Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 96


__ADS_3

"Sayang, aku harus pergi ke kantor"


"Tidak bisa libur satu hari?"


"Kau masih merindukan ku? Hm... Maaf ya, hari ini aku ada meeting penting, usaha resort"


"Lagi? Mas El berhentilah mengabulkan semua keinginan ku. Ini sudah lebih dari cukup"


"Keinginanmu adalah usaha yang menjanjikan untukku, sayang"


Asya memanyunkan bibirnya, suaminya sangat menyebalkan. Walau begitu ia tetap sangat mencintai El. Ia memang ingin memiliki resort, agar bisa menjadi tujuan jika keluarga besar mereka hendak berkumpul untuk berlibur bersama.


Tapi memang benar apa yang El katakan, keinginan Asya adalah usaha yang menjanjikan. Ia selalu memiliki keuntungan besar karena berani memulai demi mewujudkan impian sang istri tercinta.


El memeluk dan mencium si kembar sebelum pergi. Si kembar tampak sedih karena harus berpisah dengan Ayah mereka.


"Kenapa sedih? Bukankah kalian merasa senang bisa memiliki Bunda seutuhnya?"


"Tapi aku mau bermain dengan Ayah juga" lirih Key sambil tertunduk sedih.


El memeluk putra bungsunya itu, mendudukkan Key dipangkuannya. Ia kembali berjanji akan membelikan mobil-mobilan yang bisa Key naiki. Itu cara terburuk untuk menyenangkan sang anak, Asya sudah lelah melihat suaminya yang terus memanjakan putra kembar mereka.


Kai juga berjalan dan duduk di pangkuan sang Ayah. Tanpa mengatakan apapun, ia bersikap cuek dengan maksud tertentu.


"Baiklah, Ayah akan membelikan untuk kalian berdua. Tapi kalian harus berjanji pada Ayah.."


"Janji apa?" Tanya keduanya bersamaan.


"Kalian harus menjaga Bunda saat Ayah tidak bersama kalian, mengerti jagoan?"


"Siap bos"


Kai dan Key kembali berlari menuju area bermain. El sudah menyiapkan satu space khusus untuk area bermain anak-anak nya. Dan di sebelah ruang bermain itu ada kantor El yang berdinding kaca. Sehingga saat bekerja pun, El bisa melihat anak-anaknya bermain. Sekeras apapun El, ia tetaplah seorang Ayah yang mencintai anaknya.


Asya mengikuti El yang berjalan keluar rumah. Memandangi suaminya dengan kecewa sebab tak ingin berpisah.


"Pak, perketat penjagaan saat saya tidak dirumah" pesan El pada kepala keamanan.

__ADS_1


"Baik Tuan"


"Agus, Ipah, jaga istriku dan anak-anakku ya" teriak El sebelum pergi.


Asya menoleh ketika dua orang yang amat ia kenali muncul. Ia spontan memeluk Ipah dan menyalami Agus. Mereka masih bekerja dengan El rupanya, Asya senang masih bisa melihat kedua orang tersebut.


Setelah El pergi, Asya masuk kedalam bersama yang lainnya. Kai dan Key begitu senang bermain, melompat kesana kemari, dengan tawa ceria mereka. Sembari menemani anaknya yang bermain, Asya memilih untuk menonton drama Korea kesukaannya. Kesukaan Asya masihlah sama dari dulu hingga sekarang.


"Bunda, aku mau kue coklat" pinta Kai.


"Iya sayang, Bunda buatkan ya"


Untuk pertama kalinya, langkah kecil Asya memasuki area dapur. Besar, indah, mewah dan megah. Asya terpukau dengan dapur miliknya. Kepala dapur mencoba melarang Asya agar tak memasak, sebab dirinya lah yang akan membuatkan apapun yang Tuan rumah inginkan. Namun Asya juga sama keras kepalanya, apapun yang diinginkannya akan ia lakukan.


Sayangnya para pekerja di rumah itu hanya bisa mengatakan tanpa bisa mengehentikan Asya secara langsung. Karena itulah Asya terus bermain di dapur, membuatkan kue coklat untuk si kembar.


"Nyonya, Tuan akan memarahi saya" ujar kepala dapur mewakili yang lainnya.


"Tidak akan, suamiku sangat mencintai ku. Apapun yang ku inginkan, dia pasti mengijinkan, tenang saja"


Walau Asya sudah berkata begitu, hati para koki itu masih tak tenang. Padahal Asya terlihat sangat ceria saat berada di dapur, berkutat dengan semua alat masak. Ia memang bukan koki handal, tapi dirinya sudah terbiasa memasak di dapur.


