Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 11


__ADS_3

El berjalan menghampiri ruangan salah-seorang Kepala Departemen tersebut. Semua karyawan berdiri melihat kehadiran El diruangan mereka.


"Pak Elvin, silahkan duduk Pak" ujar pria yang menampar Asya.


Plakk...


El menampar pria itu sekeras mungkin. Sama halnya dengan apa yang ia lakukan pada Asya. Pria itu tersungkur karena tak mengira akan mendapatkan hadiah yang mengejutkan.


Suasana diruangan mulai menegang, keringat dingin mereka bercucuran. "Kasih dia SP. Dan untuk siapapun, jika berani melakukan pelecehan lagi, saya akan langsung memecatnya. Zio, pastikan perkataan saya sampai pada semua karyawan" ujar El lalu pergi meninggalkan ruangan.


El berjalan kembali keruangannya. Sedangkan Zio pergi menemui HRD.


"Asya" panggil El pada istrinya yang masih asik makan. Asya menoleh dengan mulut penuh makanan. "Tidak apa-apa, habiskan, kita harus pergi" imbuh El lalu duduk disamping istrinya.


Asya menawarkan makanannya pada El, memuji setiap makanan diatas meja. Tetapi El menolak, ia lebih memilih diam menatap Asya yang sedang makan.


"Mas El darimana? Terus Adik Ipar kemana?" Tanya Asya membuka pembicaraan.


"Sya, kamu bilang mau jadi istri yang baik kan?" Balas El dengan pertanyaan. Asya menoleh, ia mengangguk pasti.


"Istri yang baik itu gak akan menyembunyikan apapun dari suaminya" imbuh El.


Asya mencoba menghindar dari tatapan El, seolah ia merasa begitu bersalah. Ia hanya tak ingin masalah menjadi panjang. Pada dasarnya Asya memang tak menyukai keributan.


"A..anu Mas El" lirih Asya ragu.


"Lain kali jika aku bertanya, kau harus menjawab dengan jujur" ujar El lalu pergi ke meja kerjanya.


Asya menatap El, detak jantungnya berdetak sangat kencang. Ia masih tak mengerti apa yang sedang ia rasakan. Yang jelas, ia sudah mengingkari janjinya pada El untuk menjadi istri yang baik.


"El, Kakak Ipar, ayo kita pergi" seru Zio yang baru saja datang. "Biarkan saja Kakak Ipar, ada OB yang akan membereskannya" imbuh Zio saat melihat Asya membereskan sisa makanannya.


El sudah berjalan mendekati Zio, kini mereka menunggu Asya yang sedang berkemas. "Kita mau kemana?" Tanya Asya yang tak tahu kemana mereka akan pergi. Kedua pemuda itu tak menjawab, mereka mengajak Asya untuk bergegas pergi.

__ADS_1


"Adik Ipar, bagaimana kau bisa tahu makanan kesukaanku?" Tanya Asya penasaran.


"Tentu aku tahu, semuanya, bahkan aku juga tahu idolamu Park Hyung Sik" jawab Zio percaya diri.


"Aaahhhh, suka sukaaaa" balas Asya kegirangan. Ia lalu bertanya pada El, apakah sang suami juga mengetahui semua hal tentangnya.


"Tidak, dan tidak peduli" jawab El ketus. Asya memutar bola matanya malas, menggerutu karena kesal. Ia melampiaskannya dengan terus mengajak Zio berbincang tanpa henti. Topik apapun Asya cari agar tak bosan karena hening diantara mereka.


Tringg....


Pintu lift terbuka. Betapa terkejutnya Asya melihat sosok yang tak asing berdiri disana. Asya memundurkan langkahnya, menjauhi sosok yang baru saja masuk kedalam lift.


"Ada apa?" Tanya El seraya menarik Asya dalam peluknya. El merasa jika Istrinya masih merasa ketakutan. Karena tubuh Asya sedikit bergetar. Gadis itu terus menunduk menatap lantai, bungkam tanpa kata. Walau Zio kini mencoba mengajaknya berbicara, Asya hanya berdehem dan mengangguk.


"Kakak Ipar, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat pucat" celetuk Zio. El menunduk, memandang wajah istrinya. Benar-benar pucat, keringat Asya sudah bercucuran. Ketakutan yang besar, El takut ini akan menjadi trauma bagi Asya.


