
Amar meninggal, semua tak rela kehilangan Amar yang begitu cepat, yang miris secepat itu, Wardani yang begitu sedih mendalam atas kepergian Suami barunya yang belum genap satu bulan, dua hari saja belum sempat bersama.
Kepiluan ini membuat Ibu Narni sedih dan menangis tak ingin di tinggal boleh Sangat anaknya.
" Apa Amar telah tiada," Ucap Biyung Maryam sambil meneteskan air mata
" Tidak...., Mas Amar tidak boleh meninggal, " Sahut Wardani
" Apa anakku, bangunlah, ibu selalu ada untuk mu sayang," Ucap Ibu Narni sambil menggoyangkan jasad Amar
" Sabar Ibu, ikhlaskan dirinya, " Jawab Biyung Maryam
" Amar sayang begitu cepat kau meninggalkan keluargamu, Ibu baru saja bahagia kau mendapatkan seorang pasangan hidup dan akhirnya seperti ini, " Ucap Ibu Narni
" Sudah Sayang ikhlas kepergian Suamimu, kau akan bahagia, " Sahut Biyung Zubaidah yang mengelus Wardani
Kentongan pemanggil warga berbunyi di balai desa.
" Semua ngumpul..... , " Ucap Salah satu warga
" Ada apa kamu mengumpulkan kita semua disini, " Ucap Seorang wanita serta sahutan omongan yang lainnya
" Sebentar ada kabar duka dari rumah Lurah, " Ucap Warga
" Apa itu," Sorakan semua warga
" Bahwa Amar telah meninggal dunia, " Ucap Warga
" Apa Amar Meninggal, barusan belum sehari berganti hari kok sudah meninggal, kasihan Wardani telah di tinggal suaminya begitu cepat, " Sahut seorang wanita dan sahut yang lainnya
" Abah di balai desa ada ribut apa itu, ayo kita kesana, " Ucap Biyung Sumi
" Ayo Biyung, " Jawab Abah Warso
Abah dan Biyung pun mencoba meraut orang untuk bisa masuk ke dalam agar mendapatkan tempat depannya.
" Ada apa ini, kok ramai-ramai sekali," Tanya Abah Warso
" Abah belum dengar ya, " Jawab salah satu Warga
__ADS_1
" Apa itu, " Sahut Biyung Sumi
" Bahwa Amar meninggal dunia, " Ucap Warga
" Apa Amar meninggalkan, Abah kita buruan ke rumah lurah, " Ucap Biyung Sumi
" Ayo Biyung, " Jawab Abah Warso
Abah warso dan Biyung keluar dari kumpulan tersebut dan segera menuju ke rumah Lurah untuk melihat keadaan Wardani dan berbela sungkawa.
" Ya sudah kalau begitu bubar, dan segera takziyah ke rumah Lurah, sudah bubar... Bubar..., " Ucap Warga
Para warga berbondong bubar dan saling berbicara sendiri sesama pasangannya.
Kediaman rumah Lurah sudah tertata rapi, semua pelayat sudah berdatangan yang silih datang dan pergi, dari semua penjuru desa.
Ibu Narni dan hati yang kehilangan menuangkan rasa sedih nya, mengeluarkan air mata yang keluar dadi kelopak matanya, Biyung Sumi datang dan langsung masuk menuju ke dalam, bahkan Abah Warso di sambut oleh Lurah dan yang lainnya serta berbincang.
" Biyung kaget mendengarkan semua ini, Biyung turut bersuka cita atas meninggalnya Amar suamimu, " Ucap Biyung Sumi sambil memeluknya
" Iya Biyung Terima kasih atas duka belanya, " Jawab Wardani
" Syukurlah jika Amar meninggal tugas kamu akan semakin sedikit, " Ucap Biyung Sumi Berisik di samping telinganya
Biyung Sumi menghampiri Ibu Narni.
" Saya turut berduka cita ya Ibu, ikhlas kan kepergian Amar, " Ucap Biyung Sumi sambil memeluknya
Balasan menangis dan melihat Biyung Sumi oleh Ibu Narni.
" Ayunda turut berduka cita atas kepergian Amar, " Ucap Biyung Sumi
" Iya Ayunda, Terima kasih sudah datang dan memberikan penghormatannya, " Jawab Biyung Maryam
" Bagus Mas Amar sudah meninggal, jadi aku bisa memiliki Wardani, walaupun Kang Mas Amar saudaraku sendiri aku tak perduli soal cinta, " Batin Amir dengan sinis
" Tunggu aku sayang, Wardani memang miliki ku, kau adalah hidupku, hahaha, " Batin Trimoko
" Mbak memang cinta tak kemana, tunggu aku untuk meminang mu, " Batin Renaldi
__ADS_1
" Akulah calon hatimu kaulah Ibu dari anak-anak ku, maka siaplah sebentar lagi aku akan menjadi istriku, " Batin Amor
" Aku yang berkuasa disini, kau mau apa pasti tidak akan tercapai, sampai kapanpun kau akan tetap menjadi Kekasihku, Lurah Darso, " Batin Lurah
" Ngamponten Tuan, lubang kuburnya sudah siap, " Ucap Tukang gali
" Terima kasih, tunggu sebentar lagi kita akan siap berangkat ke sana, " Jawab Lurah
" Baik Tuan, " Ucap Tukang kubur
Semua telah siap, jasad Amar siap di kuburkan.
Iringan jasad Amar ke tempat terakhirnya begitu aneh, seketika itu langit mendung dan mau turun hujan, petir bersahutan, semua segera menguburkan sebelum hujan turun, setelah pemakaman Hujan turun deras yang sangat kencang, angin yang begitu kencang.
" Hujan ayo segera pulang, hujan udah mau turun, pemakaman sudah selesai, " Ucap semua pengiring
" Ayo Ibu kita pulang," Ucap Biyung Maryam
" Ayo Wardani sudah, pulang hujan sudah membasahi tubuh kita, juga hujan begitu lebat, " Sahut Biyung Zubaidah
" Ayo Biyung, " Jawab Wardani
" Buruan jangan lama, angin sudah ribut, derasnya air serta petir bersahutan ayo, " Ucap Amir
Mereka pulang menuju ke rumah dengan keadaan basah kuyup, serta segera mengerikan diri, serta di siapkan minuman hangat oleh Mbok.
" Aku sudah bahagia hari ini satu persatu orang yang aku benci sudah tiada, aku akan menghabiskan semuanya sakit hatiku, permainan yang sungguh bagus sekali, sekali jalan maju terus, hahahaha, " Ucap Wardani di kamarnya
" Den Ayu, ini Simbok, " Ucap Mbok
" Silahkan masuk Mbok," Jawab Wardani
" Ini minuman hangat buat Den Ayu, " Ucap Mbok
" Terima kasih ya Mbok, jangan Repot-repot, " Jawab Wardani
" Tak apa, ya sudah Simbok tinggal dulu, " Ucap Mbok
" Iya Mbok, " Jawab Wardani
__ADS_1
" Setelah ini semua para lelaki di rumah ini saling beradu buat mendapatkan cintaku, aku yakin semua tadi sudah memikirkan cara untuk mengalah satu sama lain, walaupun di saudara keluarga sedarah yang rela mati demi cinta palsu, " Ucap Wardani
Akhirnya Satu persatu keluarga Lurah telah menjadi korban dendam, ulah keluarganya yang tidak punya hati sama sekali, apakah yang terjadi terhadap keluarga Lurah.