
Semua karyawan tampak terkejut melihat El berjalan memasuki kantor. Mereka semua segera kembali ke meja masing-masing dan melanjutkan pekerjaannya. Wajah El terlihat murung, para karyawan nya sudah menebak hal yang tidak-tidak.
"El, kau disini? Bukankah ingin libur hari ini?" Cecar Zio dengan berbagai pertanyaan.
"Masuk keruangan ku" ucap El tanpa menengok.
Zio mengikuti El masuk kedalam ruangannya. Mengunci pintu lalu menghampiri El yang berbaring di sofa. Ia menatap wajah lesuh sahabatnya, seakan ada banyak masalah yang datang hingga membuat El pusing kepala.
El menghembuskan napasnya perlahan sebelum menceritakan kegelisahan nya. Ia memberitahu Zio apa yang ia dengar dari bibir Nando. Dan sikap Asya yang hanya diam kala Nando bertanya akan perasaannya. El mulai ragu, apakah Asya benar-benar bahagia bersama dengan nya selama ini. Atau itu hanya sebuah paksaan sebab Asya selalu tak ingin melihat orang lain terluka karenanya.
"Zio, apakah perasaan ku ini egois? Tapi aku suaminya, aku sangat mencintai istri ku"
"El, kau sudah bertanya pada Asya?"
"Aku berulang kali bertanya, dia selalu mengiyakan. Tapi Zio, jika ada perasaan sedikit saja untuk Nando. Bukan tidak mungkin Asya akan tergoda olehnya kan?"
"Lalu kenapa kau pusing El? Lakukan seperti apa yang Asya lakukan dulu. Membuatmu jatuh cinta padanya dan menjauhkan para wanita lain darimu. Lakukan hal yang sama, buat dia hanya milikmu El"
Zio berdiri lalu pergi setelah menepuk pundak El.
"Bagaimana jika dia tetap pergi dariku Zio?"
"Kau belum mengenal istrimu ya El. Jika begitu, kau harus mengenalnya lebih dulu sebelum mempertahankan hubungan"
Zio kembali melangkah keluar ruangan. El kembali termenung memikirkan perkataan Zio. Sepertinya sahabatnya itu benar, El tak tahu apapun tentang Asya. Yang ia tahu hanya menghabiskan malam bersama sang istri. Ia tak memiliki waktu berdua sebanyak itu, karena mereka sudah memiliki anak lebih dulu.
"Apa yang harus aku lakukan? Mengajaknya berkencan? Nonton? Belanja? Astaga, kami selalu dikelilingi Kai dan Key"
Ttok .. Ttok...
Ceklek...
"El, kau tidak membicarakan hal ini dengan Asya ya?"
"Ada apa Zio?"
"Kau benar-benar tidak mengenal istrimu? Tentu saja dia khawatir, ia menelpon ku dan bertanya apakah kita dalam besar karena kau terlihat gelisah"
"Aku akan pulang sebentar lagi"
Zio kembali menghilang dari balik pintu. El menatap langit-langit kantornya, ia memejamkan matanya hingga tak sadar kantuk menyerang. Wajah lelahnya terlihat jelas, bahkan Zio tak tega membangunkannya.
Pukul 21:00....
__ADS_1
El masih tertidur diruangannya, hingga membuat Zio harus lembur menemani sang Presdir.
"Asya... maafkan aku, maaf"
Zio mengerutkan keningnya, ia menatap El yang masih memejamkan mata. Ia pun menghampiri El dan hendak membangunkannya.
"El, badanmu demam tinggi" gumam Zio. Ia langsung bergegas memanggil satpam untuk membantunya membawa El kerumah sakit.
Disisi lain, Asya terus gelisah menunggu kepulangan suaminya. Ia terus menatap ke arah jendela berharap El akan segera pulang. Si kembar sudah terlelap setelah menangis mencari Ayah mereka.
"Mas El, apa kau baik-baik saja? Kenapa perasaan ku gelisah seperti ini? Mas, kita harus bicara" gumam Asya.
Di rumah sakit..
El yang terbangun harus menerima kenyataan pahit. Dokter yang merawatnya, adalah seseorang yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini.
"Kau saja tidak bisa menjaga diri. Mana mungkin bisa menjaga Asya"
"Apa kau masih mencintainya? Kenapa kau sangat menginginkan istri ku?"
