, ia merasa kesal dan menaruh ponselnya diatas meja. Ia lebih memilih makan es krim sambil bersandar di dada suaminya.


"Kenapa sayang?"


"Aku gak ngerti deh Mas El. Kenapa semua hal di sosmed itu sedang ramai perselingkuhan dengan sahabat pasangan kita. Aku jadi inget Jihan"


"Sya, apa kamu pernah melihat Nando sebagai laki-laki idaman?"


"Iya tentu"


"Bagaimana denganku?"


"Hahaha, Mas El? Mas El jauuuuh dari apa yang aku pikirkan. Dalam hal baik kok, soalnya aku gak pernah berharap lebih dari Mas El sih. Kan Mas itu... hihihi"


Asya menghentikan review-nya dan kembali memakan es krim. El yang penasaran terus mendesak Asya mengatakan kelanjutannya. Tetapi Asya tak tertarik untuk membahasnya.


Setelah makan es krim, Asya bergegas mandi air hangat. Tubuhnya sudah terasa segar kembali. Bahkan saat keluar kamar mandi, ia menari-nari kecil dengan gaun malam yang menyelimuti tubuh mungilnya.


El tak bisa fokus menonton pertandingan jika sang istri nyatanya lebih menarik dari apapun di dunia ini. Ia tertawa kecil melihat tingkah Asya yang ia pikir sangat kekanakan.


"Sayang sini deh"


Mendengar panggilan El, Asya berjalan mendekat dengan riang. Pemuda itu menarik Asya agar duduk dipangkuannya. Aroma tubuh sang istri selalu menggairahkan setelah mandi.


"Maaf ya sayang, kita gak jadi honeymoon"


"Gak apa-apa Mas"


"Gak apa-apa gimana? Buktinya kamu sampai sakit mikirin itu"


El membanting tubuh sang istri diatas kasur, ia mulai menciumi leher Asya. Gadis itu merasa geli dan mendorong El menjauh. Ia menggeleng kemudian memeluk suaminya erat. Hembusan napas berat bisa terdengar di telinga El. Sepertinya gadis kecil sang Presdir sedang memikirkan beban berat.


Sayangnya El harus menahan diri untuk saat ini, ia tak ingin Asya semakin sakit jika memaksakan kehendaknya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...

__ADS_1


Esok hari tiba....


El turun dari kamarnya menggunakan pakaian rumah. Hal ini membuat seluruh keluarga terkejut keheranan. Seolah mereka melihat sosok El yang lain. Walau sakit atau hujan badai sekalipun, El tak pernah sekali saja tak masuk kantor. Tak ada alasan untuk El tidak bekerja, pemuda itu sangat mencintai pekerjaannya lebih dari apapun. Itu adalah hal yang diketahui oleh keluarga El, tetapi mereka tidak tahu perubahan besar yang terjadi selama El hidup jauh dari keluarganya.


"Pagi sayang" ujar El memeluk istrinya dari belakang. Tak lupa ia mencium pipi Asya berkali-kali. Padahal mereka tengah berada di meja makan dengan anggota keluarga lainnya.


"Ciyee ciyeee" goda Aqilla antusias.


Asya mendorong El menjauh darinya, bisa-bisanya pemuda itu bermesraan didepan anak kecil.


"Sya, kita harus mengajarkan kasih sayang pada anak kecil. Benar kan Aqilla" ujar El. Aqilla kali ini berada dipihak El, ia mengangguk dan melakukan tos dengan Om nya.


Asya hanya bisa menggelengkan kepala, kemudian menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Kok bukan kamu yang masak sih sayang? Gak enak nih" gerutu El. Ia menghentikan makannya dan memandangi Asya.


"El, kau tumbuh besar dengan memakan masakan Bunda. Kau bilang masakan Bunda tidak enak?" Sela Laura sembari membelalakkan matanya dengan lebar.


"Enak masakan Asya. Aku kan lama gak tinggal bareng Bunda, udah lupa rasanya masakan Bunda. Enak masakan istriku ternyata" jawab El.


