Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 35


__ADS_3

Setelah memperlakukan Asya dengan begitu manis, El kembali melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah mertuanya.


"Mas, berjanjilah padaku!! Aku tidak ingin Mas El menyentuh wanita lain selain aku" celetuk Asya lirih.


"Iya, aku janji. Ayo turun" jawab El dengan begitu santai. Ia bahkan tak menatap Asya dan langsung turun dari mobil membawa buah-buahan yang mereka beli.


Asya masih enggan keluar dari mobil. Ia sejenak memejamkan matanya, mencoba menenangkan hatinya yang kembali terluka karena perbuatan El.


Lucu, sekarang aku menjadi pemuas nafsu suamiku, batin Asya.


Ttokkkk... Ttokkkk....


El mengetuk kaca mobil, meminta Asya untuk segera turun. Dengan berat hati, gadis itu pun keluar dari dalam mobil. Melingkarkan tangannya pada El dan masuk ke dalam rumah.


Terlihat Papa dan Ayah yang sedang berbincang di ruang tamu. Kehadiran El dan Asya sangat mengejutkan keduanya.


Asya ingin sekali memeluk Papa, namun perasaan takut itu mengurungkan niat Asya untuk melakukannya. Ia memandangi El, berharap suaminya mengerti dengan apa yang ia inginkan.


"Ada apa?" Bisik El pada telinga Asya.


"Mau peluk Papa" jawab Asya pelan.


El berjalan menyapa kedua orangtuanya, memeluk Papa dan Ayah secara bergantian. Memberikan Asya kesempatan untuk memeluk Papa.


"El, tumben kamu gak ngantor?" Tanya Ayah membuka pembicaraan.


"Gimana lagi Yah, istriku tidak ingin jauh dariku" jawab El dengan santai.


"Enggak gitu kok Yah, itu kan maunya Mas El sendiri. Bukan aku yang minta Pa" sela Asya. Gadis itu masih memeluk Papa, tak ingin melepaskan pelukan itu.


El tertawa kecil melihat Asya yang kesal karena candaannya. Papa meminta El dan Asya untuk menemui Mama mereka di dalam kamar.


Mama masih terbaring di tempat tidur, ditemani oleh Bunda yang mengajaknya berbincang.

__ADS_1


Asya membuka kamar dan langsung berlari memeluk Mamanya, ia menyesal karena telah marah pada sang Mama seperti anak kecil. Asya berkali-kali meminta maaf pada Mama, hingga membuatnya sekali lagi menitihkan air mata.


"Maafin aku ya Ma, pasti Mama sakit gara-gara aku. Aku gak akan marah lagi kok, tapi Mama jangan sakit lagi ya" ujar Asya begitu manis.


Bahkan El yang mendengarnya pun mencoba menahan tawa.


"Iya sayang, udah jangan nangis, diketawain El tuh" balas Mama sembari mengelus lembut rambut putri bungsunya.


Mama memeluk Asya sangat erat, lalu menghujaninya dengan banyak ciuman di wajah. Perlakuan Mama membuat Asya tertawa geli karenanya.


"Rin, aku juga mau cium menantuku" rengek Bunda.


Bunda menarik Asya dalam dekapannya, lalu menghujani Asya dengan banyak ciuman seperti yang dilakukan oleh Mama Asya.


"Ehem, suaminya belum peluk cium nih" goda El seraya mengedipkan sebelah matanya pada Asya.


Asya menggeleng dengan cepat, ia tidak ingin menuruti permintaan suaminya itu. Tetapi Mama dan Bunda mencoba mendekatkan mereka berdua.


"Ap..apa sih kalian ini, jangan gitu dong" rengek Asya seraya menggoyangkan tubuhnya kesal.


Mama dan Bunda kini menghujani Asya dengan banyak pertanyaan. Mereka merasa jika Asya sudah tak marah lagi.


"Asya sudah tidak marah sama Mama kan?" Tanya Mama sembari mengelus rambut putrinya. Gadis itu mengangguk.


"Kalau sama Bunda, udah gak marah juga kan?" Sahut Bunda. Gadis itu juga mengangguk.


Kedua Ibu-ibu itu lalu melakukan tos dan kegirangan. Rencana mereka berhasil, Asya sudah tidak marah, dan pernikahannya mulai dekat kembali.