"Aku sangat mencintainya, sangat dan akan selalu. Dia adalah bagian terpenting dari perjalanan hidupku"
"Jika aku melepaskan Asya untukmu, apa kau berjanji akan membuatnya bahagia? Apa kau yakin berada disampingmu adalalah kebahagiaannya?"
El menghela napasnya kasar, ia tak mengerti kenapa Nando seyakin itu. Padahal El merasa bimbang dengan kenyataan ini. Walau ia hidup bertahun-tahun bersama sang istri, namun El merasa tak tahu apapun tentang istrinya.
Entah mengapa air mata itu kembali menetes kala melihat Nando keluar dari kamarnya. Seolah El membayangkan Asya berjalan keluar bersama Nando.
"El, aku akan telepon Kakak ipar"
"Jangan, katakan padanya aku akan menginap di rumahmu"
"Tapi El, dia harus tau"
"Aku tidak mau dia khawatir"
Zio pun melakukan apa yang El katakan. Sayangnya mereka berdua tidak tau ada seorang wanita yang terluka karena kebohongan itu. Informasi Zio membuat Asya berpikir jika El marah padanya. Ia tak mengerti harus berbuat apa lagi agar El tak marah.
Asya terduduk lemas di dekat jendela, ia mencoba mendial nomor suaminya sekali lagi. Berharap kali ini El akan mengangkat teleponnya.
"Kenapa? Kenapa tidak diangkat Mas?" Lirih Asya dalam tangisnya.
"Apa Mas El berpikir aku mengkhianatinya? Tidak Mas, tidak seperti itu. Aku tidak menyukai Nando, aku tak ada hubungan apapun dengannya"
__ADS_1
Karena tak bisa menghubungi El, Asya kembali menelepon Zio. Kali ini Zio tak bisa lagi berbohong, ia langsung memberikan ponselnya pada El.
"Adik ipar, apakah Mas El baik-baik saja? Kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Apakah dia sangat sibuk? Aku... aku..."
"Sayang"
"Oh, Ma..Mas El"
"Maaf ya, sepertinya hpku tertinggal dikantor. Aku akan pulang sebentar lagi, jangan menangis. Aku perjalanan pulang"
"Iya, hati-hati ya Mas" ucap Asya lalu berlari menuju lantai bawah. Ia duduk diruang tamu sambil terus memandangi pintu masuk. Ia berharap El cepat pulang agar bisa memeluknya erat.
Beberapa menit berlalu...
Asya masih begitu antusias menunggu suaminya.
Ceklek...
Pintu rumah terbuka, El melangkah masuk kedalam. Sedangkan Asya berdiri mematung ditempat.
"Kenapa belum tidur?"
"Mana mungkin aku bisa tidur" jawabnya sambil berlari memeluk El.
"Eh, badan Mas El panas"
"Tidak apa-apa, aku hanya kelelahan. Tidur yuk, ngantuk nih"
"Mas, tentang Nando, apa yang dia katakan itu..."
"Apa kamu bahagia hidup bersamaku Asya?"
Asya mengangguk.
"Lalu kenapa harus memikirkan perkataannya? Kamu yang tau apakah kamu bahagia atau tidak, bukan orang lain Asya. Karena kebahagiaan mu, adalah hak dan milikmu seorang"
Asya tersenyum lebar, ia kembali memeluk El dan berjalan bersama menuju kamar.
Mas El benar, aku yang tau apakah aku bahagia atau tidak. Apa definisi bahagia itu? Aku tidak terlalu memikirkannya. Aku merasa nyaman dan selalu tersenyum lebar kala dekat dengan suami dan anak-anak kami. Bahagia hanyalah tentang pemikiran, Nando hanya belum merelakan ku karena itu dia pikir aku tak bahagia. Aku tau, suamiku adalah jawaban atas semua pertanyaan ku. I love you, Mas El.
El memandangi Asya dengan senyuman, sembari mengelus lembut rambut panjang istrinya.
Asya, aku sudah memiliki komitmen untuk membuatmu bahagia. Kali ini aku benar-benar akan menepati perkataan itu. Tidak akan aku biarkan orang ketika masuk diantara kita, baik itu dari pihakmu maupun aku. I love you, Asya
__ADS_1