Suami Pilihan Papa

Suami Pilihan Papa
SPP - 43


__ADS_3

"Emh" El terbangun dari tidurnya. Ia mengedarkan pandangannya, menatap ruangan sepi yang tampak familiar, kamar tamu.


"Asya" panggil El terperanjat dari tidurnya. Ia berlari keluar kamar dan menuju ke kamarnya, nihil, Asya tak berada disana. Ia kembali turun dan memeriksa dapur juga taman, Asya tak ada disana.


El kembali berlari ke kamarnya, membuka kamar mandi dan memeriksa lemari. Kosong, beberapa pakaian Asya tak ada dilemari.


Pemandangan ini, membuat El berlutut dilantai. Pada akhirnya, Asya benar-benar pergi seperti apa yang Zio katakan. Ia kembali kalut dalam emosinya, membanting dan mengacak seluruh barang-barang yang ada di kamar.


Layaknya orang depresi, El berteriak dan membanting semuanya. Melemparkan vas bunga pada cermin yang selalu Asya gunakan. Menggulingkan tempat duduk yang selalu Asya tempati.


"Mas El" panggil seseorang dari balik pintu. El menoleh, ia tertegun karena terkejut. Napasnya naik turun karena emosi begitu besar dalam dirinya.


El berjalan mendekati sosok istrinya, entah itu bayangan, imajinasi atau apapun itu, benar-benar mirip seperti Asya.


"Kau berjanji tidak akan pergi bukan? Kenapa kau pergi? Apa kau menemukan pria lain yang lebih bisa memuaskanmu? Cih, kalian sama saja" oceh El.


"Ada apa Mas? Aku baru saja selesai berbelanja" jawab Asya seraya mengelus pipi suaminya. Ia mencium bibir El singkat, morning kiss, seperti permintaan El.


Pemuda itu menatap istrinya, tangan Asya memang sedang membawa belanjaan. Tapi kenapa Asya mengemas semua pakaiannya, seolah ia akan pergi jauh, jauh dari El.


Padahal El yang menyuruhnya untuk mengemas pakaian, karena mereka akan pergi ke rumah Kakek dan Nenek El.


El mendekap istrinya dengan erat, setelah semua yang ia lakukan, tak ada sedikitpun rasa bersalah dalam raut wajah El.


"Sya, aku harus ke kantor" ujar El.


"Sepertinya Mas El kurang sehat, tidak usah pergi ke kantor, istirahat lah. Adik Ipar akan mengurus semuanya"


"ZIO? KENAPA KAU SELALU MENYEBUT NAMANYA HA? KAU MENYUKAINYA?" Bentak El seraya mencengkram dagu Asya. Cengkraman El sangat kuat, hingga kukunya menusuk kulit Asya. Membuat aliran darah keluar dari sana.


Napas Asya terengah-engah, ia tak pernah tahu jika El bisa semarah ini. Asya telah terbiasa dengan kemarahan Papa, tapi El, ia melihat kebencian dalam perlakuan kasar El.


El mendorong Asya hingga tersungkur ke lantai, ia kembali mengacak rambutnya dengan gusar. Nama yang tak ingin ia dengar, apapun tentangnya, El tak ingin mendengar orang lain menyebut nama Zio dihadapannya, apalagi jika itu istrinya.

__ADS_1


"Mas El" panggil Asya lirih.


"A..Asya, ap..apa aku menyakitimu?"


"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti"


Asya berdiri dan berjalan menghampiri El. Suaminya sedang dalam masa sulit, kejadian masalalu El memicu amarahnya. Beban dalam pikiran yang membuat El depresi. Membuatnya tak fokus dan sering melupakan apa yang ia lakukan.


Dipeluknya El, lalu dielusnya tengkuk leher El. Trauma, depresi akan masalalu yang menyakitkan. Asya mencoba menenangkan El yang tersulut emosi. Melawan emosi dengan emosi, kebencian dilawan oleh cinta.


Kaki El melemas, ia terduduk dilantai dalam dekapan sang istri. Asya mulai mengerti, perubahan sikap El yang tiba-tiba, pastilah karena tekanan dalam pikirannya.


"Tidak apa-apa sayang, mandi yuk, kecut tau" goda Asya seraya mengelus pipi suaminya.