"Tuan baik-baik saja Nyonya, tapi beliau sering sekali lembur. Bahkan terkadang tidak pulang berhari-hari"


"Dia kembali gila kerja seperti dulu? Mas El harus menjaga kesehatan nya"


"Iya Nyonya, tapi sekarang pasti Tuan akan pulang tepat waktu setiap harinya"


Asya dan yang lainnya tertawa kecil, mereka juga berharap seperti itu. Rumah besar ini seakan tak berpenghuni, sebab pemiliknya tak pernah berada dirumah.


Setelah kue nya siap, Asya membawa dua potong kue untuk si kembar. Kai dan Key berlari dan duduk di ruang tamu dengan tertib. Mereka mulai menikmati kue coklat dan jus buah kesukaan si kembar, jus strawberry. Sedangkan Asya kembali menikmati waktunya menonton drama Korea.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Malam tiba .....


Asya tengah memasak makan malam di dapur, dengan bantuan para koki lainnya. Sedangkan si kembar tengah duduk di ruang tamu sambil berkutat dengan buku mereka.

__ADS_1


Selesai memasak, Asya bergegas mandi dan berdandan untuk sang suami tercinta. Ia selalu terlihat cantik di hadapan El, sebab tak ingin sang suami melihat wanita lain selain dirinya.


Sembari menunggu El, ia duduk bersama si kembar. Mengajari si kembar yang ingin sekali bisa membaca. Ia begitu telaten mengajari sang buah hati dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, Ayah pulang" teriak El memasuki rumah. Ia langsung saja di hampiri oleh si kembar, mendapatkan ciuman dari kedua putranya sekaligus.


"Ayah, Ayah, aku mau pergi ke Aquarium" pinta Kai sambil meloncat riang.


"Aku juga Ayah, mau lihat ikan paus, ayo Ayah ayo" imbuh Key.


"Iya sayang, akhir pekan ya, Ayah masih banyak pekerjaan"


Mendengar perkataan El, memuat Kai dan Key mendadak bersedih. Mereka berdua mengangguk dan langsung pergi menghampiri sang Bunda. Duduk dipangkuan Asya dan memeluknya erat. Si kembar menangis, mereka tahu benar, El juga sering mengatakannya, tapi mereka selalu gagal pergi. Dan setiap kali mereka kecewa, si kembar hanya bisa menangis di pangkuan Asya. Menenangkan diri dalam pelukan sang Bunda tercinta.


"Sayang, Ayah kalian akan mengajak kalian pergi diakhir pekan. Kenapa kalian bersedih?"


"Ayah selalu mengatakannya Bunda" lirih Kai.


"Dan Ayah selalu berbohong, kita tidak pernah pergi" sambung Key.


Asya terkejut mendengar penuturan si kembar, begitu juga dengan El. Ia menatap ke arah El dengan sedih, jika dipikir-pikir, El memang sering tak menepati janji untuk pergi bersama. Tapi dirinya tak pernah lupa membelikan hadiah untuk si kembar.


El menghampiri si kembar dan mencoba membujuk mereka. Ia kembali menawarkan berbagai macam mainan, tapi kali ini si kembar tak bergembira. Mereka hanya memeluk Asya dan memunggungi El.


"Hm.. begini saja, jika akhir pekan nanti Ayah tidak mengajak kalian. Bunda akan tidur bersama kalian setiap malam sampai Ayah mengajak kalian ke Aquarium, bagaimana?" Saran Asya mencoba mengambil hati si kembar.


Saran itu langsung di setujui oleh si kembar, tapi sukses membuat El menahan amarahnya. Ia merasa perjanjian ini tidak adil, tapi melihat si kembar kecewa, itu lebih menyakitkan untuknya.


"Baiklah Ayah setuju, ayo kita makan. Ayah sangat lapar"


Kai dan Key pergi lebih dulu ke meja makan. Sedangkan Asya dan El, sejenak saling berpandangan.


"Aku tidak akan memaafkan mu Asya"


"Jadi, aku tidak perlu melayani Tuan malam ini?" Goda Asya dengan centil.


"Justru kau harus melayani ku dengan ekstra. I love you, sayang" ucap El mencium singkat bibir istrinya.

__ADS_1


"Love you too, sayang" alas Asya seraya mencium singkat bibir suaminya.


__ADS_2