
"Mas, aku harus bersih-bersih" ucap Asya sembari mencoba mengalihkan tubuh El dari atas tubuhnya.
"Tidak perlu, aku akan menyuruh Ipah untuk datang saat kita berangkat nanti" ujar El.
El menggelitik leher Asya dengan wajahnya, membuat gadis itu tertawa tanpa henti. Asya yang merasa geli, menggerakkan seluruh tubuhnya hingga tak sengaja menendang daerah pribadi suaminya.
Namun hal itu sukses membuat El menjauhkan diri dari Asya.
"Ma..mas El gak apa-apa?" Tanya Asya kala melihat suaminya yang mengerang kesakitan. Asya begitu khawatir melihat keadaan El, namun pemuda itu malah tak menggubris Asya dan berjalan menuju kamar mereka.
Asya terdiam sejenak, sebelum ia berjalan mengikuti suaminya menuju kamar. Asya membuka pintu kamar perlahan, mengedarkan pandangannya mencari keberadaan El. Namun ia tak menemukan siapapun disana.
Brakkk....
Pintu kamar tertutup, Asya reflek membalikkan badannya.
"Mas El" kata Asya lirih. El tengah berdiri di depan pintu tanpa mengenakan pakaian. Asya bisa melihat tubuh indah suaminya yang mirip para idolanya tersebut.
Gadis itu tanpa sadar mengukir senyuman, menghentakkan kakinya karena kegirangan. Sesekali ia menutup mulutnya untuk menahan tawa.
"Lihat sekarang siapa yang mesum" ujar El membalikkan perkataan Asya.
"Mas El kan suamiku" balas Asya sembari menjulurkan lidahnya mengejek.
El menarik tangan Asya kasar, hingga membuat tubuh Asya menabrak tubuh El. El lalu mengunci tubuh Asya agar tak bisa menjauh darinya. Ia menggendong Asya dan mendudukkannya diatas meja kerja El.
"Mas El mau apa?" Tanya Asya pelan. Wajahnya sudah sangat memerah menahan malu, ia tak bisa berhenti membayangkan adegan-adegan dalam drama yang sering ia tonton disaat seperti ini.
"Aku tidak akan melakukan apa-apa, tapi kamu, lakukanlah" pinta El sembari mulai merogohkan tangannya masuk kedalam kaos Asya.
Asya menatap mata El, ia mulai tergoda lagi dengan pesona suaminya. Asya menggerakkan tangannya, ia lingkarkan pada leher El. Ia nampak sedikit ragu dengan napas dan detak jantung yang tak menentu.
Apa aku boleh melakukannya? Adegan seperti ini, bila dalam drama, harusnya aku dan Mas El, batin Asya seraya terus menatap bibir El.
Gadis itu berusaha meyakinkan dirinya, diiringi dengan tangan nakal sang suami yang sukses melepas pakaian d*lam Asya.
__ADS_1
El mulai mengelus lembut dada Asya, membuat gadis itu merasa geli karenanya. Ia tak bisa melakukannya, Asya malah memeluk El dan mengeluarkan tangan El dari dalam kaosnya.
"Mas El jangan, itu membuatku merasa geli" lirih Asya pelan.
"Baiklah Nyonya El, pakai kembali pakaianmu, aku mau mandi. Jangan lupa bangunkan Syam, dia ada meeting, siapkan pakaian untuknya juga ya" pinta El sembari menurunkan Asya dari atas meja.
"Mas Syam pakai bajunya Mas El?" Tanya Asya yang masih tak fokus.
El tertawa mendengar pertanyaan itu, ia mengecup singkat kening Asya dan berkata, "Kamu mau Syam pakai baju kamu?"
Kini giliran Asya yang tertawa karena pertanyaan El. Ia pun mengangguk dan mengambil pakaiannya yang terjatuh dilantai lalu memakainya kembali.
Setelah itu menyiapkan baju untuk suaminya dan Syam. Asya masih diselimuti rasa bahagia, ia berjalan dengan begitu ceria membangunkan sang Kakak.
"Mas Syam, bangun, udah pagi" ujar Asya seraya menggoyangkan tubuh Syam.
