
Setelah kejadian itu Trimoko merasakan hipnotis yang membuat dirinya tak berdaya yang di lakukan okey Wardani, yang dimana Trimoko yang sangat mencintainya, apalagi sikap Wardani yang sempat membuat dirinya jatuh hati dengan tingkah lakunya itu.
" Ayo sayang masuk, Trimoko kembali ke kamarnya ya, " Ucap Wardani
" Iya, aku mau keluar, Abah aku besok pagi mau tanya ke Abah, minta maaf jika aku salah serta menggangu waktu istirahat nya, " Jawab Trimoko
" Tidak apa-apa, " Ucap Wardani sambil main mata
" Ya sudah Mari," Jawab Trimoko
" Mengapa kau begitu pada Trimoko, tidak usah menguruh dia memang anak itu seperti itu, " Ucap Lurah Darso
" Tidak apa sayang, jika tidak seperti itu nanti malah ribut jadi runyam," Jawab Wardani
" Ya sudah, waktu udah malam istirahat, kamu kan masih sakit," Ucap Lurah Darso
" Iya sayang, selamat malam, muach, " Jawab Wardani sambil Mencium keningnya
" Muach, " Balasan cium Lurah Darso
Malam yang sunyi itu menikmati
malam-malamnya dengan perasaan senang untuk Wardani, perasaan sedih yang dirasakan Biyung Maryam, serta Biyung Zubaidah yang merasa marah dengan sikap Wardani yang selalu membuat dirinya naik darah, Trimoko terus berfikiran kepada Wardani yang terjadi saat itu juga.
" Mengapa kau memilih Abahku, bukannya kau baru mengatakan kalau kau suka kepadaku,tapi tak apa kau tetap menjadi kekasihku," Ucap Trimoko berbaring diatas keranjang tidurnya
" Aku akan selalu mencintaimu walaupun kau sudah menjadi istri Abahku, aku akan merebutmu dari Abah suatu saat, " Ucap Trimoko
" Ya sudah besok aku harus menemui Biyung Maryam semoga besok Biyung Maryam mau bercerita kepadaku, jika aku Bertanya ke Abah lagi pasti tidak mendapatkan suatu informasi malah mendapatkan sebuah kemarahan lagi, " Ucap Trimoko
Trimoko saat itu mulai memejamkan matanya, mulai tidur malamnya dengan nyenyak sekali. Hingga suara hening dan oancaran since bulan yang begitu India menyinari rumahnya.
Keesokan harinya, waktu masih dining hari simbok Warsi mendengar dari pasung Den Rindu ia melihat bahwa den Rindu marah, simbok Warsi mencari Paimin dan Paijo.
"Ah..." Ucap Rindu semua barang terlimpar
Rindu saat itu mulai merasa tidak nyaman didalam pasung itu, Rindu seolah-olah marah dan ingin pindah dari tempatnya.
" Aduh den Rindu marah-marah, waktu masih dini hari, aku harus bangunin Paijo dan Paimin, " Ucap Simbok Warsi
Simbok Warsi menuju ke Kamarnya agar mereka membantunya, simbok takut kepada sikap Den Rindu yang sedang kumat.
" Jo... Min, bangun, " Ucap Simbok Warsi
" Kok masih diam aja, " Ucap Simbok Warsi
" Jo... Mi..., " Ucap Simbok Warsi berkali-kali
Berdua sedikit bergerak tetapi masih keadaan tutup mata, simbok Warsi mencari akal untuk membangunkannya, di dekat nya Simbok Warsi melihat terdapat air dalam gelas lalu Simbok Warsi memiliki rencana.
" Disitu ada air, awas kalian tidak bangunin, pasti bangunin, " Ucap Simbok Warsi
Klontang ther.... Suara gelas terjatuh dari atas meja
" Bom... Bangun... Jo... " Ucap Paimin yang terbangun secara kaget
" Apa Bom,... Ayo keluar," Jawab Paijo
" Haha tau rasa kau, hai tidak asal Bom, itu gelas aku jatuhkan untuk membangunkan kalian, " Ucap Simbok Warsi
" Simbok, kenapa ganggu orang lagi enak-enak tidur, tidur lagi, ah, " Jawab Paimin
" Bangun, aku takut Den Ayu Rindu lagi marah-marah, aku mau lihat sendiri kesana takut, aku bangun kalian berdua untuk membantu," Ucap Simbok Warsi
" Lho... Lah dalah, betul to mbok," Sahut Paijo
" Iyo betul to, kenapa aku bangun kalian berdua, " Ucap Simbok Warsi
" Lho kalau begini kita langsung bangun Den Arya, jangan di biarkan nanti kita kena marah, " Ucap Paimin
" Tapi aku tidak berani bangunkan Den Arya, ini masih dini hari takutnya marah, " Sahut Paijo
" Lah harus bagaimana, berani atau tidak berani kita harus bangunkan dan kasih tau den Arya, ayo kita bertiga ke kamar Den Arya, " Ucap Simbok Warsi
__ADS_1
" Ya sudah mbok ayo,buruan, " Jawab Paimin
Mereka bertiga menuju ke kamar Arya dengan perasaan takut serta panik dengan keadaan Rindu yang semakin kumat menjadi-jadi.