"Mama ini sakit beneran apa gak sih?" Celetuk Asya dengan tatapan penuh selidik.


"Ah ahhh, sakit kok sakit" rengek Mama berakting kesakitan. Bunda juga membantu Mama agar terlihat lebih meyakinkan bagi Asya.


"Iiih, kalian bohongin aku ya" ucap Asya sembari memasang wajah kesalnya.

__ADS_1


Bunda dan Mama kembali meminta maaf, sebab mereka tak memiliki cara lain untuk memanggil Asya datang dan menyelesaikan semua kesalahpahaman diantara mereka. Jadilah Mama harus berpura-pura sakit agar Asya mau menemuinya.


"Hehehe, gak apa-apa deh, aku juga senang bisa peluk Papa" jawab Asya dengan senyuman lebarnya.


Asya kembali memeluk Mama, bermanja-manja dipelukan Mamanya. Ia memang sudah menikah, namun usia Asya juga terbilang masih sangat muda. Kasih sayang kedua orangtuanya tentu masih belum ada yang bisa menandinginya.


"Mm.. Kamu sama El gimana?" Tanya Bunda.


Blush, wajah Asya memerah. Ia kembali mengingat malam itu, jarak terdekat antara dirinya dan El.


"Sering-sering mainnya, biar Mama cepat punya cucu" bisik Mama. Kedua Ibu-ibu ini menggoda Asya hingga wajahnya memerah dan tak tahu harus bagaimana.


Mereka bahkan mengatakan pada Asya akan mengirimkan gaun malam yang lebih indah dari sebelumnya. Juga lilin aroma untuk membangkitkan gairah pengantin baru itu.


Ketika para Ibu itu menggoda Asya, di sisi lain para pria sedang berbincang. Tetapi topik mereka masih sama, mengenai pekerjaan dan bisnis mereka.


"Syam kemarin kalah tender, aku tidak tahu apa saja yang ia lakukan, anak bodoh itu pasti sering bermain-main" oceh Papa Asya yang masih kesal karena putranya.


"Itu kan biasa Pa, aku juga sering. Syam juga sudah berusaha keras" sahut El.


"Betul kata El, itu sudah biasa Dirga. Biarkan kedua putramu yang mengurusnya, sudah waktunya kau berhenti dan menantikan seorang cucu" ujar Ayah El sembari merangkul pundak putranya.


El menatap Ayahnya dan menggeleng. Ia sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak dalam waktu dekat. Ia tidak ingin merusak kesenangannya dengan kehadiran seorang anak diantara El dan Asya.


"El, sebentar lagi liburan akhir tahun. Apa kau tidak mau menemui Kakek dan Nenek mu? Mereka terus menanyakanmu, sudah dua tahun kau tidak pernah berkunjung kesana" ucap Ayah El.


"Untuk apa aku kesana? Ayah tahu benar, aku tidak menyukai suasana disana, perkumpulan itu hanya untuk membahas harta warisan. Aku tidak menginginkan harta Kakek dan Nenek. Perdebatan mereka seperti anak kecil" jelas El.


El sudah lama tidak pernah berkunjung ke rumah Kakek dan Neneknya. Selain rumah mereka yang ada di daerah pedesaan, para cucu mereka masih saja sibuk berebut mengenai harta warisan. Hal itu membuat El merasa tak nyaman dengan persaingan disana.


Kakek El memiliki perusahaan minuman teh yang cukup sukses dan terkenal. Kebun teh mereka juga ber hektar-hektar. Bisa dibilang, Kakek El adalah pengusaha yang sangat sukses.


Winarso, nama pengusaha sukses yang menjadi panutan beberapa pengusaha lainnya. Winarso adalah nama Kakek El. Bahkan Ayah El juga menyandang nama itu dibelakang namanya, Adhitama Winarso. Namun sayangnya, Adhitama ingin membuat identitasnya sendiri. Sebab itulah ia menamai kedua putranya dengan namanya.

__ADS_1


Adhitama sudah menyadari, jika kedua Kakaknya pasti akan bersaing untuk berebut harta kekayaan orangtuanya. Ia tak ingin ikut andil disana, begitulah awal terlahirnya keluarga kecil Adhitama.


Membangun identitasnya sendiri, dan berdiri dengan namanya sendiri.


__ADS_2