
Zio telah menunggu El dan Asya yang tak kunjung datang. Ia terus mencoba menghubungi El tetapi selalu saja berkata jika mereka masih berada dijalan.
"Lama banget kalian" gerutu Zio setelah melihat El dan Asya.
"Mas El nih nakal" jawab Asya kesal.
El tersenyum menatap Zio, dan pemuda itu langsung mengerti apa yang terjadi pada pasangan suami istri tersebut.
El lalu menggandeng istrinya yang sudah tak sabar ingin melihat bayi kecil yang mungil. Mereka bertiga segera masuk kedalam rumah yang sudah ramai dipenuhi oleh para tamu.
"El, Zio, kalian terlambat kawan" ucap teman laki-laki mereka.
El meminta maaf dan mengatakan ada urusan penting, karena itulah mereka terlambat. Sedangkan Zio membuat tanda x dengan tangannya. Meminta sang teman pria untuk tidak mempercayainya. Mereka pun bercanda seperti layaknya teman lama yang baru saja bertemu kembali. Hingga melupakan Asya yang berdiri menunggu di perkenalkan.
"Nona Asya?" Celetuk teman El sebelum kedua pemuda itu memperkenalkan.
"Mas Bima?"
Bima segera mendorong El dan Zio dari hadapannya, ia menarik Asya untuk mendekat. Ia panggil Mira istrinya dengan begitu bersemangat.
"Asya"
"Mbak Mira, ini acaranya Mbak. Wah putri kecil Mbak Mira sudah besar dong ya, sudah satu tahun. Mau lihat Mbak, gendong boleh gak?" Oceh Asya yang sangat antusias.
Bima dan Mira tertawa melihat antusias gadis itu, Mira segera membawa Asya untuk bertemu dengan putri kecil mereka.
El dan Zio tampak mengikuti mereka, dengan keheranan karena Bima mengenali Asya. Bahkan kedua orang tua Bima dan Mira juga mengenali gadis itu. Mereka seolah menganggap Asya adalah bagian dari keluarga besarnya.
"Bim, istriku..."
"Istrimu? Asya? Kau serius El?
"Bukankah aku sudah bilang akan datang bersama istriku"
Bima masih tak bisa menghilangkan keterkejutannya, refleks ia menarik El menjauh dari kerumunan. Layaknya seorang Kakak, Bima mewanti-wanti El agar tidak menyakiti Asya. Sebab ia sudah menganggap Asya sebagai adiknya sendiri.
Jika El berani bermain dengan wanita lain diluar sana, Bima sendiri yang akan menghajar El tanpa ampun.
"Tunggu, ada apa ini?"
"Dia menyelamatkan istri dan putriku satu tahun lalu El, karena itu aku sudah menganggap nya seperti adikku"
Rupanya satu tahun yang lalu, Asya tak sengaja bertemu dengan Mira. Ketika Mira kesakitan di depan rumahnya, Asya tak sengaja lewat dan langsung menolong Mira. Membawanya kerumah sakit dengan Nando tentunya.
"Aku pikir, pemuda itu dan Asya. Ah sudahlah, itu masalalu"
"Nando?"
__ADS_1
"Iya, bukankah dia sangat mencintai Asya"
Nando, Nando, Nando, El sangat kesal mendengar nama pemuda brengsek itu disebut. Apalagi jika harus disandingkan dengan istrinya.
"Mas El, lihat, namanya Asya loh"
El dan Bima menoleh, mereka segera kembali menghampiri Asya serta keluarga lainnya. Asya tampak begitu senang menggendong putri Bima. Terlebih Bima dan Mira menamai putrinya dengan nama Asya.
"Iya lucu dan cantik" puji El seraya mencium pipi istrinya.
"Mas El, harusnya Asya kecil yang dicium"
"Tapi aku lebih suka Asya yang ini" sahut El sembari mencium pipi Asya lagi.
Setelah berbincang singkat dengan istrinya, El dan Zio berpamitan untuk pergi bergabung dengan teman lainnya. Tak lupa ia meminta Bima untuk menjaga Asya tentunya, agar tak ada pria yang mencoba mendekati istrinya.
Teman-teman lama El sudah berkumpul di sofa dan berbincang ria disana. Mereka menyambut kedatangan El dan Zio.
"Sendiri aja nih si bos besar"
"Sama istriku"
"Mana? Kenalkan pada kami"
"Tidak, kalian terlalu berbahaya untuknya"
El hanya bisa tertawa mendengar candaan konyol temannya.