Tok... Tok...Tok... Ketuk pintu
" Den Arya, ini Simbok Warsi," Ucap Simbok Warsi
Arya mendengar suara Mbok Warsi.
" Siapa itu, masih dini hari sudah bangunin orang, " Ucap Arya yang bangun dari tidurnya
Rek...Arya membuka pintunya.
" Ada apa mbok masih dini hari sudah bangunin Arya, " Ucap Arya
" Ngamponten Den Arya, kamu bertiga membangunkan Aden, Simbok melihat Den Rindu lagi marah-marah, sekarang sikap nya menjadi-jadi, Den Rindu membanting semua pelaratan yang ada disekitar kami bertiga tidak berani masuk hanya dari luar Den, jadi Simbok berani membangunkan Aden, " Jawab Simbok Warsi
" Iya den, " Sahut Paijo
" Ya sudah Sebentar, ayo kesana, " Ucap Arya
Arya dan mereka berjalan menuju kekamar Rindu, Simbok dan yang lain saling bergontokan. Suara marah dan barang-barang yang dirempar mulai terdengar oleh mereka.
" Ternyata iya, Mbok tolong ambilkan kunci kamar pasung, " Ucap Arya
" Baik Den saya Ambilkan dulunya, " Jawab Simbok Warsi
" Ini Den kuncinya, " Sahut Simbok Warsi
Arya masuk ke dalam kamar pasungnya.
" Ah kau siapa jahat, lempar barang, " Ucap Rindu
Arya menghindar dari lemparannya. Arya langsung memegang tangannya lalu ia mendudukkan lalu ia pegang dahinya serta mengucapkan sebuah mantra untuk Rindu, Rindu seketika itu mulai sedikit mereda dari marahnya.
" Mbok tolong ambilkan air minum, " Ucap Arya
" Ini Den air minumnya, " Jawab Simbok Warsi
" Terima kasih Mbok, " Ucap Arya
" Syukurlah kau tenang, aku susah memberikan mantra lagi agar dirinya melupakan serta kembali sementara, " Batin Arya
" Sudah Mbok, jika Ada yang terjadi kepada Rindu langsung saja mencari saya, kalau begitu aku mau kembali ke kamar, " Ucap Arya
" Baik Den, terima kasih Den, " Jawab Simbok Warsi
" Iya Den Arya, " Sahut mereka berdua
" Lihat Den Rindu kasihan, kenapa kenapa keluarga Lurah semakin begini, " Ucap Simbok Warsi
" Aku juga sendiri lihatnya, " Jawab Paimin
" Ah... Den Ayu Rindu melihat kita, ayo kita pergi nanti jika terganggu dia marah berabe," Sahut Paijo
" Ayo... Pergi, Mbok cepet Mbok, " Sahut Paimin
Mereka bertiga langsung melakukan perkerjaannya, karena hari mulai pagi, Bayang-bayang putih mulai Nampak diatas langit, suara ayam yago berkumandang, bahkan suasana cerah menemani pagi yang begitu sempurna, sinar merah mulai muncul dari kandangnya.
" Sudah pagi, aku harus segera bangun, " Ucap Wardani
" Mbok makanannya sudah jadi semua, " Tanya Wardani
" Sudah Tuan, kalau begitu mana biar aku yang menyiapkannya, " Ucap Wardani
" Iya Tuan, ini sudah bisa di siapkan di atas meja, " Jawab Simbok Darmi
Trimoko langsung menuju ke kamar Biyung Maryam.
