
El menggendong istrinya masuk kedalam, lalu menidurkannya diatas ranjang. Ia membuka kimono hotel yang Asya kenakan, memandangi tubuh istrinya dengan senyuman nakal.
Asya sudah mengerti apa yang hendak suaminya lakukan, melihat mata El yang sudah dipenuhi nafsu. Mata itu tak beralih sedikitpun dari dada Asya, El sangat menyukainya.
"Mas El" panggil Asya seraya mengelus pipi suaminya dengan lembut.
El menatap mata istrinya, lalu mengecup singkat bibir tipis itu.
"Aku akan memberimu banyak cinta Asya" ujar El diselingi senyuman.
"Mas, cinta seperti apa yang Mas El ketahui?" Tanya Asya.
Pemuda itu tersenyum miring, ia dengan kasar melepas semua pakaian yang tersisa di tubuh istrinya. Lalu melepaskan semua pakaiannya sendiri, dan mulai bercinta dengan Asya.
Gadis itu tidak melakukan apapun, ia hanya menatap El yang mencoba berbuat semaunya pada Asya. Membiarkan El menuntaskan nafsu dengan berdalih memberi cinta. Sesekali raut wajah Asya berubah, menahan sakit karena permainan kasar El.
"Apakah permainanku barusan memuaskanmu?" Bisik El yang sudah terbaring di samping istrinya.
El menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan sang istri yang tak mengenakan apapun.
"Tidak" jawab Asya singkat.
"Tentu saja, karena tidak ada cinta didalamnya. Apa sekarang kau mengerti, cinta seperti apa yang aku berikan untukmu?"
Asya mengangguk, ia memeluk suaminya dengan erat. El juga membalas pelukan itu, mengelus lembut rambut panjang istrinya.
Setelah beberapa menit mereka saling berpelukan, El mendorong Asya jauh darinya, memposisikan dirinya dan Asya agar bisa saling menatap. Ia mengelus pipi istrinya yang menatapnya dengan sendu.
"Aku pernah sangat mencintai seseorang, tapi ia mengkhianati aku. Dan alasannya sangat picik, ia bilang aku tak pandai bermain diatas ranjang" jelas El tiba-tiba.
Asya tampak terkejut, tapi yang ia ketahui, suaminya sangat pandai bermain-main diatas ranjang.
El mulai bercerita, wanita seperti apa yang sukses membuatnya menjadi seperti ini. Ia tak pernah melihat seorang wanita berdasarkan fisik, apapun itu, jika wanitanya membuat El nyaman, maka ia tak akan melepaskan.
Lima tahun yang lalu, El bertemu dengan seorang wanita, teman lamanya. Wanita itu adalah teman kuliah El, dulu El sangat mengaguminya, pemikiran modern sang wanita.
Mereka bertemu diluar negeri, di universitas yang sama. Pertemanan mulai terjalin karena mereka berasal dari negara yang sama. Pertemanan itu lama-lama berubah menjadi hubungan yang lebih dari sekedar teman dekat.
__ADS_1
Pergaulan terlalu bebas di negeri seberang, El bahkan sering menginap di apartemen sang wanita. Beberapa kali mereka kerap melakukan hubungan intim. El juga tahu jika wanitanya sudah tidak suci lagi. Padahal itu pertama kalinya El mencoba keluar dari zona nyamannya.
Dua tahun hubungan mereka berjalan dengan baik, terkadang ada sedikit pertengkaran kecil. Tapi mereka kembali bersama setelah perbincangan singkat.
Hingga suatu hari, El ingin melamar wanita itu, ia memberi kejutan dengan datang tiba-tiba ke apartemennya.
Saat El membuka pintu, ia melihat ada baju berserakan dilantai. Ia sudah merasa aneh disana, namun El meneruskan langkahnya menuju kamar sang wanita. Kejutan yang sukses, El melihat wanitanya sedang melakukan hubungan dengan pria lain, dan itu adalah sahabat El sendiri.
El tentu marah, ia gegabah dan memukul temannya saat itu juga. Namun wanita itu, malah mencaci El dengan dalih, bahwa pemuda itu tak bisa memuaskannya diatas ranjang.
Sejak itulah, El sempat terpuruk selama beberapa bulan, sebelum ia memulai hobi barunya, bermain dengan para wanita nakal. Selalu, dan selalu setiap saat El mencoba mencari para wanita yang tubuhnya mirip dengan sang mantan kekasih. Berdada besar dan bertubuh seksi. Ia ingin menyalurkan semua emosinya pada wanita yang mirip sang mantan kekasih.