"Hai El" sapa seseorang.
"Hm, hai, wah makin oke aja badan mu"
Wanita itu tersenyum puas, ia lalu duduk disamping El. El menatap pakaian ketat yang sedikit terangkat karena wanita itu duduk. Ia lalu menariknya lebih ke atas lagi.
"Dikit benget bukanya, gak bisa lihat nih"
"Bener El, kita juga mau lihat buat cuci mata"
Wanita itu semakin tersipu malu dibuatnya, Ia bahkan berani menaruh dagunya di pundak El. Sambil mencoba merayu El lagi disana. Teman-teman El sudah tak terkejut lagi, pemuda itu memang suka berbuat seenaknya. Tapi wanita yang ada disampingnya juga selalu menggoda El, tentu saja El takan bisa menolak godaan itu.
"Susah bangunin yang bawa, El kan pemilih" celetuk salah seorang teman El saat mendapati sang wanita terus melirik kesana.
"Kau, apa yang dia lakukan disini El?" Sela Zio yang baru saja selesai menelepon.
"Ups, para mantanku ada disini"
Para mantan? Iya benar, dia adalah wanita yang menghancurkan hidup El. Wanita yang menyelingkuhi El dengan Zio tentunya. Itu wanita yang sama, yang saat ini tengah menggoda El lagi, Gisel.
__ADS_1
El meminta Zio untuk duduk dan tidak memedulikan Gisel. Wanita itu sedang mencoba membangunkan milik El, tapi sama seperti dulu, Gisel tak bisa membangunkannya dengan cepat.
"Adiknya si Bima cantik juga" celetuk Reno yang baru saja bergabung.
"Iya, aku godain malah digampar si Bima"
"Adik yang mana? kok kita gak lihat"
"Yang lagi gendong anaknya si Bima"
"Buta mata loe"
Tentu saja mereka yang datang lebih dulu tak melihat. Sebab adik Bima baru saja tiba bersama El dan juga Zio.
Seperti yang lain, teman-teman El juga menatap Gisel yang tengah mencoba menggoda El disana. Jijik sekali mereka melihat Gisel yang tampak seperti wanita murahan tak tahu malu.
"Mas El" panggil Asya berjalan mendekat.
Sontak saja semua mata menoleh, mereka menatap Asya yang tengah mendekat sambil berbincang dengan Bima. Sedangkan El, segera tukar tempat duduk dengan Zio.
"Ini adik mu Bim? Cantik gini, kok gak dikenalin sih?"
"Adikku? Dia istri El, sana minta ijin suaminya kalau mau kenalan" ucap Bima lalu pergi setelah memastikan Asya bertemu dengan El.
"Sayang, gimana bayinya lucu?"
"Lucu banget Mas, gemesin" jawab Asya seraya duduk disamping El.
El meminta bantal sofa yang ada dibelakang temannya, lalu menaruh bantal itu diatas paha Asya. Ia tak ingin ada mata nakal yang mencoba mencuri-curi pandang ke tubuh istrinya. Apalagi El tahu benar jika teman-temannya tak beda jauh darinya.
Asya menyenderkan tubuhnya ke dekapan El, sembari menggenggam tangan suaminya dan bercerita mengenai lucunya Asya kecil.
"Wih, keren juga istrimu, bangun tuh" celetuk Reno yang tak sengaja melirik milik El.
Sontak saja mereka semua menatap ke arah yang sama, termasuk Gisel dan juga Asya. Gisel nampak kesal karenanya, sedangkan Asya membelalakkan matanya. Ia mengalihkan bantal dari atas pahanya ke paha El untuk menutupi milik suaminya.
"Mas El ih, dilihatin banyak orang tuh" bisik Asya.
"Ya salah kamu dong sayang, kalau dekat kamu gak bisa tidur ini anak" jawab El.
Asya segera membungkam mulut suaminya, tapi teman-teman El sudah mendengarnya dan malah tertawa akan hal tersebut.
"Dasar Mas El mesum, adik Ipar makan yuk, laper nih"
"Wokeh siap Kakak Ipar, let's go"
El menatap istrinya, ia tertawa karena melihat Asya yang salah tingkah. "Ah, jadi gak tahan kalau gini"
__ADS_1
"Sialan kamu El" sahut Reno sambil melempar bantal ke arah El.