" Biyung bagaimana keadaanmu, " Ucap Trimoko
" Biyung baik-baik saja, santailah Biyung akan baik-baik saja mengapa sayang, " Ucap Biyung Maryam
" Trimoko mau tanya kepada Biyung, apa yang terjadi kepadamu kemarin Biyung, " Tanya Trimoko
__ADS_1
" Oh itu sudah semua itu salah Biyung jadi Abah menghukum Biyung, terima kasih kamu selalu perhatian kepada Biyung, " Ucap Biyung Maryam
" Beneran Biyung begitu yang sebenarnya terjadi, " Ucap Trimoko
" Iya sayang, itu benar kamu tidak usah Bertanya lagi ke Abah, semua itu kesalahan Biyung, " Ucap Biyung Maryam
" Maafkan aku sayang aku berbohong kepadamu, jika aku menjelek-jelekan Wardani pasti kau tidak setuju dan marah kepada Biyung," Batin Biyung Maryam
" Ya sudah ayo kita bersiap untuk ke rang makan, pasti makan sudah di siapkan oleh Biyung Wardani, " Ucap Biyung Maryam
" Iya Biyung Mari kita kesana, " Jawab Trimoko
" Wanita setan yang tidak tau malu menyiapkan sarapan, wanita perebut suami orang, " Ucap Biyung Zubaidah
Wardani hanya terdiam dan asyik dengan menyiapkan semuanya.
" Memang cocok wanita setan yang begitu sombong dan tidak tau diri, dasar kampung, " Ucap Biyung Zubaidah sambil menuju ke tempat duduknya
" Tunggu pembalasanku, jangan merasa kuat lihat permainanku," Batin Wardani
Semua sudah siap dan duduk di tempat masing-masing. Trimoko yang terus mencuri pandang Wardani melihat begitu mempesonanya.
" Sayang sudah kesini, mau makan apa, " Ucap Wardani
" Terserah kamu saja, " Jawab Lurah Darso
" Ya sudah aku kasih special buat sayang, " Ucap Wardani
" Biyung Maryam mau," Tawar Wardani
" Tidak usah aku ambil yang lain yang saja, " Jawab Biyung Maryam
" Dasar wanita bermuka dua, aku masih tidak percaya kepadamu, " Batin Biyung Maryam
" Ya sudah kalau begitu, oh iya aku mempunya sop yang enak Sebentar aku ambilkan aku harus di dekat Biyung Zubaidah, " Ucap Wardani
Wardani mengambilkan sop di dekat Biyung Zubaidah.
" Sor... , " Kuah tumpah di dekat Biyung
Zubaidah dan mengenai pakaian Biyung Zubaidah
" Ya Ampun maaf Biyung Zubaidah tidak sengaja sopnya tumpah tadi mau aku angkat ternyata tangan aku masih belum kuat jadi tumpah, maaf ya, " Ucap Wardani sambil tersenyum kepada Biyung Zubaidah
" Ah... Dasar wanita setan, kamu ini bikin naik darahku lagi, sabar tahan, " Batin Biyung
Zubaidah dengan ekspresi marah dan kembali ke baik
" Tidak apa-apa Ananda, ini juga tidak basah semua hanya sedikit yang basah, ayo lanjutkan sarapan paginya, " Sahut Biyung Zubaidah
" Iya terima kasih, oh iya Trimoko mau sop, ini aku kasih ya, " Ucap Wardani menghampirinya
" Boleh, " Jawab Trimoko
" Iya ini enak kok, aku kasih ya, " Ucap Wardani sambil memainkan kaki Trimoko
Trimoko seolah-olah mulai terangsang dan langsung menatapnya. Wardani membalasnya dengan kedipan mata indahnya yang membuat Trimoko semakin menjadi-jadi.
" Trimoko hey... Bagaimana lagi, " Ucap Wardani
" Hey...sudah terima kasih, " Jawab Trimoko
" Ya sudah silahkan di nikmati, " Ucap Wardani
" Sayang rasakan sop masakan aku, enak tidak, " Ucap Wardani
" Enak sekali sayang, juara masakan kamu, " Puji Lurah Darso
" Terima kasih sayang, " Jawab Wardani
Trimoko yang menikmati sarapan lagi sambil terus memandang kekasih hatinya yang selalu membuat dirinya kangen bahkan terpesona kepadanya. Sarapan pagi pun selesai semua mulai beraktifitas Trimoko menemui Wardani disaat bersih-bersih pelaratan dapur.
Pelukan dari belakang dan tangannya di bawah punggung Wardani.
" Sayang kenapa semakin hari aku tidak bisa melupakanmu, selalu terbayang olehmu, " Ucap Trimoko
__ADS_1
" Ah mas Trimoko bisa aja, mas aja yang berlebihan, " Jawab Wardani
Apa yang terjadi kepada mereka, apakah mereka menjalin hubungan gelap.