"Mas, aku tidak mau disini, aku mau pergi dari sini. Aku tidak menyukai kantor Mas El, jadi jangan pernah menyuruhku kemari lagi, aku .. aku" lirih Asya menatap El sedih.


"Itu tidak mungkin. Kau akan sering kemari, karena kau adalah istriku" jawab El seraya mengelus rambut Asya. Ia kembali menarik Asya dalam pelukannya, membiarkan sang istri menenangkan diri.


El mendorong kepala istrinya menjauh. "Asya, ingusmu menempel di kemejaku" ujar El seraya menunjuk kemejanya yang basah. Asya menatap El, lalu ia tertawa karenanya. Sembari menyeka air matanya, Asya mengambil tisu didalam tas. Ia membersihkan kemeja El walau tak ada perbedaan setelahnya.


El, Asya dan Zio pergi menuju parkiran. Zio mengemudikan mobil, sedangkan Asya duduk seorang diri dibelakang. Ia hanya diam memandangi jalanan yang macet. El sesekali menatap Asya lewat spion, mencaritahu apa yang sedang istrinya lakukan dalam keheningan.


Tidak ada, hanya pandangan kosong menatap ke depan.


"Kakak Ipar, apa kau pernah berkencan sebelumnya?" Tanya Zio.


"Tidak" jawab Asya singkat.


"Tapi kenapa? Maksudku, apa kau tidak menyukai seseorang?"


"Tidak"

__ADS_1


"Hei, melihatmu pasti banyak pria yang menyukaimu kan?"


"Aku tidak tahu"


"Satupun tak pernah ada yang menyatakan cintanya padamu?"


"Adik Ipar, jangankan menyatakan, mereka bahkan tak berani mendekati. Karena mereka tahu Papaku sangat galak. Ia selalu marah saat melihatku jalan dengan seorang pria. Dia bilang, jika aku dekat dengan pria, aku seperti wanita murahan"


Penjelasan terakhir Asya membuat suasana kembali hening dan canggung. Zio tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Sedangkan El, ia hanya fokus pada ponselnya.


Akhirnya mereka sampai disebuah salon. Zio meminta pada manager agar mengatur karyawannya untuk mendadani Asya secantik mungkin. El menunggu keduanya didalam mobil sambil mengobrol bersama koleganya lewat telepon.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Asya yang masih tak tahu tujuan mereka.


"Pesta, kau harus berdandan seperti sosialita didrakor. Kau menyukainya kan?" Bujuk Zio untuk membuat Asya bungkam. Gadis itu mengangguk setuju dengan apa yang Zio katakan.


Karyawan salon itu mulai mendadani Asya. Rambut, kuku, hingga pakaian yang Asya kenakan. Mereka menyiapkan segalanya seperti apa yang Zio perintahkan.


2 jam kemudian......


"Zio, bangun, kenapa kau malah tidur? Masih lama? Kita harus segera pergi" ucap El yang sudah lelah menunggu.


Zio terbangun, mengucek matanya. Ia mengantuk karena menunggu Asya yang tak kunjung selesai berdandan.


"Pak, Nyonya sudah siap" sela Manager membuyarkan pertikaian keduanya.


Asya nampak sangat cantik, dengan rambut panjang yang sedikit di curly. Gaun putih selutut dan sepatu hak tinggi putih juga menghiasi kaki Asya. Zio terpesona menatap Kakak Iparnya. Sedangkan El, masih saja menatap Asya tanpa ekspresi apapun.


"Cantiiikkk, waw, seperti pemeran wanita didrakor. Kakak Ipar the best, iya kan El?" Puji Zio tak henti-hentinya. Zio menyuruh El dan Asya untuk pergi ke mobil lebih dulu, sebab ia harus mengurusi pembayaran.


"Asya" panggil El menghentikan istrinya yang hendak masuk kedalam mobil.


El mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya. Sebuah kalung bertuliskan nama Asya. Ia memakaikannya pada leher Asya, agar leher sang istri tak terlihat kosong. Asya kembali tersipu dengan perlakuan manis El. Sekali lagi jantungnya berdetak dengan kencang.

__ADS_1


"Terimakasih Mas" ujar Asya seraya tersenyum menatap El.


"Hm.." El hanya berdehem kemudian masuk kedalam mobil.


__ADS_2