"Apa?"


"Mandi"


"Bukan, kamu panggil aku apa?"


Ah, ia sangat tersipu malu karenanya. El mengikuti istrinya, dan memeluk Asya dari belakang. Ia kembali meminta maaf atas semua perlakuannya. Terlebih saat melihat luka goresan diwajah Asya karenanya.


El menyentuh luka itu, menatap sedih ke arah istrinya. Ia menyesal tak bisa mengendalikan amarahnya, padahal ia telah berjanji untuk tidak pernah menyakiti Asya.


"Mas El, sudah sana mandi. Kita berangkat siang ini saja, nanti malam ada pertandingan sepak bola. Mas El mau menontonnya kan?"


"Apa kau tidak apa-apa Asya?"


Asya melingkarkan tangannya pada leher El, lalu tersenyum nakal ke arah suaminya. Hanya beberapa detik sebelum dirinya berpaling karena tak bisa menahan detak jantungnya yang seakan hendak lepas. Ia kembali menyibukkan diri di dapur, dengan El yang masih setia menatapnya.


"Mas, tolong aku ambilkan wadah diatas, kenapa ini sangat tinggi, aku tak bisa menggapainya" oceh Asya kesal. Ia berjinjit-jinjit namun tangannya hanya bisa menyentuh ujung rak.


"Apa yang akan kau lakukan tanpaku sayang?" Sahut El seraya mengambilkan wadah yang istrinya inginkan. Gadis itu lagi-lagi tersipu malu, ia lalu mendorong El untuk segera mandi.

__ADS_1


Saat El mandi, Asya kembali ke kamarnya, ia menatap kamar mereka yang sudah seperti kapal pecah. Semua barang berserakan dan ada banyak barang yang hancur. Ia mulai membersihkan perlahan, sambil mengingat El dan amarahnya.


Asya mulai gelisah, mencari cara untuk meredam emosi El. Jika ia tidak bisa mengatasinya, bukan tidak mungkin El akan kembali menyakiti dirinya. Dan hal terburuk yang bisa terjadi, mereka berdua bisa terluka karenanya.


"Sayang, biarkan saja, aku akan memanggil Ipah" celetuk El yang baru saja keluar kamar mandi.


"Aku bisa membersihkannya Mas"


"Aku tahu, tapi aku tidak mau, ayo kita pergi" ujar El seraya menggendong Asya.


El yang hanya menggunakan sebuah handuk untuk menutupi bagian bawahnya, membawa Asya menuju kamar tamu dan membaringkannya disana. Asya menatap El dan menggeleng, ia sedang tidak ingin melakukannya, apapun itu, ia tidak ingin.


Pemuda itu membuka handuknya, reflek Asya menutup mata dengan kedua tangannya. El yang melihat tertawa terbahak-bahak, padahal ia mengenakan celana pendek. Tapi istrinya sudah membayangkan yang tidak-tidak.


El berbaring disamping Asya, lalu menarik kedua tangan istrinya yang menutupi wajah. Mata mereka kembali saling bertemu, dengan perasaan yang sulit dijelaskan.


"Mas El mau apa?"


"Kok Mas lagi, sayang Sya. Panggil aku sayang"


"Gak mau wlee" ucap Asya seraya menjulurkan lidahnya.


"Tapi aku mau" sahut El sembari mendekatkan jarak diantara mereka. Asya segera mengangguk dan pergi meninggalkan El. Bersama El, ia hampir melupakan semua tugasnya. Gadis itu kembali ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk sang suami.


Sedangkan El, duduk di ruang tamu dan membuka leptopnya. Asya meminta El untuk tidak pergi ke kantor, sebab ia merasa jika suaminya sedang tak enak badan. El menurutinya, walau sebenarnya ia menggerutu kesal.


"Zio, datang ke rumahku" perintah El melalui telepon. Ia kembali menatap Asya. Sebenarnya ia tak ingin menghubungi Zio, tapi tidak bisa dipungkiri jika dirinya membutuhkan Zio untuk mengurus perusahaan. Sebab ia harus pergi ke rumah Kakek dan Neneknya.


"Sayang, Zio akan datang. Masakan juga untuknya" pinta El.


"Iya Mas"


"Apa?"

__ADS_1


"Iya sayang"


__ADS_2