Laura semakin kesal mendengar komentar sang anak. Sedangkan Adhitama mengangguk setuju dengan pendapat El. Karena merasa tak dihargai, Laura mengancam tidak akan memasak lagi. Ia tidak peduli keluarga nya kelaparan atau tidak.


"Mas El, udah, habisin sarapannya. Nanti terlambat ke kantor loh"


"Aku lagi males kerja Sya, mau dirumah aja sama kamu"


Setelah jawaban El, suara batuk-batuk terdengar. Mereka terkejut bukan main, langsung dari bibir El sendiri pemuda itu berkata malas untuk sesuatu yang sangat ia cintai selama bertahun-tahun. Bahkan demi pekerjaan El rela jauh dari keluarganya.


"Apa El salah makan? Atau dia lagi sakit?" Celetuk Kakek.


"Malas? Dia tidak pernah mengeluh tentang pekerjaannya" timpal Adhitama.


"Apa dia benar-benar El?" Imbuh Farel tak mau kalah.


El menatap ke tiga pria dihadapannya dengan datar, ia tak peduli apapun yang dikatakan orang. Memang kenyataannya ia ingin dirumah bersama sang istri.


"Eits gak bisa El, mending kamu ke kantor. Bunda mau ajak Asya arisan sama Ibu-ibu kompleks. Mereka dari tadi nanyain istri El mulu" sela Laura.

__ADS_1


"Gak bisa gitu dong Bund. Dia istriku, jadi harus menemaniku"


"Dia juga menantuku El. Kau kerja saja"


"Bunda, tolong jangan mulai"


"El, please, pergilah ke kantor"


Laura dan El saling menatap dengan mata saling menyipitkan. Mereka sangat keras kepala dan tak ingin melepaskan Asya begitu saja. Sedangkan Asya, ia masih menyuapi Aqilla yang juga antusias menonton.


"Sudah-sudah. Asya akan ikut denganku" sela Nenek El menghentikan perdebatan Ibu dan anak itu.


Keduanya menatap ke arah Nenek yang sedang makan. Laura memutuskan diam dan mengalah, ia tak ingin berdebat dengan mertuanya. Tetapi tidak dengan El yang masih kekeh untuk mempertahankan istrinya.


"Asya, kau tahu bukan jika seorang istri tidak bisa pergi tanpa ijin suaminya"


"Mas El"


"Baiklah lakukan apapun yang kau inginkan. Aku juga akan melakukan apapun yang aku inginkan" ujar El kemudian pergi meninggalkan meja makan. Ia bahkan tak menghabiskan sarapannya.


"Nenek, jangan bercanda seperti itu. Mas El sangat kekanakan, ia selalu marah dengan hal kecil dan sepele"


"Karena dia tidak bisa jauh dari istrinya. Sudah sana bujuk suamimu, atau dia akan mulai mendekati wanita lain lagi" pinta Nenek.


Asya terkekeh lalu pergi menuju kamarnya. El tengah mengganti pakaian, sepertinya pemuda itu memutuskan untuk pergi ke kantor.


Perlahan Asya berjalan mendekati suaminya, ia memeluk El dari belakang. Tapi pemuda itu tak peduli dan terus mengancingkan pakaiannya. Asya menahan tangan El, ia membuka kembali kancing pakaian suaminya. Kemudian ia berjalan dan berdiri tepat dihadapan El.


"Kamu mau apa?" Sentak El kesal.


"Tumben Mas El mau dirumah aja? Biasanya juga sampai pulang malam"


"Mana ada? Aku udah gak pernah pulang malam lagi kan"


"Iya deh iya. Mas mau kerja kan? Sini aku benerin bajunya"


Kini giliran El yang menghentikan Asya. Ia mendorong istrinya bersandar di depan lemari. Matanya begitu lekat memandangi mata sang istri.

__ADS_1


"Mau aku masakan sesuatu sayang?"


"Tidak, beri saja aku bibirmu itu, kau selalu bisa menggodaku tanpa melakukan apapun" ujar El kemudian mulai melu mat bibir istrinya.


__ADS_2