Tak butuh waktu lama, Syam bangun dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi. Kedua pemuda itu sedang mandi, kini giliran Asya pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Asya nampak asik memasak sambil bersenandung ria. Ia bahkan memainkan alat penggorengan seakan dirinya sedang bermain musik diatas panggung.
"Berisik Sya" ucap El yang tengah duduk diruang tamu sambil mengotak-atik leptopnya.
"U uh, kenapa cewek secantik dan sebaik dia bisa mencintai pria galak berhati dingin seperti itu. Percuma wajahnya tampan, tapi tak bisa menghargai wanita. Jika aku bertemu dengannya, aku akan memukulnya dengan wajan" oceh Asya sangat geram.
"Kamu membicarakan aku Sya?" Sahut El yang merasa jika Asya sedang menyindir dirinya.
"Oh ayolah Mas El, Mas El tidak setampan dia" jawab Asya tanpa pikir panjang. Ia kembali melanjutkan memarahi pemeran pria tersebut.
"Biasa El, penyakitnya kadang-kadang kambuh, belum ada obatnya" sela Syam dengan tawanya.
El mengangguk memahami, memang belum ada obat untuk penyakit seperti ini. Halu yang terlalu tinggi. El kembali mengerjakan pekerjaannya, hingga Asya memanggil mereka untuk sarapan.
Setelah menyiapkan sarapan, Asya bergegas pergi ke kamarnya dan mandi. Bersiap untuk berangkat kuliah bersama dengan El.
Asya tak ikut sarapan bersama kedua pemuda itu, ia lebih memilih membawa bekal ke kampusnya. El dan Asya berangkat bersama, sedangkan Syam memilih naik taksi karena jalan menuju kantornya tak searah dengan El.
__ADS_1
Sampai di kampus, Asya bergegas turun dari mobil setelah melihat Jihan, Gita dan Nando yang sedang berjalan bersama.
"Teman-teman, selamat pagiii" sapa Asya dengan ceria. Asya berlari kecil menghampiri teman-temannya yang menunggu.
"Pagi cantiiik" sahut Gita tak kalah ceria.
"Eh bentar ya tungguin, ada yang kelupaan" celetuk Asya kemudian berlari kembali menuju mobil El.
Ttukkk....Ttukkkkk
Asya mengetuk kaca mobil, lalu El menurunkan kacanya. "Ada apa ?" Tanya El seraya menatap Asya.
Gadis itu terhenti sejenak, ia menatap mata El, menarik leher El lalu mencium pipinya dan pergi kembali menuju temannya. Asya berlari dengan senyuman lebarnya, lalu menggandeng Jihan dan Gita untuk segera masuk kedalam kelas mereka.
"So sweet" celetuk Jihan.
"Tau gak, semalem Mas El...." cerita Asya terhenti kala Nando menyela pembicaraan para wanita ini.
"Nanti siang jadi kan? Kamu ikut kan Sya?" Sela Nando.
"Oh, aku lupa belum ijin Mas El" jawab Asya seraya merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
Asya mengetik pesan untuk suaminya, meminta ijin karena ia akan pergi bersama teman-temannya setelah kelas selesai.
"Hp baru Sya?" Tanya Nando setelah melihat ponsel yang Asya genggam.
Gadis itu mengangguk, ia lalu meminta nomor teman-temannya lagi karena Asya tak memiliki kontak siapapun di ponsel barunya selain sang suami dan Syam.
"Sayang banget ya suamimu, hp mahal nih, kenapa cewek ceroboh kayak loe dikasih barang mahal? Pasti dia kebanyakan duit. Heheheh" ejek Gita.
"Kapan nih? Gue udah mau gendong ponakan Sya" timpal Jihan ikut menggoda Asya.
"Kalian apa'an sih, malu tahu bahas gini" jawab Asya sambil menutupi wajahnya.
Disaat ketiga sahabat itu asik berbincang, Nando terus memandangi Asya. Pikirannya mulai galau sebab gadis yang ia cintai terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Harusnya aku yang ada diposisinya" gumam Nando.
Ndo, berhentilah berharap, loe juga butuh bahagia, batin Jihan yang tak sengaja mendengar gumaman Nando.