"Aku hanya melakukannya untuk melampiaskan emosiku, tapi lama-lama ini menjadi kebiasaan" ujar El.
Asya menitihkan air matanya, walau hanya mendengar saja, hatinya terluka mengetahui kebenaran mengenai masalalu suaminya. Dan juga kebiasaan buruk El yang mungkin belum sepenuhnya hilang.
"Maaf ya, aku membuatmu menangis lagi. Padahal harusnya ini hari bahagia untukmu" imbuh El. Ia menyeka air mata istrinya.
"Aku bisa mengerti tentang masalalu Mas El. Tapi, kebiasaan itu, Mas El harus merubahnya" ucap Asya lirih.
"Apakah Mas El masih mencintainya?"
"Mungkin"
Entah mengapa jawaban El membuat Asya merasa kesal. Gadis itu membalikkan tubuhnya memunggungi sang suami.
"Kamu cemburu Sya?" bisik El.
"Nggak tuh, cuma males aja lihat wajahnya Mas El"
"Loh, ya mana bisa, aku kan suamimu. Setiap hari kamu lihat aku"
Asya kembali membalikkan tubuhnya, menatap El sambil tertawa. Perkataan El selalu saja bisa meluluhkan hati Asya.
"Sekarang giliran kamu yang cerita" pinta El sambil mencubit pipi istrinya.
Gadis itu mencoba berpikir, ia tidak memiliki masalalu seperti El. Karena ia tak pernah menjalin hubungan apapun sebelum ini. Hanya pertemanan, dan masalah bersama Papanya yang selalu menyibukkan masalalu Asya.
__ADS_1
"Kalau Nando? Apa kamu gak suka sama Nando?"
"Nando? Tentu aku menyukainya Mas, dia adalah teman yang sangat baik. Nando selalu ada disaat aku membutuhkan dirinya, bahkan tanpa aku minta"
El menatap istrinya, ia melihat ada sesuatu dalam mata Asya ketika mereka membicarakan Nando. Ketertarikan, El merasa jika istrinya mulai melihat Nando dengan cara yang berbeda.
Pemuda itu tiba-tiba saja merubah posisinya, berada diatas Asya. Ia mulai melu mat bibirnya, sambil meremas dada sang istri.
Hanya sebentar sebelum dirinya merubah posisi, menjadikan Asya berada diatasnya. El duduk menyenderkan punggungnya di penyangga kasur, dengan Asya yang duduk dipangkuannya. Ia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
"Mas El ada apa?"
"Sya, kamu tahu kalau Jihan suka sama Nando?"
"Apa? Jihan suka Nando? Kok dia gak bilang aku sih Mas. Hm... Mas El beneran bisa lihat orang jatuh cinta hanya dari mata?"
El mengangguk, Asya tampaknya masih tak percaya dengan apa yang El katakan padanya. El lalu menyuruh Asya untuk menyebut nama Nando, ia ingin memastikan apa yang ia lihat sebelumnya.
"Nando, Nando, Nando"
"Panggil aku"
"Mas El"
Pemuda itu tersenyum miring. El melihat ada tatapan malu-malu saat istrinya menyebut namanya. Tiga puluh persen keyakinan El tumbuh, jika Asya mulai mencintainya.
El kembali menidurkan sang istri diatas ranjang, sudah waktunya mengakhiri bulan madu mereka dengan penuh cinta.
Setelah memulai ciuman, El meraba perlahan setiap inci tubuh istrinya. Ia ingin membangkitkan nafsu Asya sekali lagi. El sudah berada diatas tubuh sang istri, permainannya kembali menjadi lembut.
El terus menggerayangi tubuh istrinya, memberikan kepuasan untuk Asya dengan banyak cinta. Gadis itu mulai terengah-engah, desa hannya semakin membuat jiwa El meronta.
Bersamaan dengan keluarnya nafsu yang menggebu dalam diri El, ia mengakhirinya sembari menggigit puti ng Asya. Hingga membuat gadis itu berteriak dan menjambak rambut El karena terkejut.
"Mas ... El .. jangan gitu, sakit tahu" ucap Asya dengan napasnya yang masih naik turun.
El langsung mengecup bibir istrinya dan menahannya disana selama mungkin.
